(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "The invisible mirror : siwaratrikalpa : Balinese literature in performance = Sastra Bali di dalam seni pertunjukan"


'-■St 



if 



w^^ 





y 



m Jenkins and I Nyoman Catra 

the support of the International Translation Center at IS! Denpasar 




Digitized by the Internet Archive 

in 2011 



http://www.archive.org/details/invisiblemirrorsiOOjenk 



THE INVISI5LE MIRROR 

SIWARATRIKALPA: 

TBalinese Literature in TPerfonnance 
Sastra IBali di dalam Sent IPertunjukan 



By Ron Jenkins and I Nyoman Catra 

With the support of the International Translation Center at ISI Denpasar 



Trie Invisible Mirror 



Dedication 
To Franziska Bartara Blattner & Desak Made Suarti Laksmi ror tneir patience 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjuka 



The Invisible Mirror 




Tiahle of Gontents 

Hcknowledgments &- Gredits 

IPernyataan T^anda Terma Kasih & IPenghargaan. 

I . Forward by the 'Director general of Higher Cducation 
Kata IPengantar Oleh Qjirjen jPendidikan Tinggi, Depdiknas 
2. TPreface by the "Rektor of ISI Denpasar 
Sambutan oleh jRektor ISI Denpasar 
3- Introduction - ihe Invisible Wlirror: Siwaratnkalpa as a reflection of the IBalinese soul 
Pendahuluan - Germin mk Kasat Ylflata: Siwaratrikalpa sebagai cerminan jiwa orang IBali 
^. Siwaratrikalpa as Sung Poetry: Lubdaka's story chanted & translated by a priest 
Siwaratrikalpa Sebagai nyanyian Syair: Geritera Lubdaka dinyanyikan dan ditransliterasikan oleh IPendeta 
5. Siwaratrikalpa as Satua: Lubdaka's story as broadcast in nalinese on "RIRI Denpasar 
Siwaratrikalpa Sebagai Geritera: Kisah Lubdaka dalam Ifnesatua nali disiarkan melalui k.k.1 Denpasar 
6. Siwatrtrikalpa as 'bayang: Lubdaka's story in shadow puppets at Puputan IBadung Square in Denpasar 
Siwaratrikalpa Sebagai TPertunjukan Wayang Kulit di Lapangan Vuputan ]3adung di Denpasar 



trikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



flchnowledgments & Gredits 



IPernyataan Tavic/a Terima Kasih & Penghargaan. 



"Om Awignam Astu Namo Siddham" 

The authors would Hke to extend our sincere gratitude to the people who have helped 
in the creation of this book. We are deeply indebted to Professor Dr. Sumantri 
Brodjonegoro. The Director General of Higher Education, in Jakarta, Professor Dr. I 
Wayan Rai, S., MA., The Rector of ISI Denpasar and his staff, for their invaluable 
support without which this book would not have been completed. We would also like 
to thank the Fulbright Foundation and AMINEF which funded both of us at different 
stages of our research. Special thanks are also due to the Center for the Humanities at 
Wesleyan University which supported the much of this book's revisions. 



We would also like to thank the many artists who have generously helped us to gather 
the material that fills these pages. First and foremost is Ida Pedanda Ketut Kencana 
Singarsa who is not only a high priest, but also an inspired poet, whose insights into 
the metaphoric meanings of the Lubdaka story have been the guiding light behind this 
project. The Siwaratrikalpa lontar and the ceiling paintings of the Lubdaka story that 
were photographed for this book come from Ida Pedanda's personal collection. I Ketut 
Jagra is another multi-talented artist who supported our project. A topeng dancer whose 
renditions of traditional Balinese stories are broadcast weekly on Radio Republic In- 
donesia, Jagra allowed us to record, transcribe and publish the version of Lubdaka's 
story as a Balinese 'satua' that was broadcast on RRI. We would also like to thank I 
Ketut Kodi who helped us to understand the philosophy behind the Wayang version of 
Lubdaka's story that is published here. 



Also extremely helpful and generous have been the many performers who have al- 
lowed us to document their work as background for this project, including the Dalang 
CenkBlonk (I Wayan Nardayana) and the brilliant clowns I Gusti Ngurah Windia, I 
Ketut Suanda (Cedil), 1 Wayan Sugama (Codet), I Wayan Juana Adisaputra, and I Made 



"Om Awignam Astu Namo Siddham " 

Penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada setiap orang 
yang membantu dalam mewujudkan buku ini. Kami sangat berhutang budi kepada 
Bapak Prof. Dr. Sumantri Brodjonegoro, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi 
Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta, dan Bapak Prof. Dr. I Wayan Rai, S., MA, 
Rektor ISI Denpasar dan staf atas dukungannya yang tak terhingga, tanpa perhatian 
beliau buku ini tidak bakalan pernah diterbitkan. Kami juga menyampaikan terima 
kasih kepada Fulbright Foundation dan AMINEF yang telah membiayai kami berdua 
dalam berbagai tingkatan riset kami. Terima kasih khususnya juga disampaikan kepada 
Center for the Humanities di Wesleyan University yang banyak memberikan dukungan 
pada revisi pada pembuatan buku ini. 

Melalui kesempatan ini kami ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada para dalang, 
aktor, yang dengan kemurahan hati membantu dalam pengumpulan materi-materi untuk 
kepeluan tulisan ini. Pertama yang paling kami hormati adalah Ida Pedanda Ketut 
Kencana Singarsa yang beliau tidak hanya sebagai seorang sulinggih akan tetapi juga 
seorang pengawi yang wawasan pemikirannya menghilhami tentang arti metaporikal 
dari kisah si Lubdaka sebagai tuntunan pelita penerangan pada penulisan buku ini. 
Lontar Siwalatri, lukisan hiasan langit-langit tentang kisah Lubdaka yang diabadikan 
ke dalam photo digital untuk kepentingan buku ini diambil dari koleksi pribadi Ida 
Pedanda. Sokongan seorang seniman berbakat, I Ketut Jagra, juga banyak andilnya 
dalam penulisan buku ini. Sebagai seorang penari topeng yang mengasuh acara tradisi 
berceritera Bali, disiarkan setiap hari minggu di Radio Republik Indonesia Denpasar, 
Jagra membantu merekamkan acara siarannya, ketika menggambarkan dan 
menyiarkannya secara luas ceritera Lubdaka dalam versi satua Bali pada siaran RRI 
Denpasar. Kami juga berterimaksih kepada I Ketut Kodi yang membantu kami untuk 
memahami filsafat dibelakang versi pertunjukan wayang kisah si Lubdaka yang 
dipublikasikan dalam buku ini. 

Bantuan dan kemurahan hati yang luar biasa juga telah diberikan oleh banyak dalang 
dan aktor yang telah dengan penuh kerelaan memberikan untuk mendokumentasikan 
pementasannya sebagai latar belakang dari proyek ini diantaranya: Dalang Cenk Blonk 
( I Wayan Nardayana) dan pelawak kawakan I Gusti Ngurah Windia, I Ketut Suanda 



4 



SiwaratriUalpa: Baunese Literature in Performance - Sastra Bau oi dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible M 



irror 



Arimbawa (Lolak). We have documented many of their performances (some on the 
night of Siwaratri) and hope to include full translations of their work in future books. 



All of the artists whose work appears in this book are translators in their own right, 
having transformed the story of Lubdaka from its kakawin form in the old Javanese 
language to the colloquial idioms of modem Balinese vernacular. The authors have 
written their English and Indonesian translations with the hopes of preserving the original 
spirit of these extraordinary works while making them accessible to a western audi- 
ence who might also enjoy the opportunity of looking at their own reflection in the 
mirror of Balinese literature. 



(Cedil), I Wayan Sugama (Codet), I Made Arimbawa (Lolak), dan I Wayan Juana 
Adisaputra. Kami banyak mendokumentasikan pementasan mereka (beberapa 
diantaranya yang dipentaskan pada malam Siwalatri), dan kami berharap transkripsi 
dan transliterasi yang lengkap dari dokumen pementasan mereka dapat diterbitkan 
pada penerbitan buku berikutnya. 

Semua hasil kerja para artis yang muncul pada penerbitan kali ini merupakan 
penterjemah dari hak kebebasan mereka masing-masing, dalam mentransformasikan 
ceritera Lubdaka dari stanza kekawin yang berbahasa Jawa Kuno (Kawi), ke dalam 
idiom logat bahasa daerah Bali moderen yakni bahasa percakapan sehari-hari. Penulis 
telah metransliterasikan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, dengan berusaha 
memelihara spirit aslinya dari semua hasil kerja mereka yang luar biasa ini, guna dapat 
diapresiasi oleh pembaca/penonton Barat dan di Indonesia yang mana mereka barangkali 
dapat menyenangi berkesempatan melihat refleksi dirinya sendiri bercermin melalui 
literatur Bali. 



Primary responsibility for the video documentation of these performances fell on the 
shoulders of the multi-talented I Dewa Made Darmawan. The Balinese transcriptions 
were completed primarily by the diligent I Gusti Ngurah Artawan with some assistance 
from the ISI Denpasar translation center team. The photography of the images that 
accompany the text was done by Ida Bagus Candra Yana. And the design that inte- 
grates the text and images in the book was executed by Ida Bagus Trinawindu. The 
authors hope that their English translations are worthy of the originals. Responsibility 
for mistakes is our own. 



Members of the ISI translation team include I Nyoman Sedana, Ni PutuTisna Andayani, 
Ni Nyoman Lia Susanti, Ni Wayan Suratni, Ni Kadek Dwiyani, I Gde Mawan, I Nyoman 
Kariasa, I Wayan Budiarsa, Made Rai Kariasa, Teryl Adnyata, I Gede Agus Jaya 
Sadguna. 



Yang bertanggung) awab dari pemilihan seleksi utama pendokumentasian video dari 
serangkaian pementasan ini, dibebankan pada pundak seorang yang memiliki multi 
talenta yakni I Dewa Made Darmawan. Transkripsi ke dalam bahasa Bali dilakukan 
dengan tekun oleh I Gusti Ngurah Artawan, sementara alih bahasa ke dalam bahasa 
Indonesia dibantu oleh Tim Translation dari ISI Denpasar. Seluruh photografi yang 
dipasang menyertai teks untuk tujuan memberikan kesan dan bayangan dikerjakan 
oleh Ida Bagus Candra Yana. Desainer yang menggabungkan teks dengan gambar dalam 
buku ini dikerjakan oleh Ida Bagus Trinawindu. Penulis berharap bahwa alih bahasanya 
ke dalam bahasa Inggris layak adanya jika dibandingkan dengan bahasa aslinya. 

Anggota tim Translation Center ISI Denpasar yang termasuk di dalamnya adalah: I 
Nyoman Sedana, Ni Putu Tisna Andayani, Ni Nyoman Lia Susanti, Ni Wayan Suratni, 
Ni Kadek Dwiyani, I Gde Mawan, I Nyoman Kariasa, I Wayan Budiarsa, Made Rai 
Kariasa, Teryl Adnyata, I Gede Agus Jaya Sadguna. 



"Om Santi Santi Santi Om" 



"Om Santi, Santi, Santi, Om' 



Ron Jenkins & I Nyoman Catra 

Co-directors - International Translation Center, ISI Denpasar 



Si\varatrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



/ . forward hy the director general of Higher Cducation 



The twentieth century has been full of massacres, acts of genocide, conventional wars and conflicts of all types. As we leave this century, we 
are a little despairing, a little defeated, with nothing much to be proud of. Famine, humiliation, and dispossession are becoming widespread, 
affecting more and more human beings. So let us look to the future, even if our vision is still clouded by the thick fog of desolation and 
helplessness. 

We cannot enter the new millennium without remembering what has happened during the course of this century. The new millennium will not 
change the people. Human beings persist in their nature. It is illusory to think that people can be changed. They may evolve and adapt to 
new situations, but they will always remain faithful to their convictions, habits, and ways. 

We must ensure that the new century does not reproduce the atrocities and the trail of injustices, deportations, forced exoduses, and 
massacres that have gone unpunished during the century we are leaving behind. The future generation should be more inspired, be more 
simple - ambitious but modest, closer to realities and more rigorous in respecting the values and principles of culture and coexistence that 
are the foundations of human society. 

There are many understandings regarding culture although the universal values commonly exist. Culture will include humanities, knowledge, language, arts, life survival system, 
and technology. At least there are three forms of culture, namely, ideology, social system, and physical culture. In reality the three forms cannot be separated when they are 
related to the human living. 

We should keep the cultural arts alive. Without cultural arts, the world will be half blind and lame. Without cultural arts, people will lose a little more of their soul 
each day. Without cultural arts, the world will be flat, the sea will lose its blue and its surf, the sky will be indifferent. 

In order to carry out the above mentioned tasks, the Cultural Transcription and Translation Center of the Indonesian Arts Institute - Denpasar, proudly publishes 
a masterpiece regarding the literature that is preserved on lontars. The early stage of human development was due to the use of the longer as a means for 
interaction. The inherent cultural values of lontars should be preserved for future human development 




Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjuka 



The Invisible Mirror 



2. Vreface hy the IRektor of ISI Denpasar 



One of the most recent projects established by Indonesian Institute of the Arts (ISI) Denpasar is the Cultural Transcription and Translation 
Center, an international center for the translation and preservation of the text related to the cultural arts of Indonesia. The primary objective 
of the center is to use translation as a way to preserve essential Balinese as well as other Indonesian cultural art texts and make them 
accessible for international appreciation and dissemination. This idea appeared after our intense interaction with Prof. Dr. Ron Jenkins of 
Wesleyan University, an international scholar who has conducted international translation on the performing art over thirty years regarding 
Indonesian art. 

The idea has got a great support from the Director General of Higher Education Department of National Education, Prof. Dr. Ir. Satryo 
Soemantri Brodjonegoro. He has expressed his strong support of our efforts, and has agreed with our goals to use translation to preserve 
and disseminate Indonesian cultural art forms so that they will be appreciated, not only for their visual beauty and spectacle, but for all the 
cultural and literary complexities which are inherent in their heritage. 

After having been working hard to realize the idea, the project has resulted in its first publication taking the Balinese palm-leaf script. 
Lontar Siwaratrikalpa, as the main source text. The published book is entitled "SIWARATRIKALPA, the Invisible Mirror, Balinese 

Literature in Performance" by Pi-ofessor Ron Jenkins and Dr. I Nyoman Catra, MA. The launching of this book is held on Thursday, November 22, 2007, at the Candra 

Metu theater in conjunction with the Indonesian Art Festival V at ISI Denpasar. 

As the Rector of ISI Denpasar, I would like to express our sincere gratitude and thanks to the Director General of Higher Education, Prof. Dr. Ir. Satryo Soemantri 
Brodjonegoro; the Governor of Bali, Dewa Beratha, for providing the infra-structure facility; the Secretary of Board of Higher Education, Dra. Sylvia Ratnawaty Msc. for 
her invaluable support; the involved staff and task force team of ISI Denpasar; and those who could not be mentioned one by one. 

Thank you. 




Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



^^^i^ 



C7«\^ 



1^^*? 
















**<! 



The Invisible Mirror 



3. Introduction - 'The Invisible ITlirror: 
Siwaratrikalpa as a reflection of the 5alinese sou 

Sang Hyang ning Hyang amurti niskala sirati-kinenep ing akabwatan lango. 
Sthulakara sira pratisthita hanenghrdaya-kamala-madya nityasa 
Dihyana Mwang stuti kutamantra japa mudra linekasaken ing samangkana 
Nhing pinrih-prih I citta ninghulun anugrahana tuiusa digjayeng lango 
Wruh ngwang nisphala ning mango jenek alanglang I kalangin ikang pasir wukir 
Manke ngwang kumawih makirtya kakawin kumawasa mamarantyaken wuwus 
Mangeh donya rahaywa sang panikelan tanah anulusa katwang in praja... 
Nhing tungal pinalar malar wenanga sadhana ning umusira-n nirasraya 

The lord of lords, formless in the invisible world, is the subject of the poet's deep- 
est thoughts. In the visible world his formlessness finds shape in the ever-blos- 
soming lotus flower of the human heart. One could meditate, sing praises, mur- 
mur sacred mantra, whisper prayers, or make mystic mudras with one's hands. 
But my heart strives only to conquer the world with beauty. My musings were 
useless when I crossed mountains and seashores losing myself in rapture. So now 
I hope to win respect by daring to write my words in the divinely ordered shape of 
a kakawin poem. Aiming to increase the prosperity & honor of the patron for 
whom poets break their pens... 

I only hope this effort helps me find the release of heaven. 
- Opening lines of SIWARATRIKALPA, a poem by Mpu Tanakung (circa. 1475) 



According to Ida Pedanda Ketut Kencana Singarsa the world's troubles can all be 
traced to the human flaw of forgetting. "Inside each of us, there is memory and there is 
forgetfulness," says the octogenarian Hindu priest, peering through his thick glasses at 
the faded inscriptions on a palm leaf manuscript, known in Bali as a lontar. "'When we 
forget our relationship to the divine nature of what is unseen, we have problems. Trans- 
lating lontars can help us to remember the importance of the invisible world in solving 
our problems. If you want to see a reflection of the human body, look in a mirror. If 
you want to see a reflection of the human mind, look at a lontar." 

This book is an attempt to follow Ida Pedanda's advice and look at literature as a mirror 
of the Balinese soul, an invisible minor that reflects the truth of the invisible world, 
which in Bali is known as 'niskala.' The collective wisdom that resides in the written 



IPendahuluan - Gennin Tale Kasat Wlata: 
Siwaratnlcalpa sebagai cerminan jiwa orang Bali 




Dewa dari segala Dewa, tidak mempunyai bentuk di dunia maya, adalah subjek 
dari pikiran yang terdalam sang penyair. Di dunia nyata, Beliau yang "tidak 
mempunyai bentuk", distanakan dalam bunga teratai abadi yang kembang di 
dalam hati sanubari manusia. Seseorang bisa meditasi, menyanyikan lagu-lagu 
pujian, melantunkan mantra-mantra suci, membisikkan doa, atau membuat 
mudra dengan tanggannya. Namun hatiku berhasrat hanya untuk menaklukan 
dunia dengan keindahan. Renunganku tidak berguna ketika aku bertemu dengan 
pegunungan dan tepi pantai, hanyut dalam kekaguman. Jadi sekarang aku 
berharap untuk memenangkan rasa hormat dengan berani menulis kata-kataku 
dalam bentuk syair kakawin yang indah. Bertujuan untuk meningkatkan 
kemakmuran dan kehormatan bagi mereka yang menggunakannya... 
Aku hanya berharap langkah ini membantuku untuk menemukan Surga, 
- Kalimat pembuka Siwaratrikalpa, sebuah syair oleh Mpu Tanakung (circa. 1475) 

Menurut Ida Pedanda Ketut Kencana Singarsa, semua pennasalahan dunia bisa dilacak 
kepada kesalahan manusia, yaitu sifat melupakan. "Di dalam diri kita masing-masing, 
terdapat ingatan dan kealpaan," ujar pendeta Hindu ini, memandangi lontar yang berisi 
tulisan yang buram, melalui kacamatanya. "Saat kita lupa berhubungan dengan alam 
maya, kita akan menemui masalah. Menerjemahkan lontar bisa membantu kita 
mengingatkan pentingnya dunia maya dalam memecahkan permasalahan kita. Jika ingin 
melihat bayangan raga manusia, lihatlah pada cermin. Jika ingin melihat bayangan 
pikiran manusia, lihatlah pada lontar." 

Buku ini adalah sebuah usaha untuk mengikuti saran Ida Pedanda dan menggunakan 
sastra sebagai cermin jiwa orang Bali, sebuah cermin yang tak tampak yang 
memperlihatkan kebenaran dari dunia maya, dimana di Bali disebut dengan 'niskala'. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



Th 



e Invisible Mirror 



form of lontar manuscripts is called sastra. One of the most well known narratives in 
Balinese sastra literature is the poem that tells the story of Lubdaka, a tale passed down 
from Indian sources through the fifteenth century Javanese poet Mpu Tanakung. His 
version of the story is entitled "Siwaratrikalpa," which means "the observance of Siwa's 
Night." Siwa's night or Siwaratri is celebrated on the night before the new moon of the 
seventh month, which in Bali occurs sometime between mid-January and mid-Febru- 
ary and is understood to be the darkest and shortest night of the year. The goal of the 
rituals observed on that night is to find enlightenment in the darkness by atoning for 
the sins one has committed during the previous year. The means of atonement include 
fasting, staying up all night, and introspective meditation. According to Mpu Tanakung, 
another way to observe Siwa's ritual is by listening to the story of Lubdaka, who is the 
subject of the "Siwaratrikalpa" poem. Lubdaka is a hunter who unwittingly atones for 
his lifetime of killing animals by staying awake all night in a forest on the Night of 
Siwaratri. He climbs a Bila tree to avoid being attacked by wild beasts and plucks 
leaves to keep himself from sleeping and falling out of the tree. Years later, when 
Lubdaka dies, the armies of hell and heaven battle over the hunter's soul, but ulti- 
mately his unconscious enactment of Siwa's ritual wins him a place in heaven. 



This book will present three versions of the Lubdaka story. The first is a condensation 
of the narrative's essential meaning as interpreted by a high Hindu priest, Ida Pedanda 
Ketut Kencana Singarsa, also known by the pen name of Ida Pedanda Ketut Gede 
Sideman. Ida Pedanda wrote about the Lubdaka story in one of his own poems, and 
subsequently gave an informal performance of that poetic fragment in a style of chanted 
recitation and translation related to the Balinese tradition of "babaosan." The second 
version of the story comes from a storyteller (I Ketut Jagra) who is a masked 'topeng' 
dancer accustomed to playing the role of penasar or narrator in ceremonial temple 
performances. His improvised narrative is structured along the lines of the oral tradi- 
tion of Balinese 'satua" storytelling and was broadcast throughout the island of Bali on 
Radio Republik Indonesia (RRI) in seven weekly episodes beginning in May, 2007. 
The third retelling of the Lubdaka story takes the form of a wayang shadow puppet 
play that was performed in Denpasar's Puputan field across the street from the Jagat 
Nata Temple on the evening of Siwaratri, February 1 1 , 2004. It was staged by five 
dalang puppet masters, I Ketut Kodi, I Made Sidia, I Nyoman Sukerta, I Ketut Sudiana, 
and I Wayan Mardika Buana 



Kebijaksanaan yang tertulis dalam sebuah lontar disebut sastra. Salah satu bentuk narasi 
sastra Bali yang paling dikenal adalah syair yang menceritakan tentang Lubdaka, sebuah 
kisah yang diwariskan dari sumber-sumber dari India sampai syair karangan penyair 
Jawa, Mpu Tanakung, pada abad ke lima belas. Versi ceritera karya Mpu Tanakung ini 
berjudul "Siwaratrikalpa" yang berarti "perhatian pada Malam Siwa." Malam Siwa 
atau Siwaratri dirayakan sehari sebelum bulan mati pada bulan ketujuh, dimana di Bali 
terjadi sekitar pertengahan Januari dan pertengahan Februari diketahui sebagai malam 
tergelap dan terpendek di tahun tersebut. Tujuan dari beragam kegiatan upacara yang 
dilakukan pada malam itu adalah untuk menemukan pencerahan di dalam kegelapan 
dan menebus segala dosa yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Cara untuk 
menebusnya adalah dengan jalan berpuasa, begadang sepanjang malam, dan meditasi 
yang khusyuk. Menurut Mpu Tanakung, cara lain untuk menjalankan Siwaratri adalah 
dengan mendengarkan kisah Lubdaka, yang menjadi tokoh utama dalam syair 
Siwaratrikalpa. Lubdaka adalah seorang pemburu yang secara tidak sadar menebus 
dosa-dosanya akibat dari membunuh binatang sepanjang hidupnya dengan cara begadang 
sepanjang malam di hutan pada Malam Siwaratri. Dia memanjat sebuah pohon Bila 
(maja) untuk menghindari serangan dari binatang buas, sembari memetik daun untuk 
membuatnya terjaga dan agar tidak jatuh dari atas pohon. Beberapa tahun kemudian, 
saat Lubdaka meninggal, pasukan neraka dan surga bertarung untuk memperebutkan 
atmanya, tetapi karena ketidaksadaraanya melakukan upacara pada malam Siwaratri 
akhirnya dia mendapatkan tempat di surga. 

Buku ini akan menyajikan syair karya tiga versi dari kisah Lubdaka. Versi pertama 
diterjemahkan oleh seorang pendeta Hindu, Ida Pedanda Ketut Kencana Singarsa, juga 
dikenal dengan nama Ida Pedanda Ketut Gede Sidemen. Ida Pedanda menuliskan kisah 
Lubdaka ke dalam syair beliau, dan selanjutnya mempertunjukan dalam bentuk nyanyian 
dan pengartian yang dikenal dengan bentuk "bebaosan". Versi kedua, datang dari seorang 
penari topeng (I Ketut Jagra), biasanya mengambil peran "penasar" , dilakukan oleh 
seorang aktor yang menjadi narrator dalam seni pertunjukan dramatari topeng. Dia 
memaparkannya terstruktur sesuai dengan kisah asli Bali, atau "satua", dan disiarkan 
melalui Radio Republik Indonesia (RRI) dalam tujuh episode dalam tujuh minggu 
yang dimulai pada bulan Mei 2007. Versi yang ketiga dari kisah Lubdaka mengambil 
bentuk dalam sajian wayang kulit yang dilaksanakan di Lapangan Puputan Badung, 
Denpasar, diseberang Pura Jagatnatha pada malam Siwaratri, 11 Februari, 2004. 
Pertunjukkan tersebut dimainkan oleh lima dalang, I Ketut Kodi, I Made Sidia, I Nyoman 
Sukerta, I Ketut Sudiana, dan I Wayan Mardika Buana 



10 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjutan 



Th 



e invisi 



ibie M 



irror 



Most Balinese children hear the story of Lubdaka in elementary school, but it is also 
encountered in other forms, like babaosan chanting in religious ceremonies or wayang 
shadow puppet plays. Lubdaka's encounter with the invisible worlds of heaven and 
hell is recounted as a cautionary tale to remind the readers, listeners, or spectators that 
their fate also depends on their relationship with what cannot be seen. According to 
Ida Pedanda Singarsa the lessons contained in lontars like "Siwaratrikalpa" can help 
people to "neutralize the invisible enemies that dwell inside us, and transform them 
into friends." These invisible internal enemies include the greed, lust, anger, and glut- 
tony that are at the root of the sins that can be atoned on the night of Siwaratri. No 
matter what fonri the story takes, it is the responsibility of its interpreter to present the 
tale in a way that illuminates the relationship between the visible and invisible worlds. 



"The depth or shallowness of each translation depends on the knowledge of the trans- 
lator," notes Ida Pedanda Singarsa in a discussion about the Siwaratrikalpa poem at 
hils home in the village of Sanur. "Some translators simply elaborate on the plot, but 
another style is to dig down into the philosophy of the story. My responsibility is to dig 
down into the deeper meaning of the philosophy, so that it can be turned into action. 
Not just understanding the concept but using it in your life. When I dig more deeply 
inside myself through inner debate and questioning, that is when I find the true mean- 
ing, the meaning of the meaning. If you dig inside yourself, there is action, the action 
of digging, which is useful." 

Ida Pedanda Singarsa believes that the poet Mpu Tanakung was acutely aware of the 
story's practical implications. According to the priest it was written in response to a 
question from King Ken Arok, a violent leader with a legendary penchant for killing 
and gambling. When the king asked the poet if it would be possible for a sinful man to 
get to heaven Tanakung responded with the story of Lubdaka who atones for his killing 
through meditation and does eventually end up in heaven. "If the poet had told a 
different story, it might have made Ken Arok angry enough to kill him," laughs the 
priest, suggesting that poetry had saved Tanakung' s life. 



The opening lines of Tanakung's poem are quoted above. And, while Ken Arok's 
connection to the poem has been debated by scholars, the intentions of the poet are 
expressed clearly in the words he uses to introduce his story. Among other things, he 
hopes that his poem will help him to "conquer the world with beauty," "win respect," 
"increase the prosperity and honor" of his patron, and "find the release of heaven." 



Kebanyakan anak-anak di Bali mendengarkan kisah Lubdaka pada jenjang sekolah 
dasar (SD), tetapi ditemukan juga dalam bentuk lain, seperti lewat babaosan pada saat 
upacara keagamaan atau pertunjukkan wayang kulit. Lubdaka bertemu dengan dunia 
maya surga dan memberi pesan sebagai sebuah kisah yang mengingatkan pembaca, 
pendengar, atau penonton bahwa nasib mereka juga ditentukan oleh hubungannya 
dengan yang tidak tampak. Menurut Ida Pedanda Singarsa, pelajaran yang terkandung 
dalam lontar seperti "Siwaratrikalpa" akan membantu manusia untuk "menetralkan 
musuh yang tak tampak yang berada dalam diri kita, dan mengubahnya menjadi teman." 
Yang termasuk dalam musuh tersebut adalah rakus, nafsu, amarah, dan serakah yang 
melupakan akar dari segala dosa yang bisa ditebus pada malam Siwaratri. Bagaimanapun 
bentuk penyampaian ceritanya, adalah merupakan tanggung jawab yang 
menterjemahkannya untuk menyajikan kisah tersebut dalam bentuk yang bisa 
mengingatkan tentang hubungan dunia nyata dengan dunia yang tak tampak. 

"Dalam atau dangkalnya sebuah penerjemahan bergantung pada pengetahuan yang 
menterjemahkannya," kata Ida Pedanda Singarsa, dalam sebuah diskusi tentang syair 
Siwaratrikalpa di kediaman beliau di desa Sanur. "Beberapa penterjemah hanya 
memusatkan pada inti ceritanya saja, tetapi cara lain adalah untuk menggali lebih dalam 
filosofi yang terkandung di dalamnya. Bukan hanya mengerti tentang konsep tersebut 
tetapi mempergunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika saya menggali lebih 
dalam pada diri saya melalui introspeksi diri, saat itulah saya menemukan arti 
sesungguhnya, arti dari arti tersebut. Jika menggali ke dalam diri sendiri, ada sebuah 
usaha, usaha menggali, yang sangat berguna." 

Ida Pedanda Singarsa percaya bahwa Mpu Tanakung sangat mengetahui penerapan 
praktis cerita tersebut. Menurut beliau, kisah ini ditulis sebagai jawaban dari pertanyaan 
yang diberikan oleh raja Ken Arok, seorang pemimpin yang kasar yang dikenal gemar 
membunuh dan berjudi. Saat raja bertanya kepada sang penyair; mungkinkah seorang 
yang penuh dosa mendapatkan surga kelak? Mpu Tanakung menjawabnya dengan kisah 
Lubdaka, yang menebus dosanya melalui meditasi yang pada akhirnya mendapatkan 
surga. " Jika sang penyair menceritakan kisah yang lain, bukan tidak mungkin Ken 
Arok akan murka sehingga membunuhnya," kata sang pendeta sambil tertawa, yang 
berpendapat syair tersebut telah menyelamatkan nyawa Sang Mpu 

Kalimat pembuka dari syair Mpu Tanakung telah dipetik di atas. Ketika hubungan Ken 
Arok dengan syair tersebut diperdebatkan oleh para ilmuwan, maksud dari penyair 
telah dijelaskan secara gamblang pada penggunaan kata-kata pada pembukaan kisah 
tersebut. Diantaranya, penyair berharap bahwa syairnya dapat "menaklukan dunia 
dengan keindahan," "meraih rasa hormat," "meningkatkan kesejahteraan dan 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



11 



tU 



e Invisible Mirror 



These high expectations are not unusual. In his book Kalangwan, the Dutch scholar P. 
J. Zoetmulder suggests that poetry in fifteenth century Java was a kind of literary yoga, 
intended to bring both the writer and the reader/listener closer to the beauty and re- 
wards linked to the invisible world of the spirit. Variations of the word "Kalangan" 
('lango' / 'mango' / 'kalangon') are used by Tanakung throughout this opening pas- 
sage. The word can mean poetry, beauty, or the act of losing oneself in rapture while 
contemplating nature's wonders. Its frequent use in Tanakung's prologue emphasizes 
the writer's belief in the strong relationship between beauty, poetry, and the spiritual 
potency of the natural world. This tratlitional belief in poetry's power has been inher- 
ited by modem Balinese priests and artists, who continue to quote and perform poetic 
literature as an integral part of Hindu ceremonies intended to provide the world with a 
sense of spiritual balance. The practic;\l wisdom of sastra that can be found in Balinese 
lontars is a reminder of the significant interplay that exists between the invisible and 
visible worlds in Bali. Translating that wisdom into a form that lodges itself in the 
memory of as many people as possible is an antidote to the dangerous habit of forget- 
ting what cannot be seen. This is the goal of the artists whose works are presented in 
this book. Each version is a new attempt to "dig inside" the story and find "the mean- 
ing of the meaning." 



kehormatan" penggunanya, dan "menemukan Surga." Harapan yang tinggi ini tidaklah 
aneh. Dalam bukunya, Kalangwan, P.J. Zoetmulder berpendapat bahwa syair pada abad 
ke lima belas di Jawa adalah semacam sastra yoga, bermaksud untuk membawa penulis 
dan pembaca/pendengar lebih dekat kepada keindahan dan hadiah yang berhubungan 
dengan dunia yang tak kelihatan dari arwah. Berbagai variasi dari kata 'kalangen" 
('lango'/ 'mango'/ 'kalangon') digunakan oleh Mpu Tanakung sepanjang pesan 
pembukaannya. Kata tersebut bisa berarti syair, keindahan, atau sebuah tindakan yang 
berserah diri kepada kegiuran pada saat memikirkan keindahan alam. Penggunaannya 
pada prolog Mpu Tanakung sering menekankan pada keyakinan penulis pada kuatnya 
hubungan antara keindahan, syair, dan potensi kekuatan spiritual dunia. Keyakinan 
tradisional pada kekuatan syair ini telah diwarisi oleh pendeta dan penekun seni mod- 
ern di Bali, yang secara terus menerus mengutip dan menampilkan sastra yang puitis 
sebagai satu kesatuan dari upacara agama Hindu bermaksud untuk menyediakan 
keseimbangan spiritual kepada dunia. Kearifan yang sederhana dari sastra yang bisa 
ditemukan pada lontar-lontar Bali adalah sebuah pengingat tentang pengaruh yang sangat 
signifikan antara dunia nyata dan dunia maya di Bali. Menterjemahkan kearifan tersebut 
ke dalam benak banyak orang adalah obat untuk kebiasaan melupakan hal-hal yang tak 
tampak. Ini adalah tujuan dari isi buku ini. Tiap versi adalah usaha baru untuk "menggali 
ke dalam" cerita dan menemukan "arti dari arti." 



The priest, the storyteller, and the puppeteers have all developed their own ways of 
giving a visible shape to the invisible mirror of Balinese literature. According to Ida 
Pedanda Singarsa, each attempt at translating a story has its own rhythmic structure or 
'wirama,' and the specific 'wirama' of each translation will detemiine how it is re- 
membered. The 'wirama' of the priest's retelling of the Lubdaka story is based on the 
metrical structures of classical kekawin poetry, but he uses ordinary Balinese language 
to make the poem accessible, and places it in a larger frame story about a child who 
asks his father for advice. It is meant to be read and remembered by admirers of poetry 
and literature who often form groups to sing and debate the meaning of poetic texts. 
They meet in open-air village community pavilions and collectively chant poems for 
long hours into the night. 



I Ketut Jagra tells Lubdaka's story with the soothing repetitive rhythms of traditional 
fables, known in Bali as 'satua.' He addresses his radio broadcasts primarily to chil- 
dren and the elderly, assuming they will be the ones most receptive to his verbal invo- 
cations of the invisible world in which most of the story takes place. In his introduc- 
tions to each episode Jagra makes a point of grounding his story in the immediate 



Pendeta, pencerita, dan dalang, masing-masing menemukan bentuk tersendiri untuk 
menceritakan cermin yang tak tampak dari sastra Bali ke dalam bentuk yang nyata. 
Menurut Ida Pedanda Singarsa, setiap usaha untuk menterjemahkan sebuah cerita 
mempunyai struktur ritmis tersendiri atau 'wirama", dan 'wirama' dari tiap terjemahan 
akan menentukan bagaimana itu dapat diingat. 'Wirama' kisah Lubdaka yang diceritakan 
kembali oleh pendeta berdasarkan pada struktur pada syair 'kekawin', dan beliau 
menggunakan bahasa Bali untuk membuat syair tersebut dimengerti, serta 
menceritakannya pada bingkai yang lebih besar dimana dikisahkan seorang anak 
meminta saran dari ayahnya. Dimaksudkan untuk dibaca dan diingat oleh penggemar 
syair dan sastra yang biasanya membentuk kelompok untuk bernyanyi dan berdebat 
tentang isinya. Mereka bertemu di pavilyun terbuka milik masyarakat dan secara giliran 
melantunkan syair-syair sepanjang malam. 

I Ketut Jagra menceritakan kisah Lubdaka dengan cara mendongeng, di Bali disebut 
'satua'. Dia menyampaikan ceritanya kepada anak-anak dan orang lanjut usia, 
menganggap merekalah yang paling bisa menerima tentang cerita yang dia sampaikan. 
Dalam permulaan tiap episodenya, Jagra bercerita dengan mengambil contoh tentang 
ragam kejadian yang ada saat itu, merujuk kepada film, keadaan lalu lintas dengan 



12 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



world of his radio listeners, referring to films, traffic conditions for children on their 
bicycles, and natural disasters as they were being depicted on Balinese television at the 
time his stories were broadcast. These techniques for making a story memorable are 
the same ones he uses when he performs as the clown servant narrator or penasar in 
temple ceremonies. 

The dalangs who transform Lubdaka's story into a shadow puppet play make the poem 
memorable through the visualization of heaven and hell as a swirling montage of flick- 
ering images on a screen illuminated by firelight, but their improvised text has much in 
common with the verbal techniques employed by the priest and the storyteller. Like 
them, the dalangs rely on the rhythms of comic language as performed by the servant 
clown narrators, or penasar, who appear in their puppet plays. (Jagra's radio narrative 
borrows heavily from the style of the servant clown characters he plays in the Topeng 
masked dramas, artistic cousins of the servant clowns in the puppet plays). The puppet 
penasars in wayang make constant references to current events, addressing their audi- 
ence directly, in an attempt to emphasis the immediacy and relevance of the story's 
themes. And like the priest in his poem, the shadow puppet clowns dissect the etymo- 
logical meaning of Lubdaka's name. Their interpretation differs from the one sug- 
gested by the priest, but it is equally memorable. Each different version of the story 
uses its own theatrical rhythms to guide the audience into asking questions about 
Lubdaka's journey as they collectively grapple with what the priest calls "the meaning 
of the meaning." 



Ida Pedanda Singarsa is quick to point out that his interpretation of the story's meta- 
phoric meanings are idiosyncratic and do not rule out the possibility of other interpre- 
tations. The same humble attitude is displayed by Ketut Jagra, whose readings of the 
fable do in fact differ from those suggested by the priest. Both their points of view 
could be summed up by the words of Twalen, the penasar servant clown in the shadow 
puppet version of Lubdaka, who speaks self-disparagingly of his own insights. "If 
they are good," he says, "you can use them. If they are bad you can give them back. 
There is no need to apologize for returning them." 

The priest, the storyteller, and the puppeteers have translated Lubdaka's story into 
different forms that will be remembered in different ways, but all of them share a deep 
sense of responsibility to communicate the story's underlying moral lessons to their 
audiences. This impulse to keep the story's spiritual meaning alive, emerges in the 
work of so many artists, that it is impossible to capture them all in a single book. In this 



anak-anak dan sepedanya, dan bencana alam yang ditayangkan di televisi pada saat 
Jagra menceritakan kisah Lubdaka. Dengan cara ini, kisah Lubdaka akan mudah diingat. 
Hal yang sama dilakukan ketika dia tampil sebagai tokoh penasar, pelayan raja yang 
Jenaka, pada saat pentas pada upacara di pura. 



Dalang-dalang yang merubah kisah Lubdaka ke dalam bentuk pementasan wayang 
kulit membuat syair ini bisa diingat melalui visualisasi surga dan neraka sebagai gambar- 
gambar yang bersliweran di layar yang diterangi dengan api belencong, tetapi 
improvisasi teksnya mempunyai kemiripan dengan pengungkapan secara verbal yang 
dilakukan oleh pendeta dan pendongeng. Seperti pendeta dan pendongeng, dalang 
menggunakan ritme dari bahasa komik, seperti yang digunakan oleh penasar, pada saat 
mereka pentas. (Cara Jagra menyampaikan cerita di radio sama dengan cara yang dia 
lakukan saat menjadi penasar pada pertunjukan topeng, yang mermpunyai hubungan 
yang dekat dengan tokoh jenaka di wayang kulit). Wayang penasar pada wayang kulit 
selalu berbicara tentang kejadian kekinian, langsung ditujukan kepada penontonnya, 
untuk meningkatkan kewaspadaan dan perhatian kepada tema cerita. Seperti pendeta 
dengan syairnya, panakawan pada wayang kulit membedah secara etimologi arti dari 
nama Lubdaka itu sendiri. Penafsiran mereka berbeda dengan yang diungkapkan oleh 
pendeta, namun pada intinya sama, yaitu mudah diingat. Setiap versi kisah tersebut 
menggunakan ritme teater tersendiri untuk menuntun orang-orang yang menikmatinya 
untuk bertanya tentang perjalanan Lubdaka dan pada saat bersamaan mencari apa yang 
disebut oleh pendeta "arti dari arti." 

Ida Pedanda Singarsa mengatakan bahwa interpretasinya tentang arti metafora adalah 
pendapatnya sendiri dan tidak menutup kemungkinan adanya arti yang lain. Sikap rendah 
hati yang sama juga diungkapkan oleh I Ketut Jagra, dimana interpretasinya berbeda 
dengan yang diungkapkan oleh pendeta. Kedua pemikiran ini bisa dirangkum oleh 
kata-kata dari Twalen, penasar punakawan versi wayang kulit dari kisah Lubdaka, yang 
merendah tentang pendapatnya. "Jika itu baik," dia berkata, " silakan dipakai. Jika 
buruk, bisa dikembalikan. Tidak usah untuk meminta maaf karena mengembalikannya." 



Pendeta, pendongeng, dan para dalang telah merubah kisah Lubdaka ke dalam beberapa 
bentuk yang akan diingat dalam cara-cara yang berbeda, namun semuanya mempunyai 
tanggung] awab yang sama untuk menyampaikan pesan yang dikandung, kepada para 
penonton dan pendengarnya. Denyut dari pergerakan untuk menjaga nilai spiritualnya 
tetap hidup, datang dari banyak seniman, yang mustahil bisa dikumpulkan ke dalam 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjutan 



13 



Tne Invisible Mirror 



volume we have collected a chanted poem, a spoken story, and a shadow play as three 
representative manifestations of sastra poetic literature in performance, but it is impor- 
tant to understand that they are the tip of the iceberg. Over the course of a lifetime, a 
Balinese person might encounter dozens of versions of Lubdaka's story, all tracing 
back their origins to the classical kekawin poem "Siwaratrikalpa" by Mpu Tanakung, 
with each emphasizing different aspects of the poem. Others, however, might never 
encounter the story at all, and go through Siwa's night, without understanding the full 
meaning of its associated rituals. This is the reality of an island culture in transition, 
where traditions endure, but their meanings are sometimes lost in the rush to modern- 
ization. 



satu buku saja. Pada edisi ini kami telah mengumpulkan syair, cerita yang disampaikan 
melalui mulut, dan sebuah pertunjukan wayang kulit sebagai tiga wakil manifestasi 
dari sastra puitis dalam bentuk pertunjukan, tetapi perlu diingat bahwa ini hanyalah 
bagian yang kecil. Dalam rentang waktu usia seseorang, orang Bali akan menemukan 
banyak versi dari kisah Lubdaka, semuanya jika dirunut akan kembali pada sastra 
kekawin "Siwaratrikalpa" oleh Mpu Tanakung, dengan masing-masing menekankan 
sisi yang berbeda dari syair tersebut. Yang lain bahkan tidak menyentuh pada ceritanya 
sama sekali, dan melalui malam Siwaratri dengan tidak mengerti arti utuh dari rangkaian 
upacaranya. Ini adalah sebuah kenyataan dari sebuah pulau kebudayaan dalam peralihan, 
dimana tradisi bertahan, tetapi arti sesungguhnya terkadang hilang dalam keberadaan 
modernisasi. 



Some versions of Lubdaka's story are less direct than others in the way they convey the 
spirit of "Siwaratrikalpa." For instance, to celebrate Siwa's Night in 2007, which fell 
on the evening of January 17, thousands of pilgrims from all over Bali came to the 
island's largest and most sacred temple at Besakih. Many of them stayed until dawn, 
observing their ritual obligation to Siwa by foregoing sleep in favor of meditation. 
Mpu Tanakung's poem suggests that listening to Lubdaka's story is one of the best 
ways to spend a sleepless night on the evening of "Siwaratri" but it leaves open the 
option of listening to other stories, and that is what many of the pilgrims did that night 
at the Besakih temple. A dalang shadow puppet master and a troupe of Prembon actors 
(a hybrid of traditional Arja opera and masked Topeng drama) gave performances in 
the Besakih temple, but Lubdaka's story was only mentioned in passing. Instead the 
two plays approached the themes of Siwaratri in presentations that were tangentially 
related to the ritual. 

The Prembon performance began with an appearance by I Nyoman Sugama, a male 
comic actor who is well versed in religious teachings, and usually plays the role of a 
female servant named Codet. Grounding his character in the world of the audience, 
Codet began with a joke about the committee that organized the temple performances 
in which they were all participating. Moving swiftly from the mundane to the sacred, 
Codet then gave an illuminating monologue about the Siwaratri ritual. "The meaning 
of Siwaratri," he began, "is to pray to Lord Siwa. Isn't that right? We engage in 
introspection in the face of Lord Siwa's greatness. Isn't that right? Everyone, is that 
right? You in the comer, is that right?" By questioning the audience Codet turned his 
monologue into a dialogue about the meaning of the ritual they had all come to Besakih 
to celebrate. He singled out individuals for teasing, the way a nightclub comic would 
work the audience into his act. As a result, spectators called out to him throughout the 



Beberapa versi dari kisah Lubdaka tidak begitu langsung dibandingkan dengan yang 
lain dalam menyampaikan semangat "Siwaratrikalpa." Sebagai suatu contoh, untuk 
merayakan malam Siwaratri tahun 2007, yang jatuh pada tanggal 17 Januari, ribuan 
umat datang dari segala penjuru Bali untuk datang pada pura terbesar dan terkeramat 
di pulau Bali. Banyak dari mereka diam sampai subuh, dengan melakukan meditasi 
sebagai bentuk pemujaan kepada Dewa Siwa. Mpu Tanakung menyarankan bahwa 
mendengarkan kisah Lubdaka adalah salah satu cara terbaik untuk melewatkan malam 
Siwaratri, tetapi terbuka kemungkinannya untuk mendegarkan cerita yang lain, dan 
itulah yang dilakukan oleh umat pada malam itu di Pura Besakih. Seorang dalang dan 
sekelompok penari Prembon (Sebuah perpaduan dari opera Arja dengan dramatari 
Topeng) tampil di Pura Besakih, tetapi kisah Lubdaka hanya disampaikan sesekali. 
Kedua pertunjukan tersebut menggunakan tema Siwaratri untuk dikaitkan dengan 
upacara dimaksud. 

Pertunjukan Prembon dimulai dengan kemunculan I Wayan Sugama, seorang pelawak 
memahami ajaran agama, dan biasanya memainkan peran sebagai pelayan perempuan 
bernama Codet. Mengakrabkan diri dengan penontonnya, Codet membuat lelucon 
tentang panitia yang mengadakan pertunjukan tersebut. Beralih dari hal-hal keduniawian 
ke hal-hal suci, Codet memulai dengan sebuah monolog tentang ritual Siwaratri. Dia 
buka dengan "arti Siwaratri,"adalah untuk memuja Dewa Siwa. Bukankah begitu? Kita 
introspeksi diri di hadapan keagungan Dewa Siwa. Bukankah begitu? Semuanya, 
bukankah begitu? Kamu yang di pojok, bukankah begitu?" Dengan bertanya kepada 
penonton Codet beralih dari monolog ke dialog tentang upacara yang mereka rayakan 
dengan mendatangi ke Pura Besakih ini. Dia terus bercanda dengan penonton, seperti 
seorang pelawak di sebuah klab yang aktif berinteraksi dengan penontonnya. Akibatnya, 
penonton turut larut dalam percakapan dengan Codet sepanjang malam tentang fungsi 



14 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



evening, actively participating in an ongoing conversation about the function of reli- 
gion. There was nothing somber about the presentation, though. It was wild, rowdy, 
and bawdy enough that Codet felt compelled to remind the crowd, "Remember, this 
place belongs to the temple. All of you must preserve and respect it to keep the temple 
pure." 

Codet then immediately mocked his own seriousness by imitating the voice of a fa- 
mous priest who gives sermons on television and mentioning him by name. Having 
created a personal bond with the audience and established a frame of reference with 
which they were familiar (the village organizing committee, the local television celeb- 
rity, etc.), Codet attempts to explain the meaning of the deity being worshipped that 
evening. "Siwa means awareness," he states simply, suggesting that meditation on the 
night of Siwa ("Siwaratri") is undertaken for the purpose of finding enlightenment. He 
then locates Siwa at the center of the Balinese cosmological map, which assigns a 
cardinal direction to each god. "To the north is Lord Visnu. To the east is Lord Iswara. 
To the south is Lord Bhrama. To the west is Lord Mahadewa. But in the center is Lord 
Siwa. Siwa is in the center, so whoever stays in the middle is blessed. If people in the 
easterly house of a family compound fight with people in the westerly house, and you 
do not side with either the east or the west, you are safe. If the southerly house fights 
with the northerly house and you stay in the center without taking sides, you are safe. . .. 
But there is an exception to the safety of the center. Please don't stand in the middle of 
the street. Surely there will be an accident. A truck will come down the middle of the 
road and BAM! You'll be safe.... in the hospital. That's why you should remember 
that Siwa means the center, but it also means awareness. Be aware that we are all 
human. We aie human not only in our bodies, but also in our brains and in our thoughts. . . 
Now tonight is a time for introspection about the things that we have already done. 
What we have already done in the past, good or wrong in our lives like in the story of. . . 
Si... Si ... Si... oh, that's it, the story of Si Lubdaka. Do you know the story of Si 
Lubdaka? Do you know it? Not yet? How is it that on the night of Siwaratri you don't 
know the story of Si Lubdaka? Do you know it?" (Many audience members answer, 
"No!") Well, well, let's all together open the pages of that story a little bit." 

Sugama uses humor and direct address to make a connection between everyday activi- 
ties like crossing the street and the need for awareness that can be obtained by follow- 
ing Siwa's ritual. He has created a rapport with the audience that leads to them asking 
him to tell the story of Lubdaka's experience on the night of Siwaratri, and he obliges. 
A man with a painted face dressed in the glittering robes of a woman, explains the 
meaning of Siwa's night to a crowd of nearly a thousand spectators sitting in the out- 



dari agama. Keadaan penonton menjadi liar, kasar, dan ribut sehingga Codet merasa 
berkewajiban untuk mengingatkan penonton, "Ingat, tempat ini adalah pura. Kalian 
semua harus menjaga dan menghormatinya untuk menjaga kesucian pura." 



Codet langsung mengejek tentang sikap seriusnya sendiri dengan menirukan seorang 
pendeta terkenal yang sering meberikan pencerahan di televisi dan menyebutkan 
namanya. Setelah membangun suatu hubungan baik dengan penonton dan membangun 
suatu ruang lingkup dimana semua mengerti (panitia desa, selebritis televisi lokal, dsb.). 
Codet mencoba untuk menjelaskan perwujudan yang mereka sembah malam itu. "Siwa 
berarti kewaspadaan," pernyataannya singkat, dan mengatakan bahwa meditasi di malam 
Siwa ("Siwaratri") dilakukan untuk mendapatkan pencerahan. Dia kemudian menunjuk 
letak Dewa Siwa di tengah-tengah peta kosmologi Bali, yang menugaskan arah tertentu 
untuk tiap dewa. "Arah utara adalah Dewa Wisnu. Timur adalah Dewa Iswara. Selatan 
adalah Dewa Brahma. Barat adalah Dewa Mahadewa. Tetapi yang di tengah adalah 
Dewa Siwa. Siwa berkedudukan ditengah, jadi siapapun yang berada di tengah berarti 
diberkati. Jika orang dari bagian timur rumah keluarga bertengkar dengan orang dari 
bagian barat rumah, jika tidak memihak timur atau barat, kamu akan aman. Jika orang 
bagian selatan rumah keluarga bertengkar dengan orang bagian utara rumah dan kamu 
diam ditengah tanpa memihak siapapun, kamu aman. ... Tetapi ada perkecualian tentang 
keamanan dengan berada di tengah. Tolong jangan berdiri di tengah jalan. Tentu akan 
ada kecelakaan. Sebuah truk akan datang dan BAM! Kamu akan aman.... di rumah 
sakit. Itu sebabnya harus diingat bahwa Siwa berarti ditengah, tetapi juga berarti 
kewaspadaan. Wasapadalah bahwa kita ini semua manusia. Kita bukan hanya manusia 
dalam tubuh ini, namun juga dalam otak dan pikiran kita... Dan malam ini adalah 
waktu untuk introspeksi tentang apa yang telah dilakukan. Apa yang telah kita lakukan 
di masa lalu, baik atau buruk di kehidupan kita seperti kisah Si. . . Si. . . Si. . . oh, itu dia, 
kisah Si Lubdaka. Kalian tahu kisah Si Lubdaka? Kalian tahu? Belum? Bagaimana di 
malam Siwa kalian tidak tahu tentang kisah Lubdaka? Kalian tahu kan? (Banyak dari 
penonton menjawab, "Tidak!") Kalau begitu, mari kita membuka lembaran cerita ini 
dikit demi sedikit." 

Sugama menggunakan lelucon untuk membuat hubungan antara kegiatan sehari-hari 
seperti menyeberang jalan dan kebutuhan tentang kewaspadaan yang bisa diraih dengan 
mengikuti ritual Siwa. Dia berhasil untuk membuat penonton untuk memintanya 
menceritakan kisah Lubdaka dan pengalamannya pada malam Siwaratri. Seorang pria 
dengan muka yang telah diwama dan berpakaian wanita yang berkilauan, menjelaskan 
arti malam Siwa kepada sekitar seribu penonton yang memadati salah satu areal di 



SiwaratriUalpa: Balinese Lite.alure in Perfonnance - Sastra Bali di Jalam Seni Pertunjukan 



15 



Tne Invisible Mirror 



door courtyard of one of Bali's most sacred temples. The clown's demeanor is casual, 
not preacherly. He does not scold the audience for their ignorance about Lubdaka's 
story. Instead he pretends to forget Lubdaka's name himself, stuttering on the honor- 
ific title "Si" as if giving himself time to remember the hunter's full name. It is long 
past midnight, but the atmosphere is lively and the story is laced with jokes that help 
make it easier for the audience to stay up all night as is required by the ritual of Siwa. 
The audience in the temple is participating in the ritual as they listen to a story that 
illuminates its meaning. 

"Si Lubdaka liked to hunt," says Sugama, launching into a condensed version of the 
fable that immediately puts the hunter in the part of the forest associated with Siwa, the 
god who dwells in the center "He liked to hunt in the middle of the forest. His main 
job was hunting. In the morning he went out hunting. In the afternoon he came back 
home carrying animals that were the result of his hunting. That is what it means to kill. 
He liked deer, tigers. Tigers did not cry. He ran after them all. Yes. Deer, stags, 
snakes, mice, or even snails if he could not get anything else. Snails are there. He took 
snails too. Haaa. He likes to hunt. That means he did not follow the rules of his 
religion. Killing is a sin. Just like gossip is a sin. Don't gossip about people you know. 
It's better to be a good friend. 

One time... one time Lubdaka went out early in the morning. He announced that he 
was going hunting. If it were like it is now, he would call first. But then there was no 
telephone. He went out hunting... SRETTTTT.... walking back and forth, looking in 
the south, in the west, in the north, but he could not get any animals. He couldn't get 
even a slice of meat. Not even a slice. So it was impossible to find an entire animal. 
Then it was already night. It became dark, and because Lubdaka was human, of course 
he had the feeling of fear Hmmm. Of course he had the feeling of fear." 



Sugama's retelling of the story is simple, but his asides are notable. He links the sin of 
killing with the sin of gossip, so that the audience can make a connection between 
Lubdaka's experience and their own. The comic anachronism of mentioning a tele- 
phone serves the same purpose. More importantly, at the moment in Lubdaka's story 
when night falls, Sugama stops the narrative to reflect on the relationship between 
darkness and light, animating the two concepts as if they are characters in the story, 
chasing each other away to create either day or night. Here, Sugama is playfully estab- 
lishing a connection between light and awareness that is central to the meaning of the 
Siwaratri ritual. It takes place on what is believed to be the darkest night of the year, so 
that Hindu worshippers can transform that darkness into light and awareness which are 



pura suci di Bali ini. Penampilan pelawak ini santai, tidak menggurui. Dia tidak 
memarahi penonton tentang ketidaktahuannya tentang kisah Lubdaka. Malahan dia 
pura-pura lupa akan nama Lubdaka itu sendiri, terbata-bata mengucapkan gelar "Si" 
seperti memberikan waktu untuk mengingat kembali nama pemburu itu. Waktu telah 
lewat dari tengah malam, tetapi suasananya hidup dan kisah tersebut dirangkaikan 
dengan lelucon yang membantu penonton untuk begadang sepanjang malam seperti 
yang dibutuhkan dalam ritual malam Siwa. Para penonton ikut dalam ritual tersebut 
sambil mendengarkan cerita yang bermakna tersebut. 

"Si Lubdaka suka berburu," kata Sugama, yang meringkas cerita tersebut dengan 
langsung membuat situasi dimana si pemburu berada di hutan yang berkaitan dengan 
Siwa, dewa yang berada di tengah. "Dia suka memburu di tengah hutan. Pekerjaan 
utamanya adalah berburu. Pada pagi hari dia berangkat. Pada sore harinya dia akan 
kembali dengan hasil buruannya. Itulah arti dari membunuh. Dia suka kijang, harimau. 
Harimau tidak menangis. Dia mengejarnya semua. Ya. Kijang, rusa, ular, tikus, ataupun 
bekicot jika dia tidak berhasil mendapatkan yang lainnya. Bekicot ada di sana. Dia 
mengambil bekicot juga. Haaa. Dia suka berburu. Itu berarti dia tidak mengikuti perintah 
agamanya. Membunuh adalah dosa. Seperti gosip adalah sebuah dosa. Jangan bergosip 
tentang orang yang kamu ketahui. Lebih baik menjadi teman yang baik. 

Suatu waktu... suatu waktu dia berangkat pagi sekali. Dia memberitahu bahwa akan 
berangkat untuk memburu. Jika itu terjadi sekarang, dia akan menelpon. Tetapi dulu 
tidak ada telepon. Dia pergi berburu. . . SRETTTTT. . . jalan kesana kemari, melihat ke 
arah selatan, barat, utara, tetapi dia tidak bisa menemukan binatang. Dia bahkan tidak 
dapat sepotong daging. Bahkan sepotong daging pun. Jadi sangat mustahil untuk 
menemukan binatang yang utuh. Dan datanglah malam hari. Malam telah tiba, karena 
Lubdaka juga manusia, tentu dia mempunyai rasa takut. Hmmm. Tentu dia mempunyai 
perasaan takut. 

Cara bercerita Sugama dari kisah itu sangat sederhana, tetapi masuk akal. Dia 
menghubungkan dosa dalam membunuh dengan dosa dalam gosip, sehingga penonton 
bisa menghubungkan antara pengalaman Lubdaka dengan dirinya sendiri. Maksud dari 
penyebutan telepon juga sama. Yang paling penting, pada saat cerita Lubdaka tiba di 
waktu malam hari, Sugama berhenti dan menjelaskan tentang hubungan antara terang 
dan gelap, menceritakan seakan-akan mereka adalah tokoh dalam cerita itu, saling kejar- 
kejaran untuk menciptakan siang dan malam. Di sini, Sugama dengan jenaka membuat 
hubungan antara terang dan kewaspadaan yang merupakan inti dari makna ritual 
Siwaratri. Mengambil tempat dimana diyakini sebagai malam tergelap sepanjang tahun, 
sehingga umat Hindu bisa merubah kegelapan menjadi terang yang merupakan 



16 



Siwaratrikaipa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali ai dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



manifestations of Siwa. The interdependence of light and darkness is also suggested, 
a phenomenon explained by the Balinese concept of 'ruabineda' which posits the need 
for achieving a dynamic equilibrium between dialectical opposites like day and night, 
good and evil, beauty and ugliness. All these themes will recur later in the perfor- 
mance in the guise of slapstick routines that make no direct reference to the ritual of 
Siwaratri, but thoughtful audience members might make the connection. Even an acci- 
dental power shortage is used by Sugama and his stage partners as an opportunity to 
improvise on the theme of darkness' relationship to 'awareness' or 'enlightenment.' 



"It is night," repeats Sugama at the start of his digression. "What is the enemy of 
night? Haaa... the daytime. Yes! Night fears the brightness. When there is darkness, 
try to bring a flashlight., byaaarrrr. . . and just like that. . . the dark will surely run away. 
It will surely be afraid. If it is still there. . . if it is brave. . . if the darkness is still there, 
just turn on the lamp in the place over there where the daikness is. That's the way 
darkness is defeated by brightness. Brightness reacts the same way. Brightness is 
afraid of daikness. Like this moment here... now it is bright... later the clouds will 
chase the brightness... cepppp. It will be dark. The brightness will be afraid. Who 
knows where it ill run. Haaa...aaaa. That is the nature of darkness. 

Then a little later the wild animals came out looking for food. Although Si Lubdaka 
was a hunter, a hunting expert, a specialist in killing animals, he was also afraid. So Si 
Lubdaka climbed a tree. One of the trees. He climbed up... SREETTTT. When he 
arrived at the top, he looked down. Hmmm. It was already high. That's enough. No 
more! Now how could Lubdaka stop himself from drifting off to sleep. He was afraid 
that might happen. He might find a good place to rest and then start nodding off.... 
SREETTTTT... and just like that he would fall... the tiger would grab him.... and 
he'd be dead. He was afraid of the tiger The tiger is the symbol of wildness. The tiger 
is the symbol of the darkness. So in order to stay awake Lubdaka plucked the leaves of 
the Bila tree. SRRREEET, SRREE. . .TTTTT until he got to a hundred and eight. He 
plucked a hundred and eight bila leaves. Right under the tree was a lake. Yes, that is 
where a miracle happened, because it was the dark moon of the seventh month...." 

Just as Sugama is about to explain the meaning of the miracle of Siwaratri, he is inter- 
rupted by the entrance of another clown, I Ketut Suanda, whose stage-name is Cedil. 
Sugama never gets a chance to explain to the audience how the 108 Bila leaves fell 
accidentally onto a natural shrine to Siwa in the lake, and that by unknowingly fulfill- 
ing the ritual of Siwaratri, Lubdaka was granted a place in Siwa's heaven after his 



manifestasi dari Dewa Siwa. Keterkaitan antara terang dan gelap juga disebutkan, 
sebuah fenomena yang di Bali disebut dengan konsep 'Ruabineda" yang berarti suatu 
kebutuhan untuk mencapai sebuah keseimbangan dari suatu hal yang saling bertolak 
belakang seperti siang dan malam, baik dan jahat, indah dan buruk. Semua tema seperti 
ini muncul dalam pertunjukan dikemas dalam bentuk lelucon yang tidak ada 
hubungannya dengan Siwaratri, namun penonton yang mengerti akan menarik 
hubungannya. Bahkan sebuah konsleting hstrik yang tidak disengajapun juga digunakan 
oleh Sugama dan rekan-rekannya di panggung sebagai suatu kesempatan untuk 
improvisasi dalam tema hubungan 'kegelapan' dengan 'kewaspadaan' atau 'pencerahan.' 

"Malam telah tiba," kata Sugama lagi. "Apa musuh dari malam hari? Haa. . . siang hari. 
Ya! Malam takut dengan terang. Jika ada kegelapan, coba bawa senter... byaaarrr... 
dan saat itu juga. . .kegelapan pasti akan lari. dia akan ketakutan. Jika masih di sana. . .jika 
dia berani. . .jika kegelapan masih di sana, nyalakanlah lampu di sana dimana kegelapan 
berada. Itu cara kegelapan dikalahkan oleh cahaya. Terang juga bereaksi dengan cara 
yang sama. Terang dikalahkan dengan kegelapan. Seperti saat ini... sekarang terang... 
nanti awan akan mengejar terang... ceppp. Akan menjadi gelap. Terang akan menjadi 
ketakutan. Siapa yang tahu kemana dia akan lari. Haaa...aaa. Itu adalah sifat alami 
kegelapan. 

Dan sesaat kemudian binatang buas akan keluar mencari makan. Si Lubdaka adalah 
pemburu, ahli membuioi, ahli dalam membunuh binatang, dia juga ketakutan. Jadi Si 
Lubdaka memanjat pohon. Salah satu pohon. Dia menaikinya... SREEETTT. Saat dia 
tiba di puncak, dia menoleh ke bawah. Hmmm. . . Sudah cukup tinggi. Ini sudah cukup. 
Tidak lagi! Sekarang bagaimana caranya agar Lubdaka tidak tertidur Dia takut hal itu 
akan terjadi. Dia mungkin akan menemukan tempat yang yang bagus dan mulai 
mengantuk... SREEETTT... dan seketika dia akan jatuh... harimau akan 
menyeretnya. . . dan dia akan mati. Dia takut dengan harimau. Harimau adalah simbol 
dari kebuasan. Harimau adalah simbol kegelapan. Jadi agar tetap terjaga. Si Lubdaka 
memetik daun pohon Bila (maja). SREEETTT, SREEETTTT. . . sampai dia mencapai 
seratus delapan. Dia memetik seratus delapan helai daun bila (maja). Di bawah pohon 
ada sebuah danau. Ya, disanalah keajaiban terjadi, karena saat itu adalah bulan mati 
pada bulan ketujuh..." 

Begitu Sugama akan menjelaskan tentang makna keajaiban dari Siwaratri, dia disela 
oleh kemunculan pelawak yang lain I Ketut Suanda, yang nama panggungnya adalah 
Cedil. Sugama tidak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan kepada penonton 
tentang bagaimana 108 helai daun bila secara tidak sengaja jatuh pada lingga stana 
Dewa Siwa di danau itu, dan dengan tidak sadar telah melakukan ritual Siwaratri. 



SiwaratriUalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjutan 



17 



The Invisible Mirror 



death. Suanda is the island's most popular physical comedian, and once he was onstage 
the comic antics that ensued left no space for a literal telling of the story's conclusion. 
What did unfold, however, was a series of goofy conflicts between the two clowns that 
generated the kind of metaphysical slapstick Western audiences often associate with 
Samuel Beckett. The wordplay was full of puns and bawdy humor, but the underlying 
themes continued to resonate with the multiple meanings of the Siwaratri ritual that 
had been introduced by Sugama during his opening monologue. Darkness and light. 
Awareness and ignorance. Ruabineda. Humanity versus beastiality, and the obliga- 
tions that come with being human. 



The story of Lubdaka was fractured by the entrance of the second clown, but his comic 
routines embodied the abstract meanings of Siwaratri in concrete fomis that were vivid 
and memorable. The power of Suanda's stage presence is rooted in a virtuosic sense of 
musicality that gives poetic grace to his crude gestures and banter Even before the 
performance began, while he ate and gossiped with his fellow performers in the kitchen 
area of the temple, Suanda joked about music, playing all the parts of an imaginary 
gamelan orchestra by himself, vocalizing a remarkable succession of scales, melodies, 
and percussive punctuations, as if he were a one man band. When Suanda studied at 
the Indonesian National Institute of the Arts in Bali, he majored in music, and the 
deceased performer he cites as a role model (Retug) was also a musically gifted clown 
who, like Suanda, could make audiences roar with laughter with a cascade of onomato- 
poeic sounds that transcended language. Not surprisingly, Suanda also cites among his 
influences, the comic escapades of classic 'Tom and Jerry" cartoons from America, 
which also rely heavily on precise rhythms and cadences to propel the action to its 
comic climaxes. By skillfully manipulating the sonic incongruities of high notes and 
low notes, or substituting a surprising note of discord for an expected harmonic resolu- 
tion, Suanda is able to generate the musical equivalent of mabineda. He is a cartoon 
manifestation of the contradictory tensions that are at the base of Balinese Hindu phi- 
losophy. 

On the night of Siwaratri Suanda's character Cedil made his entrance singing non- 
sensical sounds that defied logic and drew peals of laughter and applause from the 
audience. Cedil's facial make-up is pale white and he moves with a slow floating gait 
that sometimes resembles sleep-walking. On the night of Siwratri he had a running 
gag with the band that accompanied the perfomiance (an odd combination of tradi- 
tional gamelan gongs with an electric keyboard and a set of Western snare drums). 
Every few minutes the drummer would bang on a cymbal and startle Cedil into a state 



Lubdaka akhirnya mendapatkan tempat bersamaan dengan Dewa Siwa setelah dia 
meninggal. Suanda adalah pelawak paling terkenal di pulau ini, dan saat itu pelawak 
lain yang berada di atas panggung tidak mendapatkan tempat untuk menyimpulkan 
kisah tersbut. Yang terjadi, adalah serangkaian konflik konyol antara dua pelawak 
tersebut yang membuat semacam slapstick pada penonton barat bisa disaksikan pada 
pertunjukan Samuel Beckett. Adegan tersebut penuh dengan lelucon yang konyol, namun 
tema yang diangkat tadi terus bergema mengandung arti yang beragam tentang ritual 
Siwaratn yang diperkenalkan oleh Sugama pada awal pembukaan monolognya. 
Kegelapan dan terang, kewaspadaan dan keteledoran, kemanusiaan melawan sifat 
kebinatangan, adalah ruabineda, merupakan kewajiban yang menyertai hidup menjadi 



manusia. 



Kisah Lubdaka dikacaukan dengan kemunculan pelawak yang kedua, tetapi 
penampilannya mewacanakan makna dan arti dari Siwaratri yang abstrak tersebut 
kedalam bentuk nyata, jelas dan gampang diingat. Bahkan sebelum pertunjukkan 
dimulai, saat dia makan dan bergosip dengan rekan-rekannya di areal dapur pura, 
Suanda membuat lelucon tentang musik, memainkan perangkat gamelan khayalan yang 
lengkap sendirian, melantunkan berbagai macam laras, melodi, dan tekanan pada 
perkusi, seakan dia adalah sebuah band yang beranggotakan satu orang saja. Saat Suanda 
belajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, dia mengambil jurusan 
musik. Seperti halnya dengan pelawak idolanya 1 Wayan Retug (almarhum) yang 
memiliki bakat musikal yang baik, Suanda, bisa membuat penonton tertawa terbahak- 
bahak dengan serangakaian suara-suara aneh yang seperti berbahasa yang aneh. Tidak 
mengherankan, Suanda juga terpengaruh oleh lingkungannya, seperti kartun "Tom and 
Jerry" dari Amerika yang juga bergantung pada ketepatan ritme dan irama utnuk 
mencapai klimaks dari apa yang telah dia lakukan. Dengan teliti memanipulasi nada- 
nada tinggi dan rendah, atau menggantinya dengan nada yang lain untuk mendapatkan 
rangkaian nada yang selaras, Suanda mampu membangkitkan kesetaraan musikal dari 
ruabineda. Dia adalah manifestasi dalam bentuk kartun dari sifat yang saling berlawanan 
yang merupakan dasar dari filosofi Agama Hindu di Bali. 



Pada malam Siwaratri karakter Suanda 'Cedil' membuka pementasannya dengan 
bernyanyi dan ia mengeluakan suara yang aneh dan tidak masuk akal, spontan saja 
menimbulkan gelak tawa dan mendapat tepuk tangan dari penonton. Tata rias wajahnya 
yang dikenakan Cedil tampak pucat, dan ia bergerak perlahan sambil bergaya seolah- 
olah ia berjalan sambil tidur Di malam Siwaratri itu ia membuat lelucon bersama 
dengan band yang mengiringinya ( merupakan sebuah kombinasi gamelan tradisional 



18 



SiwaratriUalpa: Balinese Literature in Perfonnance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



of slapstick alertness. "This is a strange person," says Codet in an aside to the audi- 
ence. "He wants to hop around, but he is sleeping." As Cedil continues his strange 
sleepwalking dance, Codet keeps shouting. "Bangun! Bangun!" ("Wake up! Wake 
up!"). Codet jokes that Cedil's dance reminds him of the recent crash of an AdamAir 
passenger plane. The disjointed movements correspond to the dismembered pieces of 
the plane that were found in different parts of the ocean for weeks after the crash. 
Cedil responds with a barrage of puns, a mock poetry reading, and a discourse on the 
language of dogs. All along, the drummer continues 'waking him up' with intermittent 
cymbal crashes. As the dialog progresses Sugama acts the straight man (or straight 
tranvestite) to Cedil's outrageous comic persona. Cedil teases his partner by refusing 
to give his name. He identifies himself first with the name of a famous holy man and 
then as a movie star. "Giving the wrong name is no problem," he says in his own 
defense. "What is the meaning of a name if you do not live up to it through the daily 
actions of your life." The audience applauds this sentiment and Cedil asks if they 
agree. "Yes or no? Yes or no? Yes or No?" After a seemingly silly series of name 
games, the clowns discuss the seriousness of a name and what it stands for. The theme 
of taking responsibility for one's actions is central to the ritual of Siwaratri, where 
meditation is meant to generate not just a general sense of awareness, but an awareness 
of the sins one has committed and must atone for. 




This concept of 'karma pala' or 'reaping the fruits of one's actions' is central to the 
story of Lubdaka the hunter's redemption, but the clowns, having left that story be- 
hind, make the same point with their own non-linear narrative that leaps from airplane 
crashes to movie stais to the language of dogs. Codet picks up Cedil's cue, and rein- 
forces the theme of karnia pala with a proverb that involves the kind of animals Lubdaka 
hunted without returning literally to Lubdaka's story. "When the tiger dies he leaves 
his spots. When the elephant dies he leaves his tusks. When humans die they leave the 



Gong dengan Keyboard serta satu set snare drum dari musik baratAVestern yang tidak 
lazim dipakai mengiringi pentas). Setiap menitnya ia berjalan dengan kaku seolah- 
olah ia adalah suatu sosok yang berjalan kejang. "Ini adalah mahluk aneh" kata Codet 
yang bersebelahan dengan penonton. "Dia ingin melompat sambil berkeliling tapi ia 
masih tidur" bersamaan disaat Cedil masih meneruskan gerakannya yang aneh yakni 

tarian tidur sambil berjalan. Codet masih terus berteriak - teriak "Bangun, bangun " 

Codet kemudian membuat lelucon bahwa tarian yang dibawakan oleh Cedil tadi 
mengingatkannya pada peristiwa kecelakaan para penumpang Adam Air yang terjadi 
beberapa waktu yang lalu. Gerakan yang terputus-putus itu sangat tepat sekali jika 
disamakan dengan beberapa bagian pesawat yang berceceran diberbagai tempat yang 
terpisah di lautan selama berminggu-minggu setelah kecelakaan. Cedil kemudian 
menyahut dengan sederetan kata - kata, membaca puisi sembari mengejek, dan berbicara 
dengan menggunakan bahasa anjing. Selanjutnya sang drummer kemudian 
membangunkannya dengan membunyikan simbal secara bergantian. Selama proses 
percakapan berlangsung Sugama berakting sebagai seseorang yang waras (seorang yang 
serius) dibandingkan dengan penampilan Cedil yang mempesona dengan lelucon 
segarnya. Cedil kemudian menggoda rekannya dengan cara tidak mau memberitahukan 
namanya. Dia pada awalnya ia menjelaskan bahwa dirinya datang dari golongan orang 
yang disucikan (Ketumnan Pendeta) dan bahwa ia juga merupakan seorang artis terkenal. 
"Salah nama bukanlah merupakan suatu masalah" katanya untuk membela dirinya. 
"Apalah artinya sebuah nama jika kamu tidak bisa menyesuaikannya dengan apa yang 
kamu lakukan sehari-hari dalam hidupmu." Para penonton kemudian memberikan 
applaus/tepuk tangan yang meriah tanda bahwa mereka menyetujui apa yang diucapkan 
oleh Cedil. "YA atau TIDAK? YA atau TIDAK?" setelah beberapa saat mereka 
memperdebatkan masalah nama yang terkesan tidak masuk akal, si pelawak kemudian 
kemudian membahas dengan serius apa arti sebuah nama dan kenapa nama itu 
dibutuhkan. Tema mengambil tanggungjawab untuk sebuah tindakan adalah sesuai 
dengan tujuan dari ritual upacara Siwaratri, dimana meditasi adalah dimaksudkan untuk 
menggerakan tidak hanya rasa untuk mewaspadai diri secara menyeluruh, namun 
kewaspadaan akan perbuatan dosa jika sudah berani melakukan harus berani 
bertanggungjawab dan menebus dosa-dosa itu. 

Konsep "kanna pala" atau "memetik buah dari sebuah tindakan" adalah sama persis 
dengan peristiwa yang dialami dalam sebuah cerita Lubdaka sang pemburu yang ditebus 
dosanya dimalam Siwaratri, tapi para pelawak ini, tidak menceritakan cerita Lubdaka 
ini pada awalnya, membuat sebuah tujuan yang sama dengan narasi yang secara garis 
besarnya dibuat sendiri seperti diambil dari contoh kecelakaan pesawat kemudian artis 
terkenal hingga percakapan dalam bahasa anjing. Codet menangkap isyarat yang 
disampaikan, dan mendukung tema dari karma pala dengan perbuatan yang melibatkan 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



19 



The Invisible Mirror 



meaning of their name (reputation). Isn't that the way it is?" 



Cedil agrees with the general principle of the proverb, but then raises what will be- 
come a recurring refrain in the evening's comic dialogue. "Don't accept partial infor- 
mation," he warns his partner. In other words, the proverb sounds fine, but there is 
more to it than one realizes at first. "If the tiger leaves his spots, he's dead," argues 
Cedil. "And if he's dead, he leaves his corpse." He continues his analysis with a comic 
logic reminiscent of a Shakespearean clown. 



Cedil: A dead tiger leaves his spots, but who takes the meat? 

Codet: The collector. 

Cedil: Then the dead tiger leaves money. 

Codet: Why is that? 

Cedil: Because the collector sells the meat. 

Cedil continues his comic analysis by commenting on issues as trivial as the price of 
cigarettes to themes as important as the positions of the gods in the 'nawasanga' ('sa- 
cred configuration of nine holy directions.') The banter is light and breezy, made 
entertaining by the extraordinary improvisational skills of the two clowns and their 
deft sense of timing, but the clowns keep balancing their ridiculous bits of nonsense 
with thoughtful comments that encourage the audience to consider the Siwaratri ritual 
from fresh perspectives. "Don't settle for incomplete pieces of information," advises 
Cedil in the sing-song voice of human cartoon. "Listen to things in their entirety. That 
is the only way to get the deeper meaning of what we hear." Codet agrees and they 
suddenly transform what had been a goofy routine linking the names of the Hindu gods 
to cigarette brands into a meditation on the purpose of the Siwaratri ritual that their 
audience had come to the temple to celebrate. Cedil reminds the audience how Siwa's 
nature is different from Bhrama's and Visnu's in Hindu cosmology and the conversa- 
tion turns to the beginning of time when the gods created the earth out of a sea of milk. 
The joking and religious philosophy are inextricably intertwined as if a Hindu sermon 
were being presented by the Balinese equivalents of Laurel and Hardy. 



binatang yang diburu oleh Lubdaka tanpa ada kembali secara tertulis kedalam ceritera 
Lubdaka. "Macan mati meninggalkan belangnya. Gajah mati meninggalkan gadingnya, 
dan manusia mati meninggalkan nama baiknya atau reputasinya, bukankah memang 
begitu seharusnya?" 

Cedil menyetujui secara garis besarnya prinsip dari perbuatan, tapi kemudian timbul 
apa yang akan menjadi jawaban dari apa yang dinyanyikan pada malam pertunjukan 
lawak itu. "Jangan percaya pada informasi yang tidak lengkap," ia mengingatkan 
rekannya. Dengan kata lain, perbuatan yang menimbulkan hasil itu terdengar biasa- 
biasa saja, namun lebih banyak orang yang memperhitungkan hasil perbuatannya 
sebelum ia melakukan perbuatan itu. "Kalau Singa meninggalkan belangnya maka ia 
mati" bantah si cedil. "Dan jika ia mati, maka ia akan tinggalkan mayatnya." Ia 
melanjutkan analisanya dengan lelucon yang mengingatkan pada pelawak shakespare. 

Cedil : Singa mati meninggalkan belangnya, lalu siapa yang mengambil dagingnya? 

Codet : Kolektornya. 

Cedil : Kalau begitu singa mati itu meninggalkan uang dong... 

Codet : Kenapa bisa begitu? 

Cedil : Karena si kolektor telah menjual dagingnya 

Cedil kemudian melanjutkan analisis leluconnya dengan mengomentari berita yang 
sudah biasa seperti berapa harga sebungkus rokok hingga topik lainnya yang cukup 
penting seperti Posisi dari Tuhan dalam 'Nawasanga' (Konfigurasi yang disakralkan 
yakni sembilan arah yang disucikan). Senda guraunya sungguh ringan dan segar, sajian 
yang menghibur ini disajikan oleh orang yang sungguh-sungguh luar biasa dan 
mempunyai keahlian dalam berimprovisasi antar kedua pelawak dan juga ketepatan 
mereka dalam menempatkan lelucon-lelucon itu, tapi di sini pelawak tetap 
menyeimbangkan kekonyolan mereka yang terkadang tidak ada artinya itu dengan 
pemikiran yang cukup masuk akal yang mendorong para penonton untuk menilai Malam 
Siwaratri dari sudut pandang yang berbeda. "Jangan percaya dengan informasi yang 
belum lengkap," saran dari Cedil sembari menyanyikannya dalam bentuk suara seperti 
tokoh dalam kartun (Film Kartun). Dengarkanlah sesuatu hal itu secara keseluruhan. 
Hanya itulah satu-satunya cara dimana kita dapat pemikiran yang mendalam tentang 
apa yang kita dengar." Codet pun menyetujui dan mendadak mereka menyetujui serta 
merta mentransformasikan apa yang telah menjadi bahan tertawaan tentang apa 
keterkaitan dari sebutan Tuhan dalam Agama Hindu hingga merek rokok dalam konteks 
meditasi dalam kaitannya dengan Ritual upacara Siwaratri dimana seluruh penonton 
datang ke Pura pada malam itu untuk merayakannya. Cedil mengingatkan kembali 
para penontonnya bagaimana kekuatan dari Dewa Siwa berbeda dengan Dewa Brahma 



20 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali ai oalatn Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



Cedil : It's the same with Siwaratri. What is Siwaratri? People stay up all night. Is 

that all it is? That's only a part of it. 
Codet : A part? 
Cedil : What is Siwaratri? 
Codet : Siwaratri is the night of introspection focused on Siwa. 

Cedil : Why is it called Siwa ratri. (Siwa's night). Why not Bhrama ratri or Visnu 

ratri . . . 
Codet : Why not Bhrama ratri or Visnu ratri? 
Cedil : Because with Siwa, we come face to face with the Destroyer. 

Codet : Right. 

Cedil : Bhrama, Visnu, Siwa. 

Codet : Bhrama. the Creator. 

Cedil : Visnu, the Preserver. 

Codet ; Bhrama. Creator. Visnu. Preserver. But there is another difference. Bhrama 
is the one we ask for blessings. Visnu is the one we ask for protection. Isn't 
that right? 

Cedil : Yeah. 

Codet : At the same time there is the concept of 'non-existence." 

Cedil : Don't talk about that. 

Codet : There was a time before there was anything. Before creation. 

Cedil : Right. 

Codet : Lord Visnu was in a sea of milk. 

Cedil : A sea of milk? 

Codet : A sea of milk. That is the concept. 

Cedil : How much per kilo? 

Codet : They didn't sell it by the kilo. They had just invented cans. 

Cedil : So there were cans. How much for a kilo in a can. 

Codet : It depends on what kind of milk you're asking for, Extra Delicious or 
Regular. 



dan Dewa Wisnu dalam kosmologi Hindu dan percakapan menjurus kepada proses 
dimana terbentuknya Dunia ini disaat Tuhan menciptakan Dunia ini dari lautan susu. 
Lelucon dan filosofi religi ini adalah tidak terpecahkan yang digabungkan seperti jika 
Kotbah dalam agama Hindu ini ditampilkan oleh orang Bali yang sejajar dengan Lau- 
rel & Hardy. 

Cedil : Sama dengan Siwaratri. Apa itu Siwaratri? Orang bergadang terus 

sepanjang malam. Apakah hanya itu saja? Itu hanyalah sebagian saja. 
Codet : Hanya sebagian? 
Cedil : Apa itu Siwaratri? 
Codet : Siwaratri adalah malam pengintrospeksian diri yang difokuskan pi'da Dewa 

Siwa. 
Cedil : Kenapa bisa disebut Siwaratri. (Malam Siwa). Kenapa tidak pakai saja Brahma 

ratri atau Wisnuratri.... 
Codet : Kenapa tidak Brahmaratri atau Wisnuratri? 
Cedil : Karena dengan Dewa Siwa, kita sudah menyembah secara langsung dengan 

yang Maha Pelebur. 
Codet : Iya Benar. 
Cedil : Brahma, Wisnu, Siwa 
Codet : Brahma Sang Pencipta 
Cedil : Wisnu Sang Pemelihara 

Codet : Brahma, Pencipta. Wisnu, Pemelihara. Tapi ada juga perbedaan yang lain. 
Brahma adalah yang kita mohon agar memberikan kesejahteraan. Wisnu 
adalah yang kita mohon agar memberikan keselamatan. Bukankah begitu? 
Cedil : Yeah. 

Codet : Pada saat yang bersamaan ada pula konsep yang dari "non-eksistensinya" 
Cedil : Jangan bicarakan hal itu. 

Codet : Ada masa dimana sebelum ada segalanya. Sebelum diciptakan. 
Cedil : Benar. 

Codet : Dewa Wisnu berada di tengah lautan susu. 
Cedil : Di tengah lautan susu? 
Codet : Di tengah lautan susu. Itulah konsepnya. 
Cedil : Berapa per-kilonya? 
Codet : Mereka tidak menjualnya per-kiloan. Mereka hanya menciptakannya dalam 

kaleng. 
Cedil : Jadi ada juga yang dalam bentuk kaleng. Berapa per-kilonya kalau dalam 

bentuk kaleng. 
Codet : Itu tergantung susu yang seperti apa yang kamu inginkan, Extra enak atau 

yang biasa saja. 



trifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Pertunjukan 



21 



Trie Invisible Mirror 



Cedil 
Codet 

Cedil 



Codet 

Cedil 
Codet 



Cedil : Why are we talking about cans? Cedil 

Codet : Why are you asking about the price of milk? Codet 

Cedil : A sea of milk. Cedil 

Codet : A sea of milk. Ahhh. . . from Lord Visnu's meditation, from his naval, a water Codet 
lily emerged, and from that water lily Bhrama was born. 

Cedil : Oh, so that's how it was. Cedil 

Codet : Yes, that is the idea. Codet 

Cedil : So they say. Cedil 

Codet : "So they say." We use 'so they say' when we don't know precisely. But Codet 

these things are written in books. 

Cedil : Did you read these things in a book? Cedil 

Codet : Yes, I read them. Codet 

Cedil : Is there really a source for all that? Cedil 

Codet : It's there. Codet 

Cedil : Oh, if there really is a concrete source for all of that, then we can talk about it. Cedil 
If there is no source it would be wrong to talk about it. 

Codet : Because you shouldn't do things based on incomplete pieces of information. Codet 



Right. 

Just when you understand something, knowing only A, then there is still B, 

and after that, still more, still C, D, and still E. 

Yes, we have to illuminate things truly with a source that is definite. We 

don't want to leave people with explanations that are not complete. 

That's true. Is your cigarette finished? Put it out. (he puts out Cedil's 

cigarette). 

Why did you put it out? 

It was already finished. 

(At this point in the performance the electric generators in the temple died, 

the lights went out, and the audience started shouting in the dark. The 

clowns took advantage of the accident to continue the improvisation along 

the theme of darkness and illumination.) 



Cedil 
Codet 

Cedil 



Codet 

Cedil 
Codet 



Cedil 
Codet 



This was caused by.... 
The night of Siwaratri. 



It has to be pitch black. (Audience applauds) 



Cedil 
Codet 



Kenapa kita jadi membicarakan tentang kaleng? 

Kenapa kamu menanyakan tentang harga dari susunya? 

Lautan susu. 

Lautan susu. Ahhh. . ..dari Dewa Wisnu bermeditasi, dari Beliau yang segalanya 

berhubungan dengan lautan, sekuntum bunga teratai pun muncul, dan dari 

Bunga teratai itulah Dewa Brahma lahir. 

Oh, jadi begitu asal mulanya. 

Iya begitulah yang dimaksud. 

Jadi begitu kata mereka. 

"Jadi begitu kata mereka." Kita menggunakan "jadi begitulah menurut mereka" 

disaat kita tidak tahu pasti kebenarannya. Tapi hal ini sudah tertulis di buku. 
: Apakah kamu membaca hal ini di dalam buku itu? 
: Ya, aku telah membacanya. 
: Apakah memang benar-benar ada hal yang menyebutkan tentang semua hal 

itu? 
: Semuanya ada di sana. 
: Oh, jika memang benar-benar hal ini adalah data yang nyata, jadi kita bisa 

membicarakannya. Namun jika tidak ada yang dapat membuktikannya tentu 

kita salah untuk membicarakannya. 
: Karena seharusnya kamu tidak melakukan suatu hal yang tidak berlandaskan 

pada suatu informasi yang tidak lengkap. 
: Benar. 
: Hanya pada saat kamu mengerti sesuatu, kamu hanya mengetahui A, kemudian 

masih ada B dan kemudian setelah itu masih ada lagi C, D dan E. 
: Ya, betul kita masih harus menerangi sesuatu yang sebenarnya dengan 

pelengkap yang terbatas. Kita tidak ingin meninggalkan penonton tanpa 

penjelasan yang kurang lengkap. 
: Iya itu semua memang benar. Apakah rokok kamu sudah habis? Ayo keluarkan 

(Ia kemudian mengeluarkan rokok Cedil). 
: Kenapa kamu mengeluarkannya? 
: Semuanya udah habis. 

(Pada saat itu tiba-tiba generator listrik di Pura tiba-tiba mati, lampu 

semuanya mati dan penonton mulai berteriak di dalam kegelapan. Para 

pelawak kemudian memanfaatkan keadaan dari kesalahan teknis tersebut 

dengan melanjutkan improvisasinya sesuai dengan tema kegelapan dan 

penerangan). 

: Ini disebabkan oleh 

: Malam Siwaratri. Semuanya harus gelap gulita. (Penonton memberikan tepuk 

tangan). 



22 



Siwaratrikalpa; Balinese Literature in Perfonnance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



The joking continues in the dark until the Hghts return and then it continues even 
longer Other clowns and singers join Suanda and Sugama and the performance lasts 
until dawn, so that by the time it ends the audience has at least fulfilled the obligation 
of Siwaratri that involves staying awake all night. The amount of formal meditation 
that has transpired is questionable, but the clowns have touched on numerous themes 
worth meditating about. After the lights went out the dialogue included passages on 
"Ruabineda" ('the interdependence of dialectical contradictions'), the relationship 
between 'niskala' and 'sekala' ('the invisible world of spirits and the visible material 
world), the Indonesian version of the American Idol TV game show, and the possibility 
of a sex change operation for the monkey god Hanuman. The entire performance was 
improvised, but the creative energy of the actors kept the audience enraptured. 



In place of a script the performers possessed a pitch-perfect sense of what the Balinese 
call "Desa Kala Patra." ('Place, Time, and Context'). Their improvisations were guided 
by an understanding of what was appropriate to the setting, the occasion, and the needs 
of their audience. The actors never forgot that they were performing within the walls 
of Bali's mother temple at Besakih. Their jokes were loosely tied together by the 
thread of meanings associated with the sacred commemoration of Siwaratri: medita- 
tion, awareness, illumination, and the concept of 'karma pala.' The audience, many of 
whom moved back and forth between the performance and prayers that were con- 
ducted in the inner courtyards of the temple, played an active role in the event, guiding 
the actors with their questions, laughter, applause, and silence. 



The classical fifteenth century poem of Siwaratrikalpa was the jumping off point for 
the performance, but it was not followed literally. Its narrative was deconstructed and 
reinvented as a potpourri of tangentially related references to cunent events, Hindu 
cosmology, movie stars, and the language of dogs. The Sanskrit-based metrical struc- 
ture of the fifteenth century verse was replaced by the slapstick rhythms of twenty first 
century montage. Wordplay ranged from bawdy puns to inventiveness that stretched 
the boundaries of language. (In one extended segment an 'extraordinary egg' became 
'eggstraordinary' which in Indonesian involved turning 'telur luar biasa' into 'teluar 
biasa.') 



Lelucon kemudian dilanjutkan di dalam keadaan gelap gulita hingga lampu kembali 
menyala dan bahkan berlanjut lebih lama lagi, pelawak - pelawak lainnya dan penyanyi 
pun bergabung dengan Suanda dan Sugama dan pertunjukan pun berakhir hingga tengah 
malam, hingga saatnya berakhir para penontonpun paling tidak telah memenuhi 
kewajibannya untuk mengikuti malam Siwaratri yang mengharuskan untuk tetap terjaga/ 
tidak tidur selama Malam Siwaratri. Hal yang diperhitungkan sebagai meditasi formal 
yang telah diketahui dapat memenuhi ketidaktahuan, namun para pelawak ini telah 
melibatkan berbagai macam hal yang berkaitan dengan meditasi. Setelah lampu mati 
percakapan yang terjadi menyangkut tentang 'Ruabineda' (Sebuah ketergantungan dari 
sebuah kontradiksi dialektikal), hubungan antara sekala dan niskala (Sebuah dunia 
lain yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata dan dunia roh). Versi TV Indonesia yang 
diambil dari reality show American Idol, dan apakah adanya kemungkinan untuk 
melakukan operasi perubahan kelamin untuk Sang Penguasa kera 'Hanuman'. 
Keseluruhan pertunjukan telah diimprovisasikan, tetapi energi kreatif dari para aktor 
membuat para penonton terkesima. 

Disesuaikan dengan naskah para entertainer yang dirasuki oleh pola dimana orang Bali 
mengenalnya dengan "Desa Kala Patra" (tempat, waktu dan konteks). Improvisasinya 
diarahkan pada suatu pengertian tentang apa yang pantas untuk disiapkan, acaranya 
dan kebutuhan dari si penonton itu sendiri. Para aktor tidak pernah lupa bahwa mereka 
melakukan pementasan dengan berlatar belakang Pura Induk seluruh masyarakat Bali 
yakni Pura Besakih. Lelucon mereka secara tidak langsung tidak bisa dipisahkan oleh 
karena menjadi satu rangkaian dari sebuah pengertian dimana merupakan gabungan 
dengan kesakralan perayaan malam Siwaratri: Meditasi, kewaspadaan, pencerahan, 
dan konsep dari 'Karma pala'. Para penonton, banyak dari mereka yang datang dan 
pergi ditengah-tengah pertunjukan dan persembahyangan diadakan di halaman tengah 
(Jaba tengah) dari Pura, memainkan peranan yang cukup penting di acara itu, memandu 
para aktor dengan pertanyaan, tawa, tepuk tangan dan kesunyian. 

Siwaratrikalpa sebagai sebuah puisi kuno pada abad ke 15 menjadi titik balik 
pertunjukan malam itu, tetapi hal ini tidak diikuti dengan bukti yang tertulis. Narasinya 
telah diperbaharui dan diciptakan kembali sebagai tempat untuk mengisi bagian yang 
bersentuhan sehubungan dengan tujuan dari acara malam itu, kosmologi Hindu, bintang 
film dan percakapan bahasa anjing. Bahasa Sansekerta yang diambil berdasarkan struktur 
metrikal dari abad ke- 15 bertujuan untuk digantikan dengan sentuhan irama dari versi 
yang dibawakan pada Abad ke-21. Permainan kata yang dirangkai dari sekumpulan 
kata-kata yang bersifat cabul hingga hal-hal yang bersifat penemuan baru namun tidak 



Siwaratril<alpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni PertiiniuLi.i 



23 



Tne Invisible Mirror 



The audience was invited to participate directly in a re-imagining of the poem's central 
themes that reflected the foundations of their religious beliefs in dialogue with the 
detritus of their popular culture.The Sanskxit-based metrical structure of the fifteenth 
century verse was reinvigorated by the slapstick rhythms of twenty first century 
montage.The clowns shifted regularly between the ancient Sanskrit based language of 
Kawi or Old Javanese and multiple modem languages that included High Balinese, 
Low Balinese, Indonesian, and fragments of English. Each linguistic shift suited the 
nature of the subject under discussion on a scale that drifted from the sacred to the 
profane. Kawi was used for quotations from sacred literature, high Balinese for dis- 
cussion of traditional ritual matters. Low Balinese for mundane details of everyday 
life, Indonesian for references to popular culture or current events, and English for 
crude comic relief. It could be argued that the meaning of the sacred ceremony was 
muddled by the antics of the clowns, but it could also be said that they presented the 
event in a way that was most accessible to the mixed audience of farmers, craftspeople, 
and laborers that gathered at the temple to commemorate Siwa's night. Lubdaka's story 
was translated and transformed from a rigidly structured poem in a Sanskrit-based 
language that few understood into an improvised comic debate that treated the reli- 
gious themes of the poem in terms that were immediately relevant to the concerns of a 
contemporary Balinese audience. Following the traditional performance patterns of 
'desa kala patra' the clowns responded to the particular needs and interests of a Ba- 
linese audience in a sacred Hindu temple on the night of worship dedicated to Siwa in 
the context of their immediate concerns: finding spiritual enlightenment in a world full 
of modern distractions like television, airplane crashes, generator failures, and deci- 
sions based on 'incomplete pieces of information.' The all-inclusive performance of 
puns, riddles and comic incongruities encouraged the audience to 'wake up' to the 
world around them and pay attention to the multiple meanings of what they observe. 




melewati batas peraturan-peraturan yang ada dalam sebuah bahasa. (Di dalam sebuah 
segmen yang diperpanjang dalam bahasa Indonesianya menyebabkan perubahan dari 
"Telur luar biasa" menjadi "Teluar biasa"). 

Para penonton diajak untuk berpartisipasi secara langsung di dalam proses mengulang 
kembali yang dibayangkan dalam tema sentral dari puisi, yang merefleksikan landasan 
dasar dari kepercayaan religinya di dalam percakapan dengan kepopuleran budayanya 
yang mulai runtuh. Bahasa Sansekerta berdasarkan struktur metrikalnya dari abad ke- 
15 syairnya telah diganti/dikuatkan dengan irama sebagai tonggak yang menjadi trend 
di abad ke-21. Para pelawak secara bergantian menggunakan Sansekerta kuno yakni 
bahasa Kawi atau Jawa kuno sebagai bahasa dasar, dan berbagai jenis bahasa modem 
termasuk bahasa Bali halus, bahasa Bali madya, bahasa Indonesia, dan kutipan dalam 
bahasa Inggris. Setiap peralihan bahasa yang digunakan disesuaikan dengan kemumian 
dari subyek yang sedang didiskusikan dalam pertimbangan yang mengalir dari nilai 
sakral hingga yang profan. Bahasa Kawi digunakan sebagai kutipan dari literatur yang 
sakral, bahasa Bali halus digunakan dalam diskusi kepentingan ritual tradisional, bahasa 
Bali Madya biasa digunakan setiap saat untuk hal-hal yang bersifat keduniawian dalam 
kehidupan sehari-hari, bahasa Indonesia sebagai acuan mengarah pada budaya yang 
bersifat lebih populer atau acara umum, dan bahasa Inggris untuk hiasan kasar 
kejenakaan. Hal ini bisa saja diperdebatkan bahwa pengertian dari upacara yang sakral 
telah dikacaukan oleh penampilan si pelawak, namun bisa dikatakan juga bahwa mereka 
menampilkan pertunjukan itu sekaligus sebagai usaha yang paling mudah untuk 
menyatukan penonton dari berbagai macam golongan baik itu petani, tukang ukir, hingga 
bumh di mana semuannya berkumpul di dalam Pura dan mengikuti upacara malam 
pemujaan Dewa Siwa. Ceritera Lubdaka telah diterjemahkan dan ditransformasikan 
dari sebuah puisi diupayakan lebih terstruktur didalam bahasa dasarnya adalah 
Sansekerta yang sedikit sekali dimengerti melalui improvisasi perdebatan yang jenaka, 
yang mengemukakan tema religius dari puisi pada masa itu yang secara langsung dan 
relevan dengan kehidupan orang Bali yang menonton pada malam itu. Mengikuti pola 
tradisi sebuah pertunjukan yakni "Desa Kala Patra" para pelawak merespon untuk 
kepentingan khusus dan keinginan para penonton yang sebagian besar adalah masyarakat 
Bali di dalam Pura Hindu yang disakralkan, dimalam pemujaan yang ditujukan kepada 
Dewa Siwa dalam kaitannya dengan hal-hal yang bersifat kepedulian mendadak 
mengenai: Mencari pencerahan spiritual didalam dunia yang penuh dengan hal-hal 
yang sifatnya merusak seperti televisi, kecelakaan pesawat terbang, kegagalan genera- 
tor, dan kesimpulan yang diambil berdasar pada informasi-informasi yang tidak lengkap. 
Dari keseluruhan pertunjukan termasuk sindiran, teka-teki, humor di mana semua 
perbedaan itu memotivasi penonton untuk "terjaga" akan kehidupan dunia ini dan 
mendengarkan berbagai hal secara keseluruhan untuk mendapatkan pengertian yang 
lebih mendalam pada apa yang kita dengarkan. 



24 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



The shadow puppet play performed that same evening at the Besakih temple was even 
more indirect in its reference to the ritual of Siwa's night. One of the island's most 
popular puppetmasters, the dalang I Wayan Nardayana chose to tell the story of 
Hanuman's meditation from the Ramayana. On a night that was traditionally devoted 
to introspective meditation, the dalang's story presented a plot in which the divine 
monkey's meditation in the forest turns out to be an essential element in the comple- 
tion of an important ritual being staged by King Rama. The importance of balancing 
life's actions with spiritual mediation is discussed by the penasar clowns in the shadow 
play. Twalen explains to his son Werdah that Hanuman left the palace to meditate, 
"because there are two aspects of life that cannot be separated.... meditation and ac- 
tion." The conversation then turns to other fonns of balance that are necessary in life, 
including the balance of sleeping and wakefulness. The playful rhythms of the dia- 
logue make it memorable. 



Werdah : What we are looking for. . . . 

Twalen : ... is balance. That is why our lives should be balanced. 



Werdah 
Twalen 
Werdah 
Twalen 
Werdah 
Twalen 
Werdah 



In order to be balanced? 

In order to be balanced, if you stay awake all the time. 

... then... 

. . . you never sleep. 

And then? 

You get sick. 

But if you sleep all the time, and never wake up...? 



Twalen : You're dead. 

The clowns complete each other's sentences in a vaudevillian patter that builds to a 
comic punch-line about death, emphasizing the seriousness of the issue being discussed 
at the same time that it is made palatable through humor The clowns' dialogue is an 
ironic meditation in its own right, using lighthearted language to dig down into the 
meaning of religious concepts that might not be fully understood by the audience. 
Instead of simply repeating the dictum that Siwaratri is a time when all Hindus should 
honor Siwa by staying up all night and engaging in meditative introspection, the pup- 
pet clowns demonstrate the kind of thoughtful questioning that might result from such 
meditation. They contemplate the relationship between the concept of balance and the 
sacred hindu symbol of the 'tampak dara' (a horizontal line bisected by a vertical line 



Pertunjukan wayang kulit berlangsung di malam yang sama di Pura Besakih bahkan 
lebih mengkhusus pada maksud dari malam ritual pemujaan Dewa Siwa. Salah seorang 
dalang yang terkenal di pulau ini yakni dalang I Wayan Nardayana memilih untuk 
menceritakan tentang Hanuman yang sedang bertapa dari kisah Ramayana. Pada malam 
yang memang sudah ditetapkan secara mentradisi sebagai malam introspeksi diri dengan 
meditasi, ceritera dalang ini mengisahkan tentang meditasi seekor kera kehadapan Tuhan 
di dalam hutan berubah menjadi sebuah elemen penting di dalam penyempurnaan sebuah 
ritual penting yang diperintahkan oleh Sang Rama. Betapa pentingnya menyeimbangkan 
tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dengan meditasi spiritual telah dikemukakan 
oleh penasar (pelawak) lewat pertunjukan wayang tersebut. Twalen menjelaskan kepada 
putranya Werdah, bahwa Hanuman telah meninggalkan kerajaan untuk bermeditasi, 
"karena ada dua aspek dalam kehidupan ini yang tidak dapat dipisahkan 

yakni meditasi dan tinggkah laku." Percakapan itu kemudian berubah pada pola 

dari keseimbangan yang sangat dibutuhkan dalam hidup ini, termasuk keseimbangan 
pada saat kita tidur dan sadar/terbangun. Pennainan dialog dengan ritme membuat 
pertunjukan ini tidak terlupakan. 



Werdah : Apa yang kita cari? 

Twalen : ....adalah keseimbangan. Itulah sebabnya mengapa hidup kita ini harus 

diseimbangkan. 
Werdah : Diusahakan untuk diseimbangkan? 
Twalen : Diusahakan untuk diseimbangkan, jika kamu tetap terjaga sepanjang hari. . 

Werdah : ....lalu 

Twalen : itu artinya kamu tidak pernah tidur. 

Werdah: ...setelah itu? 

Twalen : Kamu akan jatuh sakit. 

Werdah : Bagaimana jika terus tertidur sepanjang waktu, dan tidak bangun lagi?.. 

Twalen : Itu artinya kamu sudah mati. 



Para pelawak ini saling melengkapi kalimatnya masing-masing didalam potongan- 
potongan komedi bangsawan yang menciptakan sebuah gabungan antara lelucon tentang 
kematian, dengan menekankan keseriusan dari topik yang dikemukakan, disaat yang 
bersamaan dibuat lebih enak dibawakan dalam bahasa humor. Percakapan para 
panakawan ini merupakan meditasi yang ironis di dalam hak mereka sendiri, 
menggunakan bahasa yang terpancar dari jiwanya untuk menggali lebih dalam lagi 
pengertian dari konsep religius yang tidak sepenuhnya dapat dipahami secara utuh 
oleh penonton. Daripada secara mudah melakukan pengulangan ucapan yakni malam 
Siwaratri adalah saat dimana seluruh penganut Agama Hindu diharuskan melakukan 
pemujaan kepada Dewa Siwa dengan tetap terjaga sepanjang malam dan juga 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji claiam Seni PertunjuUn 



25 



Trie Invisible Mirror 



of equal length) that is a visual embodiment of balance. 




Werdah : Tampak dara? What's that? 

Twalen : The symbol of life in balance. This life should be in balance. Not only our 

life, but also the world needs balance. The three worlds of hell, earth, and 

heaven need to be balanced. 

Werdah : Hell? 

Twalen : It's what's below. 

Werdah : Earth? 

Twalen : It's what's above ground. 

Werdah : Heaven? 

Twalen : It's in the sky. 

Werdah : Hell, earth, heaven. 

Twalen : Hell, earth, heaven. In your body there is hell, earth, and heaven. • 

Werdah : Hell? 

Twalen : Down below, between your legs. 

Their discussion of the visual symbol of balance leads them into reflection on the 
fundamental Balinese belief that the macrocosmos of the universe is reflected in the 
microcosmos of the human body, and that both these large and small worlds are gov- 
erned by the laws of balance. Heaven is balanced by hell in the macrocosmos, just as 
it is in the microcosmos, where the head is heaven and the lower body is hell. Again, 
there is no complex theoretical sermonizing about the nature of heaven and hell or 
their relevance to the rituals of Siwaratri and the story of Lubdaka. The themes are 
simply presented in the form of comic bantering, and the audience gathered to worship 
on Siwa's night is free to make whatever connections occur to them. The clown pup- 
pets make a continuing stream of connections that link balance, sleep, sickness, death, 
heaven, hell, and the human body. Their free-form comic meditation moves quickly to 
a discussion about balancing the values of religious tradition with the realities of the 



menggabungkan introspeksi diri melalui meditasi, tokoh panakawan dalam wayang ini 
mendemonstrasikan beberapa macam pemikiran yang dipertanyakan apakah hal ini 
bisa saja merupakan hasil dari meditasi tersebut. Mereka menimbang bahwa hubungan 
antara konsep dari keseimbangan dan sebuah simbol yang disakralkan dalam Agama 
Hindu "Tapak Dara" (sebuah garis horisontal yang dipotong garis vertikal dengan 
panjang yang seimbang), yang mana merupakan visualisasi dari keseimbangan. 



Werdah 
Twalen 



Werdah 
Twalen 
Werdah 
Twalen 
Werdah 
Twalen 
Werdah 
Twalen 

Werdah 
Twalen 



: Tampak Dara? Apa itu? 

: Sebuah simbol hidup dalam keseimbangan. Kehidupan ini harus 

diseimbangkan. Tidak hanya kehidupan kita saja, dunia ini juga butuh 

keseimbangan, ketiga dunia yakni neraka, dunia dan sorga juga harus 

diseimbangkan. 
: Neraka? 

: Segala yang ada lebih rendah derajatnya daripada manusia. 
: Dunia? 

: Adalah segala yang ada dimuka bumi ini. 
: Sorga? 

: Letaknya dilangit. 
: Neraka, Dunia, Sorga. 
: Neraka, Dunia, Sorga. Di dalam tubuhmu juga terdapat Neraka, Dunia dan 

Sorga. 
: Neraka? 
: Yang dibawah, diantara kakimu. 



Pembicaraan mereka dari simbol nyata dari keseimbangan mengantar mereka ke dalam 
refleksi dari kepercayaan orang Bali yang mendasar bahwa makrokosmos dari dunia 
ini direfleksikan kedalam mikrokosmos dari tubuh manusia, dan keduanya baik dunia 
yang besar maupun yang kecil telah diatur oleh hukum keseimbangan. Sorga 
diseimbangkan oleh neraka didalam makrokosmos, sama seperti yang ada di 
mikrokosmos, dimana kepala dianggap sebagai Sorga dan bagian bawah tubuh adalah 
merupakan Neraka. Kembali diungkapkan di sini bahwa tidak ada teori yang kompleks 
yang berkhotbah tentang apa itu surga dan neraka atau apa relevansinya dengan ritual 
Siwaratri dan ceritera dari Lubdaka. Tema ini secara mudah ditampilkan di dalam sebuah 
formasi lawakan dengan bersenda gurau, dan para penontonnya berkumpul bersama 
sembari melakukan pemujaan pada malam Siwa, dimana mereka bebas untuk koneksi 
yang terjadi pada diri mereka. Panakawan dalam pementasan wayang ini membuat 



26 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Pertormance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjufea 



The Invisible Mirror 



modem world. The clowns note that paying respect to Bhrama (associated with fire) 
by building a traditional kitchen with a wood-burning cooking place is giving way to 
gas stoves, and paying respect to Visnu (associated with water) by drawing water from 
a traditional well is giving way to electric pumps made by Sanyo. They also note that 
traditional buildings for storing rice dedicated to the goddess Sri are being turned into 
tourist hotels dedicated to "the lord almighty dollar." Twalen warns his son Werdah 
not to let the "lord almighty dollar" distract him from his religious obligations to bal- 
ance meditation and action. "It's strange," muses Twalen, "now many things consid- 
ered to be good are already crushed by the lord almighty dollar. That's why your dad 
wants to tell you that you, my son. are a part of the youth generation, the next genera- 
tion, continuing the life of your fathers, so you should know how to carry out medita- 
tion and action, so that you don't become a person who's worse than a banana tree." 




The warning not to "become a person who's worse than a banana tree" leads to an 
extended mediation on the usefulness of bananas in sacred offerings and the etymo- 
logical meaning of the most refined Balinese word for banana which is 'pisang." (the 
high Balinese fomi of the word in this case is the same as the Indonesian word). Twalen 
speculates that the word is derived from two old Javanese words, 'pi' and 'sang', which 
mean respectively 'true' and 'respected.' So the banana, according to Twalen's trans- 
lation, is something that is 'truly respected' for its usefulness in offerings to the gods 
and for the fact that it grows so abundantly to fulfill its function. Even when part of the 
banana tree is chopped away, another branch will grow to provide fruit for the offer- 
ings. This, according to Twalen, is a good model for humans to follow, when con- 
fronted with obstacles that make it difficult for them to fulfill their devotions to the 
gods. No direct reference is made to the difficulty of fulfilling the obligations associ- 
ated with the rituals of Siwaratri, but everyone watching the play has traveled to the 
Besakih temple to do just that. Some of them will try to stay awake all night as the 
ritual requires, and by providing stimulating entertainment long into the night the shadow 
puppet clowns are helping them achieve the goal of becoming a person who is no 
'worse than a banana tree. 'The phrase is introduced by Twalen as a ridiculous ploy to 



sebuah aliran yang diteruskan dengan hubungan bahwa ada keterkaitan antara 
keseimbangan, tidur, kesakitan, kematian, surga, neraka dan tubuh manusia. Dari 
kebebasan meditasi mereka ini yang tercipta dari sebuah kejenakaan dengan cepat 
berubah menjadi sebuah topik diskusi tentang bagaimana menyeimbangkan sebuah 
nilai religius tradisi dengan realita dari kehidupan yang modern saat ini. Si pelawak 
menggarisbawahi di sini bahwa dengan memberikan penghormatan kepada Dewa 
Brahma (berkaitan dengan api) dengan membangun sebuah dapur tradisional dengan 
kayu bakar sebagai tungku untuk memasak kini sudah digantikan dengan kompor gas, 
penghormatan kepada Dewa Wisnu (berkaitan dengan air) dengan menimba air dari 
sumur tradisional kini sudah digantikan dengan pompa air dari sanyo. Mereka juga 
mengemukakan bahwa bangunan tradisional untuk menyimpan beras sebagai stana 
untuk Dewi Sri sudah diubah menjadi hotel tempat menginap para tamu asing yang 
diistilahkan dengan "Sang Penguasa Dollar" Twalen mengingatkan anaknya Merdah 
agar Sang Penguasa dollar ini tidak membuatnya bingung dengan kewajibannya dalam 
hal yang bersifat religius dalam menyeimbangkan meditasi dengan perbuatannya. "Aneh 
sekali" Twalen bergumam "sekarang segala hal yang dianggap bagus sudah ditindas 
oleh Sang Penguasa Dollar. Maka dari itulah ayahmu ini ingin mengingatkanmu anakku, 
kamu anak lelakiku, adalah merupakan bagian dari generasi penerus, generasi 
mendatang, melanjutkan hidup dari ayahmu ini, jadi kamu harus memahami bagaimana 
kamu bisa membawa diri dan menyeimbangkan meditasi dengan perbuatan, sehingga 
kamu tidak menjadi seseorang yang lebih buruk dari sebuah pohon pisang." 

Peringatan untuk tidak "mengantarkan pada bentangan menjadi seorang manusia yang 
lebih buruk dari sebuah pohon pisang" meditasi dari kegunaan pisang dalam 
persembahan suci dan pengertian Etimologi dari Bahasa Bali halus untuk kata "pisang" 
( tingkatan bahasa Bali halus dimana kata "pisang" yang memiliki arti sama dengan 
kata dalam bahasa Indonesia. Twalen berspekulasi bahwa kata ini diambil dari bahasa 
Jawa kuno yakni kata 'pi' dan 'sang' yang mana artinya adalah masing-masing 'benar' 
dan 'dihormati'. Jadi pisang, menurut hasil terjemahan Twalen, adalah sesuatu yang 
'memang benar-benar dihormati/dihargai' untuk kegunaannya didalam persembahan 
suci yang ditujukan kepada Tuhan dan pada kenyataan sebenarnya bahwa pohon ini 
tumbuhan yang seluruh bagiannya berguna. Bahkan disaat batang pohonnya ditebang 
cabang yang lain akan tumbuh dan menghasilkan buah yang digunakan sebagai 
persembahan. Hal ini, menurut Twalen, adalah suatu contoh yang baik bagi umat manusia 
untuk diikuti, disaat berhadapan dengan rintangan-rintangan yang membuat mereka 
kesulitan untuk memenuhi baktinya kepada Tuhan. Tidak ada petunjuk khusus yang 
dibuat hingga kesulitan untuk mengatasi jalan untuk memenuhi kewajibannya yang 
berkaitan dengan ritual Siwaratri, namun semua yang menyaksikan pertunjukan malam 
itu berangkat ke Pura Besakih hanya untuk melakukan ritual Siwaratri. Beberapa dari 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Perlorniance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



27 



tK 



e Invisible Mirror 



get the attention of Werdah and their audience, but by the end of his rambhng medita- 
tion on the sacred uses of bananas, the clown's metaphor seems perfectly appropriate. 
The same might be said of attending a puppet play in a temple on one of Balinese 
Hinduism's most sacred nights. It could be dismissed as a shallow substitute for the 
quiet introspection that might well lead to a deeper understanding of Siwa's ritual, but 
for spectators who are prepared to emulate the dalang's efforts to probe beyond the 
surface meanings of the story about Hanuman's mediation, a night spent at a puppet 
play could provide a shadowy mirror of the invisible world that Siwa's night is in- 
tended to illuminate. 




The three central texts translated in this book offer more direct interpretations of the 
observance of Siwa's night as depicted by Mpu Tanakung in his fifteenth century poem 
"Siwaratrikalpa," but the reader should not forget that there are countless other perfor- 
mances that provide a mirror into the relationship between the daily life of the Balinese 
and the invisible world of their spiritual beliefs. Each of these performances is created 
for a specific event or ceremony and vanishes, to be replaced by another performance 
that interprets the story differently on another day. Our selections are by no means 
definitive, but they do preserve traces of performances that would have disappeared if 
efforts had not been made to document, transcribe, and translate the complex texts 
generated by artists whose efforts are often underappreciated. It is with the hope that 
their multi-leveled artistry will be more completely recognized and remembered that 
this book was envisioned. If Ida Pedanda Singarsa is correct in his assumption that the 
world's problems can be traced to the flaw of forgetfulness, we hope this book will 
balance some small part of that forgetting by encouraging its readers to remember and 
respect the extraordinary artistry of Bali's poet/performers and their contributions to 
the cultural memory of their island home. 



mereka mencoba untuk tetap terjaga sepanjang malam seperti yang sudah ditetapkan 
dalam ritual, dan dengan jalan menyaksikan pertunjukan berstimulasi sepanjang malam 
dimana tokoh panakawan dalam pewayangan inilah yang membantu mereka untuk 
meraih tujuan dari menjadi seseorang yang 'tidak lebih buruk dari sebatang pohon 
pisang'. Frase ini diperkenalkan oleh Twalen sebagai sesuatu cara yang menggelikan 
untuk menarik perhatian dari Werdah dan para penontonnya, tapi pada akhirnya dengan 
meditasinya yang ngelantur tentang penggunaan pisang sebagai sesuatu hal yang 
disucikan, menjadi metafora yang dibawakan oleh punakawan ini tampaknya cukup 
berhasil. Hal yang sama dapat dikatakan dari menghadiri pertunjukan wayang di sebuah 
Pura di malam yang paling disucikan oleh orang Bali khususnya umat Hindu. Sesuatu 
yang dangkal bisa dihilangkan dan digantikan dengan introspeksi dalam kesunyian 
yang bisa saja mengantar kearah yang lebih mendalam mengenai pengertian malam 
ritual Pemujaan Siwa, tetapi bagi para penonton yang sudah mempersiapkan diri untuk 
menyaingi usaha si Dalang dalam menyelidiki apa yang menjadi inti dari ceritera 
Hanuman meditasi, semalaman suntuk menonton pertunjukan wayang, bisa memberikan 
sebuah kaca untuk bercermin dari dunia yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa 
bahwa malam pemujaan Siwa adalah dimaksudkan untuk meneranginya. 



Tiga hal utama yang diterjemahkan dalam buku ini menawarkan interpretasi yang lebih 
mengkhusus dari hasil pengamatan pada malam pemujaan Siwa seperti yang telah 
diungkapkan oleh Mpu Tanakung dalam puisinya di abad ke- 15 "Siwaratrikalpa" tetapi 
para pembaca tidak boleh lupa bahwa ada begitu banyak pertunjukan lainnya yang bisa 
membantu memberikan cermin dalam hubungannya antara kehidupan sehari-harinya 
orang Bali dengan dunia kasat mata dalam kepercayaannya yang dianut. Setiap 
pertunjukan ini diadakan hanya untuk kegiatan khusus untuk sebuah upacara dan 
kemudian hilang, untuk digantikan dengan pertunjukan lainnya yang 
menginterpretasikan cerita yang sama dengan cara yang lain dikemudian hari. Pilihan 
kami tanpa maksud yang pasti, tetapi mereka melakukan pelestarian dan melacak jejak 
seni pertunjukan yang bisa saja hilang jika tidak adanya usaha untuk membuat 
dokumentasi, merekam dan menerjemahkan teksnya yang rumit dimotori oleh para 
artis/seniman yang sering usahanya tidak dihargai. Dengan harapan juga bahwa dengan 
berbagai keahlian seni yang mereka miliki akan diketahui lebih luas dan diingat bahwa 
buku ini akan jadi inspirasi impian. Jika benar asumsi Ida Pedanda Singarsa bahwa 
masalah di Dunia ini bisa dilacak dengan kesalahan dari lupa diri, kami berharap buku 
ini dapat menyeimbangkan bagian kecil dari hal yang terlupakan dengan memberikan 
semangat kepada pembacanya untuk mengingat dan menghargai keanekaragaman 
keahlian seni dari orang Bali baik dalam puisi maupun sebagai entertainer, dan apa 
saja kontribusinya sebagai kenang-kenangan kebudayaan dari pulau asalnya. 



28 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Pertormance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



Tk 



e Invisi 



Die Mirror 




4. Siwaratrikalpa as Sung Voetry: Luhdakas story chanted & translated by a priest. 
Siwaratrikalpa Sebagai Ylyanyian Syair: Geritera Luhdaka dinyanyikan dan ditransliterasikan oleh Vendeta 



On April 15, 2007, the morning after the day Balinese dedicate to Saraswati, the Hindu 
goddess of knowledge, dozens of people come to Gria Taman in Sanur to be bathed in 
wisdom by the high priest Ida Pedanda Ketut Kencana Singarsa, also known as Ida 
Pedanda Ketut Gede Sidemen. The ritual consists of being blessed by the priest as he 
pours holy water over the head and torso of anyone who asks for what is known as a 
'banyu pinaruh.' According to Ida Pedanda, this holy water is different from ordinary 
holy water because it contains the spiritual essence of lontar palm-leaf manuscripts 
and the letters that are used to write them, as well as the mantras that have been chanted 
in the process of sanctifying the water. Essentially the 'banyu pinaruh" is the equiva- 
lent of bathing in the wisdom of books, a ritual that gives corporal form to the intan- 
gible act of seeking knowledge. 



Di pagi hari pada pertengahan bulan April tahun 2007, sehari setelah orang Bali 
mendedikasikan dirinya kepada Dewi Saraswati - Dewi Ilmu Pengetahuan bagi orang 
Hindu - puluhan orang datang ke Gria Taman Sanur untuk disucikan batinnya dengan 
kearifan oleh seorang pendeta Ida Pedanda Ketut Singarsa yang mana beliau juga dikenal 
sebagai Ida Pedanda Ketut Gede Sidemen. Upacaranya terdiri dari upacara penyucian 
oleh Ida Pedanda dengan jalan beliau menyirami air suci pada kepala dan badan setiap 
orang yang sengaja datang memohon berkah, dikenal sebagai "mabanyu pinaruh". 
Menurut Ida Pedanda, air suci ini berbeda dengan air suci biasanya karena mengandung 
esensi spiritual manuskrip dari lontar dan aksara yang digunakan untuk menulisinya 
dan dipuja-stawakan dengan melantunkan mantram dalam proses penyucian air tersebut. 
Intinya "banyu pinaruh" adalah sama dengan menyucikan kearif-bijaksanaan pada buku, 
sebuah upacara yang diberikan pada badani secara nyata sampai pada unsur yang tidak 
nyata dalam usaha pencarian ilmu pengetahuan. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



29 



Trie Invisible Mirror 



A few of the participants at the Gria (a generic term for the home of a priest) chose to 
celebrate their 'banyu pinaruh' not only by bathing in books, but by reading them aloud 
as well, transforming the written words into songs whose meanings are translated and 
debated in the ritual reading known in Bali as 'babaosan.' The priest oversees this 
ritual reading, assisting the participants in finding the correct melodies embedded in 
the metric structure of the poems they read, at the same time that he helps them to 
translate the meanings of the texts from the classical Sanskrit-based language of Kawi 
into vernacular Balinese. By translating the sacred texts into a language that can be 
easily understood by anyone, the priest and his students are making the wisdom of 
Saraswati accessible to anyone who cares to listen, metaphorically bathing the air with 
knowledge after having been bathed themselves by the wisdom-filled water of the 
'banyu pinaruh.' 



Beberapa peserta memilih merayakan 'banyu pinaruh' tidak hanya menyucikan buku, 
akan tetapi juga dengan membacanya secara lantang, mentransformasikan kata-kata 
dalam bahasa tulisan menjadi nyanyian yang artinya ditransliterasikan dan diperdebatkan 
dalam ritual tradisi pembacaan, di Bali dikenal dengan 'babaosan.' Ida Pedanda 
mengawasi ritual pembacaan ini, menuntun peserta di dalam melantunkan melodi yang 
benar yang tertanam dalam struktur metrik dari puisi syair lagu yang mereka baca, 
dalam waktu yang bersamaan beliau juga membantu mereka dalam menerjemahkan 
arti teks lagunya dari bahasa klasik Sanskrit yakni dasarnya adalah bahasa Kawi, ke 
dalam bahasa Bali. Dengan menterjemahkan teks yang sakral ke dalam bahasa yang 
dapat dimengerti dengan mudah oleh setiap orang, Ida Pedanda dan muridnya 
mengangkat nilai kearif-bijaksanaan ajaran Saraswati agar dapat diterima oleh setiap 
orang yang menaruh perhatian dan mendengarkannya, secara metafora menyucikan 
udara dengan ilmu pengetahuan setelah diri mereka disucikan dengan kearif- bijaksanaan 
dengan menuangkan air suci 'banyu pinaruh.' 



One of the poems they chose to read, sing, and translate that day was "Siwaratrikalpa" 
("Observing the Night of Shiva") by the fifteenth century Javanese poet Empu Tanakung. 
The precision with which the priest analyzed the meaning of the opening verse pro- 
vides insight into the sacred significance of poetry and translation in landscape of 
Balinese religion. The poem begins with a dedication to the god Siwa that describes 
the sacred nature of poetry as a means of achieving religious salvation. 

The first two lines are 

'Sanghyang ning hyang amurti niskala sirati-kinenyep ing akabwatan lango. 

Sthulakara sira pratisthita haneng hrdayakamalamadhya nityasa.' 

These lines were translated by the Australian scholar S.O. Robson in 1969 as: 

'To the god of gods in his immaterial from does one accomplished in the poetic arts 

direct his inmost thoughts. 

In material form He is everlastingly enthroned in the midst of the heart lotus." 



(p. 69. "Siwaratrikalpa' by Robson, et.al. 



Hague, 



1969) 



The Sanur priest and his students generated a translation that was similar, but which 
differed in the emphasis given to the meaning of the words 'sthulakara sira'. The priest 
corrected his students as they sang the words, stopping them to discuss the possible 
meanings, and suggesting that it might be read as 'sthulakaras sira.' This would mean 



Satu diantara puisi sastra yang dipilih untuk dibaca, dinyanyikan, dan diterjemahkan 
pada waktu itu adalah "Siwaratrikalpa" ("Pemujaan pada Malam Siwa") yang dikarang 
oleh Empu Tanakung seorang pengawi di abad ke limabelasan. Keseksamaan analisa 
yang diberikan oleh Ida Pedanda pada stanza pembukaan dengan wawasan dan 
pengertian yang mendalam, memberikan arti penting pada pemaknaan dan terjemahan 
puisinya ke dalam dalam panorama alam agama orang Bali. 

Dua baris pertamanya berbunyi. 

'Sanghyang ning hyang amurti niskala sirati-kinenyep ing akabwatan lango. 

Sthulakara sira pratisthita haneng hrdayakamalamadhya nityasa.' 

Kedua baris ini ditransliterasi oleh S.O. Robson seorang ilmuwan asal Australia di 

tahun 1969 sebagai berikut: 

"Dewa dari segala Dewa, tidak mempunyai bentuk di dunia nyata, adalah subjek dari 

pikiran yang terdalam sang penyair. 

Di dunia nyata, Beliau sebagai yang "tidak mempunyai bentuk", ditahtakan dalam bunga 

teratai abadi yang kembang di dalam hati manusia." 

(p.69. 'Siwaratrikalpa' by Robson, et.al. , Hague, 1969) 

Pendeta dari Sanur dengan para siswanya ini, melahirkan terjemahan yang mirip, dengan 
penekan yang berbeda diberikan pada kata 'sthulakara sira.' Pendeta memberi 
pembetulan sewaktu muridnya menyanyikan kata-kata, dan memberhentikan mereka 
untuk berdiskusi dari kemungkinan arti, dan mengusulkan kiranya dapat dibaca sebagai 



30 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



that the phrase included the term 'karas' (a traditional slate once used for writing), and 
instead of referring only to the embodiment in material form of the god Shiva, it could 
also refer to the physical manifestation of the writing implement as part of the poet's 
body. Without rejecting the first translation, the priest added his interpretation as a 
second layer of meaning to the phrase, so that it became more densely poetic and 
sacred. The priest inteiprets the phrase to mean 'the embodied writing slate" implying 
that poets write poems with their bodies. The body of the poet cannot be separated 
from the poem, just as it cannot be separated from the god to whom it is dedicated. The 
double-layered meaning of the priest's translation establishes the inseparability of sa- 
cred poetry from the embodied voice of the poet who creates it and the god to whom it 
is dedicated, a postulation that subliminally reminds his students of their own recent 
experience bathing in the sacred water of sacred language as a prelude to embodying 
sacred language by performing it in song. The priest's translation is not a simple intel- 
lectual exercise. It is a concrete reminder of the experiential nature of transmitting and 
translating knowledge as sacred acts. In keeping with the spirit of this concept, the 
priest does not communicate his translation in a detached manner. He embodies it, 
singing bare-chested on a porch with his students just a few meters away from the 
shrine where he bathed them and himself in holy water that is the physical manifesta- 
tion of the knowledge he is imparting to them as he sings. The priest chants along with 
his students under his breath as they sing into a karaoke microphone that projects the 
poetry beyond the walls of the Gria. The priest also sways his body gently in syn- 
chrony with the melodies his students sing. The babaosan translations are a collective 
performance, a vocal and physical embodiment of the struggle to wrestle tangible mean- 



ing out of abstract knowledge. 



'sthulakaras sira.' Frase ini jadi bisa berarti dan termasuk istilah 'karas' (bidang pipih 
terbuat dari batu tempat menulis), dan dari pada hanya menunjuk Dewa Siwa dalam 
pemberian wujud lahiriah di dunia nyata, juga bisa menunjuk pada manifestasi pisikal 
dari implementasi karya sastra dalam wujud syair. Tanpa harus menolak arti yang 
diberikan pada terjemahan pertama, sang Pendeta menambahkan interpretasi beliau 
sebagai lapisan kedua dalam pemberian arti pada frase tersebut, dengan demikian 
menjadi lebih puitis, padat, dan sacral. Pendeta menginterpretasikan frase tersebut ke 
dalam arti 'wujud pisik aksara dalam batu tulis' menyiratkan para penyair menulis 
syair/puisi dalam wujud pisiknya. Badannya penyair tidak dapt dipisahkan dengan syair 
karyanya, juga tidak bisa dipisahkan dengan Tuhan yang didedikasikan. Arti berlapis 
ganda dalam transliterasi yang diberikan oleh pendeta, menetapkan tak terpisahkannya 
puisi yang suci tersebut dari suara badani sang penyair yang menciptakannya dan untuk 
dewa siapa syair itu dipersembahkan, suatu perumpamaan di bawah kesadaran 
mengingatkan para siswanya dari pengalaman terbaru mereka sendiri mandi dengan 
air suci, dari bahasa yang suci sebagai pembuka bagi mereka untuk mewujudkan bahasa 
yang suci pula dengan cara melakukannya di dalam nyanyian. Terjemahan yang 
diberikan oleh sang pendeta bukanlah latihan intelektual yang sederhana. Semuanya 
itu merupakan peringatan kuat dari sebuah pengalaman alami dari menstranmisikan 
dan menterjemahkan pengetahuan sebagai kegiatan sakral. Di dalam menjaga spiritnya 
dari konsepsi ini, Ida Pedanda lakukan dengan cara tanpa harus melepas dalam 
mengkomunikasikan terjemahan beliau. Beliau mempergakan, bernyanyi dengan 
telanjang dada pada beranda dengan murid-murid beliau hanya beberapa meter saja 
dari sanggar tempat sucinya rumah beliau (merajan) dimana mereka dimandikan dengan 
air suci termasuk beliaunya sendiri, sebagai manifestasi wujud pisik dari ilmu 
pengetahuan yang beliau berikan untuk mereka semua dengan cara bernyanyi. Ida 
Pedanda bernyanyi bersama-sama dengan murid-murid beliau dibawah hembusan nafas 
beliau, ibaratnya bernyanyi dalam microphone karaoke memproyeksikan syair-syair 
lagunya menembus pagar pembatas tembok Geria. Ida Pedanda juga menggoyang badan 
beliau secara lembut seirama dengan melodi alunan lagu nyanyian murid-murid beliau. 
Terjemahan dalam sistem bebooscm adalah pertu ijukan bersama, merupakan peragaan 
vokal dan pisikal, berjuang dan bergumul, untuk memperoleh maksud/arti yang nyata 
dari pengetahuan yang bastrak. 



The depth of the priest's dedication to translation as a sacred act with tangible reper- 
cussions in the material world can be further understood by examining his poetic me- 
diation on the meaning of the 'Siwaratrikalpa' epic that appears in a poem Ida Pedanda 
wrote himself. Written in the Balinese language in a metric form known as 'Gaguritan,' 
the priest's poem is called "Panca Satya" ("Five Loyal Ones"). In the section that deals 



Kedalaman tentang dedikasinya Ida Pedanda akan terjemahan sebagai reaksi akibat 
realita dalam dunia nyata, akan dapat lebih dimengerti berkenaan dengan arti dari epik 
'Siwaratrikalpa' dengan cara menengahinya seb igai pengujian yang muncul di dalam 
karya syair lagu yang ditulis oleh Ida Pedanda endiri. Ditulis menggunakan bahasa 
Bali dalam formulasi bentuk yang disebut 'Geg iritan,' puisi karya sastra Ida Pedanda 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



31 



The Invisible Mirror 



with 'Siwaratrikalpa', the priest imagines Yudhistira, one of the five heroic brothers in 
the Mahabhrata (another sacred epic poem), explaining the meaning of the 'Siwaratri' 
story to his four brothers who have just suffered a great misfortune. In the priest's 
fable, Yudhistira dwells on the importance of proper translation as the key to trans- 
forming written wisdom into practical information. Without proper translation that 
peels away the surface meanings of a story to reveal their true inner wisdom, poetry 
would be understood in only a uselessly superficial manner. 

A few days after the "babaosan" in which he and his students had translated the mul- 
tiple meanings of 'Siwaratrikalpa', Ida Pedanda agreed to translate the verses he had 
written about translating the 'Siwaratrikalpa' epic. The priest did this at the Gria in an 
interview conducted in Balinese and Indonesian. The main character in 'Siwaratrikalpa' 
is a hunter named Lubdaka. The poem tells the story of how Lubdaka's soul after 
death is rewarded with a place in Siwa's heaven, because he redeemed his sinful life of 
killing animals by unknowingly performing a ritual in honor of Siwa. On the night of 
Siwa (Siwaratri) Lubdaka happened to have climbed a 'bila' tree in the forest to avoid 
being eaten by a tiger, and picked the 'bila' leaves all night to keep himself awake and 
avoid falling out of the tree. The leaves accidentally fell onto a natural shrine to Siwa, 
fulfilling the terms of the ritual that involved staying awake all night (jagra) and pay- 
ing homage to Siwa. 



According to Ida Pedanda the plot of the story is meaningless, unless it is translated 
into metaphoric terms. "Some people might think that it is just a regular story," says 
the priest, "but if you dig more deeply into it you will see that it is full of philosophy 
and practical advice." Ida Pedanda goes on to describe his own poem (written in 
Balinese) in which Yudistira becomes the translator of Empu Tanakung's fifteenth cen- 
tury poem, which was originally written in the Sanskrit-based language known as Kawi, 
or old Javanese: 



"Yudistira has often heard people talking and arguing about Lubdaka," explains Ida 
Pedanda, "but he thinks that those people only know the surface of the story. They 
don't really understand the translation and meaning of what it's truly about. So he 
(Yudistira) is the one who explains it. He explains that the name Lubdaka comes from 



berjudul "Panca Satya" (Lima Kesetiaan). Pada bagian yang berhubungan dengan 
'Siwaratrikalpa' Ida Pedanda membayangkan Yudistira, satu dari lima bersaudara ksatria 
Pandawa di dalam Mahabharata (puisi yang sacral pula dari epik lainnya), memaparkan 
arti dari kisah 'Siwaratri' kehadapan empat saudaranya yang menderita akibat kurang 
keberuntungan. Pada ceritera dongeng Ida Pedanda, Yudisfira distanakan pada 
pentingnya dari terjemahan yang sesuai sebagai kunci untuk menstransformasikan 
kearifan pada tulisan ke dalam informasi praktikal. 

Beberapa hari setelah "bebaosan" yang mana beliau dan para muridnya telah 
menterjemahkan arti ganda dari 'Siwaratrikalpa', Ida Pedanada setuju untuk 
menterjemahkan versi yang beliau karang sendiri berkenaan dengan terjemahan epik 
'Siwaratrikalpa.' Ida Pedanda lakukan semua ini di Gria dalam interview yang dilakukan 
dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Karakter pokok dalam kisah 'Siwaratrikalpa' 
adalah seorang pemburu bernama Lubdaka. Syair puisinya berceritera tentang bagaimana 
kisah atmanya si Lubdaka setelah dia mati dihadiahkan tempat di sorganya Siwa, oleh 
karena dia dapat menebus dosa yang diperbuat semasa hidupnya dari membunuh 
binatang, dan dengan tanpa disadari dia melaksanakan sebuah ritual penghormatan 
kehadapan Dewa Siwa. Pada malam Siwa (Siwaratri) yang terjadi Lubdaka memanjat 
pohon pada sebuah pohon 'bila' di dalam hutan untuk menghindar dari bahaya disergap 
binatang harimau, dan dia memetik daun-daun 'bila' tersebut sepanjang malam agar 
dia tetap terjaga dan terhindar agar tidak jatuh dari pohon. Daun-daun itu secara 
kebetulan jatuh pada lingga Sanghyang Siwa, memenuhi terminologi dari sebuah ritual 
yang mengharuskan begadang semalaman (jagra) dan menghormat kehadapan 
Sanghyang Siwa. 

Menurut Ida Pedanda plot dari pada ceriteranya adalah menjadi kurang berarti, kecuali 
itu diterjemahkan ke dalam metaporikal terminology. "Beberapa orang mungkin mengira 
yang itu hanyalah merupakan ceritera biasa." Kata Ida Pedanda , "Akan tetapi bila 
saudara gali dia lebih dalam lagi, saudara akan menemui di sana penuh dengan pilosofis 
dan saran-saran yang bersifat praktis." Ida Pedanda lanjut membeberkan syair puisiya 
(ditulis dalam bahasa Bali) yang mana Yudistira menjadi penerjemahnya puisi Empu 
Tanakung dari abad kelima belas, yang aslinya ditulis berdasar pada bahasa Sanskrit 
ke dalam bahasa Kawi atau juga dikenal sebagai bahasa Jawa Kuno: 

"Yudistira sering mendengarkan orang-orang yang membicarakan dan memperdebatkan 
tentang Lundaka," Ida Pedanda menerangkan "akan tetapi beliau (Yudistira) kira mereka 
itu hanyalan mengetahui permukaannya saja dari kisah tersebut. Mereka sungguh tidak 
mengerti terjemahan dan arti tentang apa sesungguhnya semua itu. Hanya beliaulah 



32 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



the word Mubda' which means to forget. And 'dak' means poor. So he is a person who 
is poor in forgetting. That means he is rich in remembering. He always remembers. 
And he goes hunting, not necessarily to kill, but to look for something. He's hunting 
for 'satwa'." 

In using the word 'satwa' to translate the meaning of Lubdaka's profession as a hunter, 
Ida Pedanda has poetically chosen a term that has multiple interpretations. 'Satwa' can 
mean 'animals', but it can also mean 'stories' or 'sacred teachings.' So the priest 
provides a translation that transforms his listener's understanding of the story from a 
simple fable into a complex religious allegory, in which the hunter is hunting sacred 
knowledge or dharma. The priest deepens his interpretation by providing yet another 
layer of metaphor and suggesting that the animals being hunted also represent the 
bestial nature of the hunter's character that need to be exorcised. 



"If he's hunting for animals," continues the priest, "he's hunting for the animals that 
are inside his own body. And after he hunts the animals inside himself, the tiger ar- 
rives, which is dharma. The tiger that is chasing him is his own egotism, and it fright- 
ens him, so he climbs up a tree to escape from it. The tree is made of wood (kayu), and 
kayun (literally, that which belongs to the wood) means thought. He climbs through 
his thoughts into the 'bila" tree full of 'bila' leaves. 'Bila' is related to the word 'bilasa' 
which means actions or deeds. Up in the tree of his thoughts he can meditate on the 
deeds and actions of his life that were not good and he can pluck out the 'bila' leaves 
which aie the bad deeds and actions he committed in his life. And after he plucks out 
all the leaves, there is no longer any shade in the tree to prevent him from seeing the 
holy light of Siwa, whose name means, 'the one who is light.'" 



Having provided an intellectual translation of the story, Ida Pedanda, suddenly feels 
compelled to stop talking and start singing. "I have to sing," he says, as if he needs to 
be connected to a more physically palpable mode of understanding the story, translat- 
ing its meaning into rhythmic vibrations that are more deeply embedded in his body 
than mere spoken words. This is in keeping with the priest's interpretation of the 
introduction to 'Siwaratrikalpa" in which the poet Mpu Tanakung writes that poetry is 
written with the body as a physical impulse which resonates tangibly with the godli- 
ness that dwells inside oneself, the 'hrdayakamalamadhya nityasa' or 'everlasting lo- 
tus flower of the heart.' 



orang yang dapat menerangkannya. Beliau menerangkan nama dari Lubdaka berasal 
dari kata 'lubda' yang berarti lupa. Dan 'dak' berarti miskin. Jadi dia adalah seseorang 
yang miskin akan lupa. Itu berarti dia kaya akan ingat. Dan dia pergi berburu tidak 
perlu untuk membunuh, akan tetapi dia mencari sesuatu. Dia berburu 'satwa'." 

Dalam penggunaan kata 'satwa' untuk menerjemahkan arti dari profesinya si Lubdaka 
sebagai seorang pemburu, Ida Pedanda secara poitis memilih istilah yang memiliki 
interpretasi ganda. 'Satwa' dapat berarti 'binatang', akan tetapi juga berarti 'ceritera' 
atau 'ajaran suci.' Dengan demikian Ida Pecanda menyediakan terjemahan yang 
menstransformasikan pengertian pendengarnya dari ceritera binatang yang sederhana 
ke dalam alegori ritual keagamaan yang kompleks, yang mana si pemburu sedang 
memburu pengetahuan suci atau dharma. Ida Pedanda memperdalam interpretasinya 
dengan memberikan lapisan metafor lagi dan menyarankan bahwa binatang yang sedang 
diburu itu juga mewakili karakter alami sifat kebinatangan dalam diri si pemburu yang 
perlu untuk di bebaskan dari sifat-sifat jahat tersebut. 

"Jika dia berburu binatang," lanjut Ida Pedanda, "dia berburu sifat binatang yang ada 
pada dirinya sendiri. Dan setelah dia buru binatang dalam dirinya, harimau akan datang, 
yang sesungguhnya adalah Dharma. Harimau yang mengejar dia tiada lain adalah egonya 
sendiri, yang menakuti dirinya, dengan demikian dia naik memanjat pohon untuk 
mengindar darinya. Pohon berbatang kayu, dan kayun (kepemilikan dari kayu) yang 
juga berarti pikiran. Dia memanjat melalui pikirannya pada pohon 'bila" yang penuh 
dengan daun 'bila.' Kata 'bila' berhubungan dengan kata 'bilasa' yang berarti perbuatan. 
Di atas pohon pikirannya dia dapat melakukan meditasi tentang perlakuan buruk atau 
jahat dari pelaksanaannya selama hidupnya, dan dia memetik daun bila tersebut, yang 
berarti menyadari akan perbuatan perlakuan dan pelaksanaan yang dijalani semasa 
hidupnya. Setelah memetik semua daun 'bila' tersebut, tidak ada lagi yang menutupi 
pikirannya atau yang menghalangi dia untuk melihat sinar suci dari Siwa, yang nama 
beliau berarti 'beliau sendiri adalah sinar'." 

Setelah membeberkan terjemahan intelektual berkenaan dengan ceritera tersebut, Ida 
Pedanda tiba-tiba saja merasa terpaksa untuk berhenti berbicara dan mulai bernyanyi. 
"Saya harus bernyanyi,' kata beliau, seperti beliau perlu untuk mengkaitkan dengan 
gayanya secara pisik dalam mengertikan ceritera secara gamblang, menterjemahkan 
artinya ke dalam vibrasi ritmikal yang lebih dalam terpancang dalam badan beliau, dari 
pada hanya berbicara dengan wawan kata saja. Inilah yang menjaga seperti 
interpretasinya Ida Pedanda pada introduksi dari karya sastra gubahan Empu Tanakung 
yakni 'Siwaratrikalpa' yang mana penggubah menulis puisinya dituliskan dengan 
badannya sebagai dorongan gerakan hati secara phisik memerkan resonansi nyata dengan 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



33 



The Invisible Mirror 



For the rest of the interview, Ida Pedanda alternates between singing his poetic Ba- 
Hnese translation of the Lubdaka story, and speaking an Indonesian prose translation 
of his poem's meaning. The shifting between modes of sung poetry and spoken prose 
mirrors the traditional structure of the Balinese 'babaosan.' like the one held in the 
priest's Gria a few days before; but now Ida Pedanda is performing all the roles in the 
babaosan himself, as if prose translation and sacred song are inseparable. It is clear 
that physical vibrations of song enga;;ing the entire body are essential to the priest's 
process of translating the deeper meanings of sacred poetry. (This profound connec- 
tion between the rhythmic structure of the sung poetry and its true meaning was also 
revealed by the priest's comment earlier in the week when shown a transliteration of 
the 'Siwaratrikalpa' text from Balinese letters into the Roman alphabet. Even though 
the language and phonemes were the same Ida Pedanda seemed dissatisfied with the 
text and had difficulty reading it, because in his words, "it is hard to find the music of 
the letters unless they are written in Balinese script.") This helps explain why, a few 
days later, the priest finds it easier to translate his poem into Indonesian, after he sings 
the words in Balinese, reading from tire Balinese script: 



"Often, my dear brothers," the Priest sings in the poetic voice of Yudistira as it ap- 
peared in his poem. "Your older brother (me, Yudistira) heard people talking about the 
story of Lubdaka. Why does he get to the highest heaven? He is essentially a hunter. 
Everyday he is killing. Why does he get to heaven? That makes them confused. They 
only heard the story. They don't know what the story truly means. That's why they 
argue.' 

Having been inspired by the physical resonance of the sung translation in Balinese, Ida 
Pedanda feels ready to continue his prose translation in Indonesian as follows: 



"Because people did not think about the true essence of the story," the priests says, 
"they were conflicted about it's meaning. He (Yudistira) didn't agree with what he had 
just heard them say. They just knew the outline of the story, but they had to peel it 
away to get to the essential meaning inside. There are two levels to the meaning of a 



sifat ketuhanan yang tinggal di dalam diri seseorang 'hrdayakamalamadhya nityasa' 
atau bunga teratai yang selalu kekal dari hati. 

Interview selebihnya, Ida Pedanda selang-seling diantara menyanyikan gubahan puisinya 
yang ditulis dalam bahasa Bali tetang ceritera si Lubdaka dan berbicara dalam prosa 
berbahasa Indonesia menterjemahkan arti karya puisinya. Perubahan diantara gaya dari 
nyanyian puisi dan ucapan prosa tersebut mengaca pada struktur tradisioal 'bebaosan' 
orang Bali, seperti halnya sering diselenggarakan di Cerianya pendeta beberapa waktu 
sebelumnya, akan tetapi kali ini Ida Pedanda mempertunjukkan semua peran dari 
mebebaosan, dilakukannya sendiri, seperti halnya terjemahan prosa dan nyanyian suci 
adalah tidak terpisahkan. Sangat jelas bahwa vibrasi pisikal dari lagu melibatkan seluruh 
badan menjadi esensial saat proses Ida Pedanda menterjemahkan kedalaman arti dari 
puisi yang sakral tersebut. (Koneksi yang mendalam antara struktur ritmis dari nyanyian 
puisi dengan arti sesungguhnya juga telah diungkapkan pada komentar Ida Pedanda, 
minggu sebelumnya ketika memperlihatkan transliterasi dari teks 'Siwaratrikalpa' dari 
huruf Bali kedalam Roman alfabet. Kendatipun bahasa dan fonemnya adalah sama, 
Ida Pedanda nampaknya kurang puas dengan teksnya dan menemui kesulitan dalam 
membacanya, oleh karena dalam kata-katanya, "sangat sulit mendapatkan musik dari 
hurufnya, kecuali itu ditulis dalam aksara Bali.") Baru setelah beberapa hari 
kemudiannya dapat jawaban kenapa, Ida Pedanda dapat lebih mudah menterjemahkan 
puisinya ke dalam bahasa Indonesia, setelah beliau menyanyikan kata-katanya dalam 
bahasa Bali, dan dibaca dari huruf Bali. 

"Sering adik-adikku sayang," Ida Pedanda menyanyikan seperti suara puisinya Yudistira 
hadir dalam syairnya "Kakandamu (saya, Yudistira) mendengar orang berbicara tentang 
ceritera si Lubdaka. Kenapa dia mendapat sorga tertinggi? Dia adalah sesungghnya 
seorang pemburu. Setiap hari dia membunuh. Kenapa dia mendapatkan sorga? Itu yang 
membuat mereka bingung. Mereka mendengar hanya ceriteranya saja. Mereka tidak 
tahu apa arti sesungguhnya dari ceritera tersebut. Itulah sebabnya mereka bertengkar." 

Mendapatkan ilham dari resonan pisik dari terjemahan lagu dalam bahasa Bali, Ida 
Pedanda merasa siap untuk melanjutkan untuk menterjemahkan prosanya ke dalam 
bahasa Indonesia seperi dibawah ini: 

"Oleh karena orang-orang tidak berfikir tentang esensi sesungguhnya dari ceritera," 
kata Ida Pedanda, "mereka bertengkar akan artinya. Dia (Yudistira) fidak setuju dengan 
apa yang dia baru saja dengar dari apa yang mereka katakan. Mereka hanya mengetahui 
garis besar dari ceriteranya saja, akan tetapi mereka harus mengupas untuk mendapatkan 



34 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di Jalani Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



kekawin poem. It is talking about an individual and it is also talking about the general 
public, the common man. If we look at the story of the individual, Lubdaka is just a 
hunter." 



Again Ida Pedanda shifts to song, embodying the voice of Yudistira, as he interprets the 
story of Lubdaka in the poem: 

"The entire story is full of meaning," the priest, as Yudistira, sings in Balinese. "If we 
look closely, according to the action, that is the truth, my brothers. The wisdom of the 
poet gives birth to the kidung and the kekawin poetry. Then they are always sung, and 
used to console your confusion. And from that (singing) we try to give it meaning, 
until we end up quarreling about it, because no one knows the true meaning, and be- 
cause everyone stubbornly maintains their own opinion." 



In this passage Ida Pedanda is describing the function of translation itself, admitting 
that it is a subjective art with no absolute answers, at the same time that he makes it 
clear why singing is an essential element of the translation process. "They are always 
sung," states Yudistira unequivocably, in song. And then he explains that the singing is 
'used to console your confusion." According to this interpretation, the translations are 
sung to provide comfort that counteracts the discomfort arising out of confusion. The 
musical harmony of a translation is reassuring, particularly after the cacophony of 
conflict and misunderstanding. Having established this point in a Balinese poetic song, 
Ida Pedanda is ready to translate it into the less comforting but equally instructive form 
of Indonesian prose conversation: 



arti esensial di dalamnya. Ada dua tingkatan arti tentang puisi kekawin. Disatu sisi 
berbicara tentang individual dan juga berbicara tentang publik secara umum, orang 
kebanyakan. Jika kita amati dari dekat tengtang ceritera secara individual, Lubdaka 
hanyalah seorang pemburu." 

Lagi Ida Pedanda pindah untuk bernyanyi, meragakan suara sang Yudistira, seperti dia 
menginterpreatasi ceritera si Lubdaka melalui syair puisinya: 

"Seluruh ceritera penuh dengan arti," Pendeta bertindak .selaku Yudistira bernyanyi 
dalam bahasa Bali. "Jika kita lihat lebih dekat, menurut aksi dari perbuatan, memang 
betul adindaku. Kearif bijaksanaan dari pengawi melahirkan syair-syair puisi kidung 
dan kekawin. Kemudian semuanya itu selalu dinyanyikan dan digunakan untuk 
menghibur akan kebingungan kalian. Dan dari nyanyian tersebut kita coba berikan arti, 
sampai kita akhiri perdebatan tentangnya, oleh karena tidak seorangpun tahu arti 
sesungguhnya, dan oleh karena setiap orang secara membangkang kukuh pada 
pemikirannya sendiri." 

Pada jalan lintasan ini Ida Pedanda menerangkan fungsi dari terjemahan itu sendiri, 
mengakui adalah subjektivitas sebuah karya seni tanpa adanya jawaban yang absolute, 
dan pada waktu yang bersamaan dia membuatnya jelas kenapa nyanyian menjadi elemen 
esensial dari proses terjemahan. "Semuanya itu selalu dinyanyikan" pernyataan Yudistira 
tegas tanpa keraguan, dalam nyanyian. Dan kemudian dia menerangkan bahwa nyanyian 
adalah digunakan untuk menghibur kebingungan kalian." Menurut interpretasi ini 
terjemahan dinyanyikan untuk menyediakan kenyamanan untuk melawan 
ketidaknyamanan yang muncul dari kebingungan. Musikal harmoni dari terjemahan 
dapat menentramkan khususnya setelah suara yang tak enak didengar yang muncul 
dari konflik akibat salah pengertian. Memiliki kemapanan dari poin ini dalam puisi 
nyanyian Bali, Ida Pedanda siap untuk menterjemahkannya ke dalam format yang sedikit 
semakin menghibur akan tetapi memiliki kesamaan pelajaran dari percakapan prosa 
Indonesia: 



"Ali things created by true poets contain philosophy." explains the priest. "Nothing 
other than that (can be accepted). Anyone who does not understand philosophy, who 
knows just the story, will not receive the true meaning of the story. It is full of philoso- 
phy. That's why people translate from the inside out and from the outside in. From the 
outside it is just a story, but to go inside is something different. That is where the 
content of all kekawin poetry lies. That is why he (Yudistira) explains that the one who 
is listening is hearing only the story, and is not peeling it away to the meaning inside. 



Segala sesuatu yang diciptakan oleh seorang empu penyair, berisikan filosofi," Ida 
Pedanda menjelaskan. "Tidak lebih dari itu (dapat diterima). Siapa saja yang tidak 
mengerti akan filosofi yang terkandung di dalamnya, yang mengetahui hanyalah pada 
tataran ceritera saja, tidak bakalan bisa menerima arti sesungguhnya dari ceritera 
tersebut. Oleh karenanyalah orang-orang menterjemahkannya dari dalam ke luar, dan 
dari luar ke dalam. Dari luarnya itu hanyalah sebuah ceritera, akan tetapi kalau masuk 
mendalaminya sesuatunya akan berbeda. Disitulah isi dari semua puisi kekawin 



SiwaratriUalpa: Balinese Literature in Perfomiance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



35 



Tk 



e Invisible Mirror 



The one who really understands, peels it down to its inner meaning. The one who does 
not understand, does not peel it away to find the meaning. That is the source of the 
conflict. The two (different understandings of the meaning, i.e. the deep and the super- 
ficial) don't fit together." 



Now that the priest has conveyed the core meaning of the passage, which essentially 
involves translating the meaning of translation, he moves more fluidly back and forth 
between the sung Balinese translation of Lubdaka's story in his poem, and the spoken 
Indonesian translation of what he has just sung. This phase of his perfomiance appears 
to be the antithesis of the conflict that arises when superficial translation is pitted 
against deep translation. Instead the sung translation is providing the comfort that 
comes when that conflict is resolved through the simple uncontested acceptance of 
truth. The unintenupted fluidity of the perfomiance of these lines, in alternating sung 
Balinese and spoken Indonesian, does in fact provide a sense of calm reassurance. The 
harmony between the two forms is so complete that in some instances the translation is 
spoken in Indonesian even before it sung in Balinese. (The Indonesian is in parenthe- 
ses). 



"If I go back to thinking about Lubdaka 
(According to Yudistira, the name of Lubdak a is important) 
Looking from his name. 
(If we are looking at his name) 
Lubda means forget, that is what it means, my brother. 
(Lubda means to forget) 

Dak means very poor. 
(Dak means poor. He is poor in forgetfulness, not poor in money. That means he 
always remembers) 

That is what comes into my thoughts. Lubdaka is one who always remembers. He is 
looking for what is called the truth. 
(So he is hunting for truthfulness, dharma) 

Then a tiger comes to chase him. 
(Then comes the tiger to chase him. The tiger is another name for his ego) 
That is his greed, looking for Lubdaka now. 
(In Balinese his greed is called momo. If he has one thing and wants more, in Balinese 



terbentang. Itulah sebabnya dia (Yudistira) menerangkan seseorang yang mendengarkan 
hanya pada mendengar ceriteranya saja, dan tidak mengupas arti yang terkandung di 
dalamnya. Bagi mereka yang betul-betul mengerti, akan mengupas tuntas untuk 
mendapatkan artinya yang mendalam. Bagi mereka yang tidak mengerti, karena tidak 
mengupas untuk mendapatkan artinya. (Kedua dari perbedaan pengertian akan artinya 
yakni yang dalam dan yang hanya di permukaan saja) tidak cocok bersama. 

Sekarang Ida Pedanda telah menyampaikan makna inti dari bagian lintasan yang mana 
esensinya menyangkut menterjemahkan arti dari sebuah terjemahan, dia bergerak lebih 
mengalir secara bolak-balik diantara terjemahan ceritera Lubdaka dalam nyanyian Bali 
dalam puisinya, dan ucapan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang beliau petik dari 
apa yang baru saja beliau nyanyikan. Pencapaian dari tahap ini nampaknya seperti 
lawan yang tepat dari konflik yang muncul ketika terjemahan yang dangkal diadu 
dombakan dengan terjemahan yang mendalam. Sebagai penggantinya, terjemahan 
melalui nyanyian menyediakan kesenangan yang hadir ketika konflik dipecahkan, 
sederhananya menerima dengan lapang terhadap kebenaran. Tanpa adanya selaan dari 
mengalirnya pergantian dari nyanyian Bali ke ucapan dalam bahasa Indonesia, pada 
kenyataannya memberi rasa nyaman penentraman hati kembali. Keserasian dari kedua 
bentuk itu adalah sangat lengkap dalam beberapa kegiatan terjemahannya diucapkan 
dalam bahasa Indonesia bahkan sebelumnya dinyanyikan dalam bahasa Bali. (Bahasa 
Indonesia berada di dalam tanda kurung). 

"Jika aku kembali berfikir tentang Lubdaka 

(Menurut Yudistira, nama dari Lubdaka adalah sangat penting). 

Melihat dari namanya. 

(Jika kita lihat dari namanya) 

Lubda berarti lupa, itulah artinya, adindaku. 

(Lubda berarti lupa) 

Dak artinya sangat miskin. 

(Dak berarti miskin. Dia miskin akan kelupaan, bukan miskin dalam kepemilikan uang. 

Itu berarti dia selalu ingat) 

Itulah yang muncul dalam benak pikiran saya. Lubdaka adalah satu-satunya yang selalu 

ingat. Dia mencari apa yang sesungguhnya disebut kebenaran hakiki. 

(Dengan demikian dia berburu untuk kebenaran sesungguhnya, dharma) 

Kemudian harimau datang mengejar dia. 

(Kemudian hariamau datang mengejar dia. Harimau adalah nama lain dari egonya) 

Itulah ketamakannya yang mencaii si Lubdaka sekarang. 

(Dalam bahasa Bali ketamakannya disebut dengan istilah monio. Jika dia sudah memiliki 



36 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



tK 



e Invisi 



Die Mirror 



that's called momo, greed.) 

Then he runs away to escape from himself. 

(It chases Lubdaka , but he is quick to avoid it, so that he won't be eaten by the tiger) 

Lubdaka now climbs up into the bila tree. 

(Now lubdaka climbs up into the bila tree) 

There he finds shelter, that's my thought, brothers, 

(That's where he finds shelter, a resting place where he is safe) 

The tree is his thoughts, my dear brothers. Bila is the same as actions, 

(Kayu means tree and it also means thought. Bila means actions or deeds) 
There Lubdaka picks the leaves of the bila tree until they are gone. 

(At that time, Lubdaka plucks the bila leaves until there aren't any left. That means his 

bad deeds have all been thrown away) 

That means that he plucks away his bad deeds, all of those bad deeds are thrown away, 

(The plucking of the bila leaves is the removal of his bad deeds, that is the symbolism 

of the bila leaves) 



sesuatu, dia ingin yang lainnya lagi, dalam bahasa Bali itulah yang disebut momo, 

serakah) 

Kemudian dia lari menghindar dari dirinya sendiri. 

(Itu yang mengejar si Lubdaka, dan dengan cekatan dia menghidarinya, sehigga dia 

tidak termakan oleh harimau) 

Lubdaka sekarang naik memanjat ke sebuah pohon 'bila'. 

(Sekarang Lubdaka memanjat keatas pohon "bila') 

Di sana dia mendapat perlindungan, itulah pikiran kakanda, adindaku. 

(Di sana dia dapatkan perlindungan, tempat yang aman untuk beristirahat) 

Pohon itu dalah pikiranya sendiri, adindaku sayang. 'Bila' berarti sama dengan 

perbuatan. 

(Kayu berarti pohon dan juga berarti pikiran. 'Bila' berarti perbuatan atau perlakuan) 

Di sana Lubdaka memetik-metik daun 'bila' sampai semuanya habis. 

(Pada waktu itu, Lubdaka memetik daun-daun 'bila' tersebut sampai tak sehelaipun 

masih tersisa. Itu berarti perbuatan jahatnya semuanya telah dibuang jauh) 

Itu berarti bahwa dia memetik dan menyingkirkan perbuatan jahatnya, dan semua 

perbuatan jahatnya itu dibuang jauh. 

(Memetik daun 'bila" berarti menghilangkan perbuatan jahatnya, itulah symbol dari 

daun 'bila' tersebut) 



Now there is light. Light is the embodiment of god, the visible form of Siwa. 



Sekarang di sana ada sinar. Sinar adalah manifestasi dari Tuhan, wujud nyata dari 
Dewa Siwa. 



(After all the bad deeds are gone and thrown away, now there is light. After the leaves 
are gone, nothing can obstruct the view of the light. The light is the body of god, the 
supreme god. That is Siwa. If you have a clear mind, that is the presence of god. Do 
you understand. If you have clarity and peace in your thoughts, that is good. Siwa 
comes from 'si' meaning 'him' and 'wa' meaning light: 'he who is light.' How can we 
see if there is no light here inside our bodies. What you see out there is just light, not 
enlightenment. Therefore you have what is called dewa, widhi, bhatara, three terms 
meaning god. BhatiU-a: 'bet' means darkness or unclean thoughts, 'tara' means not, so 
bhatara means that which is not impure. Dewa: 'de' means body, 'wa' means light, so 
dewa means body of light. Widhi: 'wi' means 'luvvih' which means 'a lot', and 'dhi' 
means 'the highest', so Widhi is the highest of the highest. That is what you can see 
when there are no more obstacles)." 



(Setelah semua perbuatan jahatnya hilang dan dibuang jauh, sekarang muncullah sinar. 
Setelah semua daun-daunya habis, tidak ada lagi yang menghalangi pandangannya akan 
datangnya sinar. Sinar itu adalah perwujudan dari Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa. Beliau 
adalah Sanghyang Siwa. Jika kalian memiliki pikiran jernih, itulah kehadiran Tuhan. 
Apakah kalian mengerti? Jika kalian memiliki kejernihan dan kedamaian dalam 
pikiranmu itu adalah Tuhan. Siwa terbentuk dari kata 'si' berarti 'Dia' and 'wa' berarti 
'sinar': 'Dia adalah sinar.' Bagaimana kita dapat melihat kalau dalam diri kita sendiri 
tidak ada sinar. Apa yang kamu lihat diluar sana hanya sinar, bukan pencerahan. Itulah 
kamu memiliki apa yang disebut dewa, widhi, bhatara, tiga istilah yang berarti Tuhan. 
Bhatara: 'bet' berarti kegelapan atau pikiran penuh kekacauan, 'tara' berarti tidak, dengan 
demikian bhatara berarti bahwa sesuatu yang tidak terligkup kotor. Dewa: 'de' berarti 
badan, 'wa' berarti sinar, dengan demikian dewa berarti badan dari sinar. Widhi: 
'wi'berarti hebat atau utama, dan 'dhi' berarti yang tertinggi, dengan demikian Widhi 
berarti tertinggi dari yang tertinggi. Itulah yang kalian akan dapat lihat jika tidak ada 
lagi rintangan)." 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



37 



Tne Invisible Mirror 



The night of the dark moon of the seventh month [the night on which the 'Siwaratrikalpa' 
takes place], my younger brothers, that is call 'sapta timira," the seventh darkness. My 
little brothers, sleepiness is the embodiment of forgetfulness. Staying up all night 
[like Lubdaka] means you are really remembering. That is my opinion. In our bodies 
all of those things (the seven darknesses) are dwelling. If you think of them as actions, 
then it is true that you can find their essences in your bady. Then think again about 
.what it means." 



Pada malam hari di bulan mati pada bulan ketujuh [malam hari yang mana 
'Siwaratrikalpa' mengambil tempat], adindaku, itulah yang disebut dengan 'sapta timira,' 
tujuh kegelapan. Adindaku, mengantuk itu adalah wujud dari kelupaan. Terjaga 
(begadang) sepanjang malam [seperti yang dilakukan oleh si Lubdaka] berarti dinda 
sungguh ingat. Itulah pikiran saya. Di badan kitalah semua itu (tujuh kegelapan tersebut) 
berada. Jikalau dinda pikir itu semua sebagai perbuatan, dengan demikian sungguh 
dinda akan bisa dapatkan esensinya di dalam badanmu. Itulah arti sesungguhnya semua 
itu. 



Only as Ida Pedanda approached the conclusion of the Lubdaka segment of his poem, 
did the priest allow himself to break the egalitarian division of Balinese song and 
Indonesian prose in quick alternation. He is a high priest of Siwa and his sacred duty 
to fully translate the meaning of Siwa's name inspires him to launch into a prose aria 
that becomes a mini-sermon about the relationship between light and enlightenment, a 
fitting climax to Lubdaka's story. The translation of Lubdaka's story culminates in the 
translation of god's many names as variations on the phrase 'place of light,' a phrase 
that could also refer to translation itself, particularly when the translation involves 
shedding light on a sacred text. Lubdaka's story takes place on the darkest night of the 
year, and in the priest's interpretation, the hunter found light on that darkest night by 
staying up all night and remembering or meditating on the daikness that existed inside 
his own body. According to Ida Pedanda that darkness dwells in all of us, and if we 
pay close attention to the true meaning of the hunter's story, we can take steps towards 
hunting down and exorcising the dark animal nature that prevents us from seeing the 
light of heaven. That task, of course, is easier said than done, and implicit in the priest's 
densely layered interpretations of the story, is the suggestion that we can all use the 
comforting help of a good translation to keep us on the right road to heaven. 



Hanya ketika Ida Pedanda mendekati kesimpulan dari segmen puisi beliau, Ida Pedanda 
melakukan istirahat mengijinkan dirinya untuk istirahat sebagai orang yang penganut 
divisi paham persamaan, terhadap nyanyian orang Bali dan Prosa Indonesia dalam 
pergantian yang demikian cepat. Beliau adalah pendeta penganut ajaran Siwa, dan 
tugas suci beliau sepenuhnya untuk menterjemahkan arti dari nana Siwa, menghilhami 
beliau untuk melontarkan prosa dalam nyanyian tunggal, menjadi wejangan kecil tentang 
hubungan diantara sinar dan pencerahan, sebagai puncak kesesuaian dari ceritera 
Lubdaka. Terjemahan dari kisah Lubdaka mencapai puncaknya dalam terjemahan dari 
Tuhan dengan banyak nama sebagai variasi dari frase 'tempat dari sinar,' sebuah frase 
yang juga mengacu pada terjemahan itu sendiri, terutama sekali ketika terjemahan 
melibatkan pergantian sinar pada suatu teks yang suci. Kisahnya si Lubdaka terjadi 
pada malam yang tergelap dalam kurun waktu setahunnya, dan pada interpretasi Ida 
Pedanda, si pemburu mendapatkan sinar pada malam yang gelap itu dengan cara terjaga 
atau begadang semalaman mengingatkan atau bermeditasi pada kegelapan yang ada 
pada dirinya sendiri. Menurut Ida Pedanda kegelapan itu ada pada setiap diri kita masing- 
masing, dan kalau kita menaruh perhatian yang lebih dekat terhadap arti sesungguhnya 
dari kisah si pemburu, kita dapat mengambil langkah kearah memburuan dan 
membebaskan diri dari pengaruh kegelapan sifat alami dari binatang yang menghalangi 
kita untuk melihat sinarnya sorga. Tugas itu, tentu saja, adalah mudah dikatakan daripada 
prakteknya, dan terkandung pada padatnya lapisan penafsiran Ida Pedanda terhadap 
dari cerita tersebut, merupakan usulan yang kita semua bisa gunakan sebagai bantuan 
yang menyenangkan dari suatu terjemahan yang baik untuk menunjukkan kita pada 
jalan yang benar menuju surga. 



38 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Th 



e Invisible Mirror 



The following five stanzas are composed in the form of Dandang Gula. The / ure 
excerpted from the Gaguritan Panca Staya by Ida Pedanda Ketut Gede Sidemen and 
concern the meaning of the Lubdaka story as discussed above. The structure of Dandang 
Gula verses consists of twelve lines with a fixed pattern of rhyming vowels. 



Dibawah ini ada lima bait nyanyian dalam pupuh Dandang Gula yang diselipkan pada 
Geguritan Panca Satya karangan Ida Pedanda Ketut Gede Sidemen, membahas tentang 
arti dan makna Lubdhaka, seperti yang telah dibahas di atas. Matrik fomiulasi pupuh 
Dandang Gula dibentuk oleh aturan stansa lagu yang terdiri dari 10 baris dalam satu 
bait dan konsistensi ikatan hurup hidup pada setiap barisnya. 



Often, my dear brothers, your older brother has heard 
people talking about the story of Lubdaka. Why does 
he get to the highest heaven? He is essentially a hunter. 
Everyday he is killing. Why does he get to heaven? That 
makes them confused. They only heard the story. They 
don't know what the story truly means. That's why they 
argue. 

The entire story is full of meaning. If we look closely, 
according to the action, that is the truth, my brothers. 
The wisdom of the poet gives birth to the kidung and the 
kekawin poetry. Then they are always sung, and used 
to console your confusion. And from that (singing) we 
try to give it meaning, until we end up quarreling about 
it, because no one knows the true meaning, and because 
everyone stubbornly maintains their own opinion. 

If I go back to thinking about Lubdaka, looking at his 
name, Lubda means forget. That is what it means, my 
brother. Dak means very poor. That is what comes into 
my thoughts. Lubdaka is one who always remembers. 
He is looking for what is called the truth. Then a tiger 
comes to chase him. That is his greed, looking for 
Lubdaka now. Then he runs away to escape from him- 
self. 

Lubdaka now climbs up into the bila tree. There he finds 
shelter, that's my thought, brothers. The tree is his 
thoughts, my dear brothers. The word Bila means ac- 
tions. There Lubdaka picks the leaves of the bila tree 
until they are gone. That means that he plucks away his 
bad deeds, all of those bad deeds are thrown away, Now 



Pepes adi ada pireng beli anak nyatuang, Critan I 
Lubdhaka, Dadi maan swarga luwih. Ia juru boros tuhu, 
Sesai memati-mati, Dadi bisa maan swarga. To mekrana 
dadi bingung, Ngenehang kewala satwa, Tusing nawang, 
Artin satwane sujati. To dadi laut matungkas.- 



Onya pesan satwane mearti yang tlektekan, Nganutin 
laksana, Kento sujatinne adi, Sakeng wikan sang 
manyusun, Dadi kidung lan kekawin, Sesai lawut 
gendingang, Anggon nyalimurang bingung. To jani lawut 
artiyang, Kanti tungkas, Tusing nawang ane pasti, 
Ngukuhang beneh kedidian.- 



Yaning beli balik maminehin I Lubdhaka, Alih uli adan, 
Lubdha engsap ento adi, Dak mearti tiwas lacur, Keto 
kapineh baan beli, I Lubdhaka inget stata, Ngalih ane 
madan patut. Teka I macan mangulah. To kamomwan, 
Ngalih I Lubdhaka jani, Ditu ia ngelidang awak.- 



Di kayu bilane jani I Lubdhaka, Ditu masinutan. Kayu 
keneh ento adi, Bilane wilasa tuhu. Ditu I Lubdhaka 
mikpik, Don bilane katedasang, Nto mawak laksana letuh, 
Ane jele tlah kakutang, Jani galang, Galange peragan 
Widhi. Mraga Siwa sekala. - 



Dinda, sering kanda dengar orang membicarakan; 
Ceriteranya si Lubdhaka; Kenapa dia dapat sorga utama? 
Sungguh dia adalah seorang pemburu; Setiap saat 
membunuh; Kenapa dia bisa mendapat sorga? Itulah yang 
membuatnya bingung; Memikirkan hanyalah pada 
ceritera; Tidak tahu; Arti ceitera sesungguhnya; Makanya 
jadi bertengkar.- 

Semua ceritera itu memiliki arti kalau dicermati; Sesuai 
dengan perbuatan; Demikianlah sesungguhnya, dinda; 
Karena pintarnya yang menggubah; Jadi kidung dan 
kekawin; Setiap saat lalu dinyanyikan; Dipakai mengobati 
hati bingung; Itu kemudian diberi arti; Sampai-sampai 
bertengkar; Karena tidak tahu yang sesungguhnya; Kukuh 
akan kebenaran sendirian.- 



Kalau kanda memikirkan si Lubdhaka; Dicari dari 
namanya; Lubdha itu berarti lupa, dinda; Dak artinya 
miskin; Demikian menurut kakanda; Si Lubdaka selalu 
ingat; Mencari yang namanya kebenaran; Datang harimau 
menghalau; Itulah keserakahan; Yang mencari si 
Lubdhaka sekarang; Disanalah dia menghindar.- 



Di pohon 'bila' si Lubdhaka sekarang; Di sana dia 
berhenti; Kayu itu adalah pikiran, dinda; 'bila' itu 
sesungguhnya perbuatan; Disanalah si Lubdhaka 
memetik-metik; Daun 'bila'nya dihabiskan; Itu 
merupakan perbuatan jahat; Yang jahat semuanya 
dibuang; 



SiwaratriUalpa: Balinese Literature in Pe.-{c>r„,ance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



39 



The Invisible Mirror 



there is light. Light is the embodiment of god, the visible 
form of Siwa. 

The night of the dark moon of the seventh month, my 
younger brothers, that is call 'sapta timira,' the seventh 
darkness. My little brothers, sleepiness is the embodi- 
ment of forgetfulness. Staying up all night means you 
are really remembering. That is my opinion. In our bod- 
ies dwell all of those things. If you think of them as ac- 
tions, then it is true that you can find their essences in 
your body. Then think again about what it means." 



Tilem kapitune buin adi manyinahang, I sapta timira, 
Peteng pitu ento adi, Pulese nto mawak pikun, Megadange 
inget jati, Keto mirib bli ngenehang, Di awake to 
makukud, Yening aba kalaksana, Mirib enyak, Di awake 
bwin galihin, babasane buwin artiang.- 



Sekarang terang; Terang itu perwujudan Tuhan; 
Manifestasi Siwa dalam kenyataan.- 

Bulan mati di bulan ketujuhnya lagi, dinda; Si sapta 
timira; Tujuh kegelapan itu, dinda; Tidur itu sama dengan 
lupa-lupaan; Begadang/terjaga itu sesungguhnya ingat; 
Demikian kiranya menurut pikiran kakanda; Dalam 
dirilah semuanya itu; Kalau dibawa ke perbuatan; 
Nampaknya cocok; Dalam dirilah dicari lagi esensinya; 
Terjemahannya lagi diartikan.- 




(Speciol thanks to Ida Pedanda Ketiit Kencana Singarsa who was extremely generous (Secara khusus terimakasih disampaikan kehadapan Ida Pedanda Ketut Kencana 
with his time and knowledge. All quotes by Ida Pedanda are taken from personal inter- Singarsa yang telah dengan sungguh kemurahan hati meluangkan waktunya 
views conducted by the authors). mendermakan ilmu pengetahuannya. Semua quotasi oleh Ida Pedanda diambil dari 

wawancara pribadi yang dilakukan oleh penulis). 



40 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 




5. Siwaratrikalpa as Satua: Luhdahas story as broadcast in IBalinese on TR.'RI 'Denpasar 
Siwaratrikalpa Sebagai Gentam: Kisak Luhdaka dalam Wlesatua IBali disiarkan melalui IR.'RI Denpasar 



The following version of Lubdaka 's story was re-imagined by I Ketut Jagra in the 
tradition of Balinese fables known as "satua. " Jagra narrates 'satua' stories on Ra- 
dio Republic Indonesia every Sunday morning, and beginning in May, 2007 he de- 
voted seven weekly half hour broadcasts to a narrative which he based both on the 
fifteenth century kakawin poem by the Javanese writer Empu Tanakung and a modern 
gaguritan poem by the Balinese writer Gk Mirah Maharani. Jagra 's version of the 
story is a good introduction for those who are not yet familiar with the tale, because it 
is aimed primarily at children, and perfonned in a simple accessible style that isfidl of 
repetitions, like a bedtime story. It is best read aloud, so that the musical and poetic 
qualities of the repeated phrases can be appreciated in their full hypnotic beauty. 
Jagra uses radio to re-animate the spirit of the original fifteenth century poem that 
unified the beauty of nature and the beauty of poetic language in a kind of literary 
yoga, enveloping both the writer and the reader/listener of the poem in a trance-like 
state of spiritual receptivity. 



Versi ceritera Lubdaka berikut ini diimajinasikan oleh I Ketut Jagra dalam tradisi 
mendongeng yang dikenal dengan "Satua ". Jagra menceriterakan kisah-kisah 'satua ' 
pada siaran Radio Republik Indonesia setiap hari Minggu pagi, dan sejak awal bulan 
Mei 2007, dia mencurahkan selama tujuh minggu berdurasi setengah jam 
menyelenggarakan siaran sebuah narasi berdasar pada bait-bait puisi baik yang 
berupa kekawin gubahan seorang penulis dari Jawa, Empu Tanakung, pada abad ke 
limabelas dan puisi Bali Moderen yang berbentuk gaguritan dikarang oleh Gr. Mirah 
Maharani. Ceritera versinya Jagra adalah bagus sebagai perkenalan awal untuk mereka 
yang belum akrab dengan cerita si Lubdka, oleh karena ditujukan utamanya untuk 
anak-anak, dan disajikan dalam pola yang sederhana penuh pengulangan, seperti kisah 
sebuah cerita disampikan manakala menjelang tidur Sebaiknya kisah itu dibaca 
dengan keras, dengan demikian rasa musikal dan kualitas frase puisinya yang diulang- 
ulang dapat diapresiasi keindahan hipnotisnya. Jagra menggunakan radio untuk 
menganimasi kembali spirit puisi yang aslinya dari abad kelimabelas, menggabungkan 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali a\ dalam Seni Pertunjukan 



41 



Tne Invisible Mirror 



While the musical repetitions of the narrative are designed to draw children into fol- 
lowing Luhdaka's journey from the visible world of a mountain forest to the invisible 
world of the afterlife, other elements of Jagra 's version are more philosophical, de- 
signed for more sophisticated listeners. He sometimes interrupts the flow of the narra- 
tive to explain the meaning of Hindu religious concepts like 'tri hita karana' (achiev- 
ing balanced relationships between humans, their environment and the gods). Other 
times he pauses to investigate the etymological roots of a word or to translate a word 
from high Balinese poetic language to the common vernacular. These didactic ele- 
ments of his storytelling appeal to older listeners and reflect his experience perform- 
ing in topeng masked dramas as a penasar, the ser\>ant character who narrates and 
comments on the semi-historic chronicles enacted in Balinese temple ceremonies. Some 
listeners might imagine the broadcasted story as if it were being told by an old servant 
in a topeng play. Jagra does in fact create a character for his narrator who would look 
like a humble old man if he could be seen. His refers to himself as 'grandfather' and to 
the listeners as his 'grandchildren ' in a formulaic phrase that becomes one of the 
story's repeated musical refrains: "all you little grandchildren of your grandfather" 
("cening cucun pekak ajak makajang"). 



Sometimes he adds the phrase "and all you other respected listeners, especially the 
elderly ones who enjoy listening to Balinese 'satua. ' " The result of this formula is to 
make it clear to the listeners that they are part of the story. Just as a topeng penasar 
narrator makes history more immediate by directly addressing the spectators at a temple 
ceremony, Jagra speaks directly to his radio audience, encouraging them to apply the 
lessons learned by Lubdaka to their own experiences. Sometimes he introduces an 
episode of Luhdaka's story with a reference to current events (floods in Jakarta) or a 



keindahan alam dengan keindahan bahasa syair puisinya ke dalam sesuatu yang mirip 
seperti yoga literature , mengkemas keduanya baik dari penulis dan pembaca/pendengar 
dari syair/puisi seperti pernyataan dalam keadaan tak sadarkan diri dari daya 
penerimaan rohani. 

Sementara pengulangan musikal dari naratif di desain untuk menarik anak-anak ke 
dalam mengikuti perjalanannya si Lubdaka dari dunia nyata hutan pegunungan (alam 
sekala) ke dunia maya (alam niskala) di alam baka, sementara elemen lainnya dari 
versinya Jagra dirancang untuk pendengarnya yang lebih jelimet dengan lebih 
mendalami filsafatnya. Dia kadang-kadang menyela flow dari naratif ceritanya untuk 
menerangkan arti dari konsep religi Hindu seperti 'tri hita karana ' (pencapaian 
keseimbangan melaui hubungan manusia dengan sesamanya, dengan lingkungan 
mereka dan dengan Tuhan-nya). Pada kesempatan yang lain dia berhenti sejenak untuk 
menyelidiki etimologi dari sebuah kata atau menterjemahkan sebuah kata dari puisi 
bahasa Bali halus ke dalam bahasa daerah yang umutn/bahasa percakapan sehari- 
hari. Unsur-unsur yang mendidik dari ceriteranya mendekatkan ke pendengarnya yang 
lebih tua dan merefleksikan pengalamannya sebagai seorang pemeran tokoh penasar 
dalam pertunjukkan dramatari topeng, yakni karakter seorang abdi yang 
menceriterakan dan berkomentar tentang semi sejarah 'babad' dilaksanakan dalam 
upacara di Pura orang Bali. Beberapa pendengar mungkin membayangkan cerita yang 
dipancarkan seolah-olah sedang diceriterakan oleh seorang abdi tua di dalam 
pertunjukan topeng. Pada kenyataanya Jagra sesungguhnya melakukan dengan 
menciptakan seorang tokoh untuk pembawa ceritanya seperti orang yang sudah tua 
dan kelihatannya sederhana. Dia menyebut pada dirinya sendiri sebagai seorang kakek 
kehadapan para pemirsanya, sepertinya para pendengarnya adalah cucu-cucunya 
dengan satu formulasi frase bahasa dalam berceritera merupakan musikal pengulangan 
"cening, cucu-cucu kakek semuanya" ("cening cucun pekak ajak makajang"). 

Kadang-Kadang ia menambahkan frase ungkapannya "dan semua pemirsa yang 
terhormat terutama yang lebih tua, yang menyukai mendengarkan ceritera Bali. " 
Hasil dari rumusan ini adalah untuk membuat jelas kepada pendengarnya bahwa 
mereka adalah menjadi bagian dari cerita tersebut. Sama halnya dengan penasar 
sebagai penyaji cerita dalam pementasan topeng membuat ceritera dengan secara 
langsung dialamatkan kepada penonton seperti pada pertunjukan untuk upacara di 
pura, Jagra berbicara secara langsung kepada pendengar radionya, memberi harapan 



42 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



contemporary problem (the danger of children riding bicycles in busy traffic). For 
both the topeng temple performer and the radio narrator, directly addressing the audi- 
ence brings the invisible ('niskala') world of the story closer to the visible ('sekala') 
world of the listener. In Jagra's retelling, Lubdaka's invisible journey to heaven mir- 



kepada mereka untuk menggunakan pelajaran yang dipelajari dari Lubdaka ke 
pengalaman mereka sendiri. Terkadang dia memperkenalkan pada sebuah episode 
dari kisahnya si Lubdaka dengan referensi pada peristiwa sekarang (banjir di Jakarta) 
atau persoalan kekinian (bahaya untuk seorang bocah mengendari sepeda dalam trafik 




rors the concrete journeys that his listeners experience in their daily lives. The invis- 
ible and visible worlds are intertwined in the disembodied voice of a wise old grandfa- 
ther with a good story to tell. 



yang padat). Baik sebagai penari topeng untuk upacara di pura dan sebagai pembawa 
acara siaran dalam radio, secara langsung mengalamatkan mebawa dunia ceritera 
berada si alam tidak nyata 'niskala ' lebih dekat dengan dunia nyata ( 'sekala ') dunia 
dari pendengarnya. Dalam Jagra menceriterakan kembali perjalanan si Lubdaka ke 
alam tidak nyata, ke sorga, tercermin pada perjalan nyata yang dialami para pemirsanya 
dalam kehidupan keseharian mereka. Dunia tidak nyata dengan dunia nyata adalah 
terjalin dalam suara yang keluar dari seorang kakek tua yang bijaksana dengan sebuah 
ceritera yang bagus untuk diceriterakan. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di Jalani Seni PertunjuLn 



43 



Tne Invisible Mi 



irror 




Siw aratrikalpa as Satua: LuLdakas story as broadcast in Balinese on RRI Denpasar (Episode 1) 
Siwaratrikal pa Setagai Ceritera: Kisak LuLdaka dalam Mesatua Bali disiarkan melalui RRI Denpasar (Episodel) 



ENGLISH 



BALI / KAWI 



INDONESIA 



CThe story begiu iriih lUustmtum souud o, the l3ahnese 
fhite) 

Jagra: Ha,ha,ha. As far as my energy is concerned, I am 
very tired, but it is my responsibility to be here.There is 
no way not to tell this story. Now, all you little grandchil- 
dren of your grandfather, and also all /ou other honored 
listeners, especially the oldest ones who are in the palace 
and in the home of the priest, I am asl Jng for a moment 
of your time. I hope you will be pleased to listen when I 
offer you this story. I will offer you a BaUnese story. That's 
what this is. The aim of this is none other than to pre- 
serve the tradition of telling Balinese stories, so that all 
little children, especially in Bali, will not to forget how 
to tell Balinese stories. In this Balinese story there are 
many lessons about how we should carry ourselves 
through life in this material world. 

Before I tell the story, please accept my greetings and 
blessings. Hopefully you are all healthy and well, espe- 
cially all my little grandchildren at h( me, in the palace 
and in the priest's house. Hopefully ell are healthy and 
well. 

Yes, I will offer blessings through the religious greeting 
of "Om Swastyastu. " ("May the world be blessed.") 



(Geritane kekmcttni olch suaran suling nali) . 



Jagra: Ha ha ha. Yen alih ne, bayu nak won pesan kene. 
Sawireh kewajiban adane, sing dadi singan bakal nyatua, 
keto nake. Nah cening cucun pekak ajak makejang, kenten 
naler pamiarsa para lingsire maka sami, sane wenten ring 
Puri, sane wenten ring Geria. Titiang nunas galah abobos 
niki. Ledang nyen mangda arsa ledang. Mirengan sekadi 
titiang ngelanturang satua, pacang ngaturang satua Bali, 
asapunika. Nah niki wantah tetujone nenten ja wenten 
tios, wantah pacang ngajegang, ngelestariang punika satua 
Bali. Mangda nenten nyen ida dane ne para alit-alite, 
pamekas iraga iriki ring Bali engsap ring satua. 
Duwaning ring satua Baline punika, makweh pisan 
wenten penuntun sajerone pacang ngemargiang kauripan 
di Mercapada niki, kenten. 

Inggih saderenge lugrayang titiang, pacang ngelanturang 
medulurang naler pengastungkara.Dumogi rahajeng 
rahayu sareng sinamian. Pamekas cucun titiang alit-alite 
maka sami ring Jumah, ring Puri, ring Geria.Dumogi 
rahajeng rahayu sareng sami. 

Inggih titiang pacang ngaturang pangastungkara, 
meduluran panganjali. "Om Swastyastu." 



(Geritera diawali devigan ilustrasi musik seruling IBali) . 



Jagra: Ha ha ha. Sesungguhnya saya ini amat capek. Akan 
tetapi karena kewajiban namanya, tidak boleh tidak harus 
bercerita. Yah, cening cucu-cucu kakek semuanya. Begitu 
juga para pemirsa, para orang tua semua, yang berada di 
Puri, yang ada di Geria. Saya mohon waktunya sebentar 
nih. Saya akan melanjutkan bercerita agar berkenan untuk 
mendengarkannya. Saya akan mempersembahkan cerita 
Bali. Yah, tujuanya tiada lain, untuk mempertahankan, 
melestarikan, keberadaan cerita Bali. Sehingga para 
pemirsa terutamanya anak-anak, kita yang berada di Bali 
agar tidak lupa dengan tradisi berceritera.Oleh karena 
banyak tuntunan yang dapat dipetik manfaatnya dari cerita 
Bali itu. Dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan 
di dunia ini. 

Sebelum saya akan melanjutkan, terimalah salam hormat 
saya. Semoga saja kita semua dalam keadaan sehat 
walafiat dan selamat sejahtera. Terutama cucu-cucu saya, 
anak-anak semua yang berada di rumah, di puri, di geria. 
Semoga sehat, selamat, sejahtera semua. 

Ya, saya menghaturkan salam hormat pengastungkara, 
dengan panganjali. "O/// Swastyastu." 



44 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



>-H*' 














Yes, the story I will offer you now is none other than a 
story that you might already know. I will offer you the 
story of Lubdaka. That's it. Ha, ha, ha. 



I will begin this story by singing a song in the in metrical 
form known as "Sinom." 
(he sings) 

The beginning of the story is being told. Please listen 
now to the beginning of the story about a man named 
Lubdaka. He lives on the peak of hills whose beauty 
penetrates his thoughts. There are no worries. He just 
harvests happiness. There is only pleasure. He loves 
his family. 

That's the reality of Lubdaka's life. Lubdaka has no prob- 
lems. He is just happy. That is his life here in the material 
world. He has a wife and children, and people said that 
he and his family never had sad feelings.They always 
felt happy. There was nothing other than happiness. 



Yes, all you listeners, all you little grandchildren of your 
grandfather, 1 am here to tell you the story of Lubdaka. 
There is a village where he lives called "Pucak Ukir" 
("The Mountain's Peak").That's where he lives, on that 
mountain, my little ones. There in the mountainous area. 



Inggih cerita satua sane pacang katur mangkin, nenten ja 
wenten tios, sareng sami menawi sampun ngewikanin 
satuane puniki. Sane pacang katur, satuanne I Lubdaka. 
Asapunika. Ha ha ha. 



Saderenge lugrayang titiang ngawitin pacang 
ngelanturang tembang riin Pupuh Sinom. (tembang) 



Munguing pamurwaning satua. Durus priarsin sane 
mangkin. Kawitnya wenten isatua. I Lubdaka kang 
pepasih. Nongos maring pucak bukit. Sane rawit nudut 
' kayun. Nora wenten kasayayan. Wantah liange 
puponin. Suka nerus. Masayangan kulawarga. 



Asapunika kewentene maka sujatine, ipun I Lubdaka. Ten 
ja ngitungan sebet. Cutet ipun ngarasang liang, idupe iriki 
ring Mercapada.Duaning ipun ngelah somah, ngelah 
pianak. Ipun punika sareng klawargan ipun nenten naenin 
ngerasang sane kebaos sebet. Setata ipun ngerasang Hang. 
Terus suka kemanten. 

Ainggih ida dane sareng sinamian. Nah cening cucun 
pekak ajak makejang. Ne pekak nyatuang ia I Lubdaka. 
Ada desa sik iane nongos madan Pucak Ukir. Keto nyen 
cening. Adane suba Pucak Ukir. Nongos ia tuah ditu, di 
Gununge, keto ning. Ditu di wewidangan pegunungan. 



Ya, cerita yang akan saya persembahkan sekarang, 
barangkali semuanya sudah mengetahui, sudah 
memahami, ceritera ini. Cerita yang akan saya 
persembahkan tiada lain, ceritanya si Lubdaka. Ya itu dia. 
Ha ha ha. 

Sebelum saya riemulai ceritera ini ijinkan saya 
melantunkan sebuah tembang Pupuh Sinom. 
(menembang)" 

Awal permulaan -eritera. Dengarlah dengan sepenuh 
hati. Tersebut di dalam cerita. Lubdaka namanya pasti. 
Tinggalnya di pi ncak bukit. Nan indah menawan 
kalbu. Tiada pen 'ah kesedihan. Hanya kebahagiaan 
dinikmati. Senan.^ terus. Sayang sesama keluarga. 



Sungguh demikian keberadaan si Lubdaka. Tidak pernah 
merasa susah. Pol oknya dia selalu merasakan hidupnya 
di dunia ini, senai g. Dia sudah beristri dan mempunyai 
anak. Mereka sek( luarga tidak pernah merasa kesusahan. 
Hanya kesenangin senantiasa yang dirasakan. Selalu 
mereka merasa se lang. 

Ya hadirin seka ian. Nah, cening cucu-cucu kakek 
semuanya. Kakek menceriterakan cerita si Lubdaka. 
Tersebutlah diseb jah desa dimana dia tinggal, bernama 
Pucak Ukir. Demidan cucuku. Pucak Ukir namanya. Dia 
tinggal di sana. Di gunung. Demikian cucuku. Di sana di 



Swaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



45 



Trie Invisible Mirror 



U^ 



>W-|fU IT1«TJ ^>x|»i^ O^w^l 







r>irO> 



f^< 









that's where he Hved. Looking at him, it was clear that he 
always felt happy. Because Lubdaka and his family never 
ever felt sadness. He lived there in the valley of the moun- 
tains. What more could he ask for, my little ones. 



Ditu ia tuah nongos. Nah alih maka sujatine ia, setata ia 
ngerasang liang. Sawireh ia I Lubdaka ngajak keluargan 
iane, sing taen ngerasang sebet. Nongos ditu di bongkol 
gununge. Apa tusing ada ditu? Keto nyen cening. 



wilayah pegunungan. Di sana tempat tinggalnya. 
Sesungguhnya keberadaannya, dia selalu senang. Karena 
dia, si Ludaka, bersama keluarganya tak pernah merasa 
susah. Tinggal di sana di kaki gunung. Apa yang enggak 
ada di sana? Demikian cucuku. 



Yes, your grandfather will now continue with the story. 
He never perfonned his holy duty and obligations to do 
yoga and meditate. Never ever. Why is that, my little ones? 
Because he was comfortable just doing what he had al- 
ways done since childhood. From the time he was a child, 
the task of hunting every day, was all he liked to do. 
That's how it was, my little ones. Do you know what 
hunting is? Hunting is looking for thii gs to kill. Hunting 
is the same thing as looking for something to kill. Look- 
ing for tigers, and also pigs. Elephants. Rhinoceros. He 
hunted them all, my little ones. All big game. Do you 
know what big game is? Animals that are very big. He 
had a strong desire to hunt all those big animals, my little 
ones. There was no way for them to escape with their 
lives. 



Nah pekak bakal ngelanturang jani.Ia sing taen ane 
ngerasang medarma y asa, ngelarang tapa yoga semadi. 
Sing taen nyen. Apa krana keketo ning? Kaduk ia nau 
sakeng alit. Uli cenik tuah ia demen, sedina-dina tuah 
geginan iane Lubdaka meboros, keto ning. Nawang 
cening meboros? Meburu. Nah to suba meburu adane. 
Meboros mase patuh to. Ngalih ane madan macan, keto 
masih bawi, ning. Gajah, warak. To makejang kaborosin 
ning. Sekancaning buron agung. Nawang cening buron 
agung? Buron ane gede-gede. Sami keruruh kasaratang 
to makejang ane gede-gede, ning.Tan uning ngelidang 
urip. 



Nah sekarang kakek lanjutkan lagi. Tidak pernah dia 
merasa berbuat berdasar ajaran darma, yakni 
melaksanakan tapa, yoga, dan semadi. Tidak pernah. Apa 
yang menyebabkan demikian, cening? Dia kadung sudah 
terbiasa sejak kecil, pekerjaan sehari-harinya hanyalah 
berburu. Cening tahu apa itu berburu? Mencari binatang 
buruan. Yah itulah berburu. Berburu itu mencari yang 
namanya binatang harimau, babi, gajah, badak, nanda. 
Semua itu jadi target buruannya. Berbagai macam 
binatang besar. Cening tahu apa itu binatang besar? Ya, 
binatang yang besar-besar. Binatang besarlah diupayakan 
menjadi bidikan buruannya, cening . Takkan mungkin 
mereka dapat menghindar menyelamatkan hidupnya. 



His only goal was to provide for his family. That's how it 
was, my little ones. His aim in hunting was no more than 
to provide for the needs of his family. Every day since he 
was a child, he only liked to hunt. That's why he never 
respected his obligation to pray, let alone to meditate or 
do yoga. He forgot to perform all his religious obliga- 
tions. That's how it was, my little ones. That is why, maybe 



Tuah tetujone anggen ipun tuah ngupapira kulawargan 
ipun. Keto nah cening. Tetujone ia meboros sing ja ada 
len, sawireh to ane kel anggon ngidupang kulawargane. 
Sadina-dina uli cenik tuah ia demen maboros.To 
ngawinang ia sing taen ngastiti bakti. Apa biin ngelarang 
tapa yoga semadi. Darma yasa to suba makejang 
kaengsapang. Keto ning. Sangkanin ia inget ngenehang. 



Tujuanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. 
Demikian ya cening. Dia berburu semata-mata dipakai 
menghidupi keluarganya. Sejak kecil hampir setiap hari 
kesenangannya hanya berburu. Itu sebabnya ia tidak 
pernah sembahyang, memuji kebesaran Tuhan. Apalagi 
melakukan tapa yoga semadi. Berbuat menurut ajaran 
darma, semua dia lupakan. Demikian cening. Kiranya 



46 



SiwaratriUalpa: Balinese Literature in Perti 



ormance 



Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



^i)p5^ 



c-/ 



i) pJV^ Ji» *^ »1^ liLT s>P tfiTos/r kT» <^ <t »/) 



«r>! 



.^ 



<D crjY"irT> n» erv/' o\"> «^ O 






— r. t ) 







^n>r^fi**ycTv«|^ «/K«^ iT) t" 



I? 







even when he was sleeping at home with his family, he 
thought only about hunting. He was looking for big game 
in the middle of the forest. That's how it was, my little 
ones. 

Now your grandfather will continue the story. Now let's 
talk about what happened to Lubdaka on the morning of 
the new moon of the seventh month. It was by coinci- 
dence the seventh new moon, my little ones. Oh lord, 
how cloudy it was. It had been cloudy since the day be- 
fore. That's what people said, that it had been cloudy 
since early morning. Since the day before it had been 
cloudy, my little ones. 

That's when he set out on his journey. He was going out, 
my little ones. Taking a trip to hunt. Yesss, he wore spe- 
cial hunting clothes when he went out to hunt. Oh Lord, 
they were black, black as night. That's what people say. 
That is the right clothing to wear when you go hunting. 
As for his hunting equipment, he carried everything he 
needed. After evei^thing was ready, all the hunting equip- 
ment, then he set out on his journey. That's when he left. 
He went on his trip alone. All on his own he made his 
journey. He was by himself. He set out to the northeast. 
Lubdaka's journey was towards the northeast. Across a 
beautiful valley. Past the gardens of the holy shrines. 
He went past beautiful valleys, valleys so deep they could 
be called chasms. Their beauty was wonderful to see. 
The giu-dens were marvelous. In addition to the gardens 



miribang di pepulesan iane ngajak keluarga ngitungan 
bakal meboros setata. Ngalih ane madan beburon-beburon 
agung, ane ada di tengah alase. Keto nyen cening. 



Nah lanturang pekak buin nyatuang nah ning. Kocap 
mangkin I Lubdaka, nah jani 1 Lubdaka, nemoning dina 
prawani. Tilem kapitu. Nah nuju Tilem kapitu adane ne 
to ning. Beh dewa ratu. Gulem-gulem. Uli dibine nyen, 
dewa ratu, guleme. Kal ada nak ngeraosang: Gulem-gulem 
sakeng enjing. Uli dibi suba guleme ne ning. 



Irika raris memargi. Nah ditu lantas ia mejalan, ning. 
Mejalan ya, praya pacang meburu.Eeem. yen 
penganggone yen bakal luas meburu, dewa ratu, Kresna. 
Kresnambara keto nak nyatuang. Ane madan penganggo 
melah mase ane anggone pacang meburu. Yen unduk 
gegawane, aban-abane ia meburu apa benehne? Sregep 
makejang suba abane. Di subane suba jangkep makejang 
sarana ane anggone maburu, ngelantas ia mejalan ning. 
Raris ia laju, keto nak ning.Ngelantur ia mejalan. 
Pejalane nunggal-nunggal. Newek ya, ngeraga ia mejalan. 
Kedidiane keto ning. Nah lumaris ia ngungsi ngaja 
kanginan. Ngaja kanginan pejalane ia Lubdaka. 
Mangungkulin labak rawit, tetamanan, pariangan, keto 
nyen cening. Nah to ngeliwatin labak rawit. Labake ane 
madan 'labak' - 'lebah.' 'Rawit' to ane madan melah 



setiap saat, bahkan ketika ditempat tidurpun manakala 
bersama keluarganya, pikirannya hanya berburu. Mencari 
yang namanya binatang-binatang besar yang ada di hutan. 
Demikian cening. 

Nah kakek lanjutkan lagi menceritakannya, ya cening. 
Diceritakan sekarang keberadaan si Lubdaka, sehari 
sebelum bulan mari yang disebut dengan prawani. Bulan 
mati pada bulan ke tujuh menurut perhitungan sasih bulan 
Bali, cening. H iri-hari diselimuti mendung. Sejak 
kemarinnya sudahi mendung, ya ampun. Makanya orang 
bilang mendung sejak kemarin pagi. 



Ketika itulah dia berangkat. Ya saat itu dia berjalan, 
cening. Perjalanannya hendak berburu. Eeem pakaianya 
ketika dia berangkat berburu, ya Tuhan, serba gelap. 
Kresnambara den ikian orang menyebutnya. Itu pakaian 
baik dipakai saai berburu. Masalah barang bawaan, 
perlengkapan saa berburu, apa saja? Semuanya sudah 
lengkap dibawa. S > :telah lengkap semua perlengkapannya 
seperti: senjata, s; rana yang dipakai untuk berburu, lalu 
berangkatlah dia, :ening. Bergegaslah dia pergi cening. 
Perjalanannya mf lyendiri. Sendirian, tiada orang yang 
menyertai. Tanpa eman, cening. Nah, berjalanlah dia ke 
arah timur laut. 5 i Lubdaka pergi menuju timur laut. 
Melintasi lembah nan indah. Penuh dengan tetamanan, 
ada parhyangan, demikian keberadaannya, cening. Yah 
melewati lembah yang sangat indah. Lembah artinya 



Smaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



47 



Th 



ible Mi 



e Invisible Mirror 









ISBJi^Y'^ 



7f c ' ■ 



I trance yX i 



there were also shrines. There were house shrines and 
also what were called temple shrines. And next to them 
were religious schools, beautiful religious schools, mai- 
velous to see. 



He came to the lower slopes of the mountain. That's what 
happened. He arrived at the foot of the moutain. They 
say it was full of vegetation.There were streams where 
water flowed down from the hills. Oh lord, the water 
sparkled on the wet plants. That's how it was, my little 
ones. That's how it was in the lowlands. There was also a 
river. Oh lord, how the water flowed down from the 
hilliops.There were rivers and hills, my little ones. Oh, 
how lovely the water was. The waters were wondrous. 
The water was flowing to nourish all the vegetation that 
grew at the foot of the mountain. The water was stream- 
ing there my little ones. 

Yes. all you little grandchildren of your grandfather. In 
addition to all this, there were also villages. From on high, 
he passed many villages, my little ones. From on high, 
he passed by the villages. In addition to that he saw on 
the lower slopes of the hills, the temple pavilions.The 
roofs were covered, so the temple hangings could not be 
seen. The one who covered them was none other than the 
fog. The fog. It was the mist, my little ones. The white 
mist was covering everything. It was thick and high. Oh. 
the white mist was already high and thick. That's why 



iuih.' Asri, keto ngelantas ada tetamanan. Lenan teken 
tetamanan, ada ane madan periangan. Nah sanggah 
periangan to. Wewangunan Pura periangan to adane. 
Nah menyanding pesraman. Ada lantas pesraman ane 
melah, ane becik. 

Rauh maring bongkol Ukir, keto lantasan. Teked suba 
lantas di bongkol Gununge. Ebek kang sarwa tinandur. 
Cinarita wenten tukad, membah sakeng bukit alit. Toyan 
ipu, dewa ratu. ngelencokin tetanduran. Ooo. . . keto nyen 
ning. Nah ada lantas labak. Keto mase ada ane madan 
tukad. lyehne membah, dewa ratu, uli di bukite iyehne 
ulung. Eeem. Beh yen luihang iyehe to, toyan ipun 
kaluwihane. Nah iyehe to lantas ngencorin tetanduran, 
ngembahin tetanduran keto. Tetandurane to asing-asing 
ane tumbuh ada ditu di bongkol gununge. Kema membah 
iyehne, keto nyen cening. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Lennang teken 
to, ning, ada desa-desa mase. Makejang kaungkulin 
ngeliwatin desa, keto ning. Kaungkulan. Ngeliwatin desa 
ia lantas. Lennang teken to lantas, betenan ring selaning 
bukit. Nah betenan di bukitene ada lantas cingakne piasan. 
Raab nyane kari kailidang, keto ning. Ada piasan raabne 
ilid ning, saru. Ane ngilidin sing ja ada len, sayonge. 
Sayonge to ambun, keto ning. Ambun ane putih ngilidang 
lantas. Malikub tegeh, ooo. Ada ambun keto tegeh, suba 
keto melikub. To sangkaning raab piasane ilid. Duanning 



ngarai. 



Indah itu asri. Di sana terdapat tetamanan. Di 
samping tetamanan ada juga bangunan suci, parhyangan. 
Yah, sanggar bangunan suci. Bangunan Pura. Itu tempat 
suci namanya. Di sampingnya ada pesraman. Terdapat 
juga pesraman yang baik, yang indah. 

Diceriterakan setibanya di kaki gunung. Ya sudah sampai 
di bagian bawahnya gunung. Banyak macam tanaman 
tumbuh. Diceritakan ada sungai, mengalir dari bukit kecil. 
Airnya, ya Tuhan, beriak mengaliri tanaman. Ooo 
demikian adanya, cening. Yah, di sana terbentang lembah. 
Juga terdapat sungai. Airnya, ya Tuhan, dari bukit airnya 
mengalir mencucur menurun. Eeem. Wah kalau keindahan 
airnya, memang jernih. Yah airnya itulah yang mengairi 
tetanaman, menggenangi tumbuhan di sana. Mengairi 
pepohonan yang tumbuh di kaki gunung tersebut. 
Kesana airnya mengalir, cening. 



Nah, cening cucu-cucu kakek semuanya. Selain itu 
cening. Selain itu ada juga desa pemukiman, cening. Dia 
melintas di ketinggian di atas desa itu, semuanya dilalui. 
Semua dilewati dengan melintas di atas desa, demikianlah 
cening. Di samping itu, di bawah sana, disela-sela bukit 
ada dilihatnya bangunan balai, piasan pura, yang atapnya 
tertutup dan tidak jelas tampaknya. Atap bangunan 
tertutupi sehingga tidak jelas. Yang menutupi tiada lain 
adalah kabut. Kabut itu awan lembab, cening. Kabut awan 
putihlah yang menutupinya. Diselimuti kabut dari atas. 



48 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 






<^ut<tt<p«j^< 










n^^cP^^ggJ-Jt^ 




the roofs of the temple pavilions were hidden. Because 
of the white fog. 

But still, one could see the small platforms. Do you know 
what those small platforms in the temple are for? The 
small platforms could also be seen. That's how it was, 
my little ones. They were small. The small platforms are 
called 'pelangkan. ' Maybe that is the place where people 
recite and translate the holy poems. Maybe that's what 
the small platforms were for. Perhaps just a place for 
people to recite and translate the holy prayers. 

And then, on the west edge of the hill, and then, little 
children, he saw the rice paddies and the dry fields. 
There were wet rice fields and dry fields to the west. 
They stretched out in terraced ridges. There were ter- 
raced ridges. That is common in the rice paddies, my little 
ones. If you go to the rice fields you will see what are 
called terraces, and each one of them has ridged edges. 
There are also huts near there. The huts are also built on 
terraced levels. The rice fields are arranged like steps. 
And then there were nuts, no, what do you call them, 
huts. Also, the leaves on the coconut trees were lovely. 
Have you ever seen trees like that, my little ones? The 
wood of the coconut tree is lovely. The coconuts are 
lovely. Oh lord, coconut trees grow in a truly beautiful 
way, the ones over there in the ricefields. my little ones. 



ada sayong putih to. Eeem, 



Lenan teken to, katon wenten pelangkan alit. Katon 
wenten pelangkan alit, nawang ne? Nah ngenah mase ada 
bale-bale cenik. Alite to cenik, nyen ning. Pelangkane to 
bale to nyen ning. Minab ditu genah anak mebaosan.To 
mirib di tongos sik bale alit to, tuah tongos anake mirib 
anak mebebaosan, mereraosan keto. 



Lantas sisin, sisi kauh bukite lantas, ning, katon carik 
tegai. Ada ane madan carik, tegai dauh bukite to. Nah 
pundukanya malontoran to. Ada pundukan. Yen di carike 
biasa cening. Yen cening kecarik nepukan ane madan 
pangked-pangkedan to ada pundukan-pundukan. Ada 
lantas mase kubu ditu. Kubu mepanta-panta, mepangked- 
pangkedan. Di carike suba maundag-undagan, ada lantas 
kubu. Lenan teken to taru kelapa katon asri done. Taru to 
nawang ning? Kayu punyan kelapa katon asri, aaa. Taru 
kelapa katon asri. Dewa ratu, melah sajan nyen entikan 
punyan nyuh ane ada ditu di carike to, ning. 



Itulah yang menyebabkan atap bangunan suci itu tidak 
nampak. Kabut awan putih menutupi. Eemm 

Selain itu terlihat ada balai-balai kacil. Cening tahu apa 
itu? Terlihat ada balai-balai kecil di sana. Kecil itu 
mungil, cening. Balai-balai kecil terbuat dari kayu. 
Mungkin itu tempat orang berbincang, barangkali. Di 
sana, di balai-balai kecil itu tempat orang berbincang- 
bincang, tempat orang mendiskusikan ajaran agama, 
barangkali. 



Di pinggiran sisi sebelah barat bukit itu, cening, terlihat 
sawah dan ladang. Sawah dan ladang membentang di sisi 
sebelah baratnya. Pematangnya berleret. Ya pematangnya. 
Kalau di sawah memang biasa pematang sawah berjejer 
berundak-undak, cening. Ada-juga kubu-kubu di sana. 
Posisinya bertingkat, berundak-undak. Sawah sudah 
bertingkat berundak-undak, dibangun lantas diatasnya 
kubu-kubu. Selain itu, pohon-pohon nyiur daunnya 
terlihat asri. Tahu cening, apa itu pohon? Pohon, yang 
dimaksud di sini adalah pohonnya pohon kelapa, tampak 
asri. Yaa. Pohon kelapa tampak asri. Ya Tuhan, indah nian 
tumbuhan pohon kelapa di sawah itu, cening. 



There were also others, but they were difficult to see. Lenan teken to mase katon saru. Nah makejang-makejang Yang lainnya juga terlihat kurang jelas. Yah, semua- 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di Jalam Seni Pertunjukan 



49 



Tne Invisible Mirror 



rT'*'^ C «k"» -^T' JT « J^ -a '»t. iT' •/ tJ' iC'tJ »^ iS^t^) ■ 
«^^^ iT •.-7k' '^^/"VO t^t/ -vr «tO^?» -^ 'i^" 



"^ ->T5 •&» ^ ^ A ^ •» • « 




, a r. a -V/ - r* «^ -TTfi *-^ -"STn ^^il> « i . g_^ . 







Yes, all of them were difficult to see. Because all of them 
were covered by fog. That's what mace them difficult to 
see, my little ones. The fog is a mist. That's what made 
all the plants difficult to see. 

In addition to that there were herons flving and fluttering 
there in the air. Heron birds are white. The mist was also 
white, which made the herons difficult to see. They were 
almost invisible, my little ones. The i ig and the herons 
blended together. They became like on . You could barely 
see the herons. 



saru. Du waning sami kasayongan to ane ngeranang saru 
ning. Sayongne to embun, ning. To ane ngawinang saru 
mekejang entik-entikane. 



Lenan teken ento ada lantas kedis kokoan mekeber 
makepirpir ditu. Kedis kokokane putih. Embunne mase 
putih. Saru mase ngenah ia i kedis kokokan. Saru samar- 
samar keto ning. Ring sayonge matunggalan ia i kedis 
kokokan. Dadi besik ia ditu. I kedis kokokan ia ngenah 
saru. 



semuanya kelihatan samar- samar. Oleh karena semua 
diselimuti kabut yang menyebabkan tampaknya kelihatan 
samar, cening. Kabut itu, awan, cening. Itu yang 
menyebabkan semua tumbuh-tumbuhan kelihatannya 
samar. 

Selain itu terlintas juga burung bangau terbang di sana. 
Burung bangau putih. Kabutnya juga putih. Sehingga 
burung bangaupun nampaknya samar-samar. Tak jelas, 
samar-samar, cening. Luluh si burung bangau dengan 
awan. Jadi satu ia di sana. Burung bangau terlihat hanya 
samar-samar. 



Then there was a wonderful shrine, iny little ones. He 
also saw a wonderful shrine. It was lacing the river. It 
looked towards the river. It faced in the direction of the 
river, my little ones. Yes, he could see the temple gates 
high in the distance. They could be seen clearly, way up 
high, my little ones. It was visible way up high. That's 
where he saw it when he looked up. T le shrine was still 
visible. Included in the shrine was a temple gate. Do you 
know what a temple gate is, my little ones? It was a 
covered gate, little ones. Oh, lord, it was very tall. All 
who saw it were carried away by its beauty. 

The temple wall was covered in flowe rs. That's the way 
it was, my little ones. Lotus flowers. White lotus flow- 
ers. Frangipani and dragon flowers. Tiie aroma was very 
fragrant. They were all lined up there b(;autifully, my little 
ones. On the side of the gates were many plants. Frangi- 



Nah wenten periangan luwih lantas ning. Tepukina ada 
biin periangan luih. Maninjo tukad ngalih ane madan 
tukade. Kel nuju sik tukade ento ning. Nah yen 
pemedalanyane katon inggil nu. Inggil nu ngilis keto ning. 
Inggil to ngilis adane nu katon tepukina. Ada periangan 
ngilis nu. Nah periangan to misi ane madan pemedalan. 
Pemedalane to nawang ning? Kori keto ning. Beh yen 
dewa ratu, tegeh ngalik. Ngulangunin sang manyingak 
makejang. 



Panyengkemyane medaging sari. Keto ny en ning. Sekar 
Tunjung. Sekar Tunjung petak. Cempaka lan Naga 
Puspa. Ambunyane merik sumirik. Dahating melah 
mederet sami ditu mesanding, ning. Di samping 
pemedalane to adane entik-entikan. Cempaka. Naga 



Nah, di sana ada lagi pura parhyangan yang sangat indah, 
cening. Dilihatnya lagi ada parhyangan yang sangat 
indah. Menghadap kesungai. Menuju ke arah sungai itu 
cening. Pintu gapuranya masih menjulang. Menjulang 
nampak jelas cening. Masih terlihat dengan jelas 
menjulang. Pura parhyangan nampak jelas. Nah pura itu 
berisi gapura. Cening tahu gapura? Bangunan tempat 
keluar masuknya ke areal pura. Oh Tuhan, tingginya 
minta ampun. Membuat takjub setiap orang yang 
melihatnya. 



Tembok pembatasnya dihiasi bunga, demikian adanya 
cening. Bunga teratai. Bunga teratai putih. Cempaka dan 
bunga nagasari. Baunya harum semerbak. Sangat indah 
semuanya berjejer bersanding di sana, cening. Di samping 
pintu gapura itu dihiasi dengan tumbuh-tumbuhan. 



60 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali cli dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 




fci"^ 



OVr 



SP 



*i^ 









'"^'^^j?'^^ 



^J- J) ^■^ o VV) fu s^h <o gj! (5 or cJ) 09 46 ru> e* r^)v^ 






I'O^ 



=■;> 






<r» <M) n* t"> o o tr 



— -Oh a}> tvTVr»^ «'Si V ) 







pani. Dragon flowers. There were also white lotus flow- 
ers there, my little ones. White lotus. They were all lined 
up there together next to each other in the temple area. 
Oh. lord, how very beautiful it was. The aroma was very 
fragrant. The fragrance was truly very aromatic, my little 
ones. 



Puspa. Ada mase sekar tunjung petak keto ning. Tunjung 
putih. Mederet ditu sami menyanding to di wewidangan 
periangan to, dewa ratu, luih pesan. Bonnyane merik 
sumirik. Ambunnyane patuh ngajak bo to ning. 



Cempaka, bunga nagasari. Ada juga bunga teratai putih, 
cening. Berderet di sana semua bersanding di sekitar 
parhyangan tersebut, ya Tuhan, sungguh amat indah. 
Baunya harum semerbak. Yang dirasa oleh indra 
penciuman itu bau disebutnya, cening. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather, and 
also all you other listeners. 1 will now continue the stoi7. 
In the inner sanctum of the grand pavilion, the roof was 
thatched with sugar palm. It was a very lovely thatched 
sugar palm roof. There was also another building cov- 
ered by the vines of a thornapple tree, a kind of jasmin 
tree. They were elegantly entwined around the cross- 
beams of the ceiling to a beautiful effect. Its flowers had 
a very fragrant aroma. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather, in 
the middle of the inner sanctum there was a pavilion with 
a roof of thatched sugar palm. The pillars were entwined 
with vines of a thornapple tree. Yes, a kind of jasmine 
tree, it was elegant and very beautiful. They wrapped 
themselves flexibly around the cross-beam. The construc- 
tion of it had a beautiful effect. 

The jasmine flowers blossomed on the thornapple tree, 
did you know that, my little ones? They were sparse. 
Grandfather rarely sees those jasmine flowers nowadays. 
In the old days, if your grandfather went to the temple, I 



Nab cening cucun pekak ajak makejang, Kenten neler 
pamiarsa sareng sinamian. Lanturang titiang malih 
nyatuang puniki. Ring jeroan piasan arja. Meraab duk. 
Meraab duk lintang asri. Wenten malih wewangunan. I 
bun gadung, punyan gadunge, mangelohan, magelohan 
ngelilit lambang ngawe luwung. Sekarnyane suganda 
wangi, kenten titiang nguningan. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Nah di jeroan 
biin ada ane madan piasan. Meraab aji duk to ning. 
Disakane to ada melilit Gadung to. Punyan Gadung, bah 
yen megelohan to melah pesan. Megelohan lemuh ngelilit 
lambang. Nah to ngawe asri ngawe melah to. 



Sekar gadung, bungan gadung, cening nawang ne? 
Langah-langah jani. Pekak gen kapah nepukin bungan 
gadung. Ane malu yen kak ke Pura, sinah suba ngalih 
bungan Gadung. Miik ne, dewa ratu, nyen ning. 



Ya, cening cucu-cucu kakek semuanya, demikian juga 
pemirsa semua. Saya lanjutkan lagi ceritera ini. Di dalam 
pura terdapat balai picisan beratapkan ijuk, indah 
menawan. Beratapkan ijuk, indah sekali. Ada lagi 
bangunan yang lain. Batang pohon rambatan tanaman 
gadung, pohon gadung, melilit bagian dari rangkanya atap 
'lambang ' bangunan, gemulai menambah keindahan. Bau 
bunganya harum semerbak, kalau saya bilang. 



Ya, cening cucu-cucu kakek semuanya. Nah di dalam ar- 
eal pura ada lagi bangunan yang disebut piasan. 
Bangunan itu beratapkan ijuk, cening. Tiang bangunannya 
dililit oleh tumbuhan bunga gadung. Melilit gemulai wah, 
indah sekali. Gemulai merambah melilit lambang. Ya itu 
yang membuatnya asri. membuatnya lebih indah. 



Tahu cening, bunganya pohon gadung? Sekarang sudah 
agak jarang. Kakek juga jarang melihat bunga gadung. 
Kalau dulu. bilamana kakek hendak ke pura. pasti mencari 
bunga gadung. Harum baunya bukan main, cening. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in PeAovnwnc- - Sa.tra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



51 



Trie Invisible Mirror 



^o«^ 



L 



^c 



v"^- 



-^ JO ».j;) «r> »r> -^iT^ ^ CI) «J' yy < 



*u>«^)|^j<^•»^^Vu>c>rt>^Kp«^'U>?^^«/li^o^«^o«Kc>>m^^^ ^^-v -r^ 



1. «O t>>C1J ■■ 






7«9<^m»3»57K1»<»' 




would surely look for jasmine flowers. Oh lord how fra- 
grant the aroma was my little ones. 

Yes, all my little grandchildren of your grandfather. Pay 
close attention to this. Grandfather has not yet told you 
about the hunting. He is still at the start of his journey. 
On his journey he saw many things. The beauty that could 
be found in the mountains, at the foot of the mountains, 
filled his heart with joy. In addition to that there were 
flowers, wilted flowers. That is how it was, my little ones. 
They all fell down onto the rooftops there. The flowers, 
all the wilted flowers, my little ones fell down onto the 
rooftops. They all fell down onto the rooftops. Well, why 
did all the flowers fall down onto the rooftops? Because 
they were blown by the wind. They flew through the air 
pushed by the winds. The blowing of the winds. That's 
the reason why all the flower blossoms fell down onto 
the rooftops, my little ones. And also because the wind 
was strong, oh lord, the aroma of the wilted flowers on 
the rooftops was very fragrant, my little ones. 

Now, your grandfather will continue telling the story. He 
was still on his journey, my little ones. So, after that, he 
went towards the north, in the direction of the north. 
He went northwards, straight ahead north. There was a 
place there for performing religious ritual obligations 
(yadnya). A place for ceremonies with a courtyard that 
was clean and grassy. The courtyard was clean, my little 
ones. The house was tall and the roof was very beautiful. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Melahang nyen 
ne ngeresepan ne nyen. Tonden pekak nyatuang unduk 
iane meburu. Ne nu di pejalanan adane ne. Di pejalanan 
mekejang megenepan ane tepukine. Kaluihan ane ada 
di gununge. Di bongkol gunung ane to ane ngeranang 
keneh ia demen. Nah lenan teken to ada biin sekar, sekar 
layu, keto ning. Ring ulung ditu di raabe makejang. 
Bunga-bungane ning sekar ane layu-layu, ulung makejang 
ada di raabe. Nah apa karana sekare ento makejang ulung? 
Sawireh ampehan angin. Makeber ia tempuh bayu. 
Bayue to angin. To ane ngeranang bungae, sekare, 
makejang ulung ditu ia di raabe makejang, ning. Lenan 
teken to mase, sawireh angine keras, dewa ratu, bon, bon 
sekare ane layu, bunga ane layu di duur raabe, miik pesan 
nyen ning. 



Nah lanturan pekak buin nyatuang. Nu ia di pejalan ne 
adane ning. Nah disubane keto lantas. Prenah kaja, 
wenten nah dibeneng kaja, keto ning. Brenan kaja keto, 
benang kaja. Ada buin peyadnyan, ning. Peyadnyan, 
dewa ratu, nyen resik. Natar ipun wilis. Melah pesan 
resik. Kedas di natare to ning. Nah tungkubnyane luwur 
pisan. Tungkub raab to mase melah pesan. Masa ia ke 
sayongan. Sunia samun wantah suaran angin bukit to 



Ya, cening cucu-cucu kakek semuanya. Resapkanlah ini 
dengan baik, ya. Kakek belum menceritakan kisah dia 
berburu. Kini masih di dalam perjalanannya. Dalam 
perjalanannya, banyak yang dilihatnya. Keindahan yang 
ada di gunung. Keindahan di kaki gunung yang membuat 
hatinya senang. Nah selain itu ada lagi bunga, bunga 
yang sudah layu, cening. Di atap banyak pada berjatuhan. 
Bunga-bunga yang sudah layu pada berjatuhan di atap. 
Apa sebab bunga itu semua berjatuhan? Karena ditiup 
angin. Berterbangan di tiup angin. Angin, udara yang 
berhembus. Itu yang menyebabkan bunga-bunga yang 
layu pada berjatuhan di atas atap, cening. Di samping 
itu, karena dihembus angin kencang, bahu bunga-bunga 
yang jatuh di atap, ya Tuhan, sangat harum wangi 
semerbak. 



Yah, kakek lanjutkan lagi ceritanya. Dia masih dalam 
perjalanan. Setelah itu dia menuju ke arah utara. 
Mengarah ke utara, cening. Ke utara perjalanannya. Ada 
lagi tempat suci, tempat menghaturkan sesaji, cening. 
Tempat suci, oh Tuhan, sangat bersih. Halamannya hijau. 
Sangat bagus, dan bersih. Sungguh bersih halamannya, 
cening. Atapnya bangunannya tinggi sekali. Atap 
bangunannya sangat bagus. Namun sayang juga diselimuti 



52 



Siwaratribalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji cialam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 




x>^ 












> rf-\l "^-T>-\ «r^.■. _^N 






■»/T VT) t^ •«> «-l> .7T?! (TV ,r 






r&rcr%TvTc\'"*w-jP 







It was also hidden by the fog. It was quiet and empty. 
The only sound you could hear was the wind in the hills. 
Everything was covered by mist and fog. It was quiet 
and empty. Very empty and peaceful. That what you call 
silence. Empty. The only thing you could hear, all that 
could be heard, was the sound of the wind in the hills. 
There were trees growing on the hillsides. There were 
also the forest animals calling to each other. Do you know, 
my little ones, how forest animals call to each other. 
Birds are forest animals, and together with all the other 
beasts and creatures that live in the forests, they all called 
out to each other. 

There were also the sounds of the priest's bell. The sound 
of the bell used by the high priests. It gives you a special 
feeling when you hear it, my little ones. It is harmonious 
and fits just right. It sinks into our inner soul. It pen- 
etrates our thoughts. It goes into our hearts. It is none 
other than, no more or less than, the sound of the priest's 
bell competing with the wind in the hills. There is a 
priest's bell, the sound of the priest's bell. And then there 
is none other than the sound of the wind in the hills. 
There are big timber trees on the hill, rubbing against 
each other. That sound is like people singing. Also in the 
forest was a wild rooster. Lubdaka heard its voice from 
far away. Those competing sounds blended into one. It 
was a mingling of sounds like the collaboration between 
two gamelan groups. A collaboration is when two sides 
meet and become one. Now people talk about things like 



gen nyen ning. Kasayongane, mase keliput baan embun 
to kesayongan. Lenan teken sunia to suwung. Suwung, 
samun, mamung. Keto adane sepi, suwung. Ane kedingeh 
lantas, ane ada lantas kepiragi, suaran angin bukit. Saisin 
bukit apa ia lenan, kayu ane mentik di bukite to. Sato 
wana asawuran to mase ning. Nawang ning sato wana 
asawuran? Satoe to ba kedis. Sekancanan sato wana, ane 
ada beburone di alase to, saling sautin to. 



Suaran genta biin len ada. Suaran genta kleneng Ida 
Peranda to. To biin lenan rasa-rasa medingehang, keto 
ning. Beh lengut bangkit pesan. Nudut manah-nudut 
manah. Nah nuek rasa sik keneh, sajeroning hati iragane. 
Sing lenan, tan biin a luir, mebarung genta lawan angin 
bukite. Ada genta. Suaran genta adung lan angin bukit 
singjaadalen. Punyan kayu ane gede di bukite. makorod 
ia to mase cara anak magending. Sato wana nah kedis 
keker apa luire, memunyi mase dingeh.Uli joh to. To 
lantas mebarungan mecepuk. Keto nak mebarungan. Yen 
cara gong mebarungan ada gong dadua. To mebarungan 
adane ketemu lantas to dadi besik.To yen jani nak 
nyatuang. dingeh-dingeh pekak keto. Eee nak suba wikan- 
wikan menggarap keto ngae kreasi. Ada kolaborasi. 
Kolaborasi keto apa. Yen keto dingeh kak. Ketobarasane 
mecampur suarane. Sakewala melah pesan. Asri demen 



kabut. Kosong sepi, hanya suara angin bukit pelan 
mendesir. Tertutup kabut, diselimuti embun, 
disembunyikan kabut. Sunyi itu kosong. Kosong, sunyi 
senyap. Demikian yang disebut kosong. Yang terdengar 
hanyalah, suaranya angin bukit. Isinya bukit, apalagi 
kalau tidak kayu, yang tumbuh di bukit tersebut. Sato 
wana saling bersautan mereka. Tahu cening sato wana 
bersahutan? Sato itu burung. Segala jenis burung yang 
ada dihutan, saling bersautan mereka. 



Bunyi genta lain lagi terdengar. Suara genta itu, dari 
gentanya pendeta. Membangun rasa yang lain lagi, ketika 
mendengar suara itu. Kedengarannya enak dan indah 
merasuk. Menyayat kalbu, menyayat kalbu, merasuk ke 
relung hati yang paling dalam. Suara genta seakan 
bertarung dengan suara angin bukitnya. Ada genta. 
Suaranya genta harmony dengan suara angin bukit. 
Pohon-pohon besar di bukit bergesek satu sama lain, bak 
ibarat orang bernyanyi. Sato wana itu sesungguhnya ayam 
hutan, keker, dan termasuk yang lainnya, bersuara, 
kedengaran bersautan. Dari kejauhan semua itu berpadu 
mabarung menyatu. Demikian memang kalau orang 
mabarung. Kalau gamelan mabarung, terdiri dari dua 
grup. Itu yang disebut mabarung. Bertemu menjadi satu. 
Kakek dengar orang mengatakan, .sekarang ini banyak 
orang pintar menggarap lagu, ya mengkomposisikan lagu 



trikalpa: Balinese Literature in Performance 



- Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjutan 



63 



Trie Invisible Mirror 













*pjt) t3> o ci > j^jr»o>^ «r> >;> o ir»2^ ^^ "^ j^ "7 ■* 



.vf^^n». 



rK' 






that, and it is what your grandfather has heard. And many 
clever people already work to create collaborations. 
That's what your grandfather has heard. It gives you the 
feeling of mixed voices, but it is very good. It is lovely 
and people like to listen to it, the sound of the wood, the 
sound of the bell, and the sound of the bird. Yes, it is 
very beautiful. That's the way it is in the middle of the 
forest at the foot of the mountains, my little ones. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather, and 
also all you other listeners. I will now continue. He is 
still in the middle of his journey. And there he saw a 
huge clan temple. He came across a large clan temple. 
It was also quiet, peaceful and hidden away. Silent, empty, 
and isolated. People said that a long time ago lava had 
flowed there. There was an earthquake, isn't that so? In 
the past there was an earthquake. The mountain erupted 
and lava flowed out of it. What came out was called lava. 
That's what they say happened a long time ago. The 
temple gates were all ruined, fallen, destroyed. The temple 
walls had fallen down. They had all fallen down there. 
The conditions there made it seem like everything was 
crying, wrapped in the mist. As if the temple gates were 
sad, and had been knocked over onto the ground. 



If we felt that way, we would all be sad. All the build- 
ings were in ruins. The temple walls were overgrown with 



anake medingehang. Suaran kayu suaran genta. Kedis 
memunyi peh melah pesan. Keto yen tuah mula di tengah 
alase.Di bongkol gununge, ning. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Kenten naler 
ida dane pamiarsa sareng sinamian. Malih pacang 
lanturang titiang. Kantun ring sajeroning pemargi puniki. 
Tiosang ring punika wenten pedarman ageng. Malih 
kepangguh irika, Pedarman ageng. Sepi naler samun saru. 
Sepi suwung mangmung. Tiosan ring punika, dumun 
kocap kenten kelaharan, keni lahar. Gempa ten kenten 
ya. Sane riin wenten gempa. Gununge meletus 
ngewetuang lahar. Pesu ane kebaos lahar. Kenten kocap 
sane riin. Apit surang eee maka sami rubuh kenten, rebah, 
uwug. Penyengkere nandes rebah, naler mase bah 
penyengkere punika.Sawentenia, nah wenten makasami, 
sawang nangis lilit embun. Luir sedih I Dwara Pala, ring 
tanahe paguliling. 



Yen rasa-rasa te punika, sedih maka sami. Wewangun- 
wewangunane rebah punika. Penyengker lilite raris ken 



kreasi. Ada juga yang disebut kolaborasi. Berkolaborasi 
apa namanya itu. Yah begitu kabarnya kakek dengar. 
Seperti itulah percampuran suaranya, sangat indah, asri, 
harmoni kedengarannya. Suaranya kayu bergesek, denting 
genta, suara kicauan burung bercampuran sangat indah 
didengar. Seperti itulah bila berada di tengah hutan, 
berada di kaki gunung, cening. 



Ya, cening cucu-cucu kakek semuanya. Demikian juga 
para pemirsa semuanya. Saya lanjutkan lagi. Kisah ini 
masih di dalam pejalanannya. Ada tempat suci besar 
terlihat lagi di sana. Tempat suci besar. Kosong juga sepi, 
samar. Kosong, sepi, sunyi. Selain itu, konon dahulunya 
pernah dilanda lahar. Disapu oleh lahar tumpahan gempa 
bumi barangkali. Pada waktu yang lampau pernah terjadi 
gempa. Gunungnya meletus seraya memuntahkan lahar. 
Mengalir keluar yang disebut lahar. Demikian konon 
keadaan masa lampaunya. Gapuranya semua roboh. 
Tembok pembatasnya tertimpa reruntuhan, juga rubuh. 
Keberadaan semua puing-puing bangunan seperti 
menangis ditutupi kabut basah. Pintu gerbang sepertinya 
menangis, bergelimpangan di halaman. Kalau dirasakan 
seperti menangis semua bangunan yang roboh itu. Puing- 
puing tembok pembatas dililit batang tumbuhan 
merambat. 

Sedih rasa-rasanya semua itu. Menangis dirasa kalbu, 
dililit oleh pohon merambah itu, demikian kalau 



54 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



l«#N^ 



-ii* }'M-i 







'-'^tj»C*p'4**l*lDir» 



|^^'0»«^>o^^-> 






^A^ 



taHHiM 




twisting vines. The feeling was very sad. There were tears 
and sad feelings entwined in the vines. The foundation 
was falling apart. It was all very very sad. Also the sup- 
port columns were unstable. Evei^thing was unstable. . . . 
The roof was already worn down. The roof. It was 
already worn down. The pillars were akilter. The pillars 
of the pavilion were tilted in all directions. That is called 
akilter. 



In addition to all of this he also saw a drawing of a beau- 
tiful woman in mourning. Yes, it was there where the 
pillars were akilter. She was there in mourning, mourn- 
ing. Oh it was there, the drawing of a beautiful woman. 
The painting was there. The painting of a beautiful 
woman. She seemed to be saying something. But no one 
was passing by to listen. In the pavilion between the tilted 
pillars was hanging the painting of the beautiful woman 
in mourning. It was so beautiful. It seemed that she wanted 
to say something about her surroundings. But there was 
no one passing by to listen. No one was there to listen to 
her. That's how it was. In addition to that, there was more. 
There was also a pavilion in mins. It was in ruins, de- 
stroyed, including the carved decorations, the elephant 
engravings. They were all unrecognizable. The fountains 
were dislodged from their foundations. Nothing was in 
place. It was extremely quiet. No one ever came there. 
The flowers of the kemuning tree were scattered on the 
ground. The bumblebees had no honey to suck. A bumble- 
bee is a kind of bee. There was no honey for the bees. 



punyan-punyan bun ngelilit. Rasa-rasa sedih punika. 
Nangis rasa-rasayang kayunne kalilit antuk punika, kenten 
yan nirgamayang. Nah buat napi wastane punika, kanten 
ring batarnya. Sedih nguwun-nguwun punika maka sami. 
Tiosang ring punika pirantinia sampun ganjih. Duwaning 
maka sami punika ganjih. Raab ipun sampun tutud. Raab 
punika, atap bahasa Indonesiane punika. Sampun mase 
tutud. Sakannyane metayungan kenten. Saka balene 
punika sampun metriodan. Kebaos metayungan, kenten. 

Tiosang ring punika naler kapanggihin mengenin wentene 
gambar istri ayu. Nah wenten punika ring sakanyane 
sampun metayungan. Wenten ane mangenan, mangenin. 
Ooo kenten wenten gambar istri ayu. Gegambaran lukisan 
kenten. Lukisan anak luh jegeg. Minab jaga 
mangortayang. Sakewanten ten wenten anak nyimpangin 
merika. Ring bale ring sakane metriodan punika, wenten 
menawi megantung gegambaran, lukisan anak luh jegeg. 
Ayu kenten. Dot ipun minabang niki ngortaang 
paundukane punika. Sakewanten ten menawi wenten anak 
simpang. Ten wenten nak simpang merika. Kenten. Yen 
tiosang ring punika malih katah kantun. Wenten malih 
piasan sampun rusak. Rusak punika sampun uwug. Rauh 
karang kekarangan ukir-ukiran, karang asti, sampun ilid. 
Bot rawi sapacaran ipun, tan kadi caraning cara. 
Mungmung sepi maka sami. Tan wenten sang nahan rauh. 
Asan kemoning mesasah. Satpada tan kumerarisin. Tan 
kumarisin naler satpada. Satpada punika tamulilingan. 
Sapunika kewentenane kantun sajeroning I Lubdaka ring 
margi. Maka sami sampun kecingak riin. Kalintangin 



diumpamakan. Demikian juga halnya dengan lantainya. 
Menangis teramat sedih semuanya itu. Di saiiiping itu 
penyanggahnya juga sudah goyah. Semuanya sudah 
goyah. Atapnya (raab) juga sudah aus. Raab itu bahasa 
Indonesianya, atap. Memang sudah aus. Tiangnya 
melenggang. Tiang bangunanya sudah goyang terhuyung. 
Boleh dikatakan melenggang. 



Selain itu juga terlihat, gambar wanita cantik, sangat 
memilukan. Posisinya ada pada tiang yang melenggang. 
Ada yang merasa kasihan, meratapi. Ooo gambarnya 
seorang wanita cantik. Gambaran, ya lukisan. Lukisan 
wanita cantik. Sepertinya akan menceriterakan keadaan. 
Akan tetapi tak seorangpun ada yang datang menghampiri 
ke sana. Di balai-balai yang tiangnya gontai tersebut ada 
tergantung gambaran seorang wanita cantik. Seorang istri 
ayu, demikian. Sepertinya dia berkeinginan untuk 
menceriterakan keadaan seperti itu. Akan tetapi 
sayangnya tak seorangpun ada yang berkunjung. Tak ada 
orang yang mampir ke tempat itu. Selain semua itu, masih 
banyak lagi bila diceriterakan. Ada balai piasan yang 
sudah rusak. Rusak itu hancur. Sampai hiasan ukiran 
kekarangannyapun seperti ukiran karang asti, sudah 
tertutup. Air mancur tidak lagi pada posisinya karena 
rusak. Sepi sunyi semuanya diam. Tak seorangpun ada 
yang datang ke sana. Sampah kayu kemoning 
berhamburan bertebaran. Sadpada tidak dapat lagi 
mengisap sari. Sadpada itu tamulilingan. Demikian 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra 



Bali di dalam Seni Pertunjukan 



55 



The Invisible Mirror 






^j. m^^A^^^ 



1>*<P 



•?^ 



^ tfyA») vr>»o ^'%^CTri «r'%'r i»rt>i,">^«3T <v 



v^r 






itp-cTtr 



n 






I »1 K ^'TrOC 

7 



k>rt»VPi 




«iP.rp<i 



This is what happened while Lubdaka was on his jour- 
ney. All of this is what he saw at the beginning. He passed 
by all of these things. 

Yes, all you honored ladies and gentlemen, there is still 
much more. 1 am still telling you what happened at the 
start of his journey. He has not yet arrived at the hunting 
place. That's how it is. By chance it happened to be the 
evening before the new moon. And it was very cloudy as 
well. In addition to that, everything was covered in fog. 
Just like now, when it is cloudy, everything is hidden. 
Usually in the mountains there is lots of fog when it is 
cloudy. 

Yes, all you listeners, especially the elderly ones, and 
also all the children. Grandfather has only just now told 
you the beginning of Lubdaka's story. He was travelling 
on his way to the hunting place, my little ones. Yes, I 
hope you all enjoy listening. I will stop now. Next time 
I will tell the story of Lubdaka's arrival at the hunting 
place. That is Lubdaka's intention. He just wanted to 
hunt, so that he could bring home meat, and provide 
enough to feed his family. From the time he was a child 
up until now he was always hunting. That's all. Hunting. 
Yes, all of you honored listeners, this is more or less 
what I have already said. Please forgive me.The story I 
am telling is based on a Kekawin poem. It has also been 
written as a Gaguritan poem. And it is well known in 
many other forms, this story of Lubdaka. Almost every 



kaliwatin punika. 



Ainggih ida dane sareng sinamian. Duanin kantun akweh 
puniki. Kantun titiang nyatuang sajeroning pemargi, 
dereng ipun rauh ring genahe ipun pacang meboros. 
Asapunika. Duwaning maka sami sasihe punika nemoning 
purwani. Tur maning gulem-gulem puniki. Tiosan ring 
punika maka sami sayongan. Sekadi mangkine yen gulem- 
gulem maka sami saru. Gelem-gulem yen di gununge, 
akeh biasane sayong punika. 



Ainggih ida dane pamiarsa para lingsir sareng sinamian. 
Kenten naler alit-alite maka sami. Sane nuni punika, nu 
kantun pekak nyatuang sajeroning ia memargi. Mejalan 
kel ngungsi tongos ia kel maburu, keto nyen cening. 
Ainggih ledangan pamiarsa sareng sinamian, pangkedan, 
panggelan titiang rauh iriki riin. Sane jagi rauh punika 
pacang lanturang titiang malih satuan ipun I Lubdaka. 
Nyantos ipun rauh ring genah ipun meboros. Wantah 
punika tetujon ipun I Lubdaka. Wantah meburu tur 
maning. hasil buronan punika wantah anggen ipun ngupa 
pira. ngidupan kulawargan ipun. Sakeng alit nyantos ipun 
wayah sekadi mangkin, kantun ipun meburu sapunika, 
meboros. Ainggih ida dane pamiarsa sareng sinamian. 
Kirang langkung antuk titiang sane nuni. Ledangan 
aksamayang. Titiange puniki nyatuang lantas, medasar 



keberadaan si Lubdaka dalam perjalanannya. Semuanya 
sudah dapat dilihatnya. Semuanya itu telah dilewati, 
dilintasi. 

Yah, pemirsa semua. Karena masih banyak ini, saya masih 
menceritakan perjalanannya, sebelum dia sampai di 
tempatnya berburu. Kebetulan bulan itu bertepatan pada 
bulan mati yang disebut purwani. Apalagi diselimuti 
mendung saat itu. Selain itu semuanya tertutup kabut. 
Pada jaman sekarang ini bila mendung menutupi, 
semuanya menjadi kurang jelas. Kalau mendung di 
gunung, umumnya kabutnya menjadi tebal. 



Ya seluruh pemirsa, terutamanya orang tua, demikian juga 
anak-anak semua. Yang tadi kakek masih menceriterakan 
kisaran ceriteranya dalam perjalanan. Berjalan menuju 
tempat dia berburu. Demikian cening. Yah mohon 
kesediaan pemirsa semua, untuk saya hentikan, sudahi 
sampai di sini dulu. Besok lusa akan saya sambung lagi 
ceritanya si Lubdaka, sampai dia berada di tempatnya 
berburu. Memang demikian tujuannya dia si Lubdaka. 
Hanyalah berburu. Hasil buruannya dipakai untuk 
menghidupi keluarganya. Sejak kecil sampai dia dewasa 
seperti sekarang ini, masih dia berburu. Ya seluruh 
pemirsa yang budiman. Kurang lebihnya saya dalam 
menyampaikan ceritera ini, mohon dimaafkan. Saya 
menceriterakan semua ini berdasar pada sumber yang 
termuat dalam kekawin, dan yang termuat dalam 



56 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 




day he hunted and killed animals. 



antuk sane menggah iriki ring kekawin. Sane wenten ring 
geguritan. Neler wantah sane wenten ketah sampun 
kecerita I Lubdaka puniki. Meburu tur maning serahina- 
rahina ngematiang beburon-beburon, asapunika. 



geguritan, di samping juga yang umum diceiterakan 
secara oral tentang ceriteranya si Lubdaka ini. Berburu, 
hampir setiap hari membunuh sejumlah binatang buruan. 
Demikian. 



Now, I will finish with a blessing of peace. "Om Santi, 
Santi, Santi, Om. " ("My there be peace in your hearts, 
peace on earth, and peace in the heavens.") 



Ainggih puputang titiang antuk paramasanti. 
Santi, Santi, Om." 



sini dengan 



'Om Santi, Baiklah saya selesaikan sampai di 

menghaturkan paramasanti. "Om Scinti, Santi, Santi Om. " 
("Ya Tuhan, semoga damai di hati, damai di dunia, dan 
damai di akhirat.") 




Si 



trika 



iwaratnbalpa: 



Balinese Literature in Performance 



- Sastra Bali di Jalam Seni Pertunjukan 



57 



The Invisible Mirror 



■SA^*-!» 






OP 



-.T :CP^-^3 



P r 






Siw^ara 

ENGLISH 



Siwaratrikalpa as Satua: LuLdaka's story as broadcast in Balinese on RRI Denpasar (Episode 2) 
tril^alpa Seta^ai Ceritera: Kisak Lukdaka dalam Mesatua Bak disiarkan melalui RRI Denpasar (Episode 2) 



BALI / KAWI 



INDONESIA 



Jagra: "OmSwastyastu." ("May the world be blessed.") 
Yes, little grandchildren of your grandfather. Oh, you 
already understand what that means. Yessss. If your grand- 
father is the first to speak a greeting, and then you an- 
swer me, that is the right thing to do. You should not 
speak at the same time that I am speaking. Ha ha ha. 

Now all you little grandchildren of your grandfather, and 
also all you other honored listeners and distinguished 
elders. Please forgive the inadequacy of what I offer you. 
I am going to tell you the continuation of a story, the 
story of Lubdaka. That is what I will do. Up until now 
his journey has taken him to the foot of the mountain 
where he saw things that were beautiful, lovely, and won- 
derful. His thoughts were enraptured by the beauty of 
what he saw there. But he is still in the middle of his 
journey. He is still traveling, all you little grandchildren 
of your grandfather. 

He is still at the start of his journey, my little ones. He 
saw many things as he traveled there along the foot of 
the mountain. There was a pond. There were some build- 
ings. They were all beautiful. All of that made him feel 
joyful. He was feeling happy, my little ones. But he had 
not yet arrived at the hunting place. Not yet, my little 
ones. He is still on his way. As he travels, he sings. This 
is the song he sings on his journey: (singing) 



Jagra: "Om Swastyastu." Nah cening, em eh eh. Nah 
cening cucun pekak ajak makejang. Ooo sing suba bisa 
adane.Eeeem.Yen pekak malunan nguncarang 
pengastungkara, cening durian nyautin to beneh suba to 
ning. Sing dadi bareng-barengan. Ha ha ha. 



Ne cening cucun pekak ajak makejang. Kenten neler 
pamiarsa sareng sinamian. Majeng ring para pangelingsir, 
ida dane ipun sareng sami katur. Ledang aksamayang 
kewentenan titiang. Titiang pacang ngelanturang indik 
punika kawentenan satua. Satuan ipun I Lubdaka. 
Sapunika. Sane sampun lintang, sayuwakti pemargin ipun, 
sayuwakti sampun ring bongkol gununge ipun, manggihin 
sahananin sane luih, sahananin sane asri, sane rawit. 
Ngawe kelangen ngelangunin manah ipun, sapunika. 
Sakewanten ring galahe mangkin. Kantun naler ipun ring 
tengahing margi. 

Ring pejalahan to nyen cening cucun pekak ajak 
makejang. Nu I Lubdaka di pejalahan ne nyen ning. 
Magenepang ane tepukane ditu di bongkol gununge di 
pejalahane. Ada telaga, ada wewangunan, makejang 
sarwa luih. To ane ngeranang keneh iane egar. Keneh 
iane demen keto ning. Nah konden ia madan neked sik 
tongos ia meburune, konden nyen ning. Nu ia di pejalanan 
cening. Sambilange mase ia megegendingan. Kene 



Jagra: "Om Swastyastu. " Yah cening, em eh eh. Nah 
cening, cucu-cucu kakek semuanya. Ooo, kalau begitu 
kan pintar namanya. Eeem. Bila kakek menyapa duluan 
dengan pengastungkara, kemudian cening mengikuti, 
itulah yang benar, cening. Tidak boleh besama-sama. 
Ha ha ha. 

Cening, cucu-cucu kakek semuanya. Demikian juga 
kepada para tetua dan pendengar, pemirsa yang budiman 
semua. Mohon berkenan memaafkan keberadaan saya. 
Saya akan melanjutkan menghaturkan ceritera, tiada lain 
tentang dia si Lubdaka. Yang telah lampau kisah 
perjalanannya diungkapkan ketika dia menyisir di kaki 
gunung, dan takjub melihat keindahan alamnya, 
pemandangan yang menawan, dan segala sesuatu yang 
asri. Semua itu membuat tak terkira senang, damai, 
perasaannya. Nah pada kesempatan kali ini, masih 
dilanjutkan kisah perjalanannya. 

Dia masih dalam perjalanan, cening cucu-cucu kakek 
semuanya. Si Lubdaka masih dalam perjalannya. Banyak 
hal menawan yang dia saksikan di sana, di kaki gunung. 
Ada telaga, bangun-bangunan, semuanya sangat indah 
mempesona. Semua itu membuat hatinya riang, takjub 
mepesona. Dia belum nyampai di tempat tujuan dimana 
dia akan berburu. Belum cening. Dia dalam perjalanan 
menuju kesana, cening. Sembari dia bernyanyi-nyanyi 



58 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



fr-^^-^ 






. " f^.'^ iD tflp o 



F^^^^ 



o'» n> " 



►7^ 






n o 



m^^s^Mki^m^mS^^^^^'^'S'^'-'-'rn^^'^ 




The pandanus tree is hidden by the fog as if it were sad, 
longing for the flooding rains of the fourth month. The 
aromatic Pandanus flower is blossoming. This is a fit- 
ting place for a wise man who composes poetry. 



This is what he sang to comfort his thoughts. Who knows 
what animals passed by him during his journey. Those 
were his thoughts, my little ones. 



Yes, my little ones, now your grandfather will continue. 
Where has Lubdaka arrived? Now the time of twiUght 
was approaching. The beauty grew more and more over- 
whelming. A thin mist fogged the sky, my little ones. It 
draped everything in dew. Draped in dew. The klangkyang 
bird was singing. Do you know what a klangkyang bird 
is, my little ones? It's the one who sings, 'kehk-kelik, 
tuwu tuwu. " That's the one. There is a bird that sings 
'tuwu tuwu, kelik-kelik' . That's it, my little ones. In the 
old times, if there was a bird that sang, 'kelik-kelik,' an- 
other bird would answer, 'tuwu-tuwu. ' Oh, lord, how 
frightening it was. The worid was already besieged by 
plague in those times. And also there is a bird called 
'cocomantis variolosus' that sings 'engkik engkik engkir, 
' my little ones. That is also a sad one. 



gegendingan iane dijalane ning. (gending) 



Pandan wonge makekubun, Antuk sayang kadi sedih. 
Ame-ame blabur kapat. Pudaknyane mekar miik. 
Pantes pararyan sang pradnyan. Mahas mangardi 
kakawin. 



Keto ia nyen sambilanga magending nyelimurin keneh 
iane. Saget nyen ada beburon nyen liwat di pejalan. 
Keto nyen keneh iane, ning. 



Nah cening j ani lanturang pekak. Teked dija ia suba I 
Lubdaka? Jani suba madan galahe lingsir sanja, biin ia 
sayan rawit ngawe bangkit. Sayong halus ring ambara, 
keto nyen cening. 
Mengulikub ngemu riris. 

Angemuriris. Kelik-kelik ia mesuara. Kedis kelik ning 
nawang? Klik klik tuwuuu, keto. Ada kedis tuwu-tuwu. 
Kelik-kelik ada keto nyen ning. Yen cara pidan, yen ada 
kedis kelik-kelik, keto mase sautinge ken kedis tuwu- 
tuwu, aduh dewa ratu, jejeh, grubug suba gumine ning 
ane malu. Turmaning ada mase kedis engkik engkik 
engkir, ning. Keto mase sedih ia. 



kecil. Begini nyanyiannya mengiringi langkahnya, 
(nyanyian) 

Tanaman pandan wong seakan sedih terselimutkan 
kabut. Menanti turunnya hujan dimusim semi. Bunga 
pudaknya mekar menebar bau harum. Sungguh pantas 
menjadi pemberhetian orang pintar. Tempat nyaman 
ketika mengarang kekawin. 

Seperti itulah dia menghibur hatinya dengan bernyanyi- 
nyanyi kecil. Siapa tahu nanti ada binatang yang lewat 
ketika dalam perjalanan. Demikian terlintas pada 
pikirannya. 

Ya cening, kakek lanjutkan lagi. Sudah sampai di mana 
si Lubdaka? Sekarang waktu sudah menunjukkan sore 
hari. Semakin bertambah indahnya panorama senja. Awan 
tipis menghiasi angkasa, cening, menutupi langit 
mengandung air. Berair. Burung kelik-kelik dia berbunyi. 
Cening tahu burung kelik-kelik? (Burung buas sebagsa 
elang). Klik klik tuwuuu, seperti itu bunyinya. Ya, ada 
burung kelik-kelik seperti itu, cening. Dimasa lalu bila 
ada burung kelik-kelik bersuara, disahuti oleh burung 
tuwu-tuwu, ya ampun, mengerikan, pertanda dunia akan 
diserang wabah epidemi. Ada juga burung kedasih yang 
berbunyi, engkik engkik engkiiirrrr, cening. Begitu 
suaranya sedih menyayat. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjufca 



69 



Th 



e Invisi 



ble Mirror 




p (C^ JTN <x^ i> j> v7 O «{• 4> > «Oft cT» OT gi^ «1«? iO*s ri» jlT eo <^-^ t/» jT» O '»7 



fftS^ 



rt Pff7»7, 










md 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather, that 
was what he heard in the middle of the forest, during his 
journey. That is what caused him to have the feelings 
that your grandfather just mentioned He is happy be- 
cause he doesn't have the problems that we have nowa- 
days. Ha ha ha. Your grandfather is talking about your 
parents, my little ones. Your parents are the ones who 
created you. Nowadays life has many challenges. Many 
of your mothers and fathers are pre-oc :upied with heavy 
thoughts, my little ones. Because, little grandchildren of 
your grandfather, your older brothers and sisters are ask- 
ing for many things. Isn't that the reason things are the 
way they are now. 

Now, Lubdaka, my little ones, never has sad thoughts. 
He is always happy. His job, my little ones, is just to hunt 
and look for animals. 

Yes, little children of your grandfather, and also all you 
other listeners. In addition to that he also heard the sing- 
ing of birds, the song of the 'kelik-kelik' and also the 
sound of the tree branches rubbing against each other. 
The sound of the branches rubbing against each other 
truly sounded like the music of the the rebab, (a two 
stringed instrument played with a bow). There were 
sounds like flutes. And it was accompanied by the sound 
of thunder "kerug-kerug." "grudug-grudug. " The world 
was truly cloudy. These things overwhelmed his thoughts. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Keto gen 
pedingehange ditu di tengah alase, di pejalan iane. To 
ngeranang pekenehan iane, saja cara baos pekake busan, 
liang, sing inget ia teken ane madan cara janine, ning. 
Ha ha ha. Orang tua ceninge keto pekak nyatuang. I 
rerama sang guru rupaka. Yen cara janine, liu ane 
kesatuang tantangan hidup. Liunang suba meme bapan 
cening serahina ngelamun keto ia. Mekeneh-keneh berat. 
Wiwireh cening, ne liu cucun pekak, belin-belin ne, kelih- 
kelih metetagian, bih dewa ratu. To ne ngeranang, yen 
cara jani sing keto? 



Jani I Lubdaka keto nyen cening. Sing taen ngelah keneh 
sebet. Jeg setata ia Hang. Geginan iane cening, tuah 
meburu ngalih beburon. 

Nah cening cucun pekak, kenten naler pamiarsa sareng 
sinamian.Tiosang ring punika, naler ningehang ipun 
suaran kedis, suarane I Kelik-kelik. Kenten naler kayune 
sane prasida ngawenen ma pekayunan ipun. Sayuwakti 
suaran kayune mekorod ipun, sayuwakti sekadi suaran 
rebab. Wenten sekadi suaran suling. Kenten naler 
kesarengan raris munyin kerug-keruge, kenten. Grudug- 
grudug sayuwakti gumine gulem. Nika ngardinin ipun 
bangkit manah ipun. Kenten naler angeres-ngeres naler 
manah ipun. Sapunika. Nang cening melahang-melahang 



Ya, cening cucu-cucu kakek semuanya. Demikian 
nyanyian burung yang didengar di tengah hutan, ketika 
dia dalam perjalannya. Itu membuat hatinya benar senang, 
seperti yang kakek ceriterakan terdahulu. Tak pernah dia 
memikirkan keadaan seperti sekarang, cening. Ha ha 
ha. Orang tua cening sendiri, kalau kakek bilang, orang 
tua yang melahirkan kamu, banyak yang membeberkan 
keadaan di era sekarang ini penuh dengan tantangan 
hidup. Kebanyakan ibu bapakmu hampir setiap hari 
sering kali melamun. Berpikiran berat. Oleh karena 
banyak tuntutan cucu-cucu kakek, kakak-kakakmu yang 
lebih tua dengan berbagai permintaan, ya ampun. Itu yang 
menyebabkan kesulitan hidup dewasa ini. Ya kan? 

Sekarang tentang si Lubdaka, cening. Tidak pernah 
punya perasaan sedih. Dia selalu senang. Pekerjaanya 
hanya berburu mencari binatang, cening. 

Ya, cening cucu-cucu kakek, begitu juga pemirsa semua. 
Selain itu dia mendengar suara burung, suaranya si burung 
kelik-kelik. Begitu juga suara kayu yang membuat 
perasaannya senang. Sungguh suara yang timbul dari 
gesekan kayu, ibaratnya suara rebab. Ada seperti suara 
seruling. Apalagi diikuti sengan gelegar suara petir 
menyambar. Dunia diselimuti awan disertai dengan suara 
menggelegar. Hal itu yang membangkitkan semangat 
dirinya. Sekaligus menakutkan membuat ciut hatinya. 
Begitulah keadaannya. Coba dengarkan baik-baik ini 



60 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



•\N N> 






oS^i 









And they also troubled his thoughts with fear. That's the 
way it was. So listen well, my little ones.There is more to 
hsten to. There were also boats that he saw (on the sea). 
The boats appeared and disappeared in the fog, my little 
ones. In addition to that they all melted together into one. 
They became one, dissolving into the clouds. It was like 
that, my little ones.The boats were just like the airplanes 
that you see now, my little ones. Touching the clouds... 
that's what people called it. They were already hitting 
the clouds.The boats appeared, my little ones.They be- 
came one, the clouds and the boats. The boats and the 
clouds. All of a sudden they appeared and then quickly 
disappeared. That's how it was, my little ones. A spar- 
kling radiance appeared. Now there was a bright radi- 
ance that arrived. That's what made them all visible, even 
through all the fog. Then they disappeared again. 

That's how it was, my little ones, all my little grandchil- 
dren of your grandfather, and also all you other listen- 
ers. As for the story of Lubdaka, many of you already 
know it. But I have a strong desire to tell this story of 
Lubdaka, so that in the future the true contents of 
Lubdaka's story will be understood by children. That is 
how it is, my honorable listeners, especially you elderly 
ones, who are already knowledgeable about this story of 
Lubdaka. So I will explain it again for all grandfather's 
little grandchildren. 



medingehang ne cening. Nah lenan teken to 
pedingehange. Ada mase lantas perahu ane tepukine. 
Praune to biin ngenah cening, biin saru-saru samar keto. 
Nah lenan teken to, lantas matunggalan to dadi abesik. 
Dados asiki, lawan ambune, keto ning. Praune, keto suba 
cara, yen cening nepukin kapal terbang keto ning. 
Ngambun keto nak nyatuang. Ngelambuk di ambu keto 
suba ia. Ngenah ne peraune ning. Dadi besik ambune 
kelawan praune. Biin saget ngenah, saget ilang. Keto ning. 
Nah sunar rauh. Jani ada ane madan sunar galang ane 
teka. Wastu sida ia kadulu ning. Kasayongan samar bin. 
Wesana tan kecingakin. Keto nyen ning. 



Cening cucun pekak ajak makejang. Kenten naler ida dane 
pamiarsa sareng sinamian. Ngenanin indik satuan ipun I 
Lubdaka, puniki makweh sampun sane pawikan. 
Sakewanten meled manah titiang nyatuang puniki 
Lubdaka. Dumogi ke pungkur sapunapi maka sujatine I 
Lubdaka punika, mangdane kauningin ring alit-alite. 
Kenten nyen ratu ida danen titiang, pengelingsir pemekas 
sane pawikan ring satua I Lubdaka ne puniki. Yen nika 
malih uningan titiang. 



semua, cening! Selain semua itu yang dia dengar, dia juga 
melihat perahu. Perhau itu kadang-kadang tampak, dan 
terkadang samar-samar menghilang. Kemudian dia 
bergabung menjadi satu. Menyatu dengan kabutnya. 
Embunya, seperti itu cening. Perahu itu tak ubahnya 
seperti kapal terbang yang tengah menelusuri awan, 
lenyap menghilan;.'; dibalik awan, demikian seperti sering 
orang bilang. Kelihatan lagi perahunya. Menyatulah itu 
perahu ditutupi kabut. Kadang-kadang tampak, dan 
terkadang meghil ing. Seperti itu cening. Ya ada sinar 
datang. Sinar terang datang. Makanya bisa tampak 
benderang. Ditutup awan kemudian, lagi-lagi samar. 
Sampai-sampai tal terlihat. Begitulah suasananya, cening. 



Cening, cucu-cucu kakek semuanya. Begitu juga seluruh 
pemirsa yang bi diman. Berbicara tentang cerita si 
Lubdaka, sudah banyak orang yang pintar. Akan tetapi 
saya memiliki k ;mauan hati untuk menceriterakan 
ceritanya si Lubd;ika ini lagi. Semoga di kemudian hari 
anak-anak menge ahui bagaimana sebenarnya cerita si 
Lubdaka itu. An< k-anak kemudian dapat memahami 
kisah si Lubdaka t -rsebut. Demikian disampaikan kepada 
seluruh permirsa terutama kepada mereka para tetua yang 
paham betul dengan kisahnya si Lubdaka. Sesungguhnya 
tak perlu saya kasih tahu lagi. 



Smaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



61 



The Invisible Mirror 



•ci>c 



. ^ ' Ji. .^ Q jj inji s oO^ ^.^ /r 






*^'7'^'S?'^^ 



•iSiIT 



<i < 



LTi' 










Your grandfather will continue now. Your grandfather 
will not tell you any more about Lubdaka's journey. If I 
tell all of that again, my little ones, the story will be very 
long. Now your grandfather will continue the story of 
Lubdaka. The beauty of the places he passed is inexpress- 
ible. Now he has already arrived at the mountain forest. 
He already felt weak and weary. He was tired my little 
ones. He was truly in a dangerous state. It gave him a 
sensation and feeling of fear that he could not escape. He 
could not rip away his fears. And then he stopped, my 
little ones. Do you know what it means to stop, my little 
ones? To stop means not to continue the journey. He 
stopped for a while. His purpose was to prepare his ar- 
rows, so that he would not be unprepared for all the ani- 
mals. Because there were so many of them, who knows 
how many wild animals, and he did not want to be am- 
bushed. That was his purpose in preparing himself with 
arrows and other equipment. Yes, all you little grand- 
children of your grandfather. This is how it was, my little 
ones. Anything that arrived, anything that came close, 
whatever it was, he planned to catch it, so he could kill 
whatever passed by, little grandchildren of your grand- 
father. 



Cening cucun pekak ajak mekejang. Lanturang pekak 
jani. Sing buin lakar pekak nyatuang liu unduk iane di 
pejalane.Yen to satuang liu pesan nyen to cening. Jani 
kacerita lantas lanturang pekak I Lubdaka, maring anu 
akeh ngulangunan nyen to ning. Suba ia madan ia rauh 
ring wana giri. Merasa suba ia enduk lesu. Won ia cening. 
Wiakti lintang madurgama.Ngardi kayun, ngeranang 
keneh iane Lubdaka jejehe tan sida nyan luput to cening. 
Sing nyidang ia ngilangin jejehne. Raris mejangelan 
lantas cening. Nawang cening mejanggelan? 
Mejanggelan ia sing ia ngelanturang pejalan. Janggel ia 
jebos. Tetujone ia bakal nabdab panah. Yatna raris mangda 
tan luput sakatahing beburon. Sawireh liu ane suba ada. 
Pang da nyen ia saget ada beburon galak nyen. Pang sing 
ia geboge ken beburone. Keto tetujone sangkaning ia 
yatna. Suba teken sarana panah keto ning. Nah cening 
cucun pekak ajak makejang. Kene to nyen ning. Asing 
rauh asing teka apa ja luire, tetujone mangda sida ia 
kapurug. Pang nyidaang ia adane, ngematiang ane ada 
sehanane sane liwat. 



Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya.Sekarang kakek 
lanjutkan lagi. Kakek tak bakalan memperpanjang kisah 
perjalannya. Kalau itu dibeberkan akan menjadi amat 
panjang, cening. Setelah melintasi banyak pemandangan 
yang menakjubkan indahnya itu, cening, sekarang 
dikisahkan dia sudah tiba di hutan pegunungan. Dia 
merasa capek sekali. Sangat amat lelah dia, cening. 
Situasinya memang sangat angker.Membuat hatinya si 
Lubdaka takut, kecut tidak terhingga cucuku. Tidak bisa 
dia menghilangkan takutnya.Lalu dia berhenti sejenak, 
cening. Tahu cening apa itu berhenti? Berhenti ya tidak 
melanjutkan perjalanan. Dia berhenti hanya sebentar. 
Tujuanya dia berkemas mempersiapkan panah. Bersiap- 
siap agar tidak kehilangan kesempatan bila ada binatang 
lewat. Mestinya sudah banyak ada di sana. Bila ada 
binatang buas yang datang, agar dia tidak di tikam dari 
belakang. Bagitu tujuanya, sebanya dia sangat waspada. 
Sudah siap dia dengan senjata panah, begitu ning. Setiap 
ada yang datang, apa saja itu, agar dapat dia labrak. Agar 
dia dapat membunuh yang lewat melintas. 



To make a long story short there were no obstacles in his 
heart. In Lubdaka' s thoughts the animals were already 
caught. Whatever it took, he would catch any animal that 
passed by, all you little grandchildren of your grandfa- 
ther. When he was prepared, he continued his journey. 



Cening cucun pekak. Gelisan satwa enggal. Tan kahanan 
walang hati kaping kayun. Beburone sida bakatang. Keto 
nyen keneh iane I Lubdaka. Uli kenken ja bane pang 
prasida bakat beburon saget ada ane liwat. Cucun pekak 
ne ajak makejang. Sesampune tragia ia ngelantas buin 



Cening cucu-cucu kakek Singkat ceritera. Tak ada yang 
dirisaukan sekarang dalam hatinya. Semua binatang pasti 
menjadi target keberhasilan buruannya. Demikian terlitas 
dalam banaknya si Lubdaka. Bagaimanapun akan 
diusahakan menangkap setiap binatang yang lewat. Yah 



62 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Pei-formance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Tne Invisible Mirror 



fHfirifJifnitt 












c> -^ t^o 2f i^ tr ^^ Ti t^ 1^ «rf? t>/t »0 c i? «J' xi> o c i^f c/ e'»! <j5 D -"^ ^''^ V^'' c *^ ^ 



Again he continued his journey. He wandered around here 
and there. He was investigating, searching for where the 
animals might be. He followed streams up and down, 
past high cliffs and deep valleys. He passed by all of them. 
There were no animals in sight, my little ones. He could 
not see any animals. In all the directions he traveled he 
did not see any animals. He did not see any lions. He did 
not pass any tigers. Not a one, my little ones. 



That's how it was until dusk. He caught no animals, my 
little ones.This made him feel frustrated, and he also 
wondered what was the reason for this.That's what he 
thought to himself. Usually, in the past, it had been easy 
for him to find animals. That's how it was, my little ones. 
Usually there were many animals. But at this time he did 
not see anything, all you little grandchildren of your 
grandfather, and also all you other listeners. 

I truly feel sorry for Lubdaka on his journey. He was sad 
because his hunting had no results, and he had no other 
way to make a living. It was the only thing he could do to 
satisfy the needs of his whole family, and to feed himself 
as well. The only food they had to eat was what he could 
find in the woods. Whatever was in the forest. What- 
ever could be found is what he would eat, all you little 
grandchildren of your grandfather. 



lumaku. Biin ia ngelanturang pejalane. Maideran ia 
lantas merika-meriki. Nureksain, ngalin-ngalin, dija ia 
ada ane madan beburon.Mengentasin jurang pangkung 
labak tegeh. Sami sampun ia kesusup. Nora hana 
kapanggih beburon, ning. Sing ada iane pukin ane madan 
beburon. Ideh-ideh suba ia ba mejalan, sing nepuk- 
nepukin ia beburon. Sing ada nepukin nyen singa. Macan 
nyen ngeliwat, sing ada nyen cening. 



Keto lantas ia kanti sanja. Buron sing ia maan nyen 
cening. Dini suba merasa suksekel mase keneh ia. "Apa 
ya ngeranang kekene." Keto nyen ba keneh ia. Yan biasane 
asing -asing liwat, ane suba-suba jeg aluh ngalih beburon, 
keto ia ning. Biasane jeg liu ada beburon. Sakewala 
ditepengan nenenan jeg sing iane pukin apa-apa nyen 



Cening cucun pekak ajak makejang, keto mase Ida Dane 
pamiarsa sareng sinamian. Sayuwakti titiang puniki 
kangen ring pejalan ipun I Lubdaka. Sedih ipun duwaning 
ten mepikolih. Duwaning punika wantah sane cageran 
ipun. Anggen ipun ngemertain kulawargan ipun sareng 
sami. Anggene ngemertin padewekan ipun. Wantah 
mededaaran. meajeng-ajengan. Sedaging wana kenten 
sedaging alase. Sane napi ja sakaluire wantah nika sane 
tunas ipun. 



cucu kakek semua. Demikian persiapannya, kemudian dia 
segera melanjutkan perjalanannya. Berangkatlah dia lagi. 
Dia berputar kesana-kemari. Memeriksa, mencari-cari, 
dimana kiranya ada binatang. Melewati jurang, lembah 
dalam, dataran tinggi. Semua suda dia masuki. Tidak 
ada binatang yang dilihatnya, ning. Dia tidak menjumpai 
seekor binatangpun. Dia menyelusup kesegala penjuru, 
namun belum juga menemui binatang. Dia tidak melihat 
adanya binatang singa, ataupun harimau yang barang kah 
lewat. Tidak ada cucuku. 

Demikian perjalannya tak dirasa hari sudah semakin 
senja. Tidak dapat menangkap binatang seekorpun. Di 
sana mucul kekesalan hatinya. "Apa kiranya yang 
membuat sial sperti ini?" Demikian terlintas dalam 
pikirannya. Biasanya setiap ada binatang lewat seperti 
sebelumnya sangat mudah dia menangkap binatang, ning. 
Biasanya banyak binatang berkeliaran. Akan tetapi 
tumben kali ini tidak ada dia melihat apa-apa, ning. 

Ya, cening cucu-cucu kakek semua, begitu juga seluruh 
pemirsa. Sungguh saya merasa kasihan dengan perjalanan 
si Ludaka demikian. Dia menjadi sedih karena tidak 
berhasil mendapatkan binatang buruan. Oleh karena hidup 
keluarganya hai^ya bergantung dari hasil buruan. 
Kebutuhan hidup 1:eluarganya dipenuhi dari hasil buruan. 
Hanya dari sana mereka mendapatkan makanan, santapan 
setiap harinya. Seisi hutan, ya, apa yang dia dapatkan 
dari hutan, itulah menjadi hidangan pokok kesehariannya. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance 



Sastra Bali di dalam Seni Pertunjutan 



63 



Trie Invisible Mirror 



«Tj <^ wq tj^vr^ -if)^ ^ ■^iS'^.^'^^ -yon mo jM !^IH 






s-.'^'sr»-' 



r o 



i? "O '-J 



9 






ytU'ifS' 



Because he had already been traveUng a long time, my 
little ones, his weariness was more than a little. He was 
wandering around here and there, with a hungry stom- 
ach. Without supplies, without supplies to eat or drink. 
Yes, my little ones, do you know what it means to have a 
supply of rice. Ludbdaka did not have any supplies, little 
ones. No food to eat. Nothing to quench his thirst, noth- 
ing to drink, my little ones. He had not yet eaten any- 
thing since early that morning. He had had nothing to eat 
since early morning, my little ones. Since early in the 
morning he had not yet eaten. Do you understand, my 
little ones. 



Cening, cucun pekak ajak makejang. Wetning suwe suba 
ipun lumaku, mejalan keto nyen ning. Ten gigis lesun 
ipun. Luntang lantung merika meriki. Kalud nandang 
basang seduk nyen ipun. Tanpa bekel.Tanpa bekel pangan 
kinum. Nah cening nawang, sing mebekel nasi? Sing 
mebekel yeh ia I Lubdaka, ning. Pangane to dedaaran. 
Kinume to nah ane bakal ineme, ane bakal minume keto 
ning. Durung naler ipun nunas sakeng semengan. Durung 
ipun nunas sakeng semengan nyen ning. Uli semengan 
ia konden medaar keto nyen ning, pang cening ngerti. 



Cening, cucu-cucu kakek semuanya. Oleh karena lama 
sudah dia berjalan, mengikuti langkah kakinya, ning. Tak 
terkira capeknya dia. Luntang-lantung kesana kemari. 
Apalagi dia harus menahan perut lapar. Tampa membawa 
bekal. Tanpa bekal makanan minuman. Ya, cening tahu 
enggak apa itu berbekal nasi? Tidak berbekal air juga dia 
si Lubdaka, ning. Pangan itu makanan. Minuman itu ya 
yang dapat dia minum, yang bisa diminum. Dia belum 
juga sempat sarapan pagi. Sejak pagi hari dia belum 
sempat makan, demikian ning agar kamu mengerti. 



He felt embarrassed to return home without any results 
for his efforts. Yes, this is the continuation of the story 
that you grandfather began. There were no animals, 
my little ones. That is why he felt ashamed to go back 
home. 



Yes, little children of your grandfather, and all you other 
honored listeners. Yes, he continued on his journey. 
He started on his journey again. His goal was just to 
continue looking for animals with a strong desire to hunt. 
To hunt with success. He would do whatever was nec- 
essary in order to succeed. Those were his thoughts. 



Yaning mulih merasa kimud. Tan bukti mikolihang, 
sapunika pepineh iane, ning. Nah kene biin lantasan. 
Jumuin pekak. Sawireh ia sing maan beburon adane 
cening, yen ia mulih, lek ia biin mulih. Sawireh sing 
mebukti ia ngaba beburon. Sing mebukti mepikolih ane 
madan beburon. To ane ngeranang ia lek kimud ia mulih, 
ning. 

Nah cening cucun pekak, ida dane sareng sami. Nah 
ngelantur raris ipun memargi. Malih ipun ngelanturang 
pejalan. Tetujon ipun wantah pacang sarat pisan, 
mangdane polih sane kabaos buron. Maburu mangda 
polih. Uli kenken ia baan pang nyidaang ia maan, keto 
nyen keneh ipune. 



Kalau pulang, merasa malu tidak membawa hasil 
tangkapan, demikian pikirannya ning. Ya, begini lantas. 
Kakek ulangi lagi. Karena dia tidak mendapat seekor 
binatangpun, cening, kalau dia pulang, dia merasa malu 
karena tidak membawa hasil. Dia tidak berhasil membawa 
hasil tangkapan. Tidak membawa hasil buruan. Itu yang 
membuat dia malu kembali pulang, ning. 

Ya, cening cucu-cucu kakek, pendengar yang mulia. 
Akhirnya dia melanjutkan perjalannya. Berangkatlah dia 
bergegas melanjutkan perjalan. Tujuannya dengan penuh 
harap agar mendapatkan binatang buruan. Berburu sampai 
berhasil. Bagaimanapun caranya agar berhasil, itulah yang 
terngiang dalam benaknya. 



He had already traveled four yojana (thirty six miles). Sampun lintang petang yojana kebaos. Kacarita sane Sudah melampaui tiga puluh enam mile (empat yojana) 



64 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di Jalam Seni PertunjiJjan 



The Invisible Mirror 



t^M* "~ " "^ 










Now in the story the sun is setting. Sanghyang Baskara 
Dipati, the Lord of the Sun. Do you know what it means 
when Sanghyang Baskara Dipati grows dim? That is 
when the sun sets and Sanghyang Surya disappears over 
the horizon, my Uttle ones. Suddenly he saw a lake nearby. 
The waters were wide and clear. Do you know, my little 
ones, what a wide lake is? With clear water, do you know, 
my little ones? A wide lake is a big body of water, my 
little ones. Wide means big. The water was clear. Oh, my 
lord, how very clear it was. Then, that was where he 
paused. He drank some water, my little ones. That was 
where he paused to drink some water. Mmmm, do you 
understand, my little ones. Ha ha ha. Pause is a fancy 
word that means to stop. He drank some water. He drank 
with his hands cupped as if begging. That is how he drank 
the water, scooping it up. And the water was clear. After 
he drank, then he washed himself. That is how it was, my 
little ones. Ha ha ha. After he finished drinking, he cleaned 
himself. He cleaned himself, he took a bath, he washed 
his face. 

That is what came into his mind to do over there. Fol- 
lowing his thoughts and feelings, that is what he did. He 
had the idea to camp out there. Do you know what it 
means to camp out, my little ones? Camping out means 
to spend the night somewhere. He wanted to camp out, 
to spend the night there, my little ones. There by the side 
of the wide lake. It was wide. Your grandfather forgot to 
tell you that it was wide, big and broad. That was where 



mangkin surup Sanghyang Baskara Dipati. Sanghyang 
Baskara Pati. Nawang ning sump Sanghyang Baskara 
Dipati? Engseb suba adane Ida Sanghyang Surya. Keto 
nyen cening. Saget kepangihang ditu danu. Jimbar 
toyane ening. Nawang ning danu jimbar? Toyan nyane 
ening, nawang ning? Jimbare to gede. Toyan nyane ning. 
Ooo iyehne, dewa ratu, ning pesan, ning. Ditu lantas ia 
merarian. Manunas toya keto ning. Ditu ia merarian ia 
nunas toya. Eeem ngerti ning? Ha ha ha. Bahasa Bali 
alus to merarian. Menunas toya. Merarian to mereren. 
Manunas ooo. Kenken anake nunas? Nunas ngidih ooo. 
Nunas toya, ditu ia nyalud iyeh. Toya to, yeh ning. Wus 
anginum irika null mabersih. Ooo to ning ha ha ha. 
Suwud ia nginum yeh ditu ngelantas ia mabersih. Aaa 
mebersih, manjus keto masugi. 



Nah ditu lantas metu ring manahnya. Pesu uling pepineh 
iane, keto. Metu uli manah iane. Uli pepineh iane 
pacang meinepan. Nawang ning pacang meinepan? Nah 
meinepan, nginep keto nake. Pacang meinepan bakal 
nginep ditu nyan ning. Ditu di tepi danu ne jimbar to. 
Jimbar to engsap kak ngorin. Jimbar to gede, linggah. 
Ditu ia mekeneh nginep. Disisin danu ane gede to nyen 
ning. Manah ipun, keneh iane ning, bilih wenten 



disebutkan. Diceriterakan sanghyang Surya sudah 
memasuki sandyakala. Tahukah cening yang dimaksud 
sanghyang Surya memasuki sandyakala? Matahari sudah 
mulai terbenam. Ya itu dia. Tidak dinyana ada danau 
dilihatnya. Lebar dan airnya bening. Tahu ning danau 
lebar? Airnya bening, tahu bening? Lebar itu luas. Airnya 
bening, ooo airnya, ya Tuhan, jernih bening, ning. 
Disanalah dia lantas berhenti. Meminum air dia di sana, 
ning. Di sana ia berhenti, meraryan, seraya minum air. 
Eeeem ngerti ning? Ha ha ha. Meraryan itu bahasa Bali 
halus yang berarti berhenti. Meminum air, ooo. 
Bagaimana dengan orang memohon? Memohon itu 
meminta. Minta air. Di sana dia mengambil air. Air bening, 
ning. Sehabis minum air, di sana lalu dia membersihkan 
badan. Ooo demikian ning, ha ha ha. Sehabis meminum 
air, di sana dia seraya membersihkan diri. Yaa, 
membersihkan diri, mencuci muka dan mandi. 



Di sana muncul dalam hatinya. Muncul niatnya, yakni 
berkeinginan untuk bermalam. Cening tahu apa itu 
bermalam? Bermalam itu orang bilang, tidur di sana. 
Hendak bermalam, dia akan tidur di sana, demikian 
cening. Ya di sana dipinggir danau yang lebar itu. Lebar 
itu, lupa kakek mengasih tahu. Lebar itu berarti luas, besar, 
cening. Di sana dia hendak bermalam. Dipinggiran danau 
yang lebar itu. Maksudnya dia, pikirannya, cening, 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



65 



Trie Invisible Mi 



irror 




p o 






r^j" -rr •>T»>n«f*< 



r-T«;>^t^u'>Tj^cTKT)v»if>«;^<c>gD<>'v»Jt»j]f>'x/<jer«ft#9c^ 



he decided to spend the night. By the Side of the big lake, 
my Uttle ones. That was what he thought and felt like 
doing, my little ones. Maybe he woulc see some animals 
coming there to drink. That was his goal in deciding to 
spend the night there by the side of the lake. Maybe some 
animals might pass by there. Yes, animals who might be 
thirsty, my little ones. They would look for water there. 
They would drink water there. That was the goal of 
Lubdaka's plan. Maybe some animals would come there 
looking for water. At the big lake. His goal was to shoot 
any animals that passed by with his arrows. Oh, he would 
use his arrows, my little ones, if any animals passed by. 
That was his plan. Ha ha ha. That was his goal. 

Now in the story the sun was setting. Sanghyang Surya 
was disappearing. All the trees were sad, shrouded in 
mist, covered in dewdrops. The gentle voice of the 'cucur" 
bird could be heard. The 'tada asih' bird was singing 
mournfully for the moon. That's how it was, my little 
ones. It was already dusk and the sun had set. The feeling 
of all the plants was also sad. They were shrouded in fog 
and mist.That is what covered them. All the trees were 
covered with dewdrops. There was also the sound of the 
flowing water that could be heard and 1 stened to. It could 
be heard. There was also the voice c f the 'tadah asih" 
bird singing 'engkik-engkik-engkire.' Mournfully long- 
ing for the moon. Mourning for Sanghyang Wulan. 
Begging to be granted the sight of the moon that wasn't 
there. That was what the 'tadah asih' bird was singing 



buron panggih. Pacang ngayub toya aaa.Tetujone, keneh 
ia ditu nginep di sisin tlagane, ning. Saget nyen ada nyen 
beburon, ane liwat ditu. Nah beburon ane nyen bedak 
keto ning. Bakal ngalih yeh ditu, bakal nginem toya keto. 
To tetujon keto keneh iane Lubdaka. Saget nyen ada 
beburon ane kel ngalih yeh apa. Di danu ane gede ne. 
Ditu tetujone ia, yen ada beburon liwat, ia bakal niwakang 
panah. Ooo bakal panahe nyen ning, yen saget ada 
beburon liwat. Keto magsud ia ha ha ha. To tetujon iane 



Nah jani cerita lantas surup Sanghyang Surya. Ba engseb 
Ida Batara Surya. I tarune sami sedih, kasaputang dening 
hima.Makekudung antuk damuh. Suaran cucur manda 
karengga. Tadah asih ngambe-ngambe Sanghyang Wulan. 
Kene to cening. Dina subane sanja, surup Sanghyang 
Surya. Keto mase sedih rasayang entik-entikan makejang, 
kaliput dening ambun, embun. Keto mase mekrudung ia. 
Makejang kayu-kayune misi damuh, ning. Keto mase 
munyin kecor-kecoran yehne. Apang pedingehang, apang 
karenga. Apang pedingeh. Keto mase tadah asihe, kedis 
engkik-engkik engkire, ngambe-ngambe rasa-rasa 
ngambe-ngambe Sanghyang Wulan. Ngambe-ngambe, 
ngamet-ngamet. Ooo nunas ica, pang prasida ja bulane 
ngendag. Keto ia i kedis tadah asih, ning. Keto mase 
uperenggan kunang alas. Punika sami sedih kingking. 



barangkali di sana akan ketemu binatang, yang datang 
untuk meminum air, aaa. Makudnya dia, ning, akan 
bermalam di sana disisi telaga. Siapa tahu ada binatang 
kiranya akan lewat di sana. Bianatang yang kehausan, 
barangkali ning, yang hendak mecari air, meminum air 
di sana. Itulah tujuan pikirannya si Lubdaka. Siapa tahu 
ada binatang yang datang untuk mencari air, apa. Didanau 
yang luas ini. Tujuannya di sana, bila ada binantang yang 
liwat akan ditembak dengan panah. Ooo akan dipanah 
nanti ning, bila ada binatang yang lewat. Begitulah 
rencananya dia ha ha ha. Itu tujuannya. 



Kini diceriterakan matahari telah tenggelam di ufuk barat. 
Matahari telah terbenam. Pohon semua pada sedih, 
diselimuti oleh kabut. Berkerudung embun. Suara burung 
cucur kedengan lembut. Burung Tadahasih mengelu- 
elukan merindukan dewi Bulan. Demikianlah cening. 
Hari sudah sendyakala, matahari sudah terbenam. 
Demikian juga dirasakan pepohonan pada sedih diselimuti 
awan, embun. Demikian juga ditutupi kerudung. Seluruh 
pepohonan basah oleh embun, ning. Demikian pula suara 
yang timbul dari pancurannya air. Terdengar, dapat 
didengar. Agar didengar. Demikian pula burung tadahasih, 
burung engkik-engkik engkir, sepertinya memelas 
mengelu-elukan belas kasihan Dewi Bulan. Mengelu- 
elukan, memanggil-manggil. Memohon agar bulannya 
muncul. Seperti itulah keberadaan si burung Tadahasih, 



66 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 












L'*» 



for, my little ones. It was expressing the mournful feel- 
ing of the entire forest. The whole forest had been in 
mourning since the setting of the sun. All living things 
were saddened by the disappearance of Sanghyang Surya, 
the sun. The 'tadah ashi' bird was singing hopefully for 
the rising of the moon, so that Sanghyang Wulan would 
appear, Dewi Ratih. the beautiful goddess of the moon. 
The 'tadah asih' bird was fluttering in the dark. The wind 
from the hills blew through the bamboo trees, making a 
mournful whistle. Eh, eh, eh. Everything in the forest 
was very sad, because it was very dark and cloudy. That's 
enough about the forest. 

Now comes the story of what happened to Lubdaka dur- 
ing the night. Yes, now the story is about what happens 
on the night when Lubdaka saw a Bila tree. Do you know 
what a Bila tree is, my little ones? There he saw the tree 
that is called the Bila. He saw a Bila tree. Bila is a kind 
of tree, a Bila tree. Looking from side to side, he aimed 
his weapons to keep busy. That is how it was, my little 
ones.Then he was up there looking from side to side. 
Because Lubdaka was already afraid. He was afraid of 
being eaten by a big animal. That was what he was think- 
ing, my little ones. He had already found a good spot. 
He could see around him on all sides. Maybe a big ani- 
mal would come that he could shoot with his arrow. He 
would shoot his arrow, my little ones. He waited for a 
long time. Not even one animal came near. Then he had 
another thought. Maybe an animal will come later, and 



Dening ketinggal Sanghyang Surya. To biin makejang 
sedih sawireh engseb Ida Sanghyang Surya. Kedis 
tadahasihe ngambe-ngambe, dumadak nyen engdag 
Sanghyang Wulan, pang ngenah nyen. Dewi Ratih. 
Sanghyang Ratih. I kedis tadahasih, kanti daas-daas duus 
ipun. I buluh katempuhang samirana, angin bukit, 
ngayih-ngayih kawelas arsa. Eh eh eh, saisin alase, 
cening. Makejang rasa-rasa sedih. Sawireh gulem, keto 
mase awan mase liu. Tan wekasan punang wana. 



Carita mangkin sampun wengi.Kawentenan ipun I 
Lubdaka raris. Nah cerita jani suba madan peteng ne. 
Ngelantas ia I Lubdaka ne mangguhin bila taru to. Bila 
taru, nah cening suba nawang? Ditu iane pukin ane madan 
bila taru. Nepukin ia punyan billa. Tarue to punyan kayu. 
Punyan kayu billa. Sinambi ngewelas daga, tolah-tolih. 
Sarawara sinangraha.Keto nyen cening. Ditun lantas ia 
tolah-tolih ya. Sawireh suba jejeh keneh ia Lubdaka. 
Jejehe "nyan ada nyen beburon gede nyarap idewek." 
Keto pekeneh ne ia cening. Nah sesampune polih genah. 
Nenten mari mengulingling. Milih wenten mrega teka 
pacang bakti bangkit heru. Katibakin heru keto ning. 
Tadah lami menyantosang. Nang asiki ten wenten beburon 
pregata. Ditu teh buin ia lantas mekeneh. Saget nyen 
benjep ada beburon nyen teka, rikala ditu kel panah. Keto 
mase tetep pekenehan iane ngelah rasa sebet, sungsut. 



ning. Demikian pula seluruh seisi hutan. Semuanya sedih 
memilukan. Karena ditinggal oleh Sanghyang Surya. 
Sumuanya itu menjadi sedih ditinggal oleh Sanghyang 
Surya memasuki peraduannya. Burung tadahasih 
memanggil-manggil penuh harap mudah-mudahan dewi 
Bulan muncul, agar Dewi Ratih dapat menampakkan 
sinarnya. Sanghyang Ratih. Si burung tadahasih sampai- 
sampai terengah-engah dia. Pohon bambu diterpa angin, 
angin bukit, suaranya nyaring memelas perasaan. Eh eh 
eh, seluruh isi hutan sepertinya bersedih. Oleh sebab 
mendung, dan langit berawan. Tak diperpanjang lagi 
membeber tentang hutan. 

Sekarang diceriterakan hari sudah malam. Lalu 
keberadaanya si Lubdaka. Yah diceriterakan hari sudah 
merambah malam. Si Lubdaka kemudian melihat ada 
pohon "bila" maja. Apa cening sudah tahu pohon kayu 
maja? Disanalah dia melihat adanya pohon kayu maja. 
Pohon itu, pohon kayu. Pohon kayu maja. Sembari tolah- 
toleh meratap ditelaga. Busur panahnya disiapkan. Seperti 
itulah dia, cucuku. Di sana dia mengawas sekeliling. 
Karena hatinya si Lubdaka sangat takut. Takut "jangan- 
jangan ada binatang besar barangkali mau menerkam 
saya." Demikian muncul dibenaknya. Nah, setelah dia 
mendapat tempat, tak hentinya dia memperhatikan dengan 
penuh awas. Bila ada binatang yang datang, akan dilepas 
anak panah. Setelah lama menunggu. Tak ada seekor 
binatangpun yang datang. Di sana terlintas lagi dalam 
pikirannya. "Siapa tahu barangkali sebentar lagi ada 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



67 



tK 



e Invisi 



We Mi 



irror 






v9>- 






f-rtCT' 



^ i r"['- ■ m iiii i ii |[ I - . ■ m a \ 1 i II i Tir < iin»rffi^i i 'Yr ■ i. 









ciwrepo»* 



then I will shoot it with my arrow. That is what he thought, 
but he continued to have feelings of sadness and suffer- 
ing, because he had no results and had not gotten any 
animals. He was still sitting there in the Bila tree, not 
moving. So this is how it was, my little ones. Who knows 
how long he was there. Who knows how long? Lubdaka 
was stricken with sleepiness, oh yes, my lord. He climbed 
up into the Bila tree. From the top of the tree, he could 
look down to see if there were any animals below. But it 
was like this, my little ones. When he was up in the tree, 
he felt afraid that he would fall down. What if he gets 
drowsy and needs a nap, my little ones. What if I fall 
asleep, he thought. Surely I will fall down from my 
perch. What if Lubdaka falls asleep? He will surely fall 
down. He will forget himself and fall from his perch. 
That's what he was thinking, my little ones. 



Sawireh ia sing mepikolih, sing maan ane madan beburon. 
Di subane ia nepukin ada kayu bila, ditu ia ngoyong. 
Sakewala kekene, ning. Ngawi kudang penalikan, yen 
kudang penalikan suba. I Lubdaka gebug arip. Peh dewa 
ratu, ia menek di punyan kayu bila ne to. Di duwur 
kayune mase ia mepawasan tuwun, nyen ada beburon. 
Sakewala, dewa ratu nyen cening, ngerasang ia sawireh 
di duwur kayune, ajerih ipun pacang ulung. Yening prade 
rnaturua, maturiia ning. "Yen saget idewek pules," keto 
ya, "sampun pasti sinah ba ulung sakeng peglantingan. 
Yen idewek pules," keto ia Lubdaka, "sinah ba idewek 
bakal ulung. Engsap, ulung uli peglantingan." Keto 
keneh iane cening. 



binatang yang datang. Kala itu akan aku bidik dan dilepas 
anak panah." Demikian pikirannya penuh rasa sedih. 
Karena dia tidak mendapat hasil dari berburu, tak dapat 
membunuh binatang. Setelah dia melihat pohon maja, di 
sana dia beristirahat. Akan tetapi begini, ning. Sudah 
berapa lama, berapa jam sudah lewat. Rasa kantuknya si 
Lubdaka datang. Kemudin dia naik di pohon maja itu. 
Dari atas pohon dia tetap mengawasi turun, barangkali 
ada binatang yang datang. Kendati sudah berada di atas 
pohon, ya Tuhan, dia merasa amat takut, jangan-jangan 
dia bisa jatuh. Kalau-kalau dia tertidur, terlelap, ning. 
"Kalau saja aku tertidur pulas," begitu dia, "sudah pasti 
bakalan jatuh dari tempat berpegangan. Kalau aku 
tertidur," begitu dia si Lubdaka, "sudah pasti aku akan 
jatuh. Tak ingat apa, bisa jatuh dari tempat pegangan." 
Demikian pikirannya, cening. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. My 
little ones have often heard the story of Lubdaka. The 
story about what happened to him up in the tree. He 
was afraid, afraid of getting drowsy and falling asleep. 
If he slept, he would surely fall. "If I fall to the ground, 
surely I will die. If I fall, then I will surely die. A 
rhinoceros or some other animal will surely eat me." So 
in that place, Lubdaka, in order not to fall asleep, plucked 
the leaves from that Bila tree. That's what he did, he 
plucked the Bila leaves, mmmm, so that he would not get 
sleepy. One by one he plucked the leaves from the tree. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Cening sesai 
mase suba medingehang satuan ia I Lubdaka. Kacerita 
ia suba ada di duwur kayune. Jejeh ia, jejeh ia teken 
pules kiap. Yen ia pules sinah bakal ulung. "Yening 
prade tiben lemah, janten aku pacang mati ooo. Yen 
ideweke ulung lantas sinah dewek bakal mati. Warak, keto 
nyen mase ada nyen beburon, sinah idewek bakal amahe." 
Ditu lantas ia I Lubdaka, pang sing ia kiap nyen cening, 
ditu ia ngepik-ngepik daun bila ne to to. To kepike daun 
bila ne to. Eeem pang sing ia kiap. Seke besikane suba 
don bila ne kepike. Sabilang maan ia kepikange ia 



Yah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Cening sudah 
sering mendengar ceriteranya si Lubdaka. Diceriterakan 
dia sudah berada di atas pohon kayu. Dia takut karena 
kantuknya, takut akan tertidur lelap. Kalau dia sampai 
tertidur, pasti bakalan jatuh. "Seumpama aku jatuh ke 
tanah, sudah pasti aku akan mati, ooo. Kalau aku sampai 
terjatuh tak bakalan masih bisa hidup. Bianatang Badak, 
begitu juga dengan binatang lainnya, sudah barang tentu 
aku akan dimakannya." Untuk mengusir kantuknya, di 
sana lalu si Lubdaka memetik-metik daun maja. Daun- 
daun pohon maja itu dipetiknya. Eeem agar dia terbebas 



68 



SiwaratriUalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 




»j^ er ^ wPop fih «J» m «np ^^uT» !C'ij>i^^T|) ij1 w> e/> i/> or>>sj^ 

v■^^ o «» o « ui tf tjt<t> dp in %T »? «iPgc} sv n^ cf ^ ^ »j> 



c^^ H) « t* jj> jt>«rft ^|)<U9|7 v) (Ti tTiit^iSJ <3) a if|i o*fli8ii pep w^ 



While he was plucking them he threw them down onto 
the lake, onto the spring water. One by one they fell. One 
by one, my little ones, he plucked them and they fell. 
He plucked them and they fell. They fell precisely on top 
of a phallic shaped lingga stone. The lingga is the sym- 
bol of Lord Siwa. Whenever a leaf was plucked it fell 
down onto the lingga of Lord Siwa. It fell onto the Lingga 
of Lord Siwa. The plucked leaves all fell precisely on the 
top of the lingga. It was not done on purpose. Altogether 
there were one hundred and eight of them. Yes, ha ha ha. 
Yes, my little ones, he was up there in the Bila tree pluck- 
ing those Bila leaves, until they dropped onto the Lingga 
of Lord Siwa. There were many Bila leaves. Counting 
them all together, there were one hundred and eight, my 
lilttle ones. 



entungange ke tlaga ne mumbul to. Saka siki ulungange. 
Abesik-abesik ning pikpike entungange. Pikpike, 
entungange. Numpel puncak lingga yukti. Linggan Ida 
Sanghyang Siwa. Kepikan don ento kasal entungange ento 
linggan Ida Batara Siwa ane kena. Ulung ditu sik linggan 
Ida Batara Siwa ne. Kepikan done ento ulung maka 
samian ring pucak linggane yukti. Boya sakeng 
menyelapang. Wilangannye satus kutus keto. Nah ha ha 
ha. Nah cening, ia diduwur bilane metik-metik totonan 
don bila ne. Nganti suba ngenen linggan Ida Batara 
Siwa.Liune to don bila ne. Wilanganya ooo yen petek to 
satus kutus, keto nyen cening. 



dari kantuknya. Helai demi helai daun pohon maja itu 
dipetiknya. Setiap helai yang dipetiknya dia lempar ke 
telaga yang airnya memancur. Satu demi satu dijatuhkan 
di sana. Dipetik, kemudian dilempar. Tepat sungguh 
jatuhnya di pucak lingga. Lingga beliau Sanghyang Siwa. 
Setiap petikan daun itu, ketika dilempar jatuhnya tepat 
pada Lingga Bhatara Siwa. Terjatuhlah di sana pada 
lingga Bhatara Siwa. Petikan daun-daun itu semuanya 
jatuh pada puncaknya lingga. Bukan karena kesengajaan. 
Jumlah semuanya ada seratus delapan. Nah ha ha ha. 
Dia berada di atas pohon maja memetik-metik daunnya. 
Jatuhnya mengena pada lingganya Dewa Siwa. 
Jumlahnya daun maja itu semua, kalau dihitung, ooo, 
terbilang ada seratus delapan seluruhnya, cening. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. One 
hundred and eight. A hundred eight. If you look closely 
at the number, it has a one, a zero, and an eight. If you 
add those numbers up. the total is nine. That is the most 
powerful and most highly valuable number. That's what 
it amounts to. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Satus kutus, 
seratus delapan. Yen alihang to satus delapan, dadine 
angkane satu nol delapan. Dadine to jumlahne pang 
cening nawang to siya to dadine, ning. Angka ane pal- 
ing sakti paling mautama. Amonto nyen to. 



Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Seratus delapan. 
Ya seratus delapan. Kalau dicari angkanya bilangan 
seratus delapan itu adalah satu kosong delapan. Agar 
cening mengetahui, kalau bilangan itu dijumlah 
semuanya, jadinya sembilan. Angka yang pahng sakti dan 
paling utama. Sekianlah semuanya itu. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather, and 
also all you other listeners. That's all I will say for now. 
I will continue with more the next time. I hope you have 
enjoyed yourselves, more or less. Please be kind enough 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Kenten naler 
ida dane pamiarsa sareng sinamian. Amunika riin 
pangkedang titiang. Sane jagi rauh pacang lanturang 
titiang malih. Mangda ledang, kirang langkung banget 



Yah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Begitu juga para 
pemirsa semua. Sampai di sini saya sudahi dulu. Nanti 
saya akan lanjutkan lagi. Moga-moga saja berkenan. 
Kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar- 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



69 



Tne Invisible Mirror 









■> ■*?[) 1^»^ '^ ti)'o K 



c>» ■a^ r3->^sJ'xnt^f^<^ ^^t^^' 



i(* ^ iTf" -Of» J^ gJ|> .>0 tj? «£^ <Ti7 iijv>01 »0f) 







■,r^^o^^^^^^,^^^^^m -. 



to forgive me. I will finish with the blessing of peace. 
Om Santi Santi Santi Om. ("May there be peace in your 
hearts, peace on earth, and peace in the heavens.") 



ngelungsur agung rna pangampura. Puputang titiang 
antuk Peramasanti. "Om Santi Santi Santi Om. " 



besarnya. Saya tutup dengan menghaturkan peramasanti. 
"Om Santi, Santi, Santi Om." 




70 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



jHhlf^N-^k-V 






^9 D>«w>«;fiPtrf)»J^^jnnJ>N'«Jiy'^'ODflJ)iin5«crN*T^ v'^etrJ'^n■>;•^^JJ^T^'5r>^^,T^?-J5i/^^•J>5^"*''^^g•s'^•^' -_ 



Si^varatrikalpa as Satua: Lubaaka's story as oroadcast in Balinese on RRI Denpasar (Episode 3) 



Siwaratrilealpa Seoa^ai Ceritera: Kisan LuLdaka dalam Mesatua Bali disiarkan melalui RRI Denpasar (Episode 3) 

ENGLISH 5ALI / KAWI INDONESIA 



Jagra: Hmmm. Come my little ones. You're carrying 
a lot of things. Ha ha ha. Come here close to your grand- 
father. Yes, let's continue the story of Lubdaka. Yes, my 
little ones. Maybe you already heard this story many 
times in school, because you have already performed the 
Siwaratri ritual on the dark moon of the seventh month, 
my little ones. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather, es- 
pecially the ones who are at home, or at the palace. Also 
for the all the elderly listeners, who enjoy hearing Ba- 
linese stories. Please enjoy, while I continue again to tell 
the story of Lubdaka. Yes. before I continue to tell the 
story of Lubdaka I would like to express a welcoming 
greeting. "OmSwastyastu". ("Let the world be blessed.") 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather, lis- 
ten well. If I were at home I would buy a battery for the 
radio. If you already have electricity, that's fine. 
Hmmmm. Plug it in over there. That's it. Ha ha ha. Now 
all you little grandchildren of your grandfather, and also 
all you other listeners. I will summarize what we have 
already heard. Yes, my little ones, please listen well. 
Your grandfather will continue the story. 



Jagra: Emmm, uduh cening mai-mai! Emmm peh 
magenepang aba ning to. Ha ha ha Nah mai-mai dini- 
dini paekan pekak malu. Ae jak lanturang satuan ia 
Lubdaka biin, nah ning nah. Yen cening di sekolah ning, 
sesai ja suba satuange. Turmaning cening suba mase 
ngelaksanayang ritatkala tilem kepitu, Siwa Latri ne to 



ning. Eeem em em em em. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Pamekas sane 
wenten ring Puri, sane wenten jumah. Majeng ring para 
lingsire naler, ida dane maka sami, sane wantah seneng 
mirengan satua Baline puniki. Ledangan puniki titiang 
pacang ngelanturang malih satuan ipun I Lubdaka. Inggih 
sadereng titiang ngelantur pacang nyatuang I Lubdaka, 
ledang lugrayang titiang pacang ngaturang 
pengastungkara. "Om Swastyastu ". 

Nah cening cucun pekak ajak makejang. Melahang nyen 
nah! Aaah yen ne ada jumah suba kel beliang batre 
radione? O yen suba ngelah apa adane listrik dadi ba. 
Eeeem. Nah ditu celekan di anu ooo. Nah to to ba ha ha 
ha. Aaah jani cucun pekak ajak makejang, kenten taler 
pamiarsa sareng sinamian. Sane sampun lintang 
uningang titiang malih. Nah cening pedingehang jani 
buin, lanturan pekak jani, keto ning. 



Jagra: Emmm, wahai cening mari-mari ! Emmm banyak 
benar, barang bawaannya tuh ning. Ha ha ha mari-mari 
ke sini, dekati kakek. Ya, yuk kita lanjutkan ceritanya si 
Lubdaka, ya ning ya. Kalau cening, di sekolahmu, ning, 
barangkali sudah sering diceritakan. Apalagi cening sudah 
melaksanakan malam Siwa Latri pada saat bulan mati, 
yang jatuhnya pada bulan ketujuh. Eeem em em em em. 

Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Terutamanya 
yang ada di puri, yang ada di rumah. Kehadapan para 
tetua, juga para pemirsa semua, yang memang senang 
mendengarkan ceritera Bali seperti ini, saya akan 
melanjutkannya lagi ceriteranya si Lubdaka. Semoga 
berkenan. Yah, sebelum saya lanjut menceriterakan 
ceriteranya si Lubdaka, dengan senang hati saya memulai 
dengan menghaturkan pangastungkara. "Om Swastyastu ". 

Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya. Dengarkan baik- 
baik yah! Aaah yang ada di rumah, radionya sudah 
dibelikan baterai? O yah kalau sudah mempunyai listrik, 
ya udah. Eeeem. Yah, colokkan saja di sana, tuh! Ooo 
nah ya, itu itu dah. Yah cucu-cucu kakek semua, demikian 
juga halnya dengan pemirsa semuanya. Yang telah lewat 
saya ulang lagi. Yah cening, dengarkan baik-baik. 
Sekarang kakek lanjutkan lagi. Demikian ning. 



We already heard about Lubdaka when he was in dark- Ane malu suba madan ia I Lubdaka, dugas ia kepetengan Yang telah lewat si Lubdaka diceriterakan menginap di 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



71 



The Invisible Mirror 



^1 1..-^ »> ^■V■ «i^ rj «D o »p oY BsT «re» <\w>c>i7Th t»*(CT-^«r;j>ui^^^«j »p|^-«ftn <^*7^ 'f*'^^ 



- -=:^^g^^- 






'•?>< 




<jv JJ7 oNl»7tff>l^'t^^^«^c c?) j)int^5g*u)r")^ 



IJ^Ttr^-Tft? 



^^ 



Ijlll — I 



iv^'C/i'<J^^. 



■*V: 






<r<?) 



v> 






ness spending the night at the edge of the pond. Be- 
cause he was afraid, he cHmbed up into the Bila tree. 
Isn't that so, my httle ones. There he plucked the Bila 
leaves. That's what he did, my little ones. He plucked 
the leaves, my little ones. Plucking means picking the 
Bila leaves. Why does he pick the Bila leaves, why? 
So he wouldn't get sleepy. So that he could stay awake 
all night watching. That's why, my little ones. So that 
he could shake off his sleepiness. And so he plucked them 
one by one until he had thrown down one hundred and 
eight leaves. Isn't that so, my little ones. That's what 
has already happened. 

Now, my little ones, your grandfather has a chance to tell 
you about the Bila leaves. Isn't that so, my little ones. 
Maybe if you go to the temple on the night of Siwaratri, 
that's what they call the night of Siwa, my little ones, 
you will surely stay awake all night and pray at the temple. 
Some do the same at home. You, my little ones, have 
akeady heard many artists singing the kidung prayers and 
chanting the old texts. They read from the lontars when 
they chant. These are the written contents of the lontars 
that are selected one by one. Yes, the readers are pluck- 
ing metaphors. Since there are no Bila leaves, the lontar 
becomes like a leaf. 



nginep disisin tlagane. Sawireh ia jejeh, menek ia di 
punyan bilane, keto ning. Nah ditu ia lantas sambilange 
metik-metik don bila, keto ning. Ngepik-ngepik ning. 
Eeem metik patuh ngepik-ngepik don bila. Apa krana 
don bila kepike, sing keto? Ia pang sing ia kiap. Pang 
nyidaang ia mejaga megadang. Keto nyen ning. Pang 
ilang ia kiapne, to suba seke bedik pikpike entungange, 
kanti satus kutus. Kaden keto ning. Eeem ne suba 
liwat to. 



Nah jani ning, pang maan mase pekak ngorin cening. Don 
bilae to yen cara janie, sing keto ning, yen cening saget 
ke Pura ritatkala Siwa Latri ne, malem Siwa Latri, keto 
nak nyatuang, sinah cening suba bakal mebakti turmaning 
megadang di Pura. Ada ane jumah. Cening suba 
medingehang sehananin seni ada. Ada ane mekekidung, 
ada ane mewirama. Mewirama to nganggon lontar. Ane 
ada mungguh di lontare to, satmaka kebit-kebitne seke 
bidang. Nah uli ditu nak ngalih wimba. Sawireh sing j a 
ada don bila. To satmaka lontare to jani anggone jalarang 
megadang, keto nyen ning. 



pinggiran kolam, akibat kemalaman. Karena takutnya, dia 
naik memanjat pohon maja. Demikian ning. Nah di sana 
dia lalu istirahat sambil memetik-metik daun maja. 
Memetik ning. Memetik dimaksud sama dengan melepas 
daun maja itu dari tangkainya. Apa sebabnya dia petik- 
petik daun maja itu? Agar dia tidak ngantuk. Sehingga 
dia mampu terjaga dan begadang. Demikian ning. Untuk 
mengusir kantuknya, makanya helai demi helai dipetiknya 
daun maja itu, dibuang, sampai berjumlah seratus delapan. 
Bukankah demikian cucuku? Eeem itu yang telah lewat. 



Yah sekarang, cening, mungpung kakek dapat kesempatan 
memberitahumu tentang daun kayu maja itu, bahwa kalau 
cening berkesempatan ke pura pada malam hari Siwa 
Latri, malam Siwa peleburan dosa, sering orang bilang, 
sudah barang tentu cening bakalan sembahyang dan 
begadang di Pura semalaman suntuk. Ada juga yang 
melakukannya di rumah. Cening sudah mendengarkan 
berbagai seni juga dihadirkan di sana. Ada orang 
menyanyikan kidung, ada yang melantunkan bait-bait 
kekawin. Menggunakan lontar bertembang wirama. 
Ajaran yang terkandung pada daun lontar tersebutlah 
simbol dipetiknya helai-demi helai. Dari sana orang 
mencari perumpamaan. Pada kenyataannya tidak pada 
daun maja. Sesungguhnya daun lotar itulah yang dijadikan 
sarana untuk tetap bisa begadang. 



72 



Siwaratribalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 






•o <7| o tn^ «> v"^ e^ ffV sr> .rr «> iT) «ti^ Kif^ ^^ tn "Of n5» > ajV o tT x3) ^ 



\')'CP'Ct)OeP-< 



Cn^tM^'rt 



Pv/luTCTTi» 



Kf) ^^^ tJ" <^* n5V^^^ ^^ ^^ IT CTP «J^ ii^ "^ -^ o) »J^ \ j^ Oj) KP <^ 



MMMHIIll 



/■■K'/ Po'^r^'VP ' §1 on cP o 



OifttJ) 



^-: 






c o 











3'^^^'^ 



tfidVC^O 



i 



Now, as a tool for keeping you awake, my little ones, 
your grandfather will continue the story about the one 
who stayed awake. Now it is already dawn, isn't it, my 
little ones. The day was beginning. The brightness was 
rising up from the east.Lubdaka was already flushed per- 
forming his ritual duty of staying awake out of fear. It 
was fear that caused him to stay awake while he was 
plucking the leaves, my little ones. He had succeeded, or 
as your grandfather would say, he had earned out his duty. 
If he had forgotten himself and fallen asleep, he would 
have fallen from the tree and surely died. Falling from 
the tree is what he was afraid of. That is why he plucked 
a hundred and eight Bila leaves. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. It is 
said that now was the time he got ready to go home. Do 
you know what it means to go home, my little ones. It 
means to return to your house. Now he came down from 
the Bila tree. He got ready to go home. The morning was 
already getting bright. The sun was shining. 
The entire world was glowing. The trees were very happy. 
The birds were chattering. That's what happens when light 
rises from the east. Dawn breaks. If you're in the village, 
you hear the roosters crowing. The ones who raise birds 
as pets already hear them singing. It's also like that in 
the middle of the forest. Oh lord, it is so full of bird songs. 
Overflowing with sounds, my little ones.All the songs 
penetrated his heart so that he was lost in a reverie of 
beauty. It was the same with the trees, the animals, and 



Nah jani lanturang pekak buin nyatuang. Kacerita ia suba 
sida madan megadang. Suba madan ngedas lemah. Sing 
keto ning. Mekere lemah suba, suba lantas ngawit galang 
kangin teka, ning. I Lubdaka sampun puput reke, 
ngelarang brata tan turn yukti. Kabatek baan jerih ne to 
ning. Ulian jejeh iane, to ia megadang sambilange metik 
don bila ne, ning.Prasida ia madan yen cara pekak 
nyatuang basane berhasil ya. Emm yen ia lantas engsap 
lantas pules ia kanti, ulung ia uli di punyan kayune, sinah 
ia ba bakal mati, keto. Ane jejeh ne mula pang sing nyen 
labuh uli punyan kayune. Sangkaning ia, don bila ne petik- 
petike kanti satus kutus, ning. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Kocap mangkin 
medabdabang pacang raris pacang budal ya. Nawang ning 
budal? Kel mulih. Jani tuwun ia uli punyan kayu bila ne, 
medabdab bakal mulih. Suba madan galang kangin. 
Mesunar Ida Sanghyang Surya. Kunang jagat keenteran 
sami. Tarune liang ati. I Paksi mesuara umung. Keto yen 
suba madan galang kangin. Ngedas lemah. Yen raga di 
desa, siape suba mekruyuk. Ane ngubuh kedis, kedise 
suba memunyi.Keto mase ada di tengah alase ning. 
Kedise, dewa ratu, ramene memunyi. Umung to rame 
keto, ning. Sami to madan ngardi ngulangunan hati 
kelangen, ngulangunan ngelangenan hati. Keto masih 
punyan kayune. Miwah beburon sato alas to makejang. 
Keto. Kuting buluh manggihin liangne, dewa ratu, keto 
ning. Lenannan teken to mase, napi malih sekar 



Yah, sekarang kakek lanjutkan ceri teranya. Diceriterakan 
dia sudah berhasil begadang. Kini hari menjelang pagi. 
Bukankah demikian ning. Menjelang pagi, kaki langit di 
ufuk timur sudah semakin terang, ning. Si Lubdaka 
sungguh sudah berhasil melaksanakan brata tanpa tidur. 
Karena dia takut sesungguhnya itu, cening. Karena saking 
takutnya itu, makanya dia begadang sambil memetik- 
metik daunnya pohon maja, ning. Berhasil dia kalau kakek 
bilang. Emmm, bagaimana kalau dia lupa diri dan sampai 
tertidur, dia bisa jatuh dari atas pohon, tentu dia bakalan 
mati. Demikian. Yang dia takutkan sesungguhnya, jatuh 
dari atas pohon. Makanya dia petik-petik itu daun pohon 
maja sampai berjumlah seratus delapan, ning. 

Yah, cening cucu-cucu kakek semuanya. Diceriterakan 
sekai-ang dia berkemas untuk kembali pulang. Cening tahu 
apa itu pulang? Kembali ke rumah. Sekarang dia turun 
dari pohon kayu maja, bersiap-siap untuk pulang. Kaki 
langit di ufuk timur sudah terang. Bersinar beliau 
Sanghyang Surya. Jagad raya beliau sinari semua. 
Pepohonan pada senang. Burung-burung ramai berkicau. 
Demikian keadaan bila kaki langit mulai terang. Pagi 
menjelang. Kalau seperti kita yang tinggal di desa, ayam- 
ayam pada berkokok. Yang memelihara burung, burung- 
burung pada berkicau. Demikian juga adanya di tengah 
hutan, ning. Burung-burung, ya Tuhan, ramai pada 
berkicau. Penuh kicauan itu ramai namanya. Semuanya 
itu membangun rasa asyik, merasuk dalam kalbu membuat 
hati senang. Demikian juga halnya dengan pohon kayu. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



73 



Trie Invisible Mirror 







all the creatures in the forest. Oh, lord, the bamboo trees 
also looked beautiful, my little ones. Even more were the 
nagasari flowers. There were also bumblebees. Bumble- 
bees were there. They sucked the nectar of the flowers. 
The only goal of the bumblebees and the bees was to 
enjoy looking for the nectar of the flowers. Yes, some of 
the flowers had been blown over by the wind. There were 
also fresh leaves swaying in the gentle wind. All the blos- 
soms were swaying in the flowering trees. They swayed, 
softly touched by the wind. The bees were buzzing here 
and there. Their only goal was to kiss the flowers. The 
bees wanted nothing more that to fly back and forth 
looking for the nectar of the flowers. That was their only 
goal. 

Yes all you little grandchildren of your grandfather, and 
also you other hsteners. Now we will not talk about the 
beauty of the mountain, and how overwhelming it was. 
We'll tell the story of Lubdaka going home. During his 
journey he prepared his arrows. He did not linger long. 
We won't talk about what happened along the way. He 
did not stop during his journey home. His arrival home 
was painted by the light of the setting sun. His wife and 
all his children were waiting for him at home. His wife 
was waiting for the homecoming of her husuband 
Lubdaka. His children were also waiting for the arrival 
of their father. He has akeady arrived at his little shack, 
at his home. His wife asked him calmly and sweetly, his 
wife asked Lubdaka a question. This is what she 



nagasarine kenten. Taler ipun I Satpada teka. I Satpada 
prapti asapunika. Mangisep sarining santun. Tetujone 
lantas ipun I Temulilingan, punika I Satpada, wantah ipun 
liang wantah ngerereh sarin bunga. Ainggih punika sekar 
rum tiba tempuh angin. Kenten naler ikadapan, pih dewa 
ratu, ngeloh sangkaning angin punika ngawinan lemuh. 
Ngeloh sarwa sekare maka sami, punyan bungane punika. 
Magelohan katempuh antuk angin. I Brahmara ngimbang 
merika meriki. Pengaptine siki ten ja wenten tios, setata 
ngeraras santun. Ten wenten tios I Brahmara ngindang 
merika meriki, I Temulilingan, tetujone wantah nenten 
ja wenten tios, ipun ngerereh sari sarin bunga. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Kenten naler 
pamiarsa sareng sinamian. Tan kocapan mangkin langen 
ikang ukir, dahat ramia asapunika. Cerita ipun I Lubdaka 
pacang budal. Pangungsine sinambi nabdabang heru. 
Tan suwe raris lumaris. Ramia ikang sang kahawan, 
nora pacang kinawuv/us. Pemarginia tan rerenan. 
Prapteng greha ayas sump Sanghyang Rawi. Pianak 
somah ipune maka sami, sampun nyantos irika ring 
jumahan. Nyantos sapenekan, sapegrauh somah ipune I 
Lubdaka. Kenten naler pianak ipun nyantos bapan ipun 
pacang teka. Risampun raris rauh ring pondok, ring umah 
ipun, somah ipun dabdab alus manis metakon asapunika. 
Kurene metakon teken I Lubdaka. Asapuniki petakone. 
"Beli, beli Lubdaka. Endi kang beburan?" Keto 



Binatang-binatang hutan semuanya. Termasuk pohon 
bambu seakan memamerkan keindahannya. Ya Tuhan. 
Apa lagi dengan pohon nagasari, mengundang hadirnya 
si kumbang. Si kumbang datang mengisap sarinya bunga. 
Tujuan si Tamulilingan ya si Kumbang selalu mencari 
sarinya bunga. Ya lain lagi dengan bunga-bunga yang pada 
berguguran diterpa angin. Demikian juga halnya dengan 
tunas daun muda yang baru bersemi. Melambai halus 
akibat diterpa angin sepoi-sepoi, lemah gemulai berayun. 
Ya Tuhan. Bunga-bunga semua bergerak mengalun pada 
tangkainya. Meliuk gemulai diterpa angin. Si kumbang 
beterbangan kesana-kemari. Tujuannya hanya satu yakni 
mencari, hendak mengisap sari-sarinya bunga. 



Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Demikian juga 
dengan para pemirsa semuanya. Tak lagi diceriterakan 
keasriannya gunung, yang sungguh-sungguh penuh 
dengan keindahan. Kini dikisahkan si Lubdaka akan 
kembali pulang. Dia mengkemas alat-alat buruannya. Tak 
lama kemudian dia pergi. Berbagai hal yang dihhat dalam 
perjalanan, tak diceriterakan. Perjalannya terus tak 
hentinya. Sampai di mmahnya manakala matahari sudah 
tenggelam di sore hari. Istri dan anak-anaknya semuanya 
sudah menunggu di mmahnya. Menunggu kehadirannya 
si Lubdaka, suaminya. Demikian juga dengan anak- 
anaknya, pada menunggu kedatangan bapaknya. 
Setibanya dia di pondoknya, di mmahnya, istrinya dengan 
pelan halus manis bertanya. Istrinya si Lubdaka bertanya. 



74 



SiwaratriUalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjutan 



The Invisible Mirror 







..JSb» 






asked: "Dear, my dear Lubdaka. Where are the fruits of 
your hunting?" This was her question, my little ones. 
"Dear Lubdaka, where are the fruits of your hunting? 
Where is the meat? What did you bring home?" That was 
what she asked, my little ones. "What happened on your 
journey, my dear. Your children are hungry. They've been 
suffering since yesterday. I could not find anything to 
feed them. In their hunger they were all calling out for 
you to come home quickly. That is why they ran up close 
to you just now. " That's what happened. Lubdaka's wife 
was sad as she questioned him. "Where are the fruits of 
you hunting, my husband. Other than that, my dear, 
your children were calling out for you to come home 
quickly. Your children have been hungry since yester- 
day. I couldn't find anything to feed them. I was looking 
for something to feed your children." This was what 
Lubdaka's wife asked her husband lamentingly. 

Then Lubdaka answered her, my little ones. "Oh, my 
beloved wife and little ones. My children's mother, my 
children's mother. Your husband is unlucky, your hus- 
band is more than a little unlucky. The journey of your 
husband was fruitless. Your husband went hunting all over 
the mountain forests. Traveling deep into the woods, my 
beloved. From morning to night without rest, my chil- 
dren. Without rest. So then your husband spent the night 
there. On the edge of the beautiful lake. The Bila tree 
became my companion. That's what happened, my be- 
loved. Your husband looked everywhere for animals, but 



petakone cening. "Beli Lubdaka cen-cen beburuane? 
"Cen buron apa ja luire." Keto isin petakone ning. 
"Sapunapi pemargin beline.Pianak beli nandang seduk. 
Keduhkitan sakeng dibi.Tan kasidan antuk titiang, 
mengererehang ipun sangu.Sami tinibenan lapar ipun 
ngembe-ngembe beli.Mangda beli gelis prapti. 
Mehawinan ipun nyagjag sekadi mangkin beli." Nah keto 
lantas, saha sedih kurene Lubdaka. Nakonin I Lubdaka. 
"Cen hasil beburon beline. Lenan teken to beli. Pianak 
beline ngembe-ngembe nyen beli, pang enggal beli teka. 
Pianak beline seduk uli ibi, tiang sing nyidaang nyen 
ngaliang ia daar. Tiang belog, kija men tiang ngalih daar. 
Ngaliang pianak beline pang sida ia medaar." Keto isin 
petakon, pesadun somah iane Lubdaka. 



Mesaut lantas I Lubdaka, ning. "Uduh adi, keto mase 
cening. Memen cening, memen cening, lacur beli. Lacur 
beli adi tan gigisan. Pocole kaliwat, tan maabahan pejalan 
beline. Beli luas meburu ngemaranin wana giri. Maideran 
masusupan adi, ring rahina jantos dalu. Tan wenten 
babahan nyen ning. Babahan apa? Nuh lantas beli nginep, 
adi, ring pingir, pingiran danu asri. Punyan bila maka 
sraya. Keto nyan adi. Meideh nyen suba beli ngalih 
beburon, sing maan nyen adi. Kanti suba madan peteng. 
Ditu lantas beli disisin danu asrine, ditu beli nongos. 
Madurgama genah beline adi. Janten pisan to nyen. Yen 



Begini pertanyaannya. "Kanda, kakanda Lubdaka. 
Dimana hasil buruan kakanda?" Demikian pertanyaannya, 
cening. "Mana binatang atau yang lainnya?" Seperti itu 
yang ditanyakan, cening. "Bagaimana dengan perjalanan 
kakanda? Anak-anak pada kelaparan. Menahan lapar sejak 
kemarin. Saya tak sanggup mencarikan mereka makan. 
Mereka semua kelaparan seraya mengelu-elukan 
kehadiranmu, kakanda. Agar kakanda cepat kembali. Oleh 
karenanyalah mereka pada berlarian mendekati kakanda 
seperti sekarang ini." Ya seraya memelas sedih seperti 
itulah istrinya si Lubdaka. "Mana hasil buruan kakanda? 
Di samping itu, kakanda. Anakmu menanti penuh harap, 
agar kakanda cepat kembali pulang. Sejak kemarin 
mereka pada lapar. Saya tak sanggup mencarikan mereka 
makanan." Seperti itu pertanyaannya dan penyampaian 
keluhan hati istrinya si Lubdaka. 



Si Lubdaka kemudian menjawabnya, ning. "Uduh dinda, 
demikian juga anakku. Dinda, dindaku sayang. Naas 
benar, betul-betul apes perjalanan kakanda kali ini. Rugi, 
rugi rasanya kakanda pergi, pulang-pulang tanpa hasil. 
Kakanda berburu memasuki hutan gunung. Berputar- 
putar kakanda menelusupi hutan belantara, sejak siang 
sampai malam hari. Tanpa berhenti, apalagi beristirahat. 
Sampai akhirnya kekanda harus bermalam, dipinggir, 
ditepian danau asri, dinda. Yang menemani hanyalah 
pohon kayu maja. Demikian keadaannya, dinda. Kakanda 
sudah berkeliling mencari-cari binatang, namun tak 



Siwaratritalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjutan 



75 



The Invisible Mirror 






IfJ^Ci.-} 











he was not able to find any. Until it became dark, and 
your husband came to the edge of a btjautiful lake. That 
was where I stayed. It was a frightening place, my be- 
loved. It's true. But there were no animals there either. 
There were no animals there, no other living creatures. 
Then your husband returned home. His efforts were fu- 
tile. Though hunting is the only skill I have to provide 
the necessities for our life. 

Since the place your husband stayed was so frightening, 
he was sure he would die. He was sure he would be killed 
if he fell down from the branches. Your husband would 
surely die. While your husband was waiting there, he 
hoped animals would arrive there, wished they would 
come looking for water to drink. Then he would shoot 
his arrows. That is what your husband was thinking. He 
was hoping that the animals would look for water, then 
he would use his arrows. But not one arrived, my be- 
loved. Please forgive your husband for his fruitless jour- 
ney. Your husband tried his best. Your husband remem- 
bered that his beloved was waiting at home for him to 
return from his journey. But I was unlucky that day. 
There were no animals at all passing by. None appeared, 
my dear. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
That's what Lubdaka said, my little ones. He told the 
truth about his journey. His wife answered quickly. She 



sing lantas beli maan beburon, beburon apa ja saka luire, 
beli lantas melipetan mulih, nirdon adane beli. Mula 
pengupa jiwan beline, adi keto masih pianake, tuah hasil 
beburuane adi. 



Nah sawireh madurgama genah beline adi, to ba. . . janten 
beli lakar ngemasin antaka, ngemasin pati. Yen ne labuh 
sakeng carange, sinah suba beli mati. Sambilang beli 
lantas nyantos ditu, bilih nyen wenten buron prapti. Saget 
nyen ada buron teka, pacang ia menginum minum yeh. 
Jaga katibakin heru. Keto nyen kanti keneh beline. Saget 
nyen ada beburon ngalih yeh, ditu bakal panah beli. 
Naging mase tuara ada teka nyen adi. Sampurayang nyen 
adi, pejalan beline, adi. Beli sampun mautsaha. Beli 
nak inget nyen teken adi ada jumah, nyantos pejalan beli. 
Lacur beline suba rahina ne to. Jeg sing pesan ada 
beburuan ane liwat, ane ngenah nyen adi." 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Keto nyen pajar 
iane ning I Lubdaka. Manuturang pejalane tuhu. Ne 
istri age pajare, pajare raris nyawis lantas. Nyawis ning. 



seekorpun ketemu. Sampai hari larut malam. Di sana, 
dipinggiran sebuah danau yang indah akhirnya kakanda 
berdiam. Tempatnya, sangat angker, dinda. Sungguh 
demikian adanya. Kalau pulang tanpa binatang buruan, 
binatang apa saja, rasanya percuma tanpa arti rasanya 
kanda. Memang hidup kita hanyalah bergantung pada 
hasil buruan. Demikian dinda. 



Oleh karena tempat pemberhentian kakanda sangat 
angker, yah itu 'dah, tentu kakanda akan bisa menemui 
ajal. Mati. Kalau di sana kakanda sampai terjatuh dari 
cabang pohon, maka ajallah menanti. Sambil menunggu 
di sana penuh harap, siapa tahu nanti ada binatang yang 
datang. Siapa tahu ada binatang datang untuk meminum 
air di sana. Akan dilepas anak panah. Seperti itulah 
terlintas dalam pikiran kakanda, bila ada binatang yang 
datang mencari air di sana, akan kakanda tembak dengan 
anak panah. Namun sayang dinda, tak ada seekorpun 
binatang yang datang. Maafkan atas kesialan pejalanan 
kakanda kali ini, dinda. Kakanda sudah berusaha keras. 
Kakanda tak pernah lupa akan dinda tinggal di rumah, 
menunggu perjalanan kakanda. Hari itu memang kakanda 
memang sial. Tak seekor binatangpun yang apalagi ada 
yang lewat melintas. Demikian dinda." 

Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Seperti itulah 
katanya si Lubdaka. Membeberkan perjalanannya dengan 
sungguh. Istrinya segera menyautinya. Menyautinya itu 



76 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjutan 



Trie Invisible Mirror 



o-- ». <n- 



\P 9J> -q jf^ o i£^ ?<A ^ »J^ trtt ^;> > ^ <rj KV) (lA «Mn ro* <y ^ 9vO jT) ^ 







answered quickly. She responsed like this. This was her 
answer, my little ones, responding to what Lubdaka told 
her. His wife answered him directly. And his wife was 
crying, my little ones. Pity her, pity her when you hear 
her lamenting. This is what she answered then, "Oh, my 
dear Lubdaka. Oh, lord, pity me, pity me. My husband 
risked his life. My husband gambled with his life. I feel 
like I have been stabbed. If you die, what will happen to 
me. How can I raise our young children? Because I am 
just an ignorant woman, my dear." That is what his wife 
told him, all you little grandchildren of your grandfather, 
and also all you other listeners. Then she quickly gave 
him something to eat and drink. Lubdaka felt happy. He 
gratefully accepted the boiled plaintain his wife offered 
him. After his wife responded to his story with tears, she 
prepared him some coffee. Then with his drink she gave 
him some boiled plaintains. Boiled plaintains. Yes, that 
was his wife's offering to her husband. That's how it 
was, all you honored listeners. Little grandchildren of 
your grandfather, don't cry, my little ones. Yes, if you 
have been moved by the story, your grandfather is happy. 
Oh, one of my grandchildren is akeady crying. Yes, that's 
what happened on his journey, my Httle ones. In the end 
he returned home to meet his wife. But his children were 
crying and hungry, my little ones. 

Yes, all my little grandchildren of your grandfather, and 
all you other listeners. When he finished eating, then 
Lubdaka felt refreshed. Then he prepared to sleep. Now 



nyawab. Nyauitin kenken tutume ia I Lubdaka. Kurene 
mesaut nimbal. Turmaning mase ngeling kurene ning. 
Kangen, kangen ia medingehang cara pesadune busan. 
Kene ia lantas mesaut. "Uduh beli Lubdaka. Kangen, 
kengen tiang, dewa ratu,. Urip beline dados toh.Urip 
beline anggon beli toh. Manah tiang kadi tusuk. Yening 
prade beli kantos lampus. Napi raris puaran tiang kadi 
mangkin. Sambil ngempu pianak pusuh beli. Duaning 
tiang jadma belog beli." Keto nyen pajamya ne luh nyen 
cening cucun pekak ajak makejang. Kenten taler pamiarsa 
sareng sami. Gelis mengaturang pangan kinum. I Lubdaka 
liang manahnya. Menampi dulur ipun kladi rebus katur 
ring ne muani reko. Asapunika, risampun ipun lantas 
menyaurin medulurin tangis ngeling kurenan ipun. Raris 
ipun ngemaang lantas wedang. Kenten naler minum 
medaging kladi melablab. Kladi rebus, kenten. Nah to 
pesuguh kurenane ane istri. Kenten ida dane pamiarsa 
sareng sami. Gerung cucun pekak, da da ning ngeling nyen 
nah ning nah. Nah yen suba saja teleb ne ning, dini pekak 
demen. Ooo ne suba ada cucun kak ne, nah ngeling kanti. 
Nah keto pejalane ne cening. Prasida lantas ia me wali 
mulih katemu lantas ngejak somah. Turmaning pianak 
iane ngeling keseduk-seduk ning. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Kenten taler 
pamiarsa sareng sinami. Sapupute nunas sangu raris 
ipun I Lubdaka, wawu segeran kayun ipun. Raris 



menjawab, cening. Menjawab apa yang dituturkan si 
Lubdaka. Istrinya menjawab, seraya terisak menangis. 
Kasihan, sungguh kasihan mendengarkan apa yang 
dituturkan tadi itu. Begini jawabannya. "Uduh kakanda 
Lubdaka. Ya Tuhan, sungguh, sungguh saya merasa 
kasihan. Jiwa kakanda sebagai taruhan. Kakanda 
mempertaruhkan jiwa kakanda sendiri. Tertusuk rasanya 
hati saya ini. Sekiranya kakanda sampai menemui ajal, 
apa artinya saya ini. Hidup sedang memomong bayi. 
Apalagi saya orang bodoh, kakanda." Seperti itulah kata 
istrinya, cening cucu-cucu kakek semuanya. Demikian 
pula pemirsa semua. Segera dia menyuguhkan makan 
minum. Si Lubdaka perasaannya menjadi senang. 
Menerima suguhan dengan keladi rebusnya, khusus 
diberikan pada dirinya. Seperti itulah istrinya menjawab 
serta merta dibarengi isak tangis. Dia lagi memberikannya 
kopi. Minuman yang disertai dengan keladi direbus. Ya 
keladi rebus. Itulah yang dapat disajikan oleh istrinya. 
Seperti itu adanya para pemirsa semua. Cening cucu-cucu 
kakek, jangan, jangan nangis ya ning ya. Yah cening, kalau 
cening mendengarkan dengan sungguh, kakek merasa 
sangat gembira. Ooo 'tu kan. Ini ada cucu kakek yang 
sampai menangis. Nah seperti itulah perjalanannya. 
Sampai dia kebaU pulang berkumpul dengan bininya. 
Sembari anaknya menangis menahan rasa lapar, ning. 

Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Demikian juga 
para pemirsa semua. Sehabis menyantap hidangan, baru 
si Lubdaka merasakan segar kembali tenaganya. Setelah 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



77 



Tne Invisible Mirror 








he will sleep, because it is already nighttime. It's already 
evening. Lubdaka was sleepy and his energy was ex- 
hausted. 



Yes, all my little grandchildren of your grandfather, we 
won't say anything about the passing of the night. We 
will not talk about the darkness, my little ones. Because 
he was so tired that he was overwhelmed by sleep, my 
little ones. The rain fell generously with constant thun- 
der and lightning that illuminated the sky. 

Now let's talk about the dawn. The voice of the birds 
filled the air. Yes, my little ones, while he was sleeping, 
oh lord, how hard it rained and thundered, until the 
songs of the birds filled the air. Yes, the birds were sing- 
ing everywhere. They were signaling the dawn, my little 
ones. Lubdaka got up and prepared to go hunting, be- 
cause that was his job. His only duty was to hunt. He 
said goodbye to his wife and children, and then went out 
to hunt. Their life was truly harmonious. He liked his 
job very much. He never got tired of it. That's the way 
he was. That's how it was, my little ones, for Lubdaka 
and his wife and their children. They lived together in 
harmony. All of Lubdaka's requests were fulfilled by 
his wife and children. They never refused him. That's 
why they were so harmonious. Oh, lord, how very 
harmonious their lives were, my little ones. 



medadaban pacang turn. Pacang pules mangkin. Wireh 
sampun kala dalu. Sampun wengi. Arip mewuwuh 
bayu won kenten ipun I Lubdaka. 



Nah cening cucun pekak ajak mekejang. Tan kocapan 
kala latriane. Sing kaceri tayang cening lantas petenge. 
Duwaning aripe satuwuh. Bes keliwat ia kiape cening. 
Sabeh bales raris tedun.Kasarengin gerug-gerug. 
Kadamping kilat tan rerenan. Manguranyab wawu- 
wawu lantas ning. 

Cinarita ngedas lemah raris. Suaran paksine ia umung 
keto. Nah cening risedek ia pulese, dewa ratu, ujane 
bales. Kerug-krebeke, dewa ratu, nyen teka. Kanti suba 
lantas suaran paksi ia umung. Nah kedise ia suba madan 
rame memunyi, cihna nyen suba ngedas lemah nyen 
cening. Medadabang ipun I Lubdaka, lunga pacang 
meburu. Wireh punika geginan ipun. Swadarman ipun 
wantah meburu. Luas ipun mebeboros, tumiba ring 
pianak rabia. Idupnyane wiakti rukun. Seneng pisan 
ring amongan. Kayang kawekas natan surud. Kenten 
nyen. Keto nyen cening. I Lubdaka ngajak kurene. 
Keto masih pianakne. Paras parosarpanaya. Kenkenja 
titah I Lubdaka, tuwutane teken krene keto mase teken 
pianakne. Sing taen nyen ia tulak. To awanan ia ngenah 
pesan rukun. Dewa ratu rukun pesan nyen cening. 



itu di berkemas untuk tidur. Beristirahat tidur sekarang. 
Oleh karena petang sudah semakin larut. Hari sudah 
malam. Kantuknya semakin dalam, ditambah lagi dengan 
tenaganya sudah capek. Demikianlah dia si Lubdaka. 

Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Tak diceritakan 
malam itu. Tidak diceriterakan perjalanan waktu 
malamnya. Karenanya dia pulas lelap. Tak ingat apa-apa 
lagi saking kelewat kantuknya.. Disusul dengan turunnya 
hujan lebat. Kilat petir menyambar bergemuruh, tak henti- 
hentinya. Berkilauan secara tiba-tiba sinar menyambar. 

Diceriterakan fajar pagi mulai menyingsing. Suara burung 
berkicau demikian riuhnya. Yah cening, ketika dia masih 
tidur, ya ampun, hujan turun lebat sekali. Kilat dan petir 
datang menyambar dengan tiba-tiba. Ya ampun. Sampai 
akhirnya suara burung bernyanyi riang. Riuh kicau burung 
sebagai pertanda hari sudah pagi, cening. Berkemaslah 
dia hendak berburu lagi. Itu memang pekerjaannya. 
Swadarmanya memang berburu. Berangkat dia berburu, 
tak lupa berpamitan dengan istrinya. Hidupnya memang 
rukun. Dan dia sangat menyenangi pekerjaannya seperti 
menyayagi keluarganya. Tidak pernah surut sampai 
hayatnya nanti. Demikianlah keberadaannya. Demikian 
sesungguhnya si Lubdaka cening, penuh rasa kasih 
dengan istrinya, demikian juga dengan anaknya. Penuh 
kesetyaan dalam suka dan duka, sehidup semati selalu 
bersama keluarganya. Apapun yang dibilang oleh si 
Lubdaka, senantiasa diikuti oleh istrinya, demikian juga 



78 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



.0. 












'^■'^'''■■^'^pi^^piF^P^pifr^ 



»i'>i,<rV9J^<;Y> 




Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
Who knows how long it was like that? He diligently car- 
ried out his duties. We won't speak about those times. 
He just carried out his duties. 

Now Lubdaka was approaching the time of his death. 
Do you know, my little ones, what suffering means? He 
experienced the hardship and burning pain of a plague 
that struck him down, my little ones. A plague of sick- 
ness struck him down. As time went on it got worse. His 
family and neighbors came to help. They gave him many 
medicines. The sickness did not abate. My little ones, 
Lubdaka was in great pain. He was struck down by the 
sickness of the plague. All his family and neighbors came 
to help, bringing him medicine.They gave him many 
medicines. They gave him all kinds of medicines. But his 
sickness did not abete. He did not get well, my little ones. 
They could not cure him. Now the visitors became very 
sad. His wife and children felt sadness in their chests. 
His pain grew worse. All the medicines failed. He could 
not stand up and he could not eat. He had no appetite, 
because the sickness was too strong. That's the way it 
was, my little ones. 



Nab cening cucun pekak ajak makejang. Pirang warsa 
kunang lawas. Ipun taleb ngamong gawe. Nah yen 
suba madan mekolo sing sida antuk nyatuang to. Tuah 
to geginan iane. 

I Lubdaka kocap mangkin kaweruhan mertiu, ning. 
Nawang ning? Kasengkalan.Kaduhkitan mahabalan 
gering rauh ne ning. Katibenan gering. Sayan lami sayan 
gepe. Nyama braya rauh nulung. Manibakan sarwa tamba. 
Gering ipun tan reredan. Cening, dadine Lubdaka sakit 
ia ning. Gelem kageringan. Makejang ida dane nyama 
brayane nulungin ia ngemaang ubad. Nah manibakang 
sarwa tamba. Nah ngubadin sahanan ane madan ubad. 
Keto lantas gering ipun tan reredan, sing mresidayang 
nyan cening. Sing nyidaang ia nyegerang. Mangkin sendu 
manah sang mengerungu. Pianak muah rabine, maring 
dada nandang sedih. Sayan rahat gering ipun. 
Sakancaning penyampi ngelepu. Nenten sida metangia, 
maka miwah nunas sangu. Nora wenten kaedotan. Reh 
sakite langkung rahat. Keto nye cening. 



oleh anaknya. Tidak pernah mereka menolaknya. Itu yang 
menyebabkan kerukunan keluarganya tampak kental. Ya 
Tuhan, amat rukun mereka, cening. 

Nah cening cucu-cucu kakek semuanya. Berapa tahun 
telah lewat. Dia tekun mengambil pekerjaannya. Kalau 
sudah demikian sejak lama yah tak usah diomongkan lagi. 
Memang itu pekerjaannya. 

Ceriterakan kini si Lubdaka diintai maut. Tahu cening? 
Bernasib sial. Kesengsaraan wabah penyakit yang datang 
merengut kesehatannya. Dia jatuh sakit. Makin lama 
makin keras sakitnya. Sanak keluarga dan tetangga pada 
datang memberi pertolongan. Memberi berbagai ramuan 
obat. Sakitnya dia sungguh serius. Ya cening, si Lubdaka 
jatuh sakit. Berjangkitnya epidemik. Semua sanak saudara 
dan kerabat dekatnya menolong memberikan dia obat. 
Mengobati deng;.n berbagai macam obat. Demikian 
sakitnya tak kunjung sembuh, tidak mampu, tidak bisa 
dia disembuhkan, cening. Sungguh sedih setiap orang 
yang melihatnya. .^Vnak dan istrinya merasakan sedih berat 
didadanya. Semaian keraslah sakitnya dia. Setiap obat 
yang diberikan tid ik mempan. Dia tidak bisa bangun, dan 
tidak bisa makan. Tak ada yang dia maui. Oleh karena 
keras sakitnya. Demikian keadaannya cening. 



Ali his neighbors felt sorry for his wife and children, Pisagan iane, makejang kangen nepukin pianak somahne. Tetangganya belas kasihan melihat anak dan istrinya. Oleh 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



79 



Tne Invisible Mirror 







"wrr. 



5IC 



vo» 



^'- -"■ •- — ^.^i — 1~^ 



"-Tit."'' 



because Lubdaka had no desire to eat. He could not eat 
any kind of food, because he could not feel hunger. As 
time went on he became thin. He didn't even move. As 
time passed, my little ones, he grew sicker. He was mo- 
tionless. He couldn't move. He lay flat on his back, with 
his belly in the air, my little ones. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather, he 
could only turn his head back and forth. All he could do 
was to turn his head back and forth, my little ones. He 
could respond to his wife who became very sad. She 
wept convulsively, my little ones. She called out to him 
mournfully. He pitied her, my little ones. What he felt 
was pity. He was afraid to leave his wife and child alone, 
because his love for his wife and child was so strong. 
She called out mournfully to him. She was thinking about 
her children. What will happen to them if he dies? And 
then she hugged them. She hugged her children, my little 
ones. Oh, lord, how sad it was. Oh, lord, the children and 
Lubdaka were also crying. Their voices were choked by 
tears. Oh, it was hard for them to speak. 



This is what Lubdaka said, my little ones. "Oh, my dear 
little children, your father's children. What will happen 
to you when your father leaves you, my dear little chil- 
dren? I will surely die. What will happen to you, my little 
ones? And to you, their mother? Who will take care of 



Sawireh ia I Lubdaka sing ngerasang seduk. Asing 
dedaaran sing nyidaang ia madaar. Sawireh sing merasa 
seduk. Sayan lami mawuwuh-wuwuh kurus. Nenten 
makrisikan. Peh, ngancan makelo cening, ngancan 
nyangetan sakitne. Meplekes sing ja mekrisik-krisikan. 
Mamantang ipun wiakti. Nyelempang ia ning nyen. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Katekaning 
kitak-kituk dogen. Katekaning kitak-kituk dogen ia ning. 
Nenten kasidan mesaur. Rabine langkung sedihe. Sarwi 
nangis segu-segu nyen cening. Ngambe-ngambe 
masesambatang. Banget ngawe kawelas arsan keto 
cening. Nake kawelas arsan adane. Jejeh ia kel ninggal 
ane madan pianak somah. Sawireh leket kapitresnan iane 
teken somah pianak. To ia ngambe-ngambe 
masesambatan. Eling wiakti ring pianak ipun. Napi 
penadosne yening pade katinggaUn. Awinan raris kagelut. 
Gelute pianak ne ning. Peh, dewa ratu, sedihne. Dewa 
ratu, ngeling ia pianak ne, keto mase I Lubdaka. Keto 
mase, seret pemedal baosne. Tuh katos pemesun 
munyine. 



Kene nyen cening I Lubdaka. "Uduh cening pianak 
ingsun, pianak bapa. Apa lakar penadinnya yening bapa 
ngalin anake buka cening. Kalin mati sing ja ada len. 
Kenken ia penadin ceninge? Keto masih memene. Nyen 
bakal ngerunguang, nyen bakal ngerungu adi, keto mase 



karena dia si Lubdaka tidak merasa lapar. Setiap makanan 
tidak bisa dia makan. Karena dia tidak merasa lapar. 
Semakin lama semakin kuruslah dia. Tidak berkedip 
sedikitpun. Yah cening cucuku, semakain lama semakin 
parahlah sakitnya. Diam, sedikitpun dia tidak bisa 
bergerak. Sungguh kaku bagaikan kerangka adanya. 
Terlentanglah dia, cening. 

Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Bisa-bisanya 
hanyalah galang-geleng, hanya geleng-geleng saja dia, 
ning. Tak mampu menjawab. Istrinya menjadi sangat 
sedih, sembari menangis tersedu-sedu, cening. Memohon 
seraya memelas memanggil-manggil. Sungguh 
memilukan membuat hati iba, cening. Demikianlah or- 
ang yang butuh welas asih. Takut kalau dia akan 
meninggalkan anak dan istri. Karena kasih sayanyang dia 
demikian lekat dengan anak dan istrinya. Itu yang 
membuat dia menangis mengelu-elukan pertolongan. 
Karena masih teringat dengan anak-anak. Makanya 
dirangkullah kemudian anaknya, cening. Yah Tuhan, 
betapa sedihnya mereka. Anaknya menangis demikian 
juga dia si Lubdaka. Sulit rasanya dia berbicara. Ya sulit 
bisa keluar suaranya. 

Beginilah dia si Lubdaka. "Uduh nanda, anak bapak. Apa 
jadinya nanti kalau bapak meninggalkan dirimu, n^. 
Akan kutinggal mati tiada lain. Bagaimana jadinya kamu 
nanti anakku? Demikian juga dirimu dinda. Siapa yang 
bakalan peduli? Siapa yang bakalan memperhatikan dinda 



80 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 




you all? Who will take care of you, my dear wife, and 
you, my dear children? Surely you will be pitiful. You 
will have nothing to eat or drink. Who will take my place? 
Who will replace your father? Surely there will be no 
one who will love you as much as your father does. Oh, 
in the name of all the gods in heaven, he felt great pity in 
his heart. "What can I do now for you, my dear children, 
and also for you, my dear wife." That's what Lubdaka 
said. 



cening? Pedas cening bakal kasih-asih. Tuna kinum lawan 
pangan. Nyen pacang dadi silur? Nyen dadi penyilur 
bapane? Sinah suba sing ada. Apang sumasih sayangnya, 
patuh cara bapa. Uduh Ratu Batara sami. Banget 
manyayangin kayun. Kudiang baan medaya jani, cening 
keto masih memene." Sapunika pajar ipun I Lubdaka. 



dan anak-anak? Tentu nanda bakalan sedih merana. 
Kurang makan kurang minum. Siapa yang mau 
menggantikan bapak? Siapa yang bisa menggantikan 
ayah? Tentu tidak bakalan ada. Orang yang memiliki kasih 
sayangnya sama seperti bapak. Ya Tuhan dan segala 
manifestasiMu. Apa daya sekarang ini, kendati sangat 
untuk menyayangi diri. Apa daya upaya kita sekarang 
nanda, demikian juga dinda." 



Yes, my little ones, that's how sad Lubdaka was. He was 
crying out for help. His voice was choked. Now the story 
comes to his last gasps of breath. Oh, it was hard for him 
to breathe. He gasped for a long time. Because he did not 
know the proper way to release his soul. People say that 
he hovered a long time. He hovered between life and 
death, because he did not know the proper way to release 
his soul. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. His 
time had already come, my little ones. Yes, don't cry. 
Just remember the sadness of Lubdaka. Yes, all you hon- 
ored Usteners. I am also sad. Please be kind enough to 
forgive me, more or less. I will continue the story next 
time. I will end with the closing blessing, because we 
are constrained by time. "Om Santi, Santi, Santi, Om. 
("May there be peace in your hearts, peace on earth, and 
peace in the heavens.") 



Nah cening, keto nyen sedih iane Lubdaka ne. Kapiolas 
ngasih-asih. Seret bebaose pirengan. Cinarita jalan ipun 
tambis-tambis ngaap angkihan. Tuh meangkihan gen 
keweh. Suwe reko slegak-slegik. Dening ipun nenten 
weruh sajeroning darma kalepasan. Makelo ia gela-gela, 
keto nak nyatuang. Sawireh ia sing nawang darman 
kalepasan keto. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Sawireh suba 
madan galah cening. Nah da, da ning ngeling nyen. Nah 
ingetan to nyen keto to sedihnyane Lubdaka. Ainggh 
ida dane pamiarsa sareng sinamian. Titiang naler sedih. 
Kirang langkung antuk titiang, ledang aksamayang. Sane 
jagi rauh pacang lanturang titiang malih. Puputang titiang 
antuk peramasanti. Duaning kaiket antuk galah. "Om 
Santi Santi Santi Om. " 



Demikianlah katanya dia si Lubdaka. Penuh memelas dan 
sedih. Suaranya sukar untuk diucapkan dan didengar. 
Diceriterakan nafasnya sudah mulai terengah-engah. 
Waduh, bernafas saja dia sudah sulit. Lama nafasnya 
tersendat-sendat. Karena dia tidak mengetahui ilmu 
pelepasan. Seperti sering orang menyebutkan; lama dia 
tersiksa. Karena tidak tahunya dia tentang ajaran darma 
kelepasan. 

Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Oleh karena ini 
sudah waktu, cening. Yah, jangan, jangan cening 
menangis yah. Yah ingat tuh. Begitulah sedihnya dia si 
Lubdaka. Ya para pemirsa yang budiman semuanya. Saya 
juga sedih. Kurang lebihnya saya menyampaikarmya tadi, 
mohon dimaafkan. Lain kali akan saya lanjutkan lagi. 
Saya sudahi dengan menghaturkan perama santi. "Om 
Santi, Santi, Santi, Om " (Semoga damaia di hati, damai 
didunia, dan damai di Surga). 



Siwaratritalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



81 



Tk 



e Invisible Mirror 



TfTT 



n 




T"^ 






"2^ 












, j7 i*f) i^TOdT^V* ^«fii^iliy ,»lp .^Vf ^^ 



Siw.aratrikalpa as Satua: Lundaka's story as broadcast in Balinese on RRI Denpasar (Episode 4) 
Siwaratrikalpa Setagai Ceritera: Kisan Lubdaka dalam Mesatua Bali disiarkan melalui RRI Denpasar (Episode 4) 



ENGLISH 



5ALI / KAWI 



INDONESIA 



Jagra: Yeesssss, all you little grandchildren of your 
grandfather, and also all you other horored listeners, the 
ones in the palace, and also everyone holding their ra- 
dios, and all of you who enjoy hearing the lessons found 
in Balinese stories. I will continue agam, with none other 
than the story of Lubdaka. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
Listen well and pay attention, my little ones. If you want 
to understand the story of Lubdaka, please listen. Your 
grandfather has already told the true story and the true 
meaning of Lubdaka's story. Listen \\ ell and pay atten- 
tion. Ha ha ha. Yes, all you honored listeners. 

Yes, little grandchildren of your grandfather, listening at 
home, the ones in the palace, and the ones in the priest's 
house. For all of you I will continue the story of Lubdaka 
again. In the last episode, Lubdaka was in great pain, and 
was gasping for breath. 



Now we will continue from there to the part of the story 
where he dies. Yes, he dies. He finds d ^ath. He is dying. 
He is at the moment of his last breath Oh, his wife and 
child are weeping and wailing. Also, the neighbors were 
there. The neighbors are the people who live nearby. 
They were all sad and crying, because they felt so much 



Jagra: Eh eh eh.Cening cucun pekak ajak makejang. 
Kenten naler ida dane pamiarsa sareng sami. Sane wenten 
ring Puri. Diastun sane makta radio, utawi pelajahan, sane 
wantah seneng ring satua Bali. Titiang pacang 
ngelanturang malih. Inggih punika satuan ipun I Lubdaka. 



Nah cening ne cucun pekak ne ajak makejang. Melahang 
nyen medingehang nah ning nah. Nah pang cening nawang 
satuane, ningehang adane I Lubdaka. Ne pekak suba 
nyatuang kenken maka sujatine, kenken maka sujatine 
sukseman satuan Lubdaka ne. Melahang nyen 
medingehang. Ha ha ha. 



Inggih ida dane pamiarsa sareng sinamian. Nah cucun 
pekak ane ada jumah, sane wenten ring Puri, ring Geria, 
sapunika.Titiang pacang ngelanturang malih satuan ipun 
Lubdaka. Sane sampun lintang sayuwakti Lubdaka, 
nandang sakit ipun. Naenang sakit gela-gela. Ne mangkin 
lanturang titiang. 

Kecerita ipun sampun padem.Nah padem, mati, lampus, 
keto. Dugase ento lantas ia megat angkihan ne, ning. Peh, 
pianak somah pegruweng ngeling.Lenan teken ento 
pisagane... Pisaga nawang ning? Tetangga-tetangga 
makejang mase sedih, turmaning ada ane ngeling. 
Sawireh kapiangen teken paukudan ia I Lubdaka. Saja ia 



Jagra: Eh eh eh. Cening, cucu-cucu kakek semuanya. 
Begitu juga pemirsa semua, yang sedang berada di puri. 
Barangkali ada yang membawa radio, atau membawa 
pelajaran, yang memang senang dengan cerita Bali. Saya 
akan melanjutkannya lagi, yakni menceriterakan ceritanya 
si Lubdaka. 

Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya. Dengarkan baik- 
baik ya ning ya. Sehingga cening dapat mengetahui dari 
mendengarkan ceritanya si Lubdaka ini. Kakek sudah 
memaparkan bagaimana sesungguhnya, bagaimana 
makna inti cerita Lubdaka tersebut. Dengarkanlah dengan 
baik-baik. Ha ha ha. 

Ya para pemirsa semua yang budiman. Nah cucu-cucu 
kakek yang berada di rumah, yang berada di puri, di geria. 
Saya akan melanjutkan lagi ceritanya si Lubdaka. Yang 
telah lampau si Lubdaka sedang menderita sakit parah. 
Tersiksa menahan sakit. Sekarang saya lanjutkan lagi. 



Diceritakan dia sudah meninggal. Yah, meninggal itu sama 
dengan mati, tak bernyawa, ketika nafasnya putus, 
demikian ning. Waduh anak, istrinya nangis tersedu-sedu. 
Selain itu para tetangganya. . . Tahu cening tetangga? Yah, 
tetangga-tetangga semua juga pada sedih, dan ada juga 
yang terisak menangis. Oleh karena mereka merasa 
kasihan terhadap si Lubdaka. Memang, pekerjaan dia 



82 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



rtr> 













pity for him, for Lubdaka. It is true that killing was his 
profession. He hunted animals. But in his house, 
with his family, oh lord, he was so kind. He was good 
to his neighbors. He was good to his family. That's 
why at his death, oh lord, all his family, nephews, and 
grandnephews were all weeping and wailing. That's 
what happened, my little ones. 

Now that he is dead, the story continues. Many people 
were crying, my little ones.All his relatives and neigh- 
bors arrived. His wife wailed out her tears. She draped 
herself over the body. Do you know what that means, my 
little ones, to be draped over something. She threw her- 
self on top of Lubdaka's body. That's what his wife did, 
his beloved. The tears flowed down from her cheeks, my 
little ones. The water from your eyes is called teardrops, 
my little ones. Oh how they poured out of her, my little 
ones. She cried out in great confusion. She was crying 
out, and this is what she cried out, my little ones, "Oh, 
my husband, my husband, my dear dead husband.Why 
aren't you looking at me, my husband? Wherever you 
go, my husband, remember me and all the years we had 
together. Whenever you went hunting, my husband, you 
entered the forest, the valleys, and the mountains with a 
strong desire to achieve your goal of finding food for 
your family." And then she continued, "When you came 
home, on your arrival you always asked about your chil- 
dren. I was always ready to greet you and carry on my 
head all the fruits of your hunting trip. That was what 
you brought for me, my husband, everything that you 



geginan ia tuah memati-mati. Meboros meburu. 
Sakewala di peumahan, di pekraman keto ning, dewa 
ratu nyen melah iane. Luwung ia mepisaga, keto ning. 
Luwung ia menyama braya. Awanan di matin ia, ning, 
beh dewa ratu, jeg pekramang nyaman-nyamane, misan 
mindon, makejang pegruweng ngeling keto ning. 



Nah kecerita lantas jani suba ia mati.Rame anake 
mangelingin, ning. Kadang warga mekejang pada rauh. 
Somah iane jerit-jerit ngeling. Menangkebin kunang 
layon. Menangkebin kunang layon. Nawang ning? 
Kekeb ne bangken iane Lubdaka, teken somah ne, teken 
kuren ne, keto ning. Toy an panonne mengancab deres 
pesu, keto ning. Yeh peningalane to, toya panon adane, 
ning. Beh ngetel deres pesu, keto ning. Asesambatang 
bingung paling. Sambilange masesambatan. Kene 
sesambatan kurenane ning. "Uduh beli beli sang lampus 
beli. Cingakin ja kuda beli. Dija ja mireb maan tongos 
beli. Eling tiang ring ne suba, duke dangu. Dawege 
meburu yukti beli, nyusup alas jurang gunung. Mangda 
sida mapikolih. Sarat mengalih pesangon. "Ngelantur 
ipun."Ritatkala beli rauh. Yen beli teka nakenang pianak. 
Tan lali beli inget teken pianak. Tiang siaga anyongsong, 
anyungsung saluirin kapikolih. Katiba ring tiang reko 
beli. Apa ja beli maan. Beli nyerahan teken tiang hasil 
beburon beline.Mangkin sampun beli mati. Sira-sira 
pacang olas maring tiang jadma lacur. Taler maring pianak 
tiang. Banget pisan nandang sedih nyen beli. Sedihe 
mapewuwuh-wuwuh nyen beli. Becik tiang menyarengin 



hanyalah sebagai pemburu. Akan tetapi di keluarga, di 
masyarakat, ya Tuhan, baik sekali orangnya, cening. 
Hubungannya dengan tetangga, hubungannya dengan 
sanak kerabat, sangat baik. Itu sebabnya ketika dia mati, 
ya Tuhan, tumpah ruah sanak keluarga, semuanya 
menangisi kepergiannya. Demikian ning. 



Diceriterakan sekarang dia sudah meninggal. Banyak 
orang menangisi kematiannya, ning. Sanak saudara 
handai taulan pada datang menjenguk. Istrinya menjerit- 
jerit menangis. Menelungkupi jasadnya. Cening tahu apa 
itu? Ditindih ditutupi mayatnya si Lubdaka, oleh istrinya, 
oleh bininya. Demikian ning.Air matanya menggenang 
mengalir deras. Demikian ning. Air mata itu disebut toyan 
panon. Waduh, menetes deras keluarnya. Demikian ning. 
Bingung pangling memanggil-manggil. Yah, sembari 
berucap-ucap memanggil. Beginilah kata-kata istrinya. 
"Uduh, kanda, kakanda yang sudah tiada. Tolong lihatlah 
kami, kakanda. Dimana barangkali kakanda sudah 
mendapat tempat. Saya ingat akan perjalanan kakanda di 
waktu-waktu yang lampau. Ketika kakanda berburu 
memasuki hutan belantara, lembah, gunung. Berusaha 
mendapatkan hasil. Berusaha keras mencari nafkah." 
Selanjutnya katanya. "Ketika kakanda datang, kakanda 
selalu menanyakan anak-anak. Saya selalu menunggu 
kedatangan kakanda untuk mengambil hasil buruan. 
Kakanda serahkan semua itu pada saya, apa saja yang 
kakanda bawa pulang. Kakanda menyerahkan semua hasil 
buruan itu kepada saya. Sekarang kakanda sudah tiada. 



Siwaratritalpa: Balinese Literature in Pertormance 



Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



83 



Tne Invisible Mirror 



~.CI 












hunted down. You surrendered the fruits of your hunting 
to me. Now you are dead. Who will take pity on my poor 
soul, and on my children? I am overwhelmed with sad- 
ness. The grief grows and grows, my husband. It would 
be better if I could die with you, my husband. " Oh, that's 
what his wife cried out, my little ones. She wanted to die 
alongside her husband. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather 
That's what his wife said. The grief of his wife was heavy, 
and the feeling shattered her It is said that the corpse 
was ready to be incinerated. Do you know what it means 
to be incinerated, my little ones? It means to be burned 
in a cremation. He was ready to be burned. He was ready 
to be incinerated. All the requirements had been com- 
pleted, my little ones. And then they all returned to their 
own homes. Each went to his own home, my little ones. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather, and 
also all you other honored listeners. We will not tell any 
more about the ones who were left behind grieving. Now 
we will talk about the soul of Lubdaka, because he is in 
Umbo. He is grieving, sad, and suffering. He doesn't 
know which way to go. He was very disturbed. He 
was uncertain. He was unsure about what to do, my little 
ones. 



beli pejah." Duh ning keto nyen sesambatan kurene, dot 
ia bareng mati ngajak somahne. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Sapunika 
wuwusan rabi, menandang manah, mengenyagan manah 
kurenan iane. Layone kocapan iku ning, tragia pacang 
ginesengan. Nawangningginesengan.^ Bakal abenane. 
Kel tunjele, kel gesenge, ning. Sampun puput pula pahne, 
ning. Raris sami tulak mantuk maring greha. Sampun 
prapta suang-suang, keto ning. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Kenten naler 
pamiarsa sareng sami. Tan kocapan sang kantun 
kabiahparan. Atman ipun I Lubdaka, dening maring 
awang-awang, soka sedih kasengsaran. Nenten uning 
maring margi. Banget keibukan keto. Ten karuan. Ten 
kaman-karuan, ning, kaungsi. 



Siapa orang yang bakalan menaruh belas kasihan kepada 
saya, orang yang miskin ini. Demikian juga kepada anak- 
anak. Hidupnya bakalan penuh penderitaan. Bertubi-tubi 
bakalan datangnya kesusahan, sudah barang tentu itu 
kanda. Lebih baik saya ikut menyertai kepergian kakanda, 
kanda." Duh ning. Demikianlah penuh pilu kata-kata 
istrinya. Dia berkeinginan ikut mati bersama suaminya. 

Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya. Demikain kata- 
kata bininya menahan sedih hati. Menghancurkan hatinya 
istrinya. Cening. Kini diceritrakan jasadnya sudah siap 
untuk diabukan. Cening tahu apa itu diabukan. Akan 
dikremasi. Akan dibakar akan dimusnahkan, cening. 
Setelah selesai tata cara upacaranya, semuanya kembali 
pulang ke rumah. Semuanya sudah kebali kerumahnya 
masing-masing. 



Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Demikian juga 
para pemirsa semua. Tidak diceriterakan mereka yang 
tertinggal masih diliput rasa sedih. Atmanya si Lubdaka 
berada di alam kosong, juga sedih dan sengsara. Tidak 
tahu jalan. Hatinya bingung tidak nyaman. Tidak 
menentu. Tak tentu yang akan dituju, ning. 



Yes, all yOu little grandchildren of your grandfather 
That was the condition of Lubdaka's soul. He was 
unsure which road to take. He was in limbo, my little 



Cening cucun pekak ajak makejang. Keto sang atman Cening, cucu-cucu kakek semuanya. Demikian juga 
iane Lubdaka. Tusing karwan-karwan di pejalane, di pemirsa semua. Demikianlah perjalanan atmanya si 
awang-awang keto ning. Kema-mai tusing karwan sane Lubdaka, tiada menentu adanya di awang-awang. Kesana 



84 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



■ 



The Invisible Mirror 






'■V 



P'OT 



:r^2S_ 



1 



V* y (?) CT J^r) 1^ J.O ^ ^ «^ r^\ fcy> iW C7 17 »-f o;i on r^^ 







ones. He went here and there without finding his way. 
That's how it was my Uttle ones. At that moment, he was 
drifting in the air. And then Lord Siwa saw Lubdaka suf- 
fering. Lord Siwa knew precisely who Lubdaka was be- 
cause of what he had done. Yamapati (the king of hell) 
will take him. Yeeesssss, you little grandchildren of your 
grandfather. Lord Siwa knew that, and he was watching. 
Lord Siwa knew that Lord Yamapati would take him. If 
people do bad deeds in the material world, it is difficult 
for them to get to heaven. It is difficult for them to meet 
and encounter Lord Siwa. That's how it was with 
Lubdaka. Everybody knew it would be like that, because 
his profession was killing. That's how he supported him- 
self That's how he supplied food for his wife and chil- 
dren. That was his only duty, my little ones. So of course, 
when he died, his soul was confused. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
Then Siwa quickly called all his heavenly soldiers. They 
quickly arrived before Siwa, "What can we do for you, 
my Lord."That is what they said to Lord Siwa."What job 
do you have for us to do, my lord? Are we mistaken or 
did you call us all here because an evil person or arro- 
gant interloper has arrived? Is that why you called us so 
suddenly? Excuse me for asking.Please tell us.Tell us 
where the enemy is now, so that we can clearly see who 
is causing you trouble, and then we will know where the 
enemy is, the one who will try to cause destruction here, 



kanungsi. Keto ning. Nah sedek ipun wenten maring 
Nasbaskala, kenten. Tan dumade raris kaaksi antuk 
Sanghyang Siwa, I Lubdaka kasengsaran. Turing Ida 
tatas uning Ida Batara Siwa, ring laksanania. Yamapati 
pacang ngambil. Eh eh eh, cening cucun pekak. Ida 
Batara Siwa uning tur macecingak. Uning mase Ida Batara 
Siwa sawireh Sang Yamapati pacang ngambil. Yen anake 
melaksana tan rahayu di Mercapada, sulit bakal maan 
ane madan suargan. Sulit bakal maan sida kecunduk, 
sida ketemu sareng Batara Siwa. Ne cara pejalan ia 
Lubdaka. Ajak makejang nawang suba, wireh ia geginane 
memati-mati, anggone ngalih pengupa jiwa. Anggone 
ngemertain pianak somah iane. To tuah swadarman iane 
ning. Sinah suba di mati lantas, sing karwan-karwan 
atman iane, ning. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Awinan raris 
Ida gegelisan menauhin tanda sami. Gelis raris prapta 
ring ajeng Sanghyang Siwa."Napi wenten karyan mami?" 
Keto ada ane matur majeng ring Ida Batara Siwa. "Napi 
wenten karyan mami, kabeh inundang. Yan tan iwang 
titiang, napi, janten wenten duratmaka ngapak-ngapak. 
Awinan Iratu gelis menauhin titiang. Naweg durus 
nikayang. Dija punang musuh mangkin? Mangda ya jelas 
nyungkanin Sri Bupati, mangdane mejanten. Ring dija 
wenten meseh? Sane wantah pacang ngerugan meriki. 
Iriki ring Siwa Loka. Menawi pacang meyuda ring anggan 



kemari dia, yang ditujunya tidak diketahui. Begitu ning. 
Nah ketika dia berada di Nasbaskala, Sanghyang Siwa 
menyaksikan keadaan si Lubdaka menderita. Beliau, 
Sanghyang Siwa mengetahui semua perbutannya. 
Yamadipati akan mengambilnya. Eh eh eh, cening cucu- 
cucu kakek. Sanghyang Siwa mengetahui seraya 
mengawas. Beliau Sanghyang Siwa mengetahui bahwa 
Sang Yamapati akan mengambil rohnya. Kalau seseorang 
berbuat tidak baik di Bumi, bakalan sulit untuk 
mendapatkan sorga. Sulit dapat bertemu, dapat 
menghadap beliau Batara Siwa. Seperti perjalanan 
hidupnya si Lubdaka. Kita semua mengetahui, 
pekerjaannya, mata pencaharian hidupnya si Lubdaka, 
adalah sebagai pembunuh. Itulah pekerjaan utamanya, 
cening, unmk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. 
Itulah sebabnya, ketika dia mati, tiada menentu perjalanan 
rohnya, cening. 

Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya. Itu sebabnya 
beliau memanggil prajurit beliau semua. Secepat kilat 
semuanya sudah menghadap Sanghyang Siwa. "Ada 
tugas apa, paduka?" Demikian ada yang bertanya pada 
beliau Batara Siwa. "Ada tugas apa kami semua 
dipanggil? Kalau tidak salah, sudah tentu ada penjahat 
mentang-mentang datang, barangkali? Itu sebabnya 
paduka memanggil kami, untuk segera menghadap. 
Katakanlah paduka. Dimana ada musuh kali ini? Agar 
jelas. Sudah barang tentu ini yang menyusahkan paduka. 
Barangkali musuh yang hendak merusak Sorga. Mungkin 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance 



Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



85 



Tne Invisible Mirror 









^ -vH «rO) «^ fM? 1 1"^ ■'^'^ '=''^'* N "^ '^~' «^ "^ ' 



here in Siwa's heaven. Perhaps they want to fight against 
you, my Lord. " That is what they said. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. That 
is what the entire group of warriors said. Do you know 
what warriors are, my little ones. They are all soldiers. 
Standing before Lord Siva, my little ones, the Lord of 
Lords.This is what they all said standing before Lord 
Siwa. 



Betara." Keto ature. 



Cening cucun pekak ajak makejang. Sapunika atur watek 
tanda sinamian. Tanda nawang ning? Prajurit. Bala-bala 
makejang. Ring jeng ning Siwa Adi, Ida Batara Siwa. 
Mekejang ia matur majeng ring Batara Siwa. 



mau bertarung dengan paduka Batara." 
katanya. 



Demikian 



Cening cucu kakek semua. Demikianlah hatur para hamba 
laskar semua. Cening tahu apa itu laskar? Prajurit. Bala 
wadwa semua. Dihadapan beliau Yang Maha Besar, 
Sanghyang Siwa. Semuanya menghadap menyampaikan 
maksudnya kehadapan beliau, Bhatara Siwa. 



Yes, little grandchildren of your grandfather. And then 
Lord Siwa spoke. Lord Siwa spoke, my little ones. He 
spoke truly from his heart. "Excuse your heavenly fa- 
ther, my little ones. I am calling you, but there is no real 
problem. There is no real problem. But your heavenly 
father has a request for you. If my children are confused, 
please don't be confused, because what I am asking you 
is not difficult. I want you all to look for the soul of 
Lubdaka. Look for him and bring him here. Because some 
others are trying to catch him. I already saw the soldiers 
of hell, but don't be afraid. Just bring the soul here by 
force. Bring him here to Siwa's heaven." The thunder- 
ing words of Siwa inspired the soldiers of heaven. The 
army of heaven bowed down in wonder before their lord. 
Ha ha ha. 



All you little grandchildren of your grandfather. The 
words of Lord Siwa to all the heavenly soldiers made it 
clear to them that their true goal was to look for the soul 



Nah cening cucun pekak. Null mawecana Ida Batara Siwa. 
Ngandika Ida Batara Siwa ning. Sarjawia mulat sira. 
"Sampurayang bapa cening. Ngundang idewa tan hana 
pakeweh jati. Natan hana pakeweh jati. Nah ne jani 
ada tuah pengidih bapa. Yan cening walang hati, haywa 
cening walang hati. Apan tuara baat hati cening 
lumampaha. 

Atman I Lubdaka alih ajak makejang! Papagin ia ajak 
mai. Apan ada jani anak pacang ngerebut. Wus katon 
tekap mami. Yamabala iku. Haywa ta kita ajerih, 
marebutin atman iku. Aturang ia mai. Siwa Loka tuju." 
Wuwus Sanghyang Siwa yukti getar seken. Barisan duwe, 
watek gana nembah sami saha manahnia gauk. Ha ha 
ha. 



Cening cucun pekak ajak makejang. Tel pawecanan Ida 
Batara Siwa, teken bala-balane, para ganane makejang. 
tetujone pangandikan Batara Siwa, kesujatine ning, apang 



Nah cening, cucu-cucu kakek. Sanghyang Siwa seraya 
bersabda. Berkatalah beliau Sanghyang Siwa, ning. 
Sembari beliau menatap. "Maafkan Bapa, nanda. Saya 
mengundang kalian, tidak ada kesusuahan berat 
sesungguhnya. Tidak ada kesulitan besar. Kini ada 
permintaan Bapa. Kalau nanda kurang mengerti, kalau 
nanda kurang memahami, janganlah bingung. Tidaklah 
terlalu berat tugas yang nanda harus jalankan untuk kalian 
semua tolong cari atmanya si Lubdaka! Dijemput dan 
dibawa dia ke sini! Sebab ada orang yang mau 
merebutnya. Sudah tercium olehKu. Bala-bala Sanghyang 
Yama mereka itu semua. Jangan takut dan mundur dalam 
memperebutkan atma itu. Bawa dia kesini, ke Siwa Loka, 
tiada lain." Kata-kata Sanghyang Siwa tegas dan jelas. 
Pasukan beliau, prajurut Gana semuanya menyembah 
dengan perasaan tak keruan. Ha ha ha. 

Cening, cucu-cucu kakek semuanya. Perintah Sanghyang 
Siwa terhadap prajurut Gana, para bala wadwa beliau 
semua, tujuan isi perkataan beliau tiada lain adalah 



86 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



■& 















tT- J«t » .at^ ^WK glW H 



of Lubdaka. All the heavenly soldiers were ready to chal- 
lenge anyone who might try to take him from them. By 
any means necessary they would find Lubdaka's soul and 
bring him to Siwa's heaven. They would do whatever 
it took to get Lubdaka's soul. Surely they would find 
him in hell. 



mapag atma iane I Lubdaka, para Ganane. Yen ada saget 
nak ngerebut lawan nyen ! Uli kenken baan pang prasida 
atmane I Lubdaka, mai ke Siwa Loka. Pang nyidaang ja 
bakat atmane Lubdaka. Sinah ia bakal ada di Yamapati. 



menjemput atmanya si Lubdaka. Bila ada orang yang 
mau merebut, dilawan saja. Bagaimanapun caranya, mesti 
diusahakan agar atmanya si Lubdaka dibawa ke Siwaloka. 
Usahakan agar didapat atmanya si Lubdaka. Sudah barang 
tentu dia bakalan berada di Neraka. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
What is Lord Siwa thinking? Why is he turning things 
upside down out of his sympathy for the soul of Lubdaka? 
When he was alive, during his life, he hunted animals 
and killed them all dead. He never cared about per- 
forming yoga or meditation. Then why is it so easy for 
him to get to Siwa's heaven? These were the complaints 
of the heavenly soldiers . Why was it so easy for Lubdaka 
to get to heaven, since all he did was to hunt and kill 
animals? He was never seen performing yoga or medita- 
tion. How can he be allowed to come here? Those 
were their complaints, my little ones. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. "It 
would be fitting to plunge him into the painful fires of 
hell, because his sins overwhelmed his good deeds. The 
armies of hell know who deserves to go to heaven and 
who deserves to go to hell. Lubdaka was a sinful per- 
son. He committed the sin of killing. It is fitting that he 
should go to hell, and that he should be tortured there." 



Nah (Jening cucun pekak ajak makejang. "Sapunapi 
punang adnyana tan ugi banget nyungkalik. Hyang Siwa 
mawastu sayang maring atmane I Lubdaka. Iduk nguni 
sajeroning urip, memati-mati sarwa buron, brasta lampus. 
Serahina tan rungu tan nyalanang brata semadi. Teka 
aluh Siwa Lokane pangguha." Ada mase cening 
pekaengan para Gana para Balane. "Dadi aluh pesan ia 
I Lubdaka kel maan Suarga. Sawireh laksanan iane 
meburu memati-mati. Sing taen ia tepuk ngelarang tapa 
brata yoga semadi. Dadi jeg nyidaang." Ada ane 
mekaengan keketo ning. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. "Patut tumibeng 
ring kawah, Yama Bala menyakitin. Dening dosan ia 
kalintang. tan kahawanan Sila Brahti. Yama Bala 
sampun uning sira, suarga sira letuh. Lubdaka jatma 
corah. Mengambekang Himsa Karmi ipun. Sandang 
weruh kepradnyan yoga Yama Loka. Mangden weruh 
sayuwakti kaprejaya Yama Loka. Yama bala." 



Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. "Bagaimana 
maksud paduka, nampaknya terbalik. Paduka Hyang Siwa 
menaruh kasih sayang kepada atmanya si Lubdaka. Yang 
lampau, ketika dia masih hidup, tak terhitung binatang 
yang dia bunuh. Dibinasakan. Setiap hari tak pernah hirau 
untuk melaksanakan berata dan semadi. Kenapa dengan 
mudahnya dia mendapatkan sorga?" Demikian sesalan 
beberapa prajurit, para Gana. "Kenapa demikian 
mudahnya Lubdaka bakalan mendapatkan sorga? Melihat 
perlakukannya selalu berburu dan membunuh. Tidak 
pernah dalam hidupnya dia melaksanakan tapa, brata, 
yoga dan semadi. Kenapa dia dapat sorga?" Ada juga yang 
mengeluh seperti itu, ning. 

Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. "Patut dia 
dicebloskan di kawah neraka, disiksa oleh wadwa- 
wadwanya Sanghyang Yama. Hidupnya dipenuhi dosa 
besar. Tak berdasar perbuatan baik. Para pasukan Yama 
telah mengetahui dia adalah orang kotor bila dimasukkan 
ke sorga. Lubdaka manusia biadab. Menghalalkan cara 
dengan bunuh dan membunuh. Harus diketahui 
perlakuannya oleh penguasa Neraka. Mestinya dia 
dicincang disiksa oleh prajurit wadwa Yama di Neraka." 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



87 



Tne Invisible Mirror 



■NII9 












•> tj> j5 «M 'O*» -VTO v'^ «I' «tJ ^'1 </» !rr o <^ o «^w jJ^ ic^^ TAO jp t^ 






Yes, all you little grandchildren of your grandfather. This 
is what the heavenly soldiers said to Lord Siwa. "Please 
reconsider. Actually Lubdaka is a sinful man. He never 
cared about performing yoga or mediation. There is no 
doubt that Lubdaka is sinful. It is entirely fitting that he 
should be plunged into hell. 



Cening cucun pekak ajak makejang. Dini para Balane 
para Ganane matur mase mejeng ring Ida Batara Siwa. 
"Patut timbang-timbang dumun. Maka sejatine ipun I 
Lubdaka jadma corah. Tan naenang ngelarang tapa yoga 
semadi. Sepatutnya mejanten pisan, ipun Lubdaka jadma 
corah, patut, patut pisan sampun ipun di Kawah Yama 
Lokane." 



Cening, cucu-cucu kakek semuanya. Di sini para prajurit 
Gana menyampaikan, mengingatkan kehadapan Batara 
Siwa. "Seyogyanya ditimbang-timbang lebih matang. 
Sesungguhya si Lubdaka itu adalah manusia durhaka. 
Tidak pernah melaksanakan tapa, yoga, dan semadi. 
Sepatutnya, oleh karena sudah pasti si Lubdaka adalah 
manusia kurang ajar, semestinya dia sudah dicebloskan 
di Neraka." 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
Listen well and pay attention, my little ones. This is im- 
portant, my little ones. This, little grandchildren of your 
grandfather, is what the soldiers of heaven said to Siwa. 
Then Siwa answered, "Well, my children, please listen 
now. He has performed ritual obligations in the past while 
he was still aUve. He performed the ritual of Siwa's night." 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather, lis- 
ten well and pay attention, because Siwa's words are 
important, my little ones. 'He performed the ritual of 
Siwa's night in accordance with the written religious 
teachings. For instance he performed the ritual medita- 
tion that is known as the observance of Siwa's night. That 
is why, my children, I want you to search for Lubdaka's 
soul. Because it was a great achievement to perform the 
ritual of Siwa's night. Use the heavenly chariot to bring 
him here. Don't let him walk. Give him a seat in it. 
Carry out the orders of your heavenly father." 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Melahang nyen 
medingehan nah ning nah! Ne melah pesan ning. Keto 
nyen cening cucun pekak, atur Gana ring Hyang Siwa. 
Raris Ida nabdab raris. "Uduh cening jwa pirengan 
mangkin. Ada bratania ringuni. Sajeroning ipun 
kantun urip. Siwa ratri kang tinempuh." 



Nah cening cucun pekak, melahang-melahang 
medingehang ne utamane ning! "Siwa ratri kang 
tinempuh. Manut Sanghyang Aji Sastra. Yan upama 
kunang semadi maring dalu manggeh Siwa Ratri 
Kalpa." 

Cening, ento awanania atman Lubdaka papagin. Apan 
dahat nangun brata rikalaning Siwa Ratri. Ikang 
sang puspaka malih. Anggon mapag ia lumaku. Apang 
ada tetegak ia. Baos Bapa jang isinin. Sagee durus 
sapunika baos Ida. 



Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Dengarkan 
dengan seksama, ya ning ya! Ini sangat penting, cening. 
Demikianlah haturnya prajurit Gana kehadapan 
Sanghyang Siwa. Sembari beliau menjawab. "Uduh nanda 
semua. Dengarlah sabdaku ini. Pada waktu yang lampau, 
ketika dia masih hidup, dia pernah melakukan brata. Dia 
melaksanakan Siwa Latri. Malam Siwa peleburan dosa." 

Nah Cening cucu-cucu kakek dengarkan bagian ini 
dengan baik. Bagian utama ini. Malam Siwa Ratri yang 
dilaksanakannya, menurut keutamaan Sanghyang Aji 
Sastra. Ketika melaksanakan semadi pada malam Siwa, 
yang disebut Siwa Latri Kalpa." Cening, oleh 
karenanyalah atmanya si Lubdaka dijemput. "Karena 
sangat utama pahalanya ketika membangun semadi pada 
waktu Malam Siwa. Dia dijemput dalam perjalanannya 
dengan memakai kereta mas sebagai tunggangannya. 
"Penuhilah permintaan Bapa ini, sampai berhasil." 
Demikian sabda beliau. 



Yes, my little ones. This is what Lord Siwa said to all the Nah cening. Biin mewali Ida Batara Siwa, ngandika Nah cening. Batara Siwa kembali bersabda pada para 



88 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 






^f> ^^<U>^ J4^0 ^^:3;^^^ ^^t^p^^iY ^^^-cf^^^-^ij^ 9 "^--^^ss^ c§^7Er^^ C07^^-T,o|^ 



^ 






.:rr. 









< r> 



l)^«OtfPai;P«^«P 



^^.;>^;itim 



heavenly soldiers. "Your heavenly father is telling you 
that Lubdaka has performed what are called ritual obli- 
gations. He had performed the ritual of Siwa's night on 
that special night. That is why it is fitting that you look 
for his soul.That is the reason, my children. It is because 
of what he did on the night of Siwa, my children. It was 
the night called the night of Siwa. He stayed up all night, 
as a way of performing his ritual obligation, of perform- 
ing meditative yoga from the night until the morning. 
That was what he did, my children." Those were the 
words of Siwa to the armies of heaven. "Yes, now go 
look for him. Bring him here. Fulfill the wishes of your 
heavenly father. Please go and do it, all of you." These 
were the words of Siwa, my litde ones.Because Lubdaka 
had proven himself by performing the ritual of Siwa's 
night. 

That's why all of you, my little ones, should be diligent 
in performing the ritual of Siwa's night. Yes. Yeesssss. 
If you have committed many sins and done bad things, 
even though you are young, you should diligently per- 
form the ritual of Siwa's night. Stay awake all night, my 
little ones. It is a night of sacred introspection. That's 
what people say. You should feel my little ones, like you 
are looking inside yourselves. Think about what you have 
done in the past, little ones, based on the principles of 
"Tri Kaya", (three ways of behaving) my little ones. 
Action, Speech, Thought. That's what you should re- 
member on that night. Look inside yourselves, my little 
ones. Remember what you have done, my little ones, 



teken para Ganane makejang. "Ne bapa jani nuturang. 
Sawireh ane malu ia suba ngelarang ane madan brata. 
Suba ia manggeh ngelarang Siwa Ratri, ritatkala wengi. 
Irika marmitanian wenang kepapag atman iane." To 
awanan cening, sawireh ia suba ritatkala Siwa Latri ne to 
ning, malem Siwa Latri keto, suba ia mejaga megadang. 
To satmaka suba ia ngelarang bebratan. Ngelarang tapa 
yoga. Uli peteng nganti kesemengan, keto ning, tel 
pawecanan Ida Batara Siwa mejeng ring para balane. 
"Nah kema papagin! Ajak ia mai. Isinen nyen keneh 
bapane. Lautangmejalan cening ajak makejang!" Keto 
tel pawecanan Ida Batara Siwa nyen ning. Sawireh 
mebukti ia suba ngelarang Siwa Latri. 



Nah sangkaning cening ajak makejang, jemetang cening 
me Siwa Latri nyen nah ! Eh eh eh eh. Yen saget cening 
liu ngelah dosa, kepelihan. . . Uli cenik-cenik jani suba 
nu cenik, jemetang cening ngelarang ane madan Siwa 
latri. Megadang cening. Malem renungan suci, keto 
nak nyatuang. Keneh-kenehang ditu cening. Patut mulat 
sarira. 

Apa ane suba bakat laksanin cening. Medasar baan Tri 
Kaya to, ning. Kayika Wacika Manacika. To suba 
peteng ne to ingetang nyen. Mulat sarira cening. Inget- 
ingetang apa ane suba laksanin cening. A tiban ane suba 
liwat keto. Ha ha ha 



pasukan Gana semua. "Kali ini Bapa menjelaskan. Sebab 
yang lampau dia telah pernah melakukan brata. Dia telah 
berhasil melakukan berata Siwa Latri, semalam suntuk. 
Oleh karenanya sudah sepantasnya atmanya dijemput." 
Ketika malam Siwa Latri itu dia sudah terjaga dan 
begadang semalaman, itu berarti dia sudah melaksanakan 
brata Siwa Latri, cening. Sama dengan dia sudah 
melaksanakan tapa yoga, semalaman sampai pagi. 
Demikian sabda Betara Siwa kehadapan para prajurit bala 
wadwa semua. "Pergi sana, jemput dan bawa dia kemari! 
Penuhilah permintaan Bapamu ini. Silahkan berangkatlah 
nanda semuanya sekarang!" Demikian sungguh sabda 
beliau Batara Siwa, ning. Sudah terbukti dia telah 
melaksanakan Siwa Latri. 



Oleh karenanya, cening cucu-cucu kakek semua, rajin- 
rajinlah melaksanakan brata Siwa Latri yah! Eh eh eh eh. 
Bila cening memiliki banyak dosa, kesalahan... Sejak 
umur kecil seperti sekarang ini cening semestinya rajin 
melaksnakan Siwa Latri. Begadang, cening. Malam 
renungan suci, demikian orang sering menyebutnya. 
Disanalah cening berfikir, merenung, introspeksi diri. Apa 
yang telah cening lakukan berdasar ajaran Trikaya. 
Kayika (perbuatan), wacika (perkataan) dan manacika 
(pikiran). Semalaman itulah cening mesti mengingat-ingat 
serta introspeksi diri. Sambil mengingat-ingat apa yang 
telah cening laksanakan setahun yang telah lewat. Ha ha 
ha. 



Siwaratril^alpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di <lalam Seni Pertunjukan 



89 



Tne Invisible M 



irror 









"l-V 



^ttro 






> n ^- 



-1) in ^T> tj p ^r ^"7 1'> «T^ «^ W^ «T' 'ip k) i«^ €;* P «T *1 ^iT! P (^o \ c/^'j» 5^ 






in the year that has just past. Ha ha ha. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
Now your grandfather is going to continue to tell a little 
more about the journey of Lubdaka's soul, my little ones. 
All the heavenly soldiers bowed down. That means that 
the heavenly army showed their respect to Lord Siwa. 
They called everyone out to help. They ordered all the 
preparations. They sounded the gong. They banged the 
drum. They brought out the grand chariot. All the heav- 
enly soldiers were united in their task, because they did 
not dare oppose Lord Siwa. They all bowed down and 
followed his orders. All the heavenly soldiers bowed 
down respectfully. They called all the soldiers to come 
out and help find and bring back Lubdaka's soul. That's 
the way it was, my little ones. 

Yes, you little grandchildren of your grandfather. Then 
Siwa's white bull encouraged them to pursue their mis- 
sion. The heavenly horses were not far behind. They were 
followed by the elephant chariots and Shiwa's lotus flower 
chariot. All of them were brave and strong. And the 
heavenly soldiers were flying. They felt strong enough 
to destroy anything in their path. There was a buzz of 
shouting sounds. Trumpets blasted. The music of gongs 
and gamelans was played. That's what happened, my little 
ones. The parade of heavenly soldiers was led by Siwa's 
white bull. Si Nandaka. All the heavenly soldiers cheered 
and played gamelan music. They set out on their journey 
towards hell to retrieve the soul of Lubdaka. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Lanturang pekak 
buin abedik. Kenken ia pejalane atman iane Lubdaka, 
ning? Watek Gana sami nembah. Artine para Gana ne 
ning makejang nembah matur sembah majeng ring Ida 
Batara Siwa. Ngatag wadwa mangda mijil. Cerita 
sampun cumawise. Gong Beri, kendang megrudug makta 
puspakane luih. Suba madan sumanggem para Ganane 
ajak makejang. Sawireh sing bani teken Ida Batara Siwa. 
Makejang matur sembah tur makejang ngiring. Lantas 
para balane wadwa Ganane sami nembah. Makejang 
suba pada mengatag wadwa, makejang pang pada pesu. 
Kel ngalih mapag atman iane Lubdaka, keto nyen cening. 



Nah cening cucun pekak. Ada lantas Si Nandaka 
penganjur lampah. Tan doh Dewa Kesa ngiring di durin 
Gana Rata mi wah Puspandanta Tu wu . Sama-sama sura 
sakti. Saha bala-bala mangulayang. Rasa rug 
samasta Bumi. Humiang kunang surak-surak. 
Cinampuhan suaran sungu. Suaran Bende Ian Gong 
Beri. To keto nyen cening. Disubane lantas para Ganane 
makejang, ane mimpin Sinandaka. Keto mase para 
Ganane makejang masuryak, matetabuhan. 
Bakal ngelanturang pejalan ngungsi lantas ke ke 
Yamapati. Kel mapagin atmane Sang Lubdaka. 



Yah cening, cucu-cucu kakek semua. Kakek lanjutkan 
sedikit lagi. Bagaimana perjalanan atmanya si Lubdaka, 
cening? Prajurit Gana semuanya menyembah, kehadapan 
Batara Siwa, seraya memanggil semua prajurit agar 
keluar. Diceriterakan semuanya sudah siap. Gong beri, 
kendang gemuruh mengiringi kereta wahana utama. Para 
prajurit Gana semua sudah bersatu. Oleh karena tidak 
berani terhadap beliau Batara Siwa. Semuanya 
menyembah dan bersedia menyertai. Di sana para prajurit 
Gana menyembah semua. Semuanya memangil seluruh 
wadwa dan semuanya sudah tumpah kejalan, untuk ikut 
mencari, menjemput atmanya si Lubdaka. Demikian 
cening. 



Nah cening cucu-cucu kakek. Ada lembu putih si Nandaka 
berada di gugus depan. Tidak jauh Dewa Kesa mengikuti 
dibelakang Gana Rata dan Puspadanta. Semuanya sakti 
dan pemberani. Serta seluruh prajurit beterbangan. 
Sepertinya hancur bhumi semesta. Gemuruhlah sorak 
sorai, bercampur dengan suara terompet sungu. Suara 
bende dan gong Beri. Demikianlah keadannya cening. 
Seluruh ptrajurit Gana yang dipimpin oleh Si Nandaka 
pada bersorak sorai diiringi suara gamelan. Mereka 
melanjutkan perjalanannya menuju ke Neraka, 
menjemput atmanya si Lubdaka. 



90 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 






4~' iij; .st> ^-fru^ tr> ^ 



f^H,^^ 



r- a l' 



f n1 p n 
^■' ^ »^ jr> iT) 9J> sT) ->Vi 5; CTf> 4P O 

mtaek 



"«r' i77 s cJ* CT» o') rtj) (^/^ a 
■ ■ K^ 



>p tj> ^j" o/ I"» Tjj^ ?'.'^ '^1 'J-) <rT> i,"^ iT) <T^->rr (c> K^t 






iijT7e/>l 






Yes, all you little grandchildren of your grandfather. We 
won't talk about their journey. The king of hell had 
already ordered his army to bring Lubdaka to hell. Yes, 
all you little grandchildren of your grandfather. Now 
we will tell how the heavenly army made their way to- 
wards hell, where Lubdaka was suffering. The soul of 
Lubdaka was there in hell. Oh, Lord. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
They were all in hell looking for Lubdaka. They were 
already all there. Yes, all you little grandchildren of 
your grandfather. One of them had already gone in- 
side, my little ones. He had already made his way in. 
How sinful was Lubdaka's behavior in the past. Oh, 
lord, he did very bad things, but he had performed the 
ritual of Siwa's night. He had stayed awake all night 
long. And that is why all the heavenly armies were 
looking for Lubdaka's soul to bring him to heaven. Yes, 
all you little grandchildren of your grandfather. Be- 
cause we are constrained by time, my little ones, and all 
you other honored listeners, I will finish and stop here 
for now. In the next episode I will continue the story of 
what happens to Lubdaka's soul. Even though, he is a 
sinful soul, will he perhaps be able to get to heaven? 
I will continue the story in the next episode for all you 
honored listeners, you respected elders who enjoy hear- 
ing the story of Lubdaka. Please forgive whatever might 
be missing in my story-telling. I hope you enjoy it, 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Tan kocapan 
lampah ira. Sanghyang Darma kocap mangkin, bala 
sami wus inapag. Atman Lubdaka hu huh Yamaloka. 

Nah cening cucun pekak ajak makejang. Kacerita lantas 
suba para Ganane ngungsi Yamaloka. Sawireh adane ia 
Lubdaka di Yamaloka kesakitin. Atman ia Lubdaka ditu 
di Yamaloka. Beh Dewa Ratu. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Sawireh suba 
madan makejang pada ngeruruh di Yamaloka. Makejang 
suba pada ada. Cening cucun pekak ajak mekajang. 
Abesik, suba nyen ning teleb ning? Suba resepang cening 
to? Kenken ia Lubdaka corah iane, dewa ratu, jelek 
laksanan iane malu. Sakewala suba ia ngelaran ane 
madan Siwa Latri. Megadang mejagra ia. To awanan ia 
papage atman iane ken para bala, para balane di Siwa 
Loka. 

Nah keto nyen cening cucun pekak ajak makejang. 
Sawireh kaiket baan galah adane neh cening. Kenten 
naler pamiarsa sareng sinamian. Amuniki panggelan 
titiang malih, pangkedang titiang . Sane j agi rauh pacang 
lanturang titiang malih, sapunapi penadosne atman ipun 
I Lubdaka. Ipun jadma corah, ngemolihang menawi 
pacang ngemolihang suarga ipun? Sane jagi rauh pacang 
lanturang titiang. Kenten naler pamiarsa sareng 
sinamian. Lingsir-lingsire sane oneng ring satuan ipun 
Lubdaka. Menawi kirang, menawi langkung antuk 
titiang, ledang aksamayang. Duwaning kewentenan 



Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Tidak 
diceriterakan perjalanan mereka. Tersebutlah Sanghyang 
Darma sekarang yang telah mengerahkan seluruh 
wadwanya juga untuk menjemput atmanya si Lubdaka, 
dibawa ke Neraka. Uh uh uh. Nah cening cucu-cucu kakek 
semuanya. Diceriterakan sekarang pasukan Gana menuju 
Yamaloka. Oleh karena Lubdaka berada di Yamaloka, 
disiksa. Atmanya si Lubdaka ada di sana di Yamaloka. 
Ya ampun. 

Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Semuanya sudah 
tumpah ke Yamaloka untuk mencarinya. Semuanya sudah 
pada siap. Cening, cucu-cucu kakek semuanya. Untuk 
yang satu ini apakah cening sudah memahami? Apakah 
cening sudah mengerti? Bagaimana durhaka sifatnya si 
Lubdaka, ya ampun, yang lampau sangat jelek 
pelaksanaannya. Namun dia sudah melaksanakan Siwa 
Latri, begadang semalam suntuk tanpa tidur sedtkitpun. 
Itulah sebabnya atmanya dijemput oleh para pasukan 
prajurit sorga di Siwaloka. Nah demikianlah 
sesungguhnya cucu-cucu kakek semuanya. Oleh karena 
diikat oleh waktu, demikian juga dengan pemirsa semua. 
Sampai di sini saya sudahi, saya hentikan dulu. Pada 
kesempatan yang akan datang saya lanjutkan lagi. 
Bagaimana jadinya atmanya dia, si Lubdaka. Dia manusia 
durhaka. Akankah dia barangkali mendapatkan sorga 
nantinya? Pada waktunya yang akan datang akan saya 
sambung lagi. Demikian para memirsa semua, terutama 
para tetua yang senang akan ceriteranya si Lubdaka. 
Kurang lebih dalam saya membawakan acara ini agar sudi 



Smaratrikalpa: Balinese Literature in Perfonnance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



91 



Tne Invisible Mirror 



JTttJ) 



•6 



if r ^ tcxro '? trt> p ^.•^' -) ^n '^'Vj »■ 



>7tM 



o;;^ » c-* i^ii' 





}")iM'fS-^nPopCf'i^ 






despite the inadequacy in the way I tell Lubdaka's story. 
Surely all of you already know about Lubdaka. He is only 
a hunter. But this story is essential for understanding why 
we perform the ritual of Siwa's night. It's very impor- 
tant. Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
Please remember, my little ones, remember. 



Yes, it is truly a great story. That's all for now. I will 
end with a closing blessing. "Om Santi, sand, santi, om. " 
(May there be peace in your hearts, peace on earth, and 
peace in the heavens."). 



titiang ngelanturang satuan ipun Lubdaka. Puniki 
mejanten sampun sareng sami uning ring saperindikan 
ipun I Lubdaka. Ipun wantah juru boros asapunika. 
Nah niki unteng ne pisan niki ngelarang Siwa Latri, sane 
mebuat pisan. Utama pisan. Nah cening cucun pekak ajak 
makejang. Ingeten nyen ning, em inget-ingeten ne ning 
nah. Aee to melah pesan ning. 

Ainggih amunika riin, Puputang titiang antuk perama 
santi. "Om Santi Santi Santi Om." 



kiranya memaafkan, keterbatasan saya dalam melanjutkan 
ceiteranya si Lubdaka. Sesungguhnya semuanya kiranya 
sudah tahu tentang keberadaan dia si Lubdaka. Dia 
memang berprofesi sebagai pemburu. Yah, inti utamanya 
adalah melaksanakan Siwa Latri. Sangat Utama. Nah 
cening, cucu-cucu kakek semuanya. Ingatlah yang ini, 
emmm ingat yah! Ya, ini memang sangat baik, cening. 

Yah sampai di sini dulu, saya selesaikan dengan 
menghaturkan paramasanti. "Om Santi, Santi, Santi, Om " 




92 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mi 



rror 






O 






»P -^ O?o5> ^T) JTr> Cl)> <rT) «5 V "^ "^"^ 9 *'' *^ ^ «^ "^^ '^ '^ "^i^ 




Siwaratrikalpa as Satua: Lubdaka's story as broadcast in Balinese on RRI Denpasar (Episode 5) 
Siwaratril^alpa Sebagai Ceritera: Kisab Lubdaba dalam Mesatua Bab disiarkan melalui RRI Denpasar (Episode 5) 



ENGLISH 



BALI / KAWI 



NDONESIA 



Jagra: "0?n Swastyastu. " Yes, all you honored listen- 
ers. This day is the time for me to continue again telling 
you the story of Lubdaka. I hope all you listeners will be 
happy to hear it. Please forgive me and allow me to con- 
tinue telling the story of Lubdaka to the end, because it 
is full of meaning that should be known by all children, 
and by anyone interested in learning more about the Ba- 
linese story of Lubdaka. Perhaps it might be useful to 
know the meaning of what happens on the night of Siwa, 
while we are still following our life's path in the material 
world. It is best enjoyed when it is told to the end. I hope 
all you listeners will enjoy the contents of Lubdaka's 
story, so please forgive me. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
And also all you elderly listeners who enjoy hearing sto- 
ries, and especially the one about Lubdaka. Now I am 
going to continue his story. 

In the previous episode, all you little grandchildren of 
your grandfather, we heard about Lubdaka's arrival in 
hell. His soul was floating aimlessly between heaven and 
hell. That's what your grandfather thought. The demonic 
soldiers of Sanghyang Dharma were sent to capture 
Lubdaka's soul and bring it to hell, my little ones. Now 
Sanghyang Dharma ordered his army of demons, their 



Jagra: "Om Swastyastu." Inggih ida dane pamiarsa 
sareng sinamian. Wantah rahina ne mangkin galah titiang 
pacang ngelanturang malih, inggih punika satuan ipun I 
Lubdaka. Mangdane ledang pamiarsa sareng sinamian 
ngaksamayang. Napi mahawinan? Titiang mangdane 
prasida lantur, nyantos puput satuan ipun I Lubdaka. 
Duwaning niki mabuat pisan. Mangdane kauningin ring 
para alit-alit druwene maka sami. Tios ring punika naler 
wenten sane mebuat mapekayun uning ring daging indik 
satuan ipun I Lubdaka. Sapunapi menawi pikenoh ipun? 
Sapunapi pikenoh ipun ritatkala wenten Siwa Latri, ring 
sajeroning ngemargiang kauripan ring Mercapada. 
Ledangan yen ten nyatos puput ten becik punika. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Kenten naler 
para lingsire maka sami, sane wantah seneng mirengan 
satua. Puniki pamekas satuan ipun I Lubdaka. Mangkin 
titiang pacang malih ngelanturang satuan ipun. 

Duke sampun lintang, . . . nah cening cucun pekak ajak 
makejang, satuan iane suba liwat, kenken ia Lubdaka? 
la suba ada di Yamaloka wewidangan. Nah suba atman 
iane kelapu-lapu kala nuju suarga. Keto yen kenehang 
pekak. Ada lantas ane madan Bala-balane Sanghyang 
Darma, em ngutus para Balane ane ada di Yamaloka. 
Apang alih ja atmane Lubdaka buat ke Yamaloka to ning. 



Jagra: "Om Swastyastu. "Ya, para pemirsa yang 
budiman. Hari ini, saatnya saya melanjutkan berceritera 
lagi tentang certeranya si Lubdaka. Semoga para pemirsa 
semua dapat mem;iklumi dan memaafkan saya. Kenapa? 
Keinginan saya agar bisa lanjut menceriterakan kisahnya 
si Lubdaka, sampai selesai. Karena ceritera ini sangat 
penting, sarat akan makna, dengan harapan dapat 
diketahui dan dipahami oleh anak-anak semua, dan oleh 
mereka yang menaruh minat untuk memahami seluk beluk 
dan pemaknaan dari kisahnya si Lubdaka ini. Apa 
sesungguhnya makna yang terkandung dalam ceritera ini? 
Apa makna perayaan malam Siwa Latri itu, oila dikaitkan 
dengan menjalani kehidupan di dunia ini? Kalau tidak 
tuntas diceriterakan, kiranya kurang baik. 

Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya, demikian juga 
dengan para tetua yang senang mendengarkan ceritera. 
Ceritera ini adalah cerita hidupnya si Lubdaka. 



Cening cucu-cucu kakek semua, pada bagian terdahulu 
kakek telah memaparkan bagaimana keadaan si Lubdaka 
berada di wilayah Yamaloka. Yah atmanya sedang 
terlunta-lunta ketika menuju sorga. Demikianlah kiranya. 
Sanghyang Darma mengutus bala-wadwa Yamaloka, 
untuk mencari atmanya si Lubdaka, untuk diajak ke 
Neraka. Sanghyang Darma memerintahkan para patih, 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Pertunjukan 



93 



Trie Invisible Mirror 













Oivi 



S^S^mHi^^-x; 






r)^-Ptio-'W'jT>-."Tu 



^ , ^> ^"^"^ ' '-^ ''^ ■j/n-'i'-^^j; ^''^ 5 



commander, and all his other henchmen in hell to look 
for the soul of Lubdaka so that they could capture and 
torture him. That's what Sanghyang Dharma asked them 
to do. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. We 
won't talk about the details of their journey yet. Now 
your grandfather will tell you what was happening in hell 
where the demonic armies were about to leave their pal- 
ace. They couldn't stop imagining how much they would 
enjoy flogging Lubdaka. They dreamed about how much 
fun they would have. Whatever it would take, nothing 
would stop them from torturing Lubdaka. That was their 
desire. It would be a feast of pleasure for them. They 
would gobble him up. 

Now I will tell about their journey. They set out in a snarl- 
ing mob. It was a horrifying sight. Oh, my lord. There 
were double-sided swords, daggers, axes, and arrows. 
Their uniforms smoldered with flames. Their fangs were 
jagged and glistening. They breathed fire. They chomped 
their teeth in anticipation of a meal. That's how it was, 
my little ones. Oh, lord, what horrifying uniforms, and 
jagged glistening fangs. Oh, lord, fire was coming out 
of their fangs. They chomped their teeth impatiently. 
They couldn't wait to eat. They were looking for a meal. 
The first mob of terrorizers set out on their journey fol- 
lowed by even more horrific terrorizers and the demon 
of time. The Pain inflictors marched behind them, and in 



Jani Sanghyang Darma nitahang para balane patih 
makejang, nah antek-antekne ada di Yamaloka, apang 
ngalih ia, atman iane Lubdaka. Turmaning sida katemu, 
pang prasida kesakitin ditu. Keto nyen pengidihne 
Sanghyang Darma. 

Nah cening cucun pekak ajak makejang. Tan kacerita 
lantas lampah ira ditu di jalane. Jani lanturang pekak 
buin. Ada ne lantas jani suba di Yamaloka, Hyang 
Yama keto adane. Yama Balane tan sah ngiring yatna 
pacang lumaksana medal sakeng Puri sampun. Setata 
mengayam-ngayam, ngemaranin Lubdaka pacang 
kebayang-bayang. Peh, dewa ratu, demen iane pang 
nyidaang ja uli kenken ja ben, pang maan ja nyakitin I 
Lubdaka. Keto nyen dotne. Demen yen cara dedaaran, 
maan ane madan tetadahan, keto ning. 

Nah kecerita lantas mejalan. Nuli mangkat sregehan. 
Karura kara ngereresin. Beh, dewa ratu. Limpung, 
kadga, pasu, raras. Busanane ngendih murub. Caling ne 
ngeranyab tur renggah. Medal geni. Kriet-kriet nagih 
nadah. Keto nyen ning. Dewa ratu pengagon iane, 
jeg ngeranyab, calingne renggah. Peh, dewa ratu, pesu 
api caling iane. Kriet-kriet jeg suba sepanan, ia suba 
nagih ngamah. Nagih nadah, keto cening. Ikang 
Canda lumampaha. Pracanda tan sah mengiring 
maka miwah Hyang Kala. Gora Wikrama lumaku. 
Mahacanda paramaestya. Murub ngedih sarwa 
endah kang busana. To cara raos kak busan. 



dan bala prajuritnya, yah antek-antek Neraka semua, agar 
diupayakan dengan keras mendapatkan atmanya si 
Lubdaka, untuk disiksa di sana. Demikianah permintaan 
beliau Sanghyang Darma. 



Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya. Sekarang kakek 
lanjutkan lagi, bagainama perjalanan mereka. 
Diceriterakan di Neraka, Sanghyang Yama keluar dari 
istana diiringi oleh para balawadwa, bergegas berangkat, 
sembari memanggil-manggil mendekati si Lubdaka. Ya 
ampun, senangnya mereka luar biasa dalam mencari 
atmanya si Lubdaka untuk disiksa. Bagaimanapun 
caranya akan diusahakan. Demikianlah keinginanya. 
Kalau diibaratkan dalam memenuhi selera makan, dia 
akan dijadikan mangsa yang lezat. 

Yah cening, kemudian berangkatlah semuanya. Mereka 
berangkat bergerombol sambil cekekehan sangat 
menakutkan. Ya Tuhan. Bersenjatakan tombak, keris, 
kapak, panah. Busananya gemerlapan. Taringnya 
keluarkan api, mengkilap panjang dan runcing suara 
giginya kriet-kriet mau memangsa. Demikianlah cening. 
Gemerlap cahaya pakaian mereka dan taringnya runcing 
menjulur keluar, dan bahkan dari taringnya keluar api, 
sembari gigiya kriet-kriet, ya ampun, mereka tak sabaran 
ingin mengunyah si Lundaka. Demikian cening. Sang 
Canda bergegas berjalan. Diikuti oleh Pracanda dan juga 
Hyang Kala. Gora Wikrama dan petinggi Mahacanda juga 
berangkat. Beragam dan menyala busana mereka. Seperti 



94 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 






w r 



^•"«-ItA^sD 









oo fj ~rp or \-^p -o^ tm ^^ o 'vjif 






'^^ 
^^>^^^\^ 



-"tf«,rj|."0»^ 



•-Ten uy> jp j^ ♦» «^ <t)ort, 



ftCi^T'P'rj;^ 'inr> xn «^ 




the rear were the crudest terrorizers of all. All of them 
wore different kinds of flaming uniforms, as your grand- 
father just said. They all had different ways of walking 
to express their eagerness. They were all glowing in 
flames. That's the way it was, my little ones. That's what 
it was like to see the armies of hell. 



Mangendah paripolah lampah iane. Ngedengan egar 
manah iane. Makejang mecahya ngedih. Emm keto ning. 
Keto nyen para Bala ane ada di Yamaloka. 



yang kakek ceriterakan tadi. Kelakuam mereka juga aneh- 
aneh. Semuanya berbinar-binar sebagai ekspresi 
kegembiraan mereka. Yah, seperti itulah cening. Begitulah 
keadaan bala-wadwa dari Neraka. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. Let 
your grandfather continue the story of all the demonic 
soldiers. The world is full of screams. Some of them are 
flying in the air. Their march inspires fear. They flood 
over the land like an ocean. Their angry stomping stormed 
towards the soul of Lubdaka. Some of them were up in 
the air. They could fly. There were all kinds of shouting 
and singing. Lord, the sound of the stomping was over- 
whelming, my little ones. 

Now your grandfather will continue the story. Now the 
soul of Lubdaka was surprised and terrified. He saw the 
fierce demons of hell. Oh, how astonished he was, all 
you httle grandchildren of your grandfather. And Lubdaka 
was also trembling with fear. He was truly terrified at 
the sight of the fierce demons from hell. Look, look, 
look how he is shaking. He cried and begged for mercy. 

Then the armies of hell arrived. Then they marched closer, 
puffing up their chests, snapping and clenching their fists, 
my little ones. Lord Lubdaka's soul cries begging for 
mercy. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Lanturang 
pekak malu. Turmaning lantas meduluran Bala peka to 
makejang, ning, gumiang mesuryak antri. Wenten 
ngelayang ngambara. Menyejehin punang laku. Luir 
segara ngelancah Buana. Ngerudug sengit keungsi atman 
iane Lubdaka. Emm ada beduwur, ada ne bisa mekeber. 
Mesuryak megegendingan mengendah. Ngerudug peh, 
dewa ratu, ramene keto ning. 



Lanturang pekak buin lantas. Kacerita mangkin atman 
ipun I Lubdaka yukti makesyab, jejehe tan kadi-kadi, 
ngeton Sang Kingkara galak. Beh mekesyab ia cening 
cucun pekak ajak makejang. Turmaning misi ngejer ia I 
Lubdaka. Jejeh ia tan kadi-kadi. Nepukin lantas Sang 
Kingkara galak. To to to tan sah ngetor. Tibra nangis 
kasih-kasih. 

Rauh Yama Yamabalane. Maraning laut menuding, 
mecegik jeg mengembulan keto ning. Tuh, dewa ratu, 
ngeling atmane I Lubdaka ditu kasih-kasih. 



Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya. Kakek teruskan 
saja dulu. Sembari diikuti oleh prajurit-prajurit semua, 
ning, gemuruhlah bersorak sorai. Ada yang melayang 
terbang di angkasa. Menakutkan perjalanannya. Ibaratnya 
sunami melanda bumi. Semuanya berang mencari 
atmanya si Lubdaka. Yah, ada yang bisa terbang di atas. 
Bergerombol, beragam ulahnya, bersorak-sorak sambil 
bernyanyi, waduh, ramenya luar biasa. Demikian cening. 



Kakek lanjutkan lagi. Diceriterakan sekarang atmanya si 
Lubdaka terkejut dan takutnya tak terhingga, 
menyaksikan galaknya para Kingkara. Sungguh dia sangat 
terkjut membuat sekujur tubuhnya menggigil, cucuku. 
Takutnya sungguh tak ketulungan, melihat galaknya para 
Kingkara. Yah, tuh tuh tuh sembari menangis memelas, 
menggigil ketakutan. 

Pasukan Yama tiba, sembari menuding membentak 
dengan cekak dan garangnya. Ya ampun, atmanya si 
Lubdaka menangis memelas mohon pertolongan. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



95 



Tne Invisible M 



irror 



*^^^^^x5^^SS^«?r^S^^S>Sljf|tjiefi*p^« 



»s^<t% 






^ij<xp»j> O ^ 9-^ !ri« »"> o iT) 0^ -v.;» Tvfo t^ ^ 




"Sn «Nff tP iJ) n'* «JJ t/K) iT) nY CT> *V « 



Yes, and now the story goes back to the fierce army of 
hell. Oh, lord, how they screamed. It made Lubdaka 
even more frightened. How did it sound, my little ones. 
Ha ha ha ha hi hi hi ho ho ho ha ha ha aenning. That's 
what it was like. That' s what it sounded like, my little 
ones. "You have committed many sins. It is so. Now you 
will have to accept the consequences.' And then they tied 
him up. Yeeesssss.lt was very scary. They pointed at 
Lubdaka. Now you will feel the pain that comes from 
having committed so many bad deeds. You are full of sin." 



Nah kacerita lantas para Balane Sang Kingkara galak to, 
dewa ratu, ngelur ia ditu. To ngawinang nyangetan ia 
jejeh Lubdaka. Kenken luire gelume ning? "Ha ha ha hi 
hi hi ho ho ho ho ha ha ha aennnnnng keto." Ha ha ha 
keto nyen cening ia munyine. "Jani lantas terima dosan 
caine dahat." Keto pra. "Janten iba nerima bukti jani." 
Tan sangkaran tinanilan. Em em em o aeng san. Tudinge 
ia ditu I Lubdaka. "Jani suba tandang nyen rasane. 
Sawireh iba dahat, dahat corah. Turmaning liu cai ngelah 
pelih." Keto ning. 



Sekarang diceriterakan keganasan prajurut neraka itu 
meraung-raung mereka di sana, seperti ini. "Ha ha ha hi 
hi hi ho ho ho ho ha ha ha aennnnnng" Begitu. Ha ha ha 
begitu suara mereka, cening. Itu yang menambah semakin 
ciut nyalinya si Lubdaka. "Dosamu terlalu besar. Sekarang 
saatnya kamu memetik hasil perbuatanmu." Demikian, 
lantas dia diikat dibelit dengan tali. Waduhhh, sangat 
menakutkan. Si Lubdaka dituding. "Rasakan dirimu 
sekarang. Karena kamu sungguh-sungguh orang durhaka. 
Hidupmu penuh dengan kesalahan." Seperti itu, cening. 



Ali you little grandchildren of your grandfather, and also 
all you other honored listeners. Right away, the soldiers 
tied up Lubdaka with lots of rope. They all grabbed 
Lubdaka. He cried miserably. He called out for his wife 
and childen. 



Cening cucun pekak ajak makejang, kenten naler 
pamiarsa sareng sinamian. Jeg premangke prajani 
kebebed, kebrigu sami ipun I Lubdaka. Sareng sami 
ngejuk ipun I Lubdaka. Ngeling ngiskis, sedih kingking, 
ngambe nyambat pianak somah, kenten. 



Cening, cucu-cucu kakek semua, demikian juga halnya 
dengan para pemirsa semuanya. Dalam waktu sekejap 
atmanya si Lubdaka ditangkap. Seketika itu sekujur 
tubuhnya si Lubdaka diikat dengan ketat. Dia menangis 
terisak-isak sambil memanggil-manggil sanak dan 
istrinya. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. To 
make the story more clear to my grandchildren, your 
grandfather will tell you how the demons of hell met 
Lubdaka. Lubdaka was crying and trembing, and then 
they grabbed him. They tied him up with lots of rope, 
my little ones. There he was crying and calling out to his 
wife and children, my little ones. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Yen satuang 
pekak ne jani pang cening pedas. Disubane lantas 
kecunduk ia para Bala Yamane, katemu ia ajak atmane 
Lubdaka, I Lubdaka ngeling ngejer turmaning ia juka, 
tegule brigue, keto ning. Ditu ia lantas ngajap-ngajap, 
ngeling nyambat pianak, keto mase somah iane, ning. 



Ya, cening, cucu-cucu kakek semuanya. Sekarang kakek 
pertegas lagi, agar cening lebih mengerti. Setelah para 
prajurit Neraka menemukan atmanya si Lubdaka yang 
sedang sedih menangis ketakutan, di sana dia langsung 
disergap. Dia hanya bisa menangis sambil memanggil- 
manggil anak dan istrinya, cening. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
This is how Lubdaka cried out, "Oh, my dear little chil- 
dren, come help your father quickly. The torture is un- 
bearable. " That's what he shouted into the air. That's 



Cening cucun pekak ajak makejang. Asapuniki penyambat 
ipun I Lubdaka. "Uduh cening, cening pianak mami, 
tulungin-tulungin bapa enggal-enggal.Tan gigisan 
sengsarane." Ngawang-awang ring ambara. Keto nyen 



Seperti ini ratapannya si Lubdaka, cening, cucu-cucu 
kakek semua. "Uduh nanda-nanda anakku sayang. Tolong, 
cepatlah tolong ayahmu dari siksaan dan penderitaan ini." 
Demikian dia memanggil-manggil dari alam kosong. 



96 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible M 



irror 



^fji-iV^' 






^■if('jr't^:n'r^tj)^^^nn 






C "- 



^ ^/^ :o trt> iT) -»9 <rv> O -7 <^"''ei^ '^ ^ > <j) ^ 'j;» ^ tr; 4y> o"^ vV^no «.SI <r) ^-j 



ka 







•?f lltj) %-> AC^ iC^ iT) <7? i>!^ J^«,-49 ^^ «^ -Ln .«^ -rj<TPi<^ 0> Ip^ 



'^^^9^5^^J»•CY)^^ 



tT) tor^iy) ^ «fj ^■^'=^^'^ v^ ''J' ■iiif "tj) "3^ 'ty <j^ ^ <^ K^^ 



what he called out, my little ones. He didn't know where 
to go. Whereever he went, the demons of hell chased 
and tortured him. Yes, my little ones, that's what hap- 
pened to him there in hell. His voice rang out in the sky. 
The voice of Lubdaka's sad soul, calling out for his chil- 
dren. It was like that, my little ones. He was telling them 
about the tortures he was suffering in hell. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
They bound him tighter, so that he could not even budge. 
They tied him up so he couldn't move a muscle. "The 
causes of my suffering and bondage were my bad deeds. 
That was the reason why. That was the cause of your 
father's suffering. That's the way it is, my handsome 
little son. According to the armies of hell it's like this, 
my dear. In the past, I admit I made a lot of mistakes. 
That is why your father accepts, accepts, accepts his 
karma. That is why your father is tied up so tightly that 
he cannot move, my dear children." 



ning munyin iane. Tan uning maring marga. Salampah 
laku kaburu. Yamabala manyangsara. Ning, nah uli 
kedituane suba di Yamaloka. Di angkasa rasayang suaran 
atman iane I Lubdaka, sedih mesambatang, nyeritin 
pianakne, keto ning. Turmaning nuturang kesengsaran 
iane ada ditu di Yamaloka. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Sehasa jeg 
mena. . . menalinin. Kabrigu tan sida molah. Keto. Disuba 
metegul ia ning, sing nyidaang mekitipan ia lantas. 
"Wiwilania kocap reko, duskretana dadi sangkan, awinan 
bapa sangsara. Keto jwa cening bagus. "Manut baos 
Yama Balane, kene cening. Ane malu yen kenehang bapa 
saja liu bapa ngelah pelih. To mawinan jani bapa nampi, 
nampi nampi karman. To awanan bapa tegule sing 
nyidaang ngudiang nyen bapa cening." 



Seperti itulah kata-kanya, cening. Tidak tahu jalan yang 
mesti ditempuh. Kemanapun perginya, diburu, dan disiksa 
oleh prajurit dari neraka. Yah, di alam sana di neraka. 
Atmanya si Lubdaka berada di neraka sangat sedih dan 
menderita, memanggil-manggil anaknya, menuturkan 
kesengsaraanya. Suaranya mengawang-awang. 



Yah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Dia diikat 
dengan paksa. Sekujur tubuhnya diikat membuat dia tak 
bisa berkutik. Tidak sedikitpun dia bisa bergerak, karena 
ikatannya amat ketat. "Yang membuat ayahmu sengsara 
kesakitan seperti ini tiada lain karena akibat perbuatan 
ayahmu dahulu penuh dosa. Demikian nanda sayang. 
Kalau ayahda pikir-pikir memang benar seperti apa yang 
dibilang oleh prajurut neraka. Dimasa silam hidup ayah 
penuh dengan kesalahan dan dosa. Oleh karenanya 
sekaranglah saatnya ayah menerima, memetik hasil dari 
perbuatan jahat yang pernah ayah lakukan. Itulah 
sebabnya ayahmu diikat, dan ayah tak bisa lalukan apaun 
anakku." 



Yes, my little ones, and also all you other honored radio 
listeners. He called out again. "Yes, if there is anyone 
who feels pity towards your father, ask him for help. 
Ask them to help me, my dear little ones. In order to do 
that, they should ask for mercy from the armies of hell. 
Your father is begging his family and friends to help him 
by praying for mercy on his behalf, so that the armies of 
hell will forgive me for my past sins. " That's what he 



Nah cening, kenten naler pamiarsa sareng sami.Malih 
ipun masesambatang. "Nah yen saget nyen ada ne braya 
asih teken ukudan bapa, tunden ia maweh tulungan. Orin 
nyen ia nulungin bapa ning.Mangda pedek nunas ica 
maring Ida Sanghyang Yama Bala. Ngidih olas nyen bapa, 
apang prasida nyen nyama brayane nunas icaang bapa. 
Apang prasida sida asung, ngampurayang lantas dosan 
bapane ane malu." Keto sesambatne cening. 



Nah cening, demikian juga pemirsa semuanya. Lagi-lagi 
dia memohon memelas, katanya. "Mohonlah 
pertolongannya bilamana ada kerabat yang menaruh belas 
kasihan terhadap diri ayahmu ini. Suruhlah dia menolong 
ayahmu, nanda, dengan cara menghadap, memohonkan 
ampun kehadapan para prajurut Sanghyang Yama. 
Dengan penuh harap ayah mohon kehadapan kerabat 
untuk memohonkan ampun atas dosa-dosa perbuatan 



Siwaratritalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



97 



Th 



e Invisi 



ble Mirror 



^' 



■^C*^H£)^IJ^S)O«O,.^.v?,CYiOt^^r~W>n1(>ry«^5i0 »>^V^Ll^««I)09Ji>^^;ij)*;>«j^^i)^t;ijT[iyj)yj|<^, 









itO«DO(ii« 



v'^'»^ ■tfO «/O ^j> ^xJT 'w-7 pC^ %V^ t7 ^T> -CV? t*p Of» fc'^ t^ ij1 n\i^ «J7«j^ 



Oft»? «j* JVi o ^ «nO 






7-^-^ 



*7> <) fu k'^ <y ^n) 9j> «/I «ika ij «n fc^ ajo ^ tiT) >, j^ jj^ jj^jj ,tfln /^ ^■T) Oi^^g^ r^ 



'v) 



called out, my little ones. 



"All my neighbors in your houses, listen to the sound of 
my voice from afar. I am suffering in the emptiness of 
limbo. Alone, without a companion. Like a dried 
out coconut husk, being beaten until it shatters. It is 
unbearable. My suffering is not small." That's how it 
was my little ones. 



Oh, he was calling out from the nothingness of limbo, 
lamenting the deeds of his past. Oh, lord, how terrible 
his suffering was there in hell, my little ones. His crying 
was like the mournful song of a bird. The flowing of his 
tears flooded into his voice. "You should know what is 
happening to me, my dear wife. I am here calling out. 
Who will help me in my miserable suffering?" Oh, my 
little ones, that is what Lubdaka called out. He was truly 
suffering terrible tortures there in hell. That's what he 
told his wife and children, my little ones. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather, you 
youngsters who really enjoy Hstening to stories, listen 
carefully. Yes, my little ones, that's what Lubdaka 
called out. The soldiers of hell pointed at him accus- 
ingly. "You, Lubdaka. Which of your relatives 
would dare to come here, begging for mercy that will 
never be granted." 



"Sahanan ta mungguing Puri pireng ugi tangise ngawang- 
awang. Ring ambara nadang jengah. Pedidian tanpa 
kadang. Kadi paangan I nyuh danta. Inyuh danta siuuuh 
riuhnia pinalu. Sengsarane tan gigisan, keto ning." 



Peh di awang-awang sesambatan iane ngambe-ngambe 
apa nyen paripolah iane ane malu, dewa ratu, keras 
pesan nyen sengsarane ne cening ia ditu di Yamaloka 
ning. "Emm keto mase tangis mami suaran kekelik, yeh 
matane tan jalanda gereh iku sambat inggong. Keto adi 
pang tatas. Beli dini asesambat, sira ugi pacang nulungin 
sengsaraning kedahatan." Ooo ning I Lubdaka 
masesambatang. Paundukne to keto bes keras sengsaran 
ia ada ne ditu di Yamaloka. Ketiba lantas teken kurenane. 
Keto mase pianakne, ning. 

Nah cening cucun pekak ajak makejang. Alit-alite naler 
sane wantah seneng mirengan satua, becikan puniki 
mirengan! Nah cening, sapunika sesambat ipun I 
Lubdaka. Yama Bala sahasa nuding sapuniki. "Ih cai 
Lubdaka. Dija ada kadang iba lakar bani teka mai. 
Nunasang iwang tuara lakar kalugrain." 



ayahmu dari masa lampau, nanda." Seperti itulah 
permohonannya, cening. 

"Seisi rumah, dengarlah permohonan saya ini dari awang- 
awang penuh siksaan dan derita menahan rasa malu, 
sendirian tanpa seorangpun yang menemani. Ibaratnya 
tangki buah kelapa kuning yang kering hancur berkeping 
dipukul-pukul. Penderitaan ayah, tak tertahankan, 
anakku." 

Ya ampun, demikianlah ratapannya dari awang-awang 
menyesali perbuatannya yang lampau, membuat dia 
sangat menderita di neraka, cening. "Yah demikianlah 
derita suamimu ibarat tangis si burung kekelik. Air 
matanya mengalir deras; dengarklah kata-kataku. 
Demikian dinda agar kamu mengetahui. Kakanda di sini 
memohon penuh harap. Siapa barangkali yang dapat 
menolong kakanda dari kesengsaraan seperti ini?" Yah, 
seperti itulah kata-katanya si Lubdaka untuk istrinya, 
meratapi deritanya berada di neraka. 

Nah, dengarlah hal ini dengan baik, cening, cucu-cucu 
kakek semuanya, demikian juga dengan anak-anak yang 
senang mendengarkan ceitera. Demikianlah ratapannya 
si Lubdaka. Prajurit neraka menuding sembari berucap 
seperti ini. "Ih kamu Lubdaka. Mana mungkin kerabatmu 
datang kemari? Kalaupun mereka memohonkan ampun, 
tidak akan dikabulkan." 



Yesssss, little grandchildren of your grandfather. That Em em em, cening cucun pekak. Para B alae lantas Em em em demikian prajurit neraka menjawab ratapan 



98 



SiwaratrikcJpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bak Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



«5 



TT 



c^ 



• ^ t) v"^ fvpi) c^ tj^ m jift (T^ »^ 



tVP mSt/ O to "1 «'^ ^CV.<POrcSV'air>'dti 




was the answer of hell's soldiers to Lubdaka's lamenta- 
tions in hell. "Who would ever dare to come here. " That's 
what they said. "No human is brave enough to appear 
here and ask for mercy to release you from the punish- 
ments of the afterlife. It would never be possible." That's 
what Lubdaka heard from the voices of hell's soldiers. 



nyawab. Sesambatan iane Lubdaka ditu di Yamaloka. 
"Dija ada unduk nyen bakal bani." Keto ia. "Sing ada 
kel manusa bani tangkil, nunas icang cai pang prasida 
sing maan hukuman dini di Yamaloka. Kapan ja sing 
nyen nyidaang." Keto pedingina ken pra Bala-balane 
ane ada ditu di Yamaloka. 



si Lubdaka. "Mana mungkin mereka akan datang kemari." 
Katanya. "Tidak bakalan ada manusia datang menghadap 
memohonkan ampun untuk dirimu dari jeratan hukum di 
sini, di neraka. Kapanpun, tidak bakalan mungkin." 
Seperti itu dia dibentak oleh prajurit neraka. 



Then, my little ones, while Lubdaka was being tortured 
by all of hell's soldiers, all of a sudden, the army of 
heaven aixived. They wanted to rescue Lubdaka's soul, 
carrying him away in their chariots. That's what happened 
then, my little ones. He was on his way to heaven. All 
heaven's soldiers came to rescue Lubdaka with their heav- 
enly chariots. They wanted to snatch away Lubdaka's 
soul. That's the way it was, my litde ones. All the heav- 
enly soldiers were shocked to see Lubdaka tied up with 
ropes. 

Then this is what happened. There were the ones who 
tried to defend Lubdaka's soul from the ones who were 
trying to snatch his soul away. This is what they shouted. 
"Hey, you soldiers of hell, now, listen to my words. 
What sin did Lubdaka commit that made you tie him up 
like that?" What did Lubdaka do wrong? That's what 
they asked, my little ones. "Why did you tie him up here?" 

Yes, little grandchildren of your grandfather. There were 
the ones who tried to defend him, my little ones. "You 
are torturing him too cruelly. Actually his deeds in the 
world were good. We were commanded to come here and 



Nah ritatkala I Lubdaka sinangsaran, keto ning. Denikang 
Kingkara sami. Kancit saget prapta watek Gana 
gagesonan. Bipraya pacang ngambil Lubdaka Atmane. 
Puspaka maka piranti. Ooo kene lantas ning. Ada lantas 
di Siwa miriban pekak. Para Bala Siwa Lokane, teka 
bakal mendak saha piranti pemendakan. Bakal nyemak 
atmane Lubdaka. Keto ning. Katanggama watek Ganane 
lumihat ning. I Lubdaka katalinin. 



Keto lantas. Teka lantas ada ane kel membela atman 
iane, ane dot nyemak atman iane Lubdaka. Kene 
sesambatan ya. "Uduh kita Yamabala rengen yeki ujar 
mami. Apa kang dosa Lubdaka katalinin?" Apa pelih 
iane Lubdaka? Keto nyen ning. Dadi tegul ia dini? 



Nah cening cucun pekak. Ada ne kel membela ia, ning. 
"Mahabara dahat denta mabidanda. Jatin ipun langkung 
luih bratania ring jagat. Pisaratane mangkin prapta nora 
lian pacang ngambil Lubdaka. Sakeng pangkon Jagatpati. 



Demikianlah si Lubdaka disiksa oleh pasukan Kingkara 
semua. Tiba-tiba datanglah pasukan Gana tergopoh- 
gopoh, hendak mengambil atmanya si Lubdaka. Kereta 
emas sorgawi sudah disiapkan. Begini kira-kira cening. 
Ada pasukan sorga yang datang untuk membebaskan si 
Lubdaka. Dengan persiapan jemputan, atmanya si 
Lubdaka akan diambil, cening. Alangkah terkejutnya para 
pasukan Gana melihat atmanya si Lubdaka diikat. 



Demikianlah, ada pasukan sorga yang datang untuk 
membela dan membebaskan atmanya si Lubdaka. "Hi 
seluruh pasukan Yama, dengarlah, kata-kataku ini. Apa 
dosanya si Lubdaka, kenapa dia diikat?" Demikian 
cening. "Kenapa dia diikat di sini?" 



Nah cening cucu-cucu kakek, ada yang bakalan membela 
dan membebaskan si Lubdaka. "Terlalu berat kamu 
memberi hukuman padanya, padahal semasa hidupnya 
dia memiliki berata yang hebat di dunia. Pentingnya kami 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



99 



Th 



e Invisible Mirror 



.»«,> o 






^^■'f-^^'^-^^ 



^ / --nr SI 









^ yv- o' ~ ' c/u' " cy 

^ ^ OP o ^ ^ oS:^ ^" V v^n or^p 




take Lubdaka away, on the orders of Lord Siwa. Here 
we are, sent by Lord Siwa. What did he do wrong? 
Did he do something awful? Actually, in the material 
world he was meditating and performing yoga, as you 
all should know. Stop torturing him. Stop inflicting 
pain on Lubdaka's soul. Now we are going to take his 
soul away and bring it to Siwa's heaven, because those 
were Siwa's orders." 



Ne te wake teka ne mai kautus ken Ida Batara Siwa. Apa 
pelih iane? Gede pesan pelih iane? Sakewala di 
j agate, di Mercapada, nak ia suba maan ngelarang tapa 
yoga semadi. Pang cai nawang ajak makejang. De iba 
nu mayang-mayang turmaning nyiksa atman ia Lubdaka. 
Jani wake bakal nyemak atman iane, bakal ajak ke Siwa 
Loka. Mapan ada titah Ida Batara Siwa." 



datang kali ini adalah untuk mengambil si Lubdaka. Atas 
perintah dari Sanghyang Siwa. Kami semua datang 
kemari adalah sebagai utusan dari Bhatara Siwa. Apa 
salahnya dia? Sebesar apakan kesalahannya? Biar kalian 
semua mengetahuinya, pada kenyataannya semasa 
hidupnya di duania fana dia sempat melaksanakan tapa, 
yoga dan semadi. Berhentilah kalian menyakiti, menyiksa 
atmanya si Lubdaka. Sekarang kami akan mengambil 
atmanya, untuk dibaw ke Sorgaloka. Ini adalah pertintah 
dari Bhatara Siwa." 



Yeesssss, do you understand, my httle ones. Wasn't it 
true that the ones who saved him, were the soldiers of 
Siwa's heaven? There is a hell. What is in hell? That 
is the place you might go, my little ones, if you do bad 
things in this life now. Oh, if you like steahng things 
or doing anything else that defies the laws of dharma, 
surely hell is the place you will go, my little ones. You 
will receive awful punishments there. 

That's what happened to Lubdaka. If we look at the 
actions of Lubdaka while he was alive, we all know that 
he liked to kill. He killed all kinds of animals. That's 
the way it was, my little ones. That's why he arrived in 
hell at first. But there were also good deeds. You, my 
little ones, as students, already learned that Siwa's night 
is a time to meditate and perform yoga that can erase the 
bad deeds that you already committed in the past. You 
can do that, my little ones. That was the reason the 
heavenly army rescued Lubdaka. Because on the night 



Emm ba ning ngerti ning? Nah ane membela ia sing 
keto, para Balane di Siwaloka. Ada Yamaloka. Yen di 
Yamalokane, emm biin pidan nyen cening saget 
melaksana jelek di kehidupan janine. Ae demen 
memaling, apa j a luire ngelarang ne madan adarmane, 
sinah ba cening di Yamaloka tongosne. Maan ba ditu 
hukuman gede. 



Emm keto ba carane I Lubdaka. Yen alih maka sujatine 
ajak makejang nawang tingkah laku iane dugas nu idup, 
demen memati-mati. Ngematiang sarwa buron, keto ning. 
Sangkane ia ked malu di Yamaloka. Ada lantas 
keluwihane, ning suba nawang. Turmaning yen cening 
dadi murid, di Siwa Latri ne suba ia satmaka ngelarang 
tapa yoga semadi. To ane nyidaang ngapus kepelihane 
ia ane suba hwat. Ning pang nyidaang keketo nyen ning. 
To ngawinan Ida Batara Siwa risedek Ida nangun yoga 
semadi, kesarengin lantas bareng ne teken I Lubdaka. 



Cening cucuku, apakah cening sudah mengerti? Yang 
membela itu tiada lain adalah prajurit Siwaloka. Ada 
neraka. Tentang keberadaan neraka itu, emmm nanti 
semisalnya dalam kehidupanmu, kamu senang berbuat 
jahat, ya senang mencuri dan sejenisnya, melaksanakan 
kegiatan bertentangan dengan ajaran darma, sudah pasti 
nanda akan disiksa di neraka. Di sana akan mendapat 
hukuman berat. 

Seperti itulah dirinya si Lubdaka. Sesungguhnya, hampir 
semua orang tahu perbuatan si Lubdaka semasa hidupnya 
yakni senang membunuh dan membunuh. Membunuh 
berbagai jenis binatang. Demikian cening. Makanya dia 
terlebih dahulu masuk neraka. Namun ada juga perbutan 
baiknya, yang cening sudah tahu itu. Oleh karenanya 
cening sebagai murid, manakala pada malam hari 
Siwalatri, itulah waktunya melaksankan tapa, yoga dan 
semadi. Perlakuannya itulah yang dapat menghapus 
kesalahannya yang sudah-sudah. Cening cucu kakek agar 



100 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



«r 



VI 



. CI 



tr o if) »>j> ^ itO >r7 ,fo vTo o t;i jf)<^t;i9^ Oil «/|trnnrn t;) ttM^ 



tAh fU^ tn v"^ !;■) t;^ j| J?) ^ ^n io O r" yv> ^ T^'ij^j^ ^ •^«n O «3 1^ 










l)^<»j) ti^'V*!^ iT) '^f^ W^oWl fci 













that Siwa was performing mediation and yoga, Lubdaka 
did the same together with Him. That's what happened, 
my little ones. That's the reason that he was taken to the 
highest place. He will be there together with Siwa in 
heaven. 

Yes, your grandfather will continue a little bit more. 
Lubdaka was carried there by a chariot bejeweled with 
precious glistening rubies. Lubdaka actually ended up 
in Siwa's heaven. "Hey, all of you. Untie Lubdaka right 
away. Free him from his ropes." That's what they said, 
my little ones. That's what was said by the ones who 
wanted to untie Lubdaka quickly. Those were the words 
of Lord Mahadara. Lord Prancada answered him right 
away like this. Your grandfather will tell you first about 
the armies of Siwa's heaven, who asked for the soul's 
immediate release, "Release Lubdaka." Then Lord 
Pracanda answered Lord Mahadara with these words, my 
little ones: 

"Oh, honorable Mahadara. You are speaking great lies. 
I know all about Lubdaka. He has more sins than can be 
counted. He never stopped kiUing. What are you talking 
about, honorable Mahadara." But he did not dare to 
speak rudely. His position in hell was lower than 
Mahadara's. When he addresses someone in Siwa's 
heaven he has to use the word, "honorable. " That's the 
way it is, my little ones. "You are speaking great Ues. I 
know all about Lubdaka. His sins are countless. He 
never stopped killing." This is what was said in hell, by 
hell's soldier. These were the words spoken by the com- 



Keto ning. To mawinang ia bakal maan tongos ane 
matuama. Bareng lakar ditu di Siwa Loka. 



Nah lanturang pekak buin abedik ning. Dulurania nora 
lian kang puspaka masoca mirah mengendih ngendahin. 
I Lubdaka tuhu prapta maring Siwa Loka. "Endah ta 
kita sahananin sang arauh. Enggalang lebang Lubdaka, 
saha ring maka bandania!" Keto nyen ning, sesubane 
lantas prasida, ada ane nonden pang lebang enggalan, 
lebang ia Lubdaka. Keto ning baose sang Mahadara. 
Sang Prancanda null nimbal. Digelis aaaah, keto. Para 
Balane malu satuang pekak malu. Siwa Lokane, nagih 
pang enggal kelesan. Lebang ia Lubdaka. Lantas sautne 
teken sang Pracanda. Sang Pracanda lantas nimbal raose 
toto ning. 

"Ah Mahadara pakulun. Nitia dahat denta mojar. 
Pun Lubdaka ingsun jagi tatas weruh. Dosanya tanpa 
inganan. Tan maren memati-mati. Pih iba 
nondenan.... Ih ah Mahadara 'pakulun'." Tapi sing 
bani ngawag ia. Endepan jabatan iane di Yamaloka. 
Ne di Siwaloka kal misi 'pakulun'. "Ah Mahadara 
'pakulun'." Keto ia ning. 

"Nitya dahat denta mojar, pun Lubdaka ingsun jati 
tatas weruh. Dosania tanpa inganan tan maren 
memati-mati." Keto atume di Yamaloka. Di Yama 
bala keto ning. Disubane keketo ning matur ia para patihe 
di Yamaloka. "Ampura, Pakulun..." Keto misi ia 



bisa seperti itu nantinya. Manakala Bhatara Siwa 
melaksanakan yoga semadi diikuti oleh si Lubdaka. Itulah 
sebabnya dia bakalan mendapat tempat utama di sorga. 



Yah cucuku. Kakek lanjutkan sediki lagi. Disertai juga 
kereta berbatu permata manikam cermerlang berkilauan 
sebagai wahana jemputan. Sungguh si Lubdaka akan 
sampai di Siwaloka. "Hai dikau semuanya yang baru 
datang. Cepadah lepaskan tali ikatannya si Lubdaka!" 
Demikianlah cening, setelah pada berhasil, ada yang 
menyuruh untuk melepaskan tali ikatannya si Lubdaka. 
Seperti itulah sabda sang Mahadara. Sang Pracanda 
kemudian menjawanya. "Aaaahhh" Demikian. Kakek 
ceriterakan para prajuritnya dulu. Kelompok sorga 
berkeinginan segera melepas tali ikatannya si Lubdaka. 
Dijawablah oleh sang oleh sang Pracanda. "Ih 'yang 
mulia' Mahadara. Bohong besar ucapanmu. Aku 
mengetahui betul tingkah polahnya si Lubdaka. Tidak 
terbilang betapa besar dosanya. Tak hentinya dia 
membunuh. Puih, kamu suruh. ... Ih ih 'yang mulia' dikau 
Mahadara..." Tak berani dia berbicara sembarangan. 
Jabatannya di neraka, jauh lebih rendah. Berhadapan 
dengan yang dari sorga, makanya kata-katanya berisi 
'yang mulia'. Demikian keadaanya cening. "Sungguh 
lancang ucapanmu. Aku tahu persis tentang si Lubdaka. 
Dosanya amat besar, tak pernah hentinya dia membunuh." 
Demikian kata-latanya para prajurit neraka. Disambung 
lagi dengan kata-kata para patih neraka. "Maaf 'yang 



Siwaratritalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



101 



Trie Invisible Mi 



irror 








..Jaiieatl!^.. 













mander of hell's army. "Excuse me, honorable one, " 
were the words he used when speaking to Mahadara. "I 
know everything about him, everything he did while he 
was alive in the material world. The only thing he liked 
to do was to kill. He killed all kinds of animals in the 
mountain forest. That's the reason why I am here in hell 
giving him all the hellish torture that he deserves. Here 
in the burning cauldrons of hell. It is not fitting that he 
be given a place in Siwa's heaven. " 



That's what was said by hell's soldier. "I will not allow 
Lubdaka to be released." Those were the words of 
Pracanda, while calling out to the armies of hell. 
"Quickly, go and tie up Lubdaka's soul more tightly. 
Put him in a cage and beat him and then throw him into 
the burning cauldron. Ummmm. Heh heh heh. " 

He was stubborn as well, my little ones. "I will not give 
him up. No matter what, Lubdaka's soul deserves to be 
thrown into the burning cauldrons. Because he com- 
mitted great sins. Again, this is what he said. "Torture 
him more. Don't hesitate to make him suffer great pain. 
Don't hesitate." That's what he said, my little ones. "Now 
he will harvest, what he planted in the past. He will 
receive the fruits of his past deeds. He was always cruel. 
Now he will be treated cruelly. Yeeessss. That's the way 
the world works. It is not fitting that he be given a good 
place. His actions have proven that he lacks compas- 
sion. Don't let him go. Keep him here in the cauldron 



majeng ring Mahadara. "Titiang tatas uning ring 
kawentenan ipun. Laksanan ipun duk kantun ipun urip 
ring Mercapada. Wantah ipun seneng memati-mati. 
Ngematiang sarwa buron ane ada di Wana Giri. Yeka 
marmitanian, nika sane mahawinan titiang iriki ring 
Yamaloka. Patut nyiksa ipun riki patut polih genah di 
Yamaloka. Di Kawah Cambrohgohmukane riki. Tan 
nyandang ipun polih ring Siwa Loka. Asapunika." 



Keto aturne para Balane di Yamaloka. "Ingsun tan 
pacang lugra, age mangke luputang Lubdaka. 
Mangkana Pracanda wuwus nulikemon watek Yama. 
Age-age kita Lubdaka atmi tinegul. Kumarangkeng 
laut cangcak awan maring Kawah Weci. Emmm he 
he he." 

Cening bengkung mase. "Tiang sing kel ngemaang. 
Cutet tetep atman ia Lubdaka patut ring Kawahe ipun 
magenah. Duwaning gede pelih ipun." Biin ia matur 
kene abetne. "Wehakna kunang lara, mahabara. 
Haywaaa kita walanghati. Haywa kita walanghati." 
Keto ning. Wireh nguni ia tinandur, yogia ipun 
manerima. Panemokang palan pakardin dumun. 
Megawe ala tan ulah. Wiartekang hala kapanggih. 
Eh eh eh asapunika kawentenane. Ten nyandang puniki 
patut icenan genah sane becik. Sampun mejanten ipun 
melaksana sane tan rahayu. Sampunang. Banggiang ipun 
riki ring Kawahe." Ha ha ha. 



mulia'." Demikian katanya dihadapan sang Mahadara. 
"Saya sungguh mengetahui keadaannya, prilakunya si 
Lubdaka, sewaktu dia masih berada di dunia fana. 
Kegemarannya hanyalah membunuh. Membunuh segala 
macam binatang yang berada di hutan-hutan di gunung. 
Oleh karenanya, itulah sebabnya, kami menyiksanya di 
sini di Yamaloka, dan patutlah dia dihukum di sini di 
neraka. Dia harus dijbloskan ke kawah neraka 
Cambragohmuka. Tak pantas dia mendapat sorga. 
Demikian." 

Demikianlah jawaban prajurit neraka. "Saya takkan rela 
melepasnya. Sekarang ini tak bakalan bisa lepas si 
Lubdaka." Demikianlah si Pracanda. Sembari memanggil 
seluruh prajurit neraka. "Segeralah diikat atmanya si 
Lubdaka. Dimasukkan kerangkeng dan dicemplungkan 
pada bara kawah yang paling hina. Emmm he he he." 

Yah bandel juga dia. "Saya takkan pernah melepas. 
Pokoknya atmanya si Lubdaka paling tepat menjadi 
penghuni kawah neraka. Oleh karena kesalahannya yang 
demikian besar." Lagi dia memeritahkan, begini katanya. 
"Beri dia penyiksaan yang paling berat. Jangan takut. 
Jangan ragu. Sekarang patut dia memetik buah 
perbuatannya yang dia tanam dahulu. Dia patut menuai 
hasil dari perbuatannya dahulu. Karena buruknya 
perbuatannya dahulu, maka buruk pulalah hasil yang dia 
harus petik sekarang ini." Demikian cening, 
keberadaannya. Tak wajar dia ini dikasi tempat yang baik. 
Sudah nyata dia berbuat tidak baik. Jangan. Biarkan saja 



102 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mi 



irror 









',V»J 



?^;%»ot3' 



rwt 



i-Cttcn 




of hell. " Ha ha ha. 

All you little grandchildren of your grandfather. He 
was stubborn. He didn't want to release Lubdaka and 
allow his soul to be taken to heaven. Yes, he is still in 
hell, my little ones who are listening to grandfather's 
story. This is where the story stands, my little ones. 
The armies of hell do not want to give him up, my little 
ones. The armies of heaven want to snatch the soul away 
and take it to heaven. They are asking the soldiers of 
hell to release him so he can go to Siwa's heaven. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
Please let your grandfather give you a little advice, my 
little ones. We still have a little more time. Yes, all you 
little grandchildren of your grandfather. I hope that all 
my little ones will Usten well and pay attention. Also all 
of you other honorable listeners who enjoy hearing the 
story of Lubdaka. 

Actually Lubdaka is only a mirror of life's journey. Why 
is Lubdaka being fought over? Actually, in fact, we 
akeady know why. If our actions in the material world 
are not compassionate and kind we will surely end up in 
the cauldrons of hell. 



If we are kind and compassionate we will go to the place 
called Siwa's heaven. The contents of Lubdaka's story 
can be used as a mirror, a guiding support rail to help us 



Cening cucun pekak ajak makejang. Bengkung mase, 
sing baange mase Lubdaka, atmane bakal ngambil 
turmaning ngaturang ke Siwaloka. Nah ne nu di Yamaloka 
ne ning, satuang pekak. Keto lantas pemragatne cening. 
Para balane di Yamaloka. Tetep sing ngemaang nyen 
cening. Keto mase balane di Siwaloka ngerebut pang 
prasida ja keles ia atmane. Suwudang negul keto 
pengidihne para balane di Siwaloka ning. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Pang maan 
mase pekak mabesen teken cening. Nu galahe biin abedik 
pesan. Nah cening cucun pekak ajak makejang. Dumogi 
nyen cening prasida mirengan, ningehang. Kenten naler 
ida dane sareng sinamian sane arsa ledang mirengan 
satuan ipun I Lubdaka. 



Maka sujatin ipun niki wantah sesuluh. Sajeroning 
ngemargiang kahuripan. Napi maka hawinan ipun I 
Lubdaka dados parebutan? Sepatutnyane yen sekalane, 
sayuwakti sareng sami wikan uning. Yen sampun tan 
rahayu laksanane ring Mercapada, janten ring kawahe 
pacang magenah pungkuran. 

Yen rahayu sida ngungsi sane kebaos Siwaloka. Niki 
wantah anggen titi pengancan, sesuluh, daging satuan ipun 
I Lubdaka. Duwaning bobot mautama pisan. Unteng ne 



dia di sini di kawah neraka tempatnya." Ha ha ha 

Cening, cucu-cucu kakek semuanya. Pasukan neraka 
sungguh bandel. Tidak dikasi atmanya si Lubdaka untuk 
dibawa ke sorga. Nah sekarang ini ceritera kakek masih 
berkisar di neraka. Demikianlah akhirnya pasukan Yama 
tetap pada pendiriannya untuk tidak memberi. Demikian 
juga dengan prajurit sorganya, menginginkan atmanya si 
Lubdaka dilepas. Permintaan prajurit sorga ingin 
membebaskan dia dari ikatannya, cening. 



Yah cening, cucu-cucu kakek semuanya, kakek ingin 
berpesan untuk kalian, mungpung masih ada sedikit waktu 
tersisa. Semoga sajalah cening berkenan mendengarkan 
cerita ini dengan sungguh-sungguh. Demikian juga para 
pemirsa yang budiman, yang berkenan mendengarkan 
kisahnya si Lubdakan dengan tekun. 



Sesungguhnya dia ini hanyalah pelita penerangan, dalam 
menjalankan kehidupan di dunia maya ini. Apa sebabnya 
si Lubdaka jadi rebutan? Pada kenyataan semunya sudah 
mengetahui akan perbuatan jahatnya semasa hidupnya 
di dunia fana ini, seyogyanya pantaslah di kawah neraka 
tempatnya nanti. 

Kalau perbuatannya baik, barulah bisa menuju sorga. 
Adapun isi dari ceriteranya si Lubdaka ini memiliki 
makna yang sangat dalam, patutlah dijadikan pegangan, 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



103 



Tne Invisible Mirror 



P 



Ptf' CtV.TCi c * t* »7». , c, , . 



r»-) »?j«^"^o<rt 



"^ ^ « \» o r. o ^■^ «- <f (»> ^ c* 'n c^ <^ C/ n ^ 






ir)«*aHr 






'l* 



cross the bridge of life. That is because it is a story of 
high quahty. Let me tell you a little about it's essential 
meaning, all you little grandchildren of your grandfather. 
On the night of Siwa, be sure to look deeply inside your- 
selves, my little ones. Once a year. That is the moment to 
remember that things you have done, my little ones. On 
Siwa' s night, you should reflect on the deeds you did 
that were not kind and compassionate. 

That is why it is called a night of holy introspection, a 
time to remember the things that you have done. Then 
you should ask for forgiveness from Lord Siwa, my little 
ones. And you should also stay awake all night, my little 
ones. Don't take a pill to stay awake on the night of Siwa. 
Bringing rice and other foods would ruin the ritual. You 
should perform mediation and yoga, my little ones. 
Those are the ritual observances you should follow, my 
little ones. That's the way it is, my httle ones. Ha ha ha. 



pisan dumun titiang matur akidik. Cening cucun pekak. 
Ritatkala Siwa Latri to, melahang pang saja cening sida 
ngelarang mulat sarira. Atiban acepok. Jani te ingetang 
apa ane suba gae cening. Laksana ane tan rahayu, di 
malem Siwa Latri to renungan biin. 



Sangkaning kabaos malem renungan suci. Inget-ingeten 
nyen apa ne suba bakat gae. Yen ditu sida lantas cening 
nunas pangampura majeng ring Ida Batara Siwa. 
Turmaning megadang nyen cening. Da mebuaka, ritatkla 
Siwa Latri mebekel pil pang sing tidur. Ngaba nasi 
magenep-genepan. Pocol. Nyidaang cening ngelarang 
tapa yoga semadi. Keto mase mebrata cening, yen 
nyidaang. Keto ning nah! Ha ha ha nah 



dan titi dalam melangkah, pelita penerangan dalam 
menjalani kehidupan di dunia nyata. Yah cening cucu- 
cucu kakek, sekilas saya berikan esensi dasarnya dari 
ceritera ini. Pada hari malam Siwalatri itu, seyogyanya 
cening dapat mengintrospeksi diri, sekali dalam setahun. 
Ingat-ingatlah di sana apa yang telah cening perbuat. 
Barangkali perbuatan yang kurang baik, pada malam 
Siwalatri itulah patut direnungkan. 

Oleh karenanyalah hari itu disebut sebagai malam 
renungan suci. Ingat-ingatlah apa yang telah dikerjakan. 
Bila saat itu cening mohon pengampunan kehadapan 
beliau Bhatara Siwa, dengan cara begadang semalaman, 
tidak boleh apalagi dengan sengaja berbekal pil anti tidur, 
membawa berbagai makanan. Rugi. Seyogyanya cening 
melaksanakan tapa, yoga dan semadi. Sebisanya cening 
mestinya menjalani dengan baik, dan tidak melanggar 
segala pantangan yang mesti dilakukan. Ha ha ha nah. 



104 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 




o nUiST* 'O -n xl :<r- o -ij jlT 1^ ' 



idJurf»-' 













Yes, all you little grandchildren of your grandfather, and 
also all you other listeners. Please forgive me. I hope 
that next time I will be able to continue the story. I 
hope for the blessing of peace and long life to everyone 
in the world and everything in it. That's all for now. 
Please excuse me. I will end with the closing greeting. 
"Om Santi Santi Santi Om. " ("Let there be peace in your 
heart, peace in the world, and peace in the heavens.") 



Cening cucun pekak ajak makejang. Kenten taler 
pamiarsa. Ledang aksamayang riin. Dumogi sane jagi 
rauh prasida malih titiang ngelanturang. Dumogi 
ngemolihang kerahajengan dirgayusa. Sareng sinamian, 
jagat kenten naler daging jagate. Amunika riiin 
aksamaang tur ampurayang kewentenane. Puputang 
titiang antuk peramasanti. "Om Santi Santi Santi Om." 



Cening, cucu-cucu kakek semua, demikian juga dengan 
para pemirsa semuanya. Saya mohon maaf harus 
menyudahi sampai di si dulu. Semoga dalam kesempatan 
yang akan datang saya dapat lanjutkan lagi. Teriring doa 
semoga saja semuanya termasuk dunia beserta isinya, 
menemui kebahagiaan dan panjang umur. Sampai di sini 
dulu, maafkan atas keberadaan dan kekurangan saya. Saya 
sudahi dengan menghaturkan parama santi. "Om Santi, 
Santi, Santi, Om" 




Siwaratril^alpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



105 



Trie Invisible Mirror 







'.-•<rr 







^TtP^-'J}^ t).«J\5)^•r- 



• ^r^T^P:; •. 



45rt>*J/^?/'V7<U-jT,Ti'^«i'J^rf1l<*\ePC*>«i -^OJT/f t^ 



■'^e*>-/jnJ>«T v^^nptrtiQilcNSifi^Tv^^^^nKajQ 



Siwaratril^alpa as Satua: Lubdaka's story as broadcast in Balinese on RRI Denpasar (Episode 6) 
Siwaratrikalpa Senarai Ceritera: Kisan LuLdaka dalam Mesatua Bali disiarkan melalui RRI Denpasar (Episode 6) 



ENGLISH 



5ALI / KAWI 



NDONE5IA 



Jagra: (the sound of a flute) "Om Swastyastu." Yes all 
you honored listeners, especially all you elderly listen- 
ers, and also you Uttle grandchildren of your grandfa- 
ther, you little ones at home, in the palace, and maybe 
those who are hanging around outside. Maybe those of 
you can-ying a little portable radio might like listening to 
traditional Balinese stories. Now I will continue telhng 
the story of Lubdaka. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. In 
the previous episode, last time, the soul of Lubdaka was 
truly sad. He was sad, because he was being tortured, 
my little ones. And why was that? Because the soldiers 
of hell were more than a little angry. What is the reason 
that the armies of hell were cursing him? Because of the 
evil deeds he did in the material world, while he was 
alive. He was always killing. That's why he deserved pun- 
ishment in hell, my little ones. 



Now your grandfather will continue telling the story. 
Lord Pracanda has already spoken and pointed accus- 
ingly at Lubdaka. Yes, the armies of hell were all pre- 
pared. They were all on a journey. Now they were march- 
ing. They were bringing the soul of Lubdaka to hell. 



Jagra: (Suara suling). "Om Swastyastu." Inggih ida 
dane pamiarsa sareng sinamian, majeng ring para lingsir 
maka sami, kenten naler cucun pekak, cucun titiang sane 
wenten jumah, sane wenten ring puri. Menawi sane 
wenten risedek kantun melancaran, menawi makta radio 
alit menawi, seneng mirengan satua Bali. Titiang mangkin 
ngelanturang satuan ipun I Lubdaka. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Ane malu, ne 
suba liwat, keto, nah atman iane Lubdaka, peh sayuwakti 
sajan sedih. Sebet. Sawireh ia maan siksaan keto ning. 
Emm apa karana keto? Sawireh ada madan bala 
Yamalokane, nah ne sing gigisan pedihne. Apa krana? 
Turmaning bala Yamalokane ngemadakang ya, sawireh 
jele laksanan iane di Mercapada. Dugase nu idup di 
Mercapada, setata memati-mati. Sangkaning ia mapLkolih, 
maan hukuman di Yamaloka, ning. Aa. 



Jani tugtugin pekak buin nyatuang. Disubane, pajar Sang 
Pracanda, nah ia ne matbat I Lubdaka. Keto. Nahmaring 
wadwa yatna Yama balane makejang to. Sami lumaksana. 
Nah mejalan ia jani, atman ia Lubdaka tuhu awan maring 
Yama Puri. 



Jagra: (Suara suling). "0«? Swastyastu". Ya hadirin 
pemirsa semua, terutama pada para tetua semuanya, 
demikian juga dengan cucu-cucu kakek, cucu-cucu saya 
yang ada di rumah, yang ada di puri. Barangkali yang 
masih bepergian sembari membawa radio kecil yang 
memang senang mendengar cerita Bali. Sekarang saya 
melanjutkan lagi ceritanya si Lubdaka. 



Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya. Yang lampau, 
yang telah lewat, diceriterakan atmanya si Lubdaka, 
sungguh sangat menyedihkan. Sedih, karena ia mendapat 
siksaan begitu berat, ning. Emm, apa sebabnya 
demikian? Oleh karena para prajurit Yamaloka, yang 
tidak terbendung amarahnya. Apa yang menyebabkan 
demikian? Tiada lain karena perbuatan jahatnya si 
Lubdaka yang ketika dia masih hidup di dunia fana tak 
hentinya membunuh, menyebabkan para rajurit neraka 
bahkan mengumpat dengan harapan dia dapat menjalani 
hukuman di neraka. Ya, demikian cening. 

Kini kakek lanjutkan lagi ceritanya. Seusai Sang Pracanda 
mencaci-maki si Lubdaka, dia mengingatkan para prajurit 
wadwa Yama untuk waspada selalu. Semuanya berangkat. 
Sungguh atmanya si Lubdaka dibawa ke neraka. 



106 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjutan 



Th 



e mvisi 



We M) 



irror 



# 









^fSV>% 



J vr^ iT-i Cr I.-9 w»«n» i!7 ti»««rtC>1^ ««^ « 



All the soldiers of heaven chased them. Then they 
snatched him away. They placed him in a heavenly 
chariot. And they flew away quickly, my little ones. All 
the soldiers of hell were full of uncontrollable rage. 
Wow. All of hell's armies were angry beyond measure. 
Their anger was popping out of their stomachs. Here was 
Lubdaka, and he was sad, my little ones. In addition to 
that the entire sky was filled with all the armies and their 
weapons. They were advancing with no intention of re- 
treating. Oh, lord the armies of hell were running amok. 
Oh, lord, they were enraged. They were crowded close 
together and stabbing each other. There was the sound of 
shields clashing, my little ones. Oh what a sound, the 
banging of the shields against the swords. It was deafen- 
ing to the ears. They were striking each other. They were 
stabbing each other. They were slicing each other up. 

They bludgeoned each other with clubs. The armies of 
heaven and hell were all expert fighters. Oh, it was a 
wild battle, my little ones. The sound of the fighting 
roared like a mountain landslide. Many of the heavenly 
soldiers were killed. Now the army of heaven lost many 
of its soldiers to death. The same thing happened to the 
soldiers of hell. The soldiers of Siwa's heaven were also 
dying. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. The 
formuatled their strategies and quickly attacked each other 
and fought back. Yes, many soldiers of hell were killed. 
The ones who survived were threatening each other now. 



Watek Gana mangiringan. Disubane kasidan ia karebut 
lantas. Puspaka kunang linggiha. Nah enggal lantas 
ia ngelayang keto ning. Watek Yamane sida mangkin 
krodan iane tanpaingan. Peh. Para bala-balane di 
Yamaloka, pedihne sing kodag-kodag baan, sawireh 
kaliwat gedeg basangne. Dini atmane Lubdaka kasedihan, 
nyen ning. Lenan teken to para balane makejang ada 
ngaba senjata, ngebekin langit. Nulla perang tan sida 
kirigan. Peh, dewa ratu, pengamuk Yamabalane, beh 
dewa ratu, sengit pesan. Ramia sihh sudug-kasudug. 
Suaran tamiang keto ning. Peh munyin tamiange mepalu 
ngajak pedange apa sakaluire, ngempengan kuping. 
Saling wales, saling sudug, saling sempal. 



Magegadan pada ngedengan keririhan, bala-bala Yama 
balane, keto mase balane uli di Siwa Loka. Watek Yama 
muang Gana. Beh meadukan ditu ning. Ngerudug kadi 
blabar ukir. Watek gana mekatah pejah. Jani para Ganane 
te liu mase pada mati. Di bala Yamalokane mase keto. 
Bala Siwa Lokane mase liu mati. 



Cening cucun pekak ajak makejang. Upayane kekardinin 
gelis ngewalesan keto ning. Nah ditu Yama balane katah 
lampus. Sisan padem waluya kaerang-erang sane 
mangkin. Cerita Ugra Kama nama, keto ning, pinaka 



Prajurit sorga, para gana semua mengikutinya. Setelah 
mendapat kesempatan dia kemudian direbut. Dinaikkan 
ke atas kereta kencana. Secepat kilat dia sudah melayang. 
Hal inilah membuat kemarahan prajurit neraka tak 
terhingga. Waduh, kemarahan prajurit neraka tak 
terbilang. Sungguh amat marah mereka. Sementara 
atmanya si Lubdaka di sini kesedihan, cening. Di samping 
itu semua para prajurit tumpah memenuhi angkasa dengan 
membawa senjata. Pecahnya perang tak dapat dielekkan. 
Ya Tuhan, amukan prajurit neraka sangat sengit, ya 
ampun,. Ramai saling tusuk menusuk. Dentingan perisai 
beradu dengan pedang atau senjata yang lainnya, 
suaranya, ya ampun, memekakkan telinga. Balas 
membalas menyerang, saling tusuk, saling tebas. 



Para prajurit Yama beradu dengan para Prajurit Siwa 
berperang memamerkan kepiawian dan ketangkasannya. 
Ada yang bersenjatakan gada. Ya, di antara pasukan Yama 
beradu melawan pasukan Gana, gemuruh bercampur 
ibarat banjir bandang yang datang dari gunung. Prajurit 
Gana banyak yang tergeletak tak bernyawa. Ya, di pihak 
Gana banyak yang mati. Sama halnya dengan prajurit di 
pihak Yama. Banyak juga yang mati. 

Cening, cucu-cucu kakek semuanya. Segala tipu muslihat 
dilakukan ketika membalas serangan. Disanalah pasukan 
Yama banyak yang mati. Sisa dari yang mati menyerang 
membalas dengan garang. Diceriterakan pucuk pimpinan 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjutan 



107 



Trie Invisible M 



irror 












. r r' ^ f/ o' ' o o' 






Now I will tell you the story of Ugra Kama, my little 
ones. He was the commander of all the soldiers. He was 
the one in charge of all the soldiers. He led a flood of 
soldiers. It was truly like a flood.They all marched to- 
gether, making a terrifying sound, my little ones. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. If 
the story can be told, there was a swarm of clashing 
soldiers, the demon army of hell fighting the angelic 
army of heaven. All of them were fighting there. The heav- 
enly army was protecting the soul of Lubdaka.The army 
of hell, oh lord, just wanted to torture Lubdaka's soul, 
my little ones. Each defended their own side. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. It 
was just Uke heroic lions rushing forward to attack their 
wild enemies. Whoever came close was killed. They 
slashed and sliced. Heads rolled. Oh, lord how terrifying 
it was, my little ones. All who witnessed what happened 
there in hell, oh lord, were deeply frightened. There were 
some whose heads were hanging half off their necks. 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. 
Many of hell's soldiers ran away in fear of the heavenly 
army. There was no one to help them, my little ones. And 
then the soldiers of hell all ran away. There was no one 
brave enough to help them in their fight. 



bala pamucuk sareng wadwa mekabehan. Bala 
pamucuken keto mase wadwane makejang, tinuhur gubar, 
peh. Makejang bubar wiakti. Digelis pada lumampah. 
Suarane, beh, ngeresin, ngerudug, keto ning. 



Nah keto nyen cening cucu pekak. Yen satuang meadukan 
para bala-bala Yamabala, keto mase bala Siwalokane. 
Makejang pada ditu mesiat. Siwalokane nindihang atma 
iane Lubdaka. Yamalokane, dewa ratu, mula bakal 
nyiksa atman iane Lubdaka. Keto nyen cening. Peh 
saling tindihin dini. 



Peh cening cucun pekak ajak makejang. Tan bina luir 
Singa kreti ning sigra ngasek manuhun musuh galak. 
Asing -asing parek lampus. Kasempal pegat ngaliling. 
Dahat pih, dewa ratu, ngeresin pisan, ning. Makejang 
anake nepuken ane ditu di Yamaloka, peh dewa ratu, 
ngeresin-ngeresin hati. Ada ane ngatut nu sirahne. 
Baongne keto ada ane pegat. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Dening 
Kingkara sami ajerih melayu, olih watek Ganane, tan 
hana wani manulung, ning. Nah ditu lantas para 
Kingkarane liu ane melaib sing bani metetulung ritatkala 
ada yudane ditu, ning. 



prajurit yang bernama Ugra Kama, yang mengemandoi 
seluruh pasukan berangkat mencar, suaranya gemuruh 
sungguh menakutkan. Begitulah cening. 



Seperti itulah cening, cucu-cucu kakek. Kalau perang itu 
digambarkan dari kedua kubu, baik dari pasukan Yama 
maupun dari pasukan Siwaloka bercampur aduk menjadi 
satu, saling bela membela terhadap atmanya si Lubdaka. 
Pasukan Yama, ya ampun, dengan garangnya bakal 
menyiksa atmanya si Lubdaka. Seperti itulah cening, 
semuanya memberi pembelaan. 

Waduh cening, cucu-cucu kakek semuanya. Tak ubahnya 
ibarat singa lapar amat galak mendekati musuhnya. Setiap 
yang dekat pasti mati. Ditebas, putus berguling. Aduh, 
sungguh sangat mengerikan, cening. Setiap orang yang 
menyaksikan peristiwa itu di neraka menjadi takut dan 
ngeri. Ada kepalanya yang hanya sedikit masih 
tersambung, ada yang lehernya putus. Seperti itulah 
keadaannya. 

Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Selumh pasukan 
Kingkara wadwa Yama lari tungganglanggang dikalahkan 
oleh pasukan Gana, tidak ada yang memberi pembelaan. 
Disanalah kekalahan pasukan Kingkara, mereka pada lari 
tiada lagi yang berani memberikan pertolongan dalam 
berkecamuknya perang itu. 



108 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 




n rT^ 




X>Kf 



,?t^ vT/ -TT^ »/> <1) Jt> V ■^J^V» t^ iff> ^ «.r» o -^^ C^ o -t^ ut\iO v5 Crt) t^ 

■> ^ t^ ^ J, T J.-5V wo p erjr jlT xT/> ■♦XP cJ*^ I"* «^ ^ <v ^ c^^ -^ ^ '^"^ VuTp ^fl^ 






-^ 






^' 




■^ati^o'^cti&^cf'i; 






'iT 



VoQOfC^ 







Yes, all you little grandchildren of your grandfather. To 
make a long story short, now Urdwakesane was looking 
for revenge. And Puspadanta was truly furious. His fol- 
lowers were coming from all directions. The fighting was 
savage and bloody. The army of hell quickly gathered 
their forces. The battle was intense. They were slicing 
and stabbing each other. The army of hell ran away in 
fear. They retreated and regrouped. Both sides wanted 
revenge. One side was angry that they could not torture 
the soul of Lubdaka. But the army of Siwa's heaven 
wanted to bring the soul to appear before lord Siwa.That 
was the goal of heaven's army. 

Whenever we talk about fighting, we remember the sound 
of the Gong Beri. And also the sound of the drum. The 
daggers and spears clashing against each other, oh lord. 
If you saw a film like that, what would it look like, my 
little ones. Oh, lord, there would be a clanging that deaf- 
ened the ears. The wars in the past were different from 
war nowadays. We all know about bombs and rifles. In 
the past the only weapons were swords and daggers. 
That's what it was like, my little ones. 



Now, my little ones the story continues with all the heav- 
enly soldiers attacking quickly with great strength. 
Some of them stayed and some were gone. After that 
Lord Ugrakama arrived suddenly on the battlefield. As 
the story goes. Lord Ugrakarna arrived suddenly. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Gelisang satua. 
Jani suba Urdwakesane tandang wirang. Muang 
Puspadanta tuhu dahat erang-erang kayune. Wadwane 
pablesat reko.Dekdek remuk kabayang-bayang.Yama 
Balane agelis mapupul. Punang yuda rames pisan, saling 
sempal, saling suduk. Ditu lantas ada jerih Yama balane. 
Munduhan raga. Pada mepunduh. Sawireh pada-pada 
ngewirangan. Ngewirangan. Abesik sing maan nyiksa 
atmane Lubdaka. Sakewala Siwalokane pang prasida 
atmane tangkil ring Ida Bhatara Siwa.Keto tetujon 
Siwalokane, ning. 



Peh, yen satuang, yen ada yudane. Yen ane malu ada suba 
suaran Gong Beri. Keto masih munyin kendang, keris 
tumbak saling suduk, peh dewa ratu. Kenken ia yen 
cening mebalih film ne to ning. Keto ba saling klentangne, 
dewa ratu, ngempengan kuping; yen ne malu-malu ada 
perang. Yen jani, sing len keto ning? Ae yen anu dingeh 
ada Bom, ada bedil. Pidan sarwa senjata pedang, keris, 
keto nyen ning. 



Jani kacerita lantas watek Ganane gelis mebayu keto 
ning. Ada ane nu ditu, ada ane ilang. Disubane keto Sang 
Ugrakama geUs turun jani ning. Kacerita Sang Ugrakama 
gelis turun. Puspadanta menandingin maring parcita. 
Mentang raras dahat sakti, dewa ratu, digelis raris 



Cening, cucu-cucu kakek semuanya, singkat cerita, di 
sinilah Urdwakesa yang membalas, berhadapan dengan 
Puspadanta yang hatinya bangkit panas membara untuk 
mengadakan pembelaan. Semua prajurit lari tunggang 
langgang. Hancur berkeping pertahanan Yamabala dan 
bemsaha kembali bersatu. Demikian ramainya perang, 
saling tebas, saling tusuk. Prajurit neraka kalah, sembari 
berkumpul penuh kekecewaan. Disatu pihak kecewa 
karena tidak dapat menyiksa atmanya si Lubdaka. Di lain 
pihak tujuan prajurit sorga semua, memperebutkan 
atmanya si Lubdaka untuk dibawa ke sorga dihadapkan 
dengan Bhatara Siwa. 

Omong-omong tetang perang, kalau di jaman dahulu 
ketika perang ada suara gamelan Gong Beri. Demikian 
juga suara genderang, denting keris tombak yang tengah 
beradu, ya Tuhan, tak ubahnya seperti menonton film saja 
itu layaknya, cening. Kalau perang di jaman dahulu, 
dentingan senjata beradu satu sama lain sungguh 
memekakkan teUnga. Sangat berbeda dengan sekarang. 
Bukankah demikian cening? Ya, yang sekarang senjatanya 
kakek dengar, ada memakai bom, ada senapan bedil. 
Kalau dulu hanya senjata pedang, keris, seperti itu adanya 
cening. 

Sekarang diceriterakan pasukan Gana semakin bertenaga 
pantang menyerah. Ada yang masih di sana dan juga yang 
sudah hilang. Diceriterakan kini sang Ugrakama mran 
ke kancah peraing. Dia berhadapan dengan Puspadanta 
sebagai lawan tandingnya. Dia membentangkan busumya 



Siwaratritalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Pertunjukan 



109 



Trie Invisible Mirror 



>- C\ 'U) ^T jD ^ P *1 'iC 







Puspadanda challenged him to fight. His powerful bow 
was drawn taut. Oh lord, how quickly he released his 
arrow. Ugrakama deflected it swiftly. Swiftly. That's how 
the arrows were shot, my little ones. He released his 
arrow. Ugrakama deflected it swiftly. You should know, 
my little ones, how swiftly he threw up his shield to 
deflect the arrow so that it would not hit him. He used his 
shield, my little ones. 

Now I will tell you how Ugrakama responded. They ex- 
changed blows. Puspadanta was quick and agile in dodg- 
ing the attack. Both Ugrakama and Puspadanta swiftly 
grabbed their clubs. Oh, lord, how Ugrakama blud- 
geoned his opponent. But they were both quick to deflect 
each other's blows. Oh, that's how it was, my little ones. 



The close combat was different than the way it is now 
with rifles, my little ones. But in the old days some of 
the fighters used bamboo spears, my little ones. They 
used sharp bamboo to attack their enemies. Those were 
all the most powerful weapons in the past, my little ones. 



Now, to move the story along more quickly your grand- 
father will not talk anymore about the battle. It was 
witnessed by the soul of Lubdaka, who then hid himself. 
Oh, lord, how furious the battle was. And Lubdaka was 
very frightened, my little ones. He was frightened when 
he saw all the different kinds of weapons. Yes, now we 



linepas. Ugrakarna sigra nangkis. Keto suba 
mepepanahan, ning. Melepas panah. Ugrakama sigra 
nangkis. Nawang ning nangkis? Ngenggalan ia nangkis, 
nambakin pang sing ia kena panah. Nganggon tamiang 
to cening. 



Nah jani satuang biin Ugrakama raris nutug, lantas saling 
timbal. Puspadanta sebet maklesetan mekelid. 
Ugrakama Puspadanta gelis ngambil Gada lantas ajake 
dua to Ugrakama, peh dewa ratu, kacengelin. Sepdigelis 
nangkisan sinambi ngayas tangkis. Duh keto nyen ning. 



Yen ne meyuda, dewa ratu, sing ja cara jani pragat aji 
bedil ning. Kewala dugase malu yen nak mayuda, ada 
mase nganggon gelanggang keto ning. Tiying ane 
melanyingan to anggon ngelawan musuhe. To makejang 
senjata mautama ane malu to ning. 



Nah gelisang satua ning, pekak sing nyatuang biin 
paundukan yudane. Ditu lantas suba pada mabukti, atman 
iane Lubdaka, nah ditu suba maan lantas mesingidan. 
Suba rames perange lantas dewa ratu, sakewala I 
Lubdaka, dewa ratu, nyen jejeh ne ning. Jejeh pesan 
sawireh nepukin saha senjatane. Nah jani satuang biin 



serta menarik anak panah serta melepasnya. Sang 
Ugrasena secepat kilat menangkis. Cening tahu apa itu 
menangkis? Secepat itu dia menangkis dengan perisai, 
mengelak mematahkan serangan agar dia tidak kena 
panah. 



Yah lanjutkan lagi ceriteranya, dimana Ugrakarna 
kemudian gantian membalasnya. Puspadanta cekatan 
seperti kilat berkelit. Selanjutnya Ugrakarna dan 
Puspadanta keduanya mengambil senjata gada. Ya ampun, 
Ugrakama dibabat ketika keduanya bergumul. Secepatnya 
berkelit, mengambil ancang-ancang untuk mengelak. 
Demikian adanya cening. 

Ketika mereka ini berperang beda perangnya dengan cara 
sekarang yang lebih banyak mengandalkan senapan. Di 
jaman dahulu orang berperang, ada juga yang memakai 
gelanggang yang dibuat dari bambu bemjung mncing. 
Itu yang digunakan untuk melawan musuh. Semua itu 
senjata utama pada masa lampau. 

Singkat ceritera, cening, kakek tidak lagi memperpanjang 
jalannya perang. Ketika perang ramai berkecamuk 
atmanya si Lubdaka sempat bersembunyi sembari 
menahan rasa takut. Takutnya ya ampun, karena melihat 
berbagai senjata beterbangan. Kini diceriterakan si 
Ugrakama sudah mati. Pasukan Yama menjadi muram, 



110 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 




1 



will talk about the death of Ugrakama. The army of hell 
fell into disarray after their commander died. They over- 
took each other while running away. 

All the heavenly soldiers advanced closer. They advanced 
and chased their opponents. That's how it was, my little 
ones. The army of hell was defeated, my little ones. 
That's how the story goes. All the heavenly soldiers 
chased them away. Then they attacked Lord Antaka (Lord 
Death). That's what happened to Lord Antaka, my little 
ones. He was accompanied by his fellow soldiers with 
their weapons ready. Lord Nila Gora fought magnifi- 
cently in their defense, my Uttle ones. Ugrakama, their 
commander, Ugrakama was already dead. Because he 
was dead, the army of hell was thrown into confusion, 
isn't that right, my little ones? Their inspiring leader 
was dead. 

And the furious fighting continued. The battle went on 
and on. They fired arrows at each other and stmck each 
other with blows. The army of hell retumed to the 
battle full of rage. They did everything possible to hold 
onto Lubdaka's soul. But he still went towards heaven. 
That's how the story goes, all you little grandchildren of 
your grandfather. 

I won't talk about the armies of hell who appeared be- 
fore their master, the Lord Yamapati. All the heavenly 
soldiers retumed to Siwa's palace. They rejoiced dur- 
ing their joumey, because they had achieved victory on 



Ugrakama, suba lantas ia mati. Yamabalane dahat rimrim 
dening tuhania kalah. Saling langkungin melaib. 



Watek Gana menangsekan. Menangsekan, tan maren 
ngetutwuri. Ketocening. Kacerita cening Yamabalane 
suba kalah. Keto mase watek Ganane ngenggalan nyajag 
ngetut uli duri. Disubane keto lantas sigra nangsek sang 
Antaka. Sang Antaka mangkin keto ning. Kesarengin 
wadwa saha sregep wara yudane. Sang Nila Gora 
Wikrama yukti pacang mebelapati, ning. Ugrakama, ane 
madan Ugrakama wus lampus. Wireh suba madan mati. 
Jani suba bala ne di di Yamaloka, sing keto ning. Peh 
buka bingungan. Anel-anele pemimpine suba mati. 



Keto mase perang rames biin. Biin lantas biin perange, 
saling panah, saling gebug. Buin mewali nyangetan pesu 
jengahne para balane di Yamaloka. Uli kenken ja baane, 
pang sing nyidaang j a keles atmane Lubdaka. Nanging 
sida ngungsi Siwaloka. To keto paundukane cening 
cucun pekak ajak makejang. 



Tan kocapan Yamabalane jani nangkil maring Yamapati. 
Watek Gana mangkin kocap mantuk maring Siwa Puri. 
Egar yan ia di margi. Duwaning sampun sida mangguh 
kawijayan jeroning perang. Atman Lubdakane keniang. 



oleh karena pimpinannya sudah kalah dalam perang. 
Mereka lari tunggang langgang. 



Pasukan Gana mendesaknya. Menekan tems membuntuti. 
Demikian cening. Diceriterakan sekarang balanya Yama 
sudah kalah. Sementara pasukan Gana menerjang 
mebuntuti dari belakang. Setelah itu Sang Antaka segera 
menghadang, diikuti para prajurit pasukan perang. Sang 
Nila Gora Wikrama sungguh akan membalas menghadang 
juga. Si Ugrakarna, yang bemama Ugrakama sudah mati. 
Oleh karena dia sudah tiada, itu yang menyebankan 
pasukan neraka seperti kebingunngan karena tuannya 
sebagai pemimpin yang dihandalkan sudah tiada. 



Demikian perang kembali memanas berkecamuk dengan 
panah memanah, dan saling pukul memukul. Mereka 
bemsahakan mempertahankan atmanya si Lubdaka agar 
tidak lepas dari tangan mereka. Namun akhirnya dia 
berhasil dibawa ke Siwaloka. Perasaan pasukan neraka 
diabuat kesal dan malu. Demikianlah terjadinya peristiwa 
itu. 

Tidak diceriterakan ketika pasukan neraka menghadap 
Tuhannya Sanghyang Yamapati. Pasukan Gana sekarang 
kembali ke sorga. Mereka pada bergembiraria dalam 
perjalanan kembali. Karena mereka sudah berhasil 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



111 



Trie Invisible Mirror 



<7> 






cn^ «rp-rj- -jipio-rn^J^-^mo^r 




IP^*^ 












the battlefield. They had captured Lubdaka's soul. 
They lifted him up onto their chariot. Oh, and then 
Lubdaka felt very happy in his heart, my little ones. 
That's the way it was. Heaven's army returned rejoic- 
ing to Lord Siwa, because they had succeeded in pro- 
tecting the soul of Lubdaka. Why was that, my little 
ones? 



Your grandfather already told you. Actually Lubdaka 
behaved badly while he was still aUve, but he performed 
the ritual of Siwa' s night, on the holy night of introspec- 
tion. That's what your grandfather has been saying 
over and over again, my little ones. On that night he 
stayed awake and vigilant, because he was afraid. At 
the same time, Siwa was performing yoga, and that is 
why Lubdaka achieved the highest results from his intro- 
spection. He reflected back on all this bad deeds, all 
his killing, my little ones. 

And now that he has done that, he is able to go to Siwa's 
heaven. Now Lubdaka quickly approached Lord Siwa 
and sat respectfully before him. Oh, lord, that is the 
way he appeared before Lord Siwa, sitting cross-legged. 
"Oh, child of your father. " Oh, that's what Lord Siwa 
said right away to Lubdaka. "Oh, child of your heav- 
enly father. My happiness is boundless. You are most 
welcome, most welcome indeed. You are in heaven as 
a result of your journey. Your heavenly father ordered 
that you be sought out and brought here to Siwa's heaven. 



Wus pinunut kang puspan puspaka maka genah. Peh 
dini mara lantas merasa ning Lubdaka demen kenehne. 
Keto mase para Ganane, mewali turmaning egar yan 
lantas kel matur ring Ida Batara Siwa. Sawireh suba 
prasida melaning atman iane Lubdaka. Apa krana 
keketo, cening? 



Ane malu suba satuang pekak. Maka sujatine I Lubdaka 
jelek paripolah ne dugas nu idup. Sakewala sangkaning 
ngelarang Siwalatri, malem renungan suci, ditu ning 
wanti-wanti pekak ngorin ning, maan ia lantas ditu 
megadang, mejaga apeteng to. Sangkaning jejeh. 
Risedek lantas Ida Batara Siwa meyoga, ditu ia lantas 
maan pahala ne mautama. Mulat sarira ia. Ngingetang 
mase paundukan iane, jele laksanan iane memati-mati, 
keto nyen ning. 



Sakewala jani suba madan nyidang ning. Ngungsi ane 
madan ke Siwaloka. Lantas jani Lubdaka gelis nangkil. 
Pranata mase metiding. Pih, dewa ratu, abet iane tangkil 
majeng Ida Hyang Siwa, tur Ida gelis ngandika. "Uduh 
cening pianak bapa." Keto nyen cening. Ida Batara 
Siwa mecening-cening teken I Lubdaka. "Uduh cening 
pianak bapa. Tan sinipi girang mami. Swasti rauh. 
Keto muwus swasti prapta. Kamu maring Suralaya 
keneng tuah hawanania. Bapa nguduh ngalih cening. 
Wawan maring Suralaya. Kendel bapane tan sipi. 



menang dalam peperangan. Berhasil memboyong 
atmanya si Lubdaka, didudukkan di atas kereta kencana 
sebagai wahananya. Di sana si Lubdaka baru merasakan 
kegembiraan dalam hatinya. Demikian juga halnya 
dengan para pasukan Gana, penuh keceriaan bakalan 
menghadap Bhatara Siwa. Karena mereka sudah berhasil 
memperebutkan atmanya si Lubdaka. Apa sebab demikian 
cening? 

Yang telah lampau kakek sudah ceriterakan berulangkah 
bahwa prilaku si Lubdaka semasa hidupnya memang 
buruk. Namun oleh karena dia telah berhasil 
melaksanakan malam renungan suci, seperti terus kakek 
utarakan, dia berhasil begadang semalaman, terjaga 
semalam suntuk, berhasil melaksanakan Siwalatri. Dia 
lakukan bertepatan ketika Bhatara Siwa menggelar yoga 
semadi, kendati dia lakukan karena ketakutannya. Oleh 
karenanya dia memperoleh anugrah utama. Demikian 
cening. 

Sekarang dia sudah berhasil menuju ke alam sorga. 
Segeralah si Lubdaka menghadap Sanghyang Siwa, 
sembari duduk bersila. Waduh, lagaknya dia sewaktu 
menghadap Bhatara siwa, dan Bhatara Siwapun bersabda. 
"Uduh nanda, anak bapa." Demikian cening Sanghyang 
Siwa menyebut dia, nanda. "Uduh nanda, anak bapa. 
Betapa senang hatiku. Selamat datang, demikian beliau 
menyapa dengan ucapan selamat datang. Bapalah yang 
mengutus untuk menjemput kamu, untuk diajak ke sini. 
Di Sorgalah tempat yang layak untuk nanda. Bapa sangat 



112 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali ax dalam Seni Pertunjutan 



The Invisible Mirror 



.■n-Tj 



'-^""5^.^'^"*"^-"'^^-'^g^^^'^^ ^ -^iy^^'^&^f^'^-O^^-^l^^i^f^^.-r^j) 



1 jT* ^ jr)'iii lb <J tj <"• ''^•('JPC V ««"'C'-^C' 










my child. Your heavenly father's happiness is limit- 
less. This outcome is the result of your devotion. You 
performed ritual devotions on the night of Siwa. Your 
performance of yoga has yielded good results. Your ef- 
forts have been fruitful. 



Wirang cening wus mabukti, nangun brata ane malu. 
Mangelarang Siwalatri. Siwalatria yoga cening mupu, 
tinemu ayu. Pahalaning gumawe brata." 



senang, karena nanda telah berhasil membangun tapa 
brata pada waktu yang lampau. Melaksanakan Siwalatri. 
Nanda telah berhasil dengan baik dalam melaksanakan 
Siwalatri. Sebagai hasil dari menggelar brata." 



Oh, lord, did you hear, my little ones, what Lord Siwa 
said, "Oh, Lubdaka, my child. "Your grandfather will 
say that again. "Because in the past you performed yoga 
and acts of devotion, you have harvested good results. 
Yes, all you little children of your grandfather. That will 
be the positive result of your performing once a year the 
rituals of Siwa's night, if you truly look deep inside your- 
self. Once a year, you should reflect on the things you 
have done in the past, my little ones. Remember that. 
Don't perform the ritual of Siwa's night in a playful way. 
And that is even more true for all you elderly listeners. 
There are some who want to stay awake, and immedi- 
ately take a pill to stop themselves from sleeping. Don't 
do that. It should be an act that comes from inside your- 
self. The objective and only goal is to come closer to 
Lord Siwa, so that you can purify your thoughts through 
introspection. You should ask forgiveness from Lord 
Siwa for whatever mistakes you have made during the 
year. Isn't that the only goal? 



Peh dewa ratu, cening suba dingeh to pangandikan Ida 
Batara Siwa. "Uduh cening Lubdaka." Biin jumunin 
pekak. "Sangkaning cening ane malu suba ngelarang yoga 
ngelarang brata. To ane luih pahalania." Nah cening cucun 
pekak ajak makejang. Keto nyen luwung ne yen cening 
prasida atiban acepok to, ngelarang ane madan Siwalatri. 
Pang saja-saja mulat sarira. Ngingetang paripolah cening 
atiban acepok. Apa ane suba bakat laksanin? Keto nyen 
ning. Ingetan to. Da nyen cening ngelarang Siwalatri 
meplayan-playanan. Apa buin lantas para lingsir, kenten 
sareng sinamian. Wenten naler sane, peh dot megadang, 
prajani numbas pil pang ten nyidaang sirep kenten; ten 
dados kenten. Mangdane sayuwakti nekeng tuas. Tetujon 
pengaptine wantah pacang nyujur bakti majeng ring Ida 
Bhatara Siwa. Mangda ngeningan kayun mulat sarira. 
Napi sane sampun kemargiang kaone atiban punika, 
ngelungsur pagampura majeng ring Ida. Ten sapunika 
wantah tetujone? 



Uduh cening, kamu dengar tuh sabda beliau Sanghyang 
Siwa? Kakek ulangi lagi. "Uduh nanda Lubdaka. Oleh 
karena nanda telah melaksanakan yoga dan brata pada 
waktu yang lampau. Itulah yang utama pahalanya." Nah 
cening, cucu-cucu kakek semuanya, itulah bagusnya bila 
sekali dalam setahun itu menggelar yang disebut 
Siwalatri. Namun mesti sungguh-sungguh 
mengintrospeksi diri, merenungkan perbuatan cening 
selama setahun sudah lewat. Apa yang dikerjakan? 
Seperti itulah sesungguhnya, cening. Ingat-ingat itu. 
Jangan sampai cening melakukan Siwalatri sambil main- 
main. Terlebih lagi bagi para tetua semua. Ada juga yang 
berkamauan untuk begadang, mendadak membeli pil anti 
tidur; tak boleh begitu. Agar dilakukan dengan hati yang 
tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Maksudnya, 
tujuannya adalah untuk syujud dan bakti kehadapan 
Beliau Bhatara Siwa. Agar cening mau introspeksi diri. 
Apa yang telah dilakukan terutama perbuatan jahat 
setahun yang telah lewat, mohonkan ampun kehadapan 
Beliau. Itulah sesungguhnya tujuannya. 



Yes, all you little children of your grandfather. Listen 
well and pay attention. It has already been proven that 
Lubdaka committed many sins, but he remembered his 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Melahang- 
melahang nyen medingehang! Suba mebukti lantas jele 
solahne Lubdaka, sakewala inget ia teken pelih. Yen 



Nah cening cucu-cucu kakek semuanya, dengarkanlah 
dengan baik-baik. Sudah terbukti, kendati tingkah 
polahnya si Lubdaka buruk, namun dia menyadari akan 



Siwaratritalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



113 



Tne Invisible Mirror 



m 






/r- O n 



"Jjp -ir^ «n^ CLJ -JTl^iT 



>jp»Ji "^ t/) isJItV) s») «r* iifO "UvR «TI»*? 



v^U > 



r?^> o rv^ c^ «^i• »!:; v-^ ^ P ^^> v^ ^»r -c, -tN- 0^ tT' ^^ ?.'^ ^^^ 



mistakes. You, my little ones, should also remember 
the mistakes you have made in the real world, and ask 
your friends and family to forgive your mistakes. In the 
spiritual world, you should ask forgiveness for the mis- 
takes you have made from the lord almighty. It is even 
more true for Lubdaka, because he committed the great 
sin of killing all the animals in the forest that belonged to 
Almighty God. But he can make up for his mistakes on 
Siwa's night, my little ones. 



Yes, all you little children of your grandfather. Hopefully, 
you are paying close attention to this story of Lubdaka. 



Now your grandfather will tell you all about the soldiers 
of heaven and how much they adored Lubdaka, and how 
Lord Siwa spoke to him."Yes, my child, all of heaven's 
army worships you. You were lifted up onto their chari- 
ots. It is a fitting result. Your actions are a useful model 
for everyone in the three realms of heaven, hell and the 
material world. Whatever attire I wear, it is fitting that 
you be clothed in the same way." 



suba cening nyak inget teken pelih, nunas pangampura. 
Di sekalane nyen saget cening ngelah pelih ken nyama 
braya, di niskala majeng ring Ida Sang Hyang Widi. Pelih 
baan cening melaksana. Apa buin cara Lubdaka. Sawireh 
sarwa buronne ada di wana, sangkaning Ida Sang Hyang 
Widi nuwenang. Memati-mati ia lantas ditu. Gede pelihe. 
Sakewala sida ia nebus dosane, ritatkala Siwalatrine, ning 
nah. 



Eh eh eh eh nah cening cucun pekak ajak makejang. 
Dumadak nyen cening teleb madingehang satuan iane 
Lubdaka ne. 

Sahananing watek Ganane jani satuang pekak. Sami bakti 
teken ia, cening. Biin ne lantas Ida Bhatara Siwa 
ngandika. "Nah cening sahananin para Ganane nyen ning 
sami bakti makejang bakti teken cening. Dulurania ratna 
puspaka. Yogya cening mapupuin, mapuponin yogya 
astaguna, Tri Locana dulur ipun. Saluwirin wama busana 
maka busana mami. Yugya iku cening pacang 
arangsukan." 



kesalahan dirinya. Kalau cening sudah menyadari pada 
kesalahan diri, seyogyanya cening mohon maaf, mohon 
ampun. Dalam kehidupan nyata, cening, barangkali 
melakukan kesalahan terhadap kerabat dan tetangga, 
dalam kehidupan tidak nyata kehadapan Tuhan Yang 
Mahaesa. Barangkali Cening sempat melakukan 
kesalahan. Apalagi seperti apa yang dilakukan oleh si 
Lubdaka. Dia memiliki banyak kesalahan. Namun dia 
berhasil menebus dosanya dengan melaksanakan 
Siwalatri. Ya kan cening? 

Eh eh eh eh eh nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. 
Semoga saja cening rajin dan tekun mendengarkan 
ceriteranya si Lubdaka ini. 

Kakek ceriterakan lagi seluruh pasukan Gananya. Mereka 
semua hormat dengan si Lubdaka. Lagi-lagi Bhatara Siwa 
bersabda. "Uduh nanda, seluruh pasukan prajurit Gana 
akan hormat pada dirimu, nanda. Nanda telah dijemput 
dengan kereta kencana. Wajarlah nanda menerima. 
Berhak atas hasil astaguna, tri locana dan yang bertalian 
dengan itu. Busanamu boleh sama dengan busanaku. 
Pantaslah nanda memakai busana yang sama sepertiku." 



Yesssss, oh yes, all you little children of your grandfa- 
ther. It was not just the heavenly army that was happy. 
Lord Siwa was also rejoicing. Then he gave Lubdaka 
his heavenly robes, all of his attire. He looked like a 
priest in those robes. 



Em em em em uduh cening cucun pekak ajak makejang. 
Lenan teken watek Ganane lantas, Ida Bhatara Siwa 
ledang kayun Ida. Lantas maan ia busana lantas. 
Mepenganggo sarwa luih. Waluya wiku, keto mase kel 
busanan iane. 



Em em em em uduh cening, cucu-cucu kakek semuanya. 
Selain para pasukan Gana Sanghyang Siwapun amat 
senang hati beliau. Dia memperoleh busana lengkap dan 
amat bagus. Seperti busana pendeta demikianlah juga 
busananya. 



114 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



Th 



e invisi 



ible Mirror 



■ p or 



** 'SOH'^J^^ 



K 



n «nh ^/) O ^ ^ »^ t-^ uHj N^ J^^ r c5 ' tj7 ~7 <TJ» *9"^ ii <£> ^■1f) o-Tn ij tP t^^ ^ 



v7^»ffi\ ^^ u>KT ij) ^^ oio o v-^ b"^ ^ IT) o tn^^-^ «^^^tm^B\pd9 0^ 



"jJS^- 



)^^ 



l'- ,^ .'f z' 



^Yi^Q<UI^^V"''n' 



•;<) nn-tn-v^C i7) '^■^ -5? 'W* "^y "?? «^ 1^ ^ ^ /^ >f ' »'^'^J' J'l'^^ 



Yes, all you little children of your grandfather. Surely 
there was no difference between the two of them. That's 
the way it was. There was no difference between them. 
You will have no imperfections, my little ones, if you 
perform the ritual of Siwa's night in a true way. Isn't that 
right, my little ones. You should do it seriously. 

Yes, your grandfather will now continue the words of 
Siwa. "Yes, my child, Lubdaka, my child, you are truly 
no different from me. The body of the heavenly father is 
the same as my child's. My child deserves the rewards 
of everything contained in heaven, because you per- 
formed your acts of devotion so well. All of those things 
belong to you. You will become famous throughout the 
world. Your actions will become a model for all the world 
as a path towards finding happiness in heaven. " Yes, my 
little ones, that's what Lord Siwa said to Lubdaka. Do 
you understand, my little ones? Yes, all the contents of 
Siwa's heaven were given to Lubdaka, because of how 
wonderfully he had performed yoga and meditation. 

In addition to that, my little ones. Lord Siwa said that 
everyone in the material world would follow the model 
of Lubdaka's actions as a path, as a road that leads to 
heaven. That's what happened my little ones. 

Yes, your grandfather will continue, my little ones. 
That's what Lord Siwa said. Lubdaka was very surprised 
in his heart to receive such wondrous rewards. His hap- 
piness was perfect, because of the results of his actions. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Sinah saja tuara 
beda nyen. Yening suba keto lantas sing ada nyen bedane. 
Sing ada cacadne. Yen cening sida melaksana ngelarang 
ane madan Siwalatri ane beneh. Sing keto ning? Pang saja- 
saja. 



Nah buin lanturang pekak, jani Ida Bhatara Siwa. "Nah 
cening-cening Lubdaka, sinah saja tuara beda nyen mami, 
ragan bapa teken cening. Saisining Siwaloka, yogya 
cening mamuponin. Wireh bratane luih. Ento sami cening 
mupu. Kasub maring jagatraya. Menadi darsanan gumi. 
Maka rurung mangih suka ring niskala." Nah cening, Ida 
Bhatara Siwa ngandika ning tekening Lubdaka. Suba 
cening ngerti? Nah sehananin isin Siwalokane, dadi ditu 
I Lubdaka muponin. Sawireh kaluwihan ia ane malu sida 
ngelarang tapa yoga semadi. 



Lenan teken ento cening, pengendikan Ida Batara Siwa, 
pang sida nyen makejang di Mercapada, ngelarang nulad 
cara pejalan iane Lubdaka. To pinaka rurung, pinaka 
jalan, ngungsi ke niskala. Keto ning. 

Nah biin lanturang pekak ning. Sapunika baos Ida ne. I 
Lubdaka lantas awotsari manah ipun gawok pisan, polih 
pica lintang luih. Puput raris tusieng hati, duwaning ipun 
sida pupul. Mirsa lawan watek Dewa. Inggih punika 



Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Memang sama 
persis tak sedikitpun beda. Kalau demikian memang tidak 
ada bedanya. Tidak tercela. Demikian juga halnya dengan 
cening, bila cening mampu melaksanakan Siwalatri 
dengan benar. Bukankah demikian cening? Mesti 
sungguh-sungguh. 

Nah kakek lanjutkan lagi, sabda beliau Sanghyang Siwa. 
"Nah nanda Lubdaka, memang tiada bedanya diantara 
Aku dan Kamu. Seluruh Siwaloka nanda juga berhak 
memiliki. Oleh karena hebat beratamu. Semua ini adalah 
hasil perbuatan nanda yang patut nanda petik. Terkenal 
diseluruh jagadraya. Yang bakalan dijadikan landasan 
perlakuan di dunia, sebagai jalan pencapaian moksah 
menuju ke alam sorga." Demikianlah sabda Sanghyang 
Siwa kepada si Lubdaka, cening. Apakah cening sudah 
mengerti? Yah segala isi sorga juga menjadi milik si 
Lubdaka. Karena kesuksesannya talah melaksanakan 
tapa, yoga dan semadi. 



Sabda Sanghyang Siwa selain itu cening, agar apa yang 
dilakukan oleh si Lubdaka ini dapat dijadikan panutan 
oleh setiap orang. Itu sebagai jalan menuju kembali ke 
alam sorga. Demikian ning. 

Yah kakek lanjutkan lagi. Seperti itulah sabda beliau. 
Hati si Lubdaka sangat terkejut dan gembira mendapat 
anugrah utama. Sempurnalah kesuka citaan hatinya, oleh 
karena dia sudah mendapat segalanya. Menyatu dengan 



trifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



115 



Th 



e Invisi 



ble Ml 



rror 
















)-^^^■»<7^n-.' 



w^^i— fi— ^1— ^waM— ^— i^ 

*■ ( Ss'V'''''^''^'^ ^"'''*'' "^"^ ''1'^"^" ''''»^ "^ ■*^'^~J'*''^ °^*^ 

^ ^Y\ sV i::i j,-^ o O >u> -0 *:? '-^j^ I"' »o ^T^ tl >AU> «V.T -vrT) V v»!^ <v tr 

o^^><^^■Y>a.•^"|<nd^^.-2po^5i)•a1<^>1't;^)^r-•, — - -,- . — ■ -■ — - -■--• - - ""'"^, 



i%i 



He mingled with all the gods, yes, for no other reason 
than what he did on the night of Siwa. That's why 
Lubdaka's heart was happy. Lubdaka thought about the 
things he had done while he was still alive. The things he 
had done, his actions while he was living, surely added 
up to many sins. He felt sorry for those things as he 
thought about them. And because he performed perfect 
ritual devotions, and completed those perfect ritual de- 
votions, performing them on Siwa's night, he was re- 
warded in the afterlife, by being united with Lord Siwa 
there in heaven. That's the way it was, my little ones. 

Yes, all you Uttle children of your grandfather, and all 
you other listeners. I will not talk about the soul of 
Lubdaka. He had already earned great rewards. He melted 
into Siwa. He melted into Siwa's heaven. 

Now the armies of hell arrived at their master's palace. 
They bowed down and showed him their respect. "First, 
witness the reverence we show to our commander. " That 
is what the demon soldiers said to their master in hell. 
"First witness the reverence we show to our commander. 
Our fury has no limits. Because we failed to carry out 
our master's orders. We were carrying the soul of 
Lubdaka. We had already caught him and tied him up. 
After that we wanted to bring him to you, my lord. But 
the armies of heaven stormed towards us with no warn- 
ing. All of a sudden the messengers from Siwa's heaven 
snatched him away from us." 



Siwalatrinoralian. Ane ngeranang lantas keto, Lubdaka, 
dewa ratu, demen atin ia. Mekeneh-keneh ia Lubdaka 
dugas nu idup. "Apa saja gae, gawe dugase nu idupe?" 
Sinah suba dosa ia ngelah liu. Mekaengan ia. Sangkaning 
lantas keneh-kenehang teken ia, sangkaning ngelarang 
brata siddhi, melarapan brata siddhi, Siwalatri to sing ja 
ada len kagelaran olih ia. Sida ia molih Siwaloka 
turmaning ngiring Ida Bhatara Siwa sareng di Suarga. 
Turmaning sida sareng muponing sakancaning ane ada 
ditu di Siwaloka, keto nyen ning. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang, kenten taler 
pamiarsa sareng sami. Tan kocapan atman ipun I Lubdaka. 
Sampun polih wara luih. Mur ing Siwa. Mur ing 
Siwaloka. 

Sida sida mangkin Yamabala sampun prapteng Yama Puri. 
Null manembah raris matur satorasi. "Durus aksi baktin 
titiang ring paduka. " Keto atur bala-balane di Yamaloka, 
matur majeng ring Ida. "Durus aksi baktin titiang ring 
paduka. Erang titiang tan sinipi. Duwaning tan kasidan 
kadi pinuduh paduka Hyang. Makta atman ipun I 
Lubdaka. Timuwus kasidan sinekep wus kataranin. Wus 
binasta gelis ayas katurang ring Ratu Bataran mami. 
Rauh watek Gana ngerudug tanpa rarapan, saha senjatani, 
nuli sahasa ngerebutin makalantaran sakeng Jagat Pati." 



para Dewa. Semuanya itu tiada lain berkat Siwalatri. 
Inilah yang membuat hatinya si Lubdaka senang tak 
terhingga. Si Lubdaka menyesali perbuatannya semasa 
hidupnya, yang ia tahu perbuatannya itu penuh dosa. "Apa 
yang saya perbuat semasa hidup saya?" Demikian dia 
berpikir-pikir. Tiada lain berkat melaksanakan brata 
siddhi, Siwalatrilah semua ini dicapai. Dia berhasil 
mencapai alam sorga bersatu dengan Sanghyang Siwa 
dan menikmati kesukaan hidup di sana di Siwaloka. 
Demikian cening. 



Yah cening, cucu-cucu kakek semua, demikian juga 
dengan para pemirsa semuanya. Tak diceriterakan lagi 
kesukaan atma si Lubdaka yang sudah mendapat anugrah 
utama, tinggal di alam sorga, berada di alam Siwa. 

Sekarang diceriterakan pasukan neraka sudah sampai di 
istana Bhatara Yama. Mereka menghadap untuk melapor 
seraya menyembah. "Mohon perhatikan hatur dan sembah 
hamba pada paduka yang mulia." Demikianlah katanya 
prajurit neraka yang ditujukan kehadapan Sanghyang 
Yama. "Hatur patik paduka mohon diperhatikan. Kami 
sangat kesal, oleh karena tidak berhasil seperti yang 
paduka titahkan, membawa atmanya si Lubdaka ke mari. 
Kami telah berhasil menangkap dan mengikatnya, dan 
siap untuk dihadapkan kehadapan paduka. Namun tiba- 
tiba saja atas perintah Sanghyang Siwa pasukan Gana 
datang bersenjatakan lengkap merebut dengan paksa 
atmanya si Lubdaka, untuk dibawa ke sorga." 



116 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Pertunjutan 



The Invisible Mirror 



'^^'^'r^c^ 



,,-> ^t* Of ti"» «r» -9 »."^ ».■> -vt» r»0 »?" * 






^^ i,"^ (W>^«^ iP ^xM oiri <»Ti ■tp ?jT)i7'-!^ fcT »ji rt/i c^i^ o< •^ o »}) -^^ 






■vtl|C^^i»^»J> 



Mil 



2 



Yes, all you little children of your grandfather. That's 
what the soldiers of hell said. They told how the armies 
of heaven snatched away Lubdaka's soul. That is why 
they could not torture Lubdaka's soul as they had planned. 
Because he had been taken away by the armies of Shiwa's 
heaven, my little ones. 



So, to move the story along more quickly, my little ones, 
the soldier of hell continued his report, "Then a demand- 
ing voice howled out to us to set the soul free. I did not 
agree, because I was following your orders. But they 
took him away by force, reinforcing each other with all 
kinds of weapons. They took Lubdaka away. That's what 
happened my lord. " 

Yes, all you little children of your grandfather. The sol- 
diers of hell were howling and yelling at each other. 
Some of them tried to tighten the ropes binding Lubdaka's 
soul.But they did not succeed, so they lost, my little ones. 

Yeeessss. Yes, all you little children of your grandfather. 
There was akeady evidence that Lubdaka's actions should 
be rewarded with a place in Siwa's heaven, my little ones. 

Yes, all you little children of your grandfather. Because 
we are running out of time, I will end with the closing 
greeting. "Om Santi Sand Santi Om. " (Let there be peace 
in your heart, peace in the world, and peace in the heav- 
ens.) 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Keto atur balane 
di Yamaloka, nguningan paundukne sawireh karebut olih 
watek Ganane, atman ia Lubdaka. To hawanan sing 
sida lantas ia, kenken cara pengaptine bakal nyiksa atma 
I Lubdaka. Sawireh suba kesabot antuk para Ganane di 
Siwaloka, nyen ning. 



Nah gelisang satua enggal, ne cening. "Lantas baos 
bangras gelar-gelur nonden ngelebang.Titiang jati tan 
sairing pageh ring pakonta. Nuli ipun parikosa sareng 
sami mangepulin saha senjata. Ipun Lubdaka raris 
keambil. Sapunika Ratu." 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. lane te para 
Yama balane, gelar-gelur saling dengkikin. Ada tekek 
ngisiang atman Lubdaka. Kewala sing sida sida, lantas 
kalah ning. 

Eeeem. Nah cening cucun pekak ajak makejang. Suba 
mebukti lantas pikolihnya I Lubdaka, ada suba ia ditu di 
Siwa Loka, nah cening. 

Nah cening cucun pekak ajak makejang. Sawireh suba 
madan galah. Puputang titiang antuk peramasanti. "Om 
Santi Santi Santi Om." 



Nah cening cucu-cucu kakek semuanya. Demikianlah 
para prajurit Yamaloka, menyampaikan keadaan 
sesungguhnya, kegagalannya membawa atma si Lubdaka 
ke neraka, karena direbut oleh pasukan Gana. Niat mereka 
untuk meyiksa atmanya si Lubdaka di neraka tidak bisa 
dilakukan. Karena sudah disabot oleh para pasukan Gana 
dari sorga. 

Nah cening, singkat ceritera, katanya. "Kata-kata keras 
dan kasar meraung menyuruh melepas. Kami setia pada 
perintah yang paduka titahkan dan tidak mau melepasnya. 
Namun mereka mengambil si Lubdaka dengan paksa 
menggunakan senjata, dan mereka membawa dia lari ke 
sorga. Demikianlah paduka." 



Nah cening cucu-cucu kakek semuanya. Seluruh prajurit 
Yamapun meraung membentak-bentak. Ada yang 
memegang dengan erat atmanya si Lubdaka, akan tetapi 
tidak mampu bertahan dan akhirnya mereka kalah. 

Emmm, nah cening cucu-cucu kakek semuanya. Sudah 
terbukti bahwa si Lubdaka berhasil dibawa kabur dan kini 
sudah berada di Siwaloka. 

Nah cening, cucu-cucu kakek semuanya. Karena 
waktunya sudah habis, dan sekarang saya sudahi dengan 
menghaturkan paramasanti. "Om Santi, Santi, Santi, 
Om. " 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di Jalam Seni Pertunjukan 



117 



The Invisible Mirror 











o > O' "J' ^ ^^^ o Q r> i^ -0 »9«J ■^ vv "3 >/ '«■'» 0^ t7> ?v'^:^ V^ !»^ ^ «7 1^ t(t 



j^<fOrt'Tf»«o*.- 7j'ni'j;nM<v».->n><>| 






Si^vara 

ENGLISH 



Siwaratrikalpa as Satua: Lubdalca's story as broadcast in Balinese on RRI Denpasar (Episode 7) 
tril^alpa Seta^ai Ceritera: Kisak LuLclaka dalam Mesatua Bali disiarkan melalui RRI Denpasar (Episode 7) 



5ALI / KAWI 



INDONESIA 



Jagra: "OmSwastyastu" ("May the world be blessed."). 
Yes, all you honored listeners, and also all you little grand- 
children of your grandfather. Now your grandfather will 
continue telling the stoi7 of Lubdaka. Before I go on, 
your grandfather has a message for you little ones, be- 
cause Sunday is the day you like to hang out with your 
friends. In addition to that, this is the season for flying 
kites. That's true, isn't it, my little ones. Be nice while 
you play with the kites. Don't be naughty. Yes, my little 
ones who really like to listen to traditional Balinese sto- 
ries, please turn on your radios. We've already made 
contact. Yessss. So listen carefully and pay attention. 
Your grandfather will continue the story of Lubdaka. 

Yes, my little ones already understand and know all about 
it. Maybe in school you have already heard the story of 
Lubdaka. So now listen well to how your grandfather 
tells the story. 

In the last episode, my little ones already heard about 
Lubdaka being tortured by the demon armies in hell. And 
suddenly a host of messengers arrived from Siva's heaven, 
my little ones. The armies of heaven had come down to 
look for the soul of Lubdaka. They ran away with it to 
heaven, my little ones. Because the armies of hell were 
defeated in their battle with the armies of Siwa's heaven, 
my little ones. Yes, the soldiers of Siwa's heaven went 



Jagra : "Om Swastyastu." Ainggih ida dane pamiarsa 
sareng sinamian, kenten naler para alit-alite cucun pekak 
ajak makejang. Nah jani pekak lakar buin lakar 
ngelanturan nyatuang ia I Lubdaka. Nah satonden ne to 
ning, nah pekak mabesen teken cening. Sawireh galahe 
redite, cening demen melali, lenan teken ento tuah mula 
masan layangan, keto nyen ning nah. Melah-melah nyen 
cening ritatkala melayangan. De nakal nyen. Nah cening 
tuah ane demen ningehang satua Bali, nah setel radioe. 
Kontak keto ba ooo. Eh eh eh. Melahang-melahang 
medingehan. Pekak ngelanturan buin satuan ia Lubdaka. 



Nah cening suba nyen nawang turmaning tatas. Yen di 
sekolahan, makejang suba taen orine satuan iane Lubdaka. 
Nah jani melahang nyen kenken pekak nyatuang jani. 



Ane malu cening suba maan medingehang, sawireh ia I 
Lubdaka ada ne di Yamaloka, kabayang-bayang ken bala- 
balane di Yamaloka, ning. Jeg ken-ken kaden jeg teka 
lantas utusan uli di Siwaloka , ning. Dadine balane di 
Siwaloka tedun, tuwun, ngalih ia atmane I Lubdaka. 
Pelaibanga ajaka ke Suarga, keto ning. Sawireh para 
balane di Yamaloka suba madan kasor, kalah ia masiat 
lawan balane di Siwaloka, keto ning. Nah prajurit panjak- 



Jagra: "Semoga Tuhan memberkahi keselamatan untuk 
kita semua." Ya, semua pemirsa dan andaitaulan yang 
budiman, demikian juga anak-anak dan cucu-cucu kakek 
semuanya. Kakek akan melanjutkan lagi menceriterakan 
si Lubdaka. Namun sebelum lanjut, ada pesan kakek 
kepada cucunda. Mengingat sekarang ini adalah musim 
layang-layang, dan hari minggu adalah hari untuk cening 
bermain-main. Hati-hatilah manakala cening bermain 
layang-layang. Jangan nakal, ya? Untuk cucu-cucu kakek 
yang senang mendengarkan ceritera Bali, ayo hidupkan 
radionya! Eh eh eh, dengarkanlah dengan baik. Kakek 
lanjutkan lagi ceriteranya si Lubdaka. 



Cening nampaknya sudah tahu dan paham betul, karena 
di sekolah barangkali sudah pernah dikasih tahu tentang 
ceriteranya si Lubdaka. Nah sekarang kakek akan 
menceriterakannya lagi. Dengarkanlah dengan baik-baik. 

Pada bagian ceitera terdahulu cening sudah 
mendengarkan bagaimana si Lubdaka disiksa oleh 
balanya Dewa Yama di neraka. Tanpa dinyana datang 
pulalahlah pasukan utusan sorga yakni balawadwanya 
Dewa Siwa turun mencari atmanya si Lubdaka, dan 
mereka berhasil memboyongnya ke sorga. Para prajurit 
Yamaloka kalah dalam peperangan melawan bala prajurit 
Siwaloka. Berkecamuknya perang diantara prajurit 



118 



Siwaratritalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Pertunjutan 



The Invisible Mirror 



'55?^^5^S»^f550^^«!5^|^'^?^ 



«^-.t^ ;TY^ ^2P -^ if)*^ V, ■rfpfV ^-pirf, CV ^ «JJ» vy in »^ tJl o ij JT) ^T) J) ^ XJ o^J 






n-r»J>tV).7> 









o o ^ »-) ifi ^ t/J l."^ »1 xT) «J «t' «J' J*> ^ tr <* tf7 



to war against the soldiers of hell. After the demons were 
defeated, Lubdaka's soul was taken away by the army of 
Siwa's heaven, my little ones. And then they flew him 
up to Siwa's heaven. The armies of hell could not follow 
them there because the army of heaven was so powerful. 
That's the way it was, my Uttle ones. 



Yes, now let's continue the story, all you little grandchil- 
dren of your grandfather. After the soul was taken by the 
army of heaven, the soldiers of hell reported to their com- 
mander that Lubdaka's soul had already been snatched 
away to Siwa's heaven. What did the king of hell say 
after he heard his soldier's report. This is what the hon- 
orable king of hell said, "No, I cannot accept this. 
Lubdaka is truly a sinful soul. Why did Siwa have him 
flown to heaven? The armies of heaven took him to 
Siwa's heaven. Why? This is something I cannot ac- 
cept. I will appear before Lord Siwa to ask him why. 
What is the reason Lord Siwa took this sinful soul? I 
cannot accept that. I will appear before Siwa now." 



Yes, all you little grandchildren of your grandfather. The 
king of hell did not accept the situation, because Lubdaka 
was a sinful soul. Now the king of hell will appear in the 
presence of Lord Siwa, before the almighty king of the 
universe. That's the way it was, my little ones. Then he 
left, in a msh, followed by his army. He was followed by 



panjak Siwalokane, nah keto mase panjak Yamaloka ne 
ditu meperang, turmaning sida kalah. Atmane Lubdaka 
lantas, prasida kesambut teken balane di Siwaloka , keto 
ning. Turmaning kekeberang kema ke Siwaloka. Dini 
lantas panjak-panjak Ida ne di Yamaloka sing ngidang 
lantas ngetut sawireh aeng pesan bala-balane di Siwaloka, 
sing keto ning. 

Nah kacerita lantas jani ning cucun pekak ajak makejang. 
Disuba madan bakate atman iane teken balane di 
Siwaloka, lantas matur ia para balane diYamaloka, 
nguningang paundukane atmane I Lubdaka suba 
keplaibang ke Siwaloka. Kenken Ida Sanghyang Yama 
ning, disubane panjak Ida Matur? Kene Ida ngendika 
sesuhunane Ida diYamaloka. " Beh gelah sing terima nyen. 
Maka sujatine Lubdaka jelema corah, ngudiang Ida jeg 
melaibang kema ke Siwaloka. Bala Siwalokane ngajak 
ia ke Siwaloka. Apa kranane ?" Keto tel pawecanan Ida. 
"Yening keto gelah sing tampi. Gelah lakar tangkil jani 
majeng ring Ida Ida Batara Siwa. Apa awinang Ida 
nyambut atmane ia Lubdaka ane corah to? Gelah sing 
tampi gelah bakal tangkil jani." 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Sing terima 
lantas Yamalokane sawireh Lubdaka jelema corah. Jani 
Ida di Yamaloka Sang Yama, Ida bakala tangkil parek 
ring Ida Batara Siwa. Maring Sanghyang Jagat Patie, keto 
ning. Null mangkat sada gelis, kairing baan bala, panjak- 
panjak Yamalokane ngiring ning, kel nuju Siwalokane 



Yamaloka berhadapan dengan prajurit Siwaloka, yang 
pada akhirnya kekalahan ada di pihak Yamaloka. Atmanya 
si Lubdaka berhasil dirampas oleh prajurit Siwaloka dan 
dilarikan ke sorga. Demikian cening. Para prajurit 
Yamaloka tidak berhasil merebutnya kembali, karena 
prajurit Siwaloka sangat kuat. Bukankah demikian 
cucuku? 

Sekarang diceriterakan setelah atmanya si Lubdaka jatuh 
ke tangan prajurit Siwaloka, maka menghadaplah bala 
prajurit neraka kehadapan Sanghyang Yama, melapor 
bahwa atmanya si Lubdaka sudah dilarikan ke sorga. 
Bagaimana Sanghyang Yama ketika mendengar laporan 
wadwanya demikian, cening? Beginilah sabda beliau 
penguasa neraka itu. "Wah, kalau begini aku tidak terima. 
Sesungguhnya si Lubdaka adalah manusia jahat. Kenapa 
Beliau membawanya ke sorga? Bala wadwa Siwalokalah 
yang melarikan dia ke sorga. Apa sebabnya?" Demikian 
sabda beliau. "Kalau begini caranya aku tidak terima. Aku 
akan pergi menghadap Bhatara Siwa. Kenapa beliau 
mengambil atmanya si Lubdaka yang sudah nyata-nyata 
berbuat jahat? Aku tidak terima. Aku akan menghadap 
beliau sekarang juga." 

Yah cening cucu-cucu kakek semuanya. Pihak Yama tidak 
menerima, karena si Lubdaka adalah orang jahat. 
Penguasa neraka yakni Sanghyang Yama, akan 
menghadap Bhatara Siwa. Menemui Sanghyang Jagatpati. 
Demikian cening. Segeralah beliau bergegas berangkat 
tiada lain menuju Siwaloka, diiring oleh balawadwa 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



119 



Th 



e Invisi 



ble M 



irror 










f?-* 



Ti- 



^ "limnT»^ I,") i^iTP S^ o f> fct» ^ li^ iT) »Ji in Jl 
<1^ i ~ r >.U*> in u^ O ^f i5 O» or 2/>v jTtJ^r j^ tflt cf iTT 5 oB V^ 



the soldiers of hell, my little ones. His destination was 
none other than Siwa's heaven 
journey by the shouts of his followers. 



He was greeted on his 



The story ends in Siwa's heaven. Yes, my little ones, 
they have already arrived in Siwa's heaven. Now we 
will continue the story, my little ones. Let's talk about 
what happens when they actually get to Siwa's heaven. 
It is on Klesa Mountain, where quiet transcendental wis- 
dom falls on heaven. Everything that was placed there 
sparkles with a beauty beyond description, my little ones. 
The arrangement of the glittering decorations is truly 
gorgeous. Yes, that is what heaven is like, my little ones. 
Oh, lord, the beauty of heaven is truly wondrous. It is 
full of adorrmients, my little ones. It is on top of Klesa 
Mountain, my little ones. It is the dwelling place of Lord 
Siwa. AU the rooms are decorated with flowers, and are 
full of beautiful women. They are all gathered together 
before Lord Siwa. They are gathered there, my little ones, 
chanting prayers from the Weda. They are there on the 
moutain, my little ones. On the top is the dwelling place 
of Lord Siwa. 



sing ja ada len. Nyembrahma punang pemargi tan mari 
mesuryak umung. Caritayang prapta maring Siwaloka. 



Nah cening, suba madan teked di Siwaloka. Carita 
mangkin sampun rauh maring Siwaloka yukti. Hana ring 
Gunung Klesa. Halep paramita tuhu mangasorang 
sasuarga suargan. Duaning luih tan sinipi sarwa sane 
munggah murub keto ning. Bungah murub ricana banget 
asri. Nah adane ada di Suarga ning. Dewa ratu kaluwihan 
Suargane ditu asri luih. Bungah, keto nyen cening. Maring 
pucak gunung Klesa ne ning. Maka linggih Pasupati. 
Wesma sarwa ratna nargia punang wateking Surawadhu, 
sampun pada atangkila maring Trinayana yukti sami 
sayaga makumpul. Makumpul ditu ning, maduluran weda 
sruti. Adane di gununge to, ning. Di pucake to mula 
linggih Ida Sanghyang Pasupati. 



prajurit sembari bersorak-sorak gemuruh. 



Nah cening, perjalanan beliau diceri terakan sudah sampai 
di Siwaloka. Sudah sampai di sorga yang berada di 
Gunung Klesa. Sangat menakjubkan sempurna keindahan 
Siwaloka karena keutamaannya, tidak ada yang 
menandingi diseluruh sorga. Tidak terlukiskan 
keindahannya dan penataan segala sesuatunya meriah 
gemerlapan sangat asri. Demikianlah suasana sorga d 
Siwaloka, cening. Ya Tuhan, kindahan dan kehebatan 
sorga sangat menakjubkan. Berdiri megah di puncak 
gunung Klesa, sebagai stana Sanghyang Pasupati 
Demikian cening. Istana yang berhiaskan berbaga 
permata manikam sudah dipenuhi oleh para istri shakt 
dewata berkumpul menghadap sang Trinayana yakn 
Sanghyang Siwa. Berkumpul semuanya di sana sembar 
melantunkan mantram weda sruti. Di puncak itu memang 
stana Sanghyang Siwa. 



Your grandfather will not tell you much more about the 
journey of Lubdaka. Now he is already in Siwa's heaven. 
Lord Yama is now there speaking to Lord Siwa. I will 
make the story short now. Now I will speak about the 
magnificence of Lubdaka's soul, that's what I will do 
now, my little ones. 



Pekak sing bakal liu ne ngundukang pejalan iane Lubdaka 
biin. Jani sawireh adane suba di Siwaloka, Ida Sanghyang 
Yama matur ring Ida Batara Siwa. Cening cutetan pekak 
jani. Apa karena keto? Jani pang ngenah kenken 
kaluwihan iane atman ia Lubdaka, keto nyen nah ning 
nah. 



Kakek tidak bakalan lagi memperpanjang membahas 
perjalanannya si Lubdaka. Sekarang diceriterakan 
Sanghyang Yama sudah menghadap Bhatara Siwa di 
Siwaloka. Sekarang kakek persingkat saja. Apa sebab 
demikian? Keutamaan atmanya si Lubdaka di sini agar 
lebih jelas kelihatan. 



120 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



rtn c^-ro'»^- 









N-^^ 



Listen well and pay attention to the story of how Lord 
Yama appeared before Lord Siwa, and what he said. This 
is what Lord Yama said. "Excuse me, Lord Siwa. My 
Lord has the power of life and death over everything in 
the universe, and you have taken Lubdaka's soul. What 
is the reason for this? What is so wonderful about his 
soul? Actually he is a sinful killer. When he was still in 
the material world, I already noted down everything he 
did during his life. Where are his good deeds that make 
it fitting for my honorable lord to take his soul? 



Yes, that's what the king of hell said directly to Lord 
Siwa. "Oh, my child, lord Yama. Actually it is true that 
Lubdaka is a sinful soul. But you must listen to me care- 
fully. Don't be mistaken about Lubdaka. Long ago when 
your heavenly father was performing yoga and medita- 
tion, isn't it true that Lubdaka climbed up into a Bila tree 
out of fear? Isn't that what happened? He was trying 
very hard not to sleep. He tried to stay awake by pluck- 
ing the leaves of the Bila tree. That was the moment 
when your heavenly father was performing yoga and 
mediation. He succeeded in staying awake all night. He 
stayed up all night, my little ones. That was Lubdaka's 
notable achievement. Don't be mistaken about him, my 
child. Long ago I issued a decree that any one who per- 
formed mediation and yoga and performed ritual devo- 
tions on the night of Siwa, would have all their sins 



Melahang medingehang ne. Kacerita jani Sanghyang 
Yama ketemu tangkil ring Ida Batara Siwa. Turmaning 
Ida matur. Kene Ida Sanghyang Yama matur. "Nawegan 
titiang Ratu Batara Siwa. Duaning Ratu sane 
ngawiwenange, ngurip, mademan, sarwa tumbuhe riki 
ring jagate. Awinan palungguh cokor idewa ngambi 
atman ipun I Lubdaka, napi maka awinan ipun? Napi 
maka kaluwihan ipun? Maka sujatine ipun jelema corah, 
memati-mati, duk ipun kantun ring Mercapada. Titiang 
sampun nyurat risapepolah ipune duk kantun ipun urip. 
Ring dija dados kepatutan ipun, dados palungguh ratu 
ngamet atme ipun sida ring jeng palungguh iratu". 



Nah keto atur Ida Sanghyang Yama. Ngandika lantas Ida 
Batara Siwa. "Uduh cening Sang Yama idewa. Saja nyen 
cara raos ceninge. Maka sujatine I Lubdaka nyen ning, 
jelema corah nyen maka sujatine. Sakewala neng 
melahang medingehang. De nyen idewa salah tampi 
unduk iane I Lubdaka. Ane malu ritatkala lantas bapa 
nangun tapa brata yoga semadi, ada ia I Lubdaka, sing j a 
sangkaning ia jejeh ia mati, menek di punyan bilane, 
sing ja keketo. Diastun ia nyelapang mula nyelapang ia 
ngalih pang sing ia pules, metik-metik don bila, risedek 
lantas bapa nangun tapa yoga semadi. Sida lantas ia 
ngelarang mejagra sawengi. Megadang keto nyen ning. 
To kautaman iane Lubdaka. De nyen cening salah tampi. 
Mapan ane malu ada nyen pawarah warah. Yen ada anake 
sida ngelarang tapa yoga semadi, turin ngelarang brata, 
ritatkala malem Siwalatri, rikala ditu sida ngelebur 



Dengarkan baik-baik, ya ning ya. Sekarang diceriterakan 
Sanghyang Yama menghadap Bhatara Siwa. Kata beliau. 
Beginilah Sanghyang Yama menyampaikan kekesalanya. 
"Maafkan hamba paduka Hyang Siwa. Oleh karena 
padukalah yang kuasa menghidupkan, memusnahkan 
semua yang tumbuh di dunia. Paduka mengambil atmanya 
si Lubdaka, apa maksudnya? Apa kelebihannya? 
Sesungguhnya si Lubdaka adalah manusia jahat. Dia 
adalah seorang pembunuh ketika dia masih hidup di dunia 
fana. Saya sudah mencatat segala perbuatannya ketika 
dia masih hidup. Dimana ada kebajikannya, sehingga 
paduka mengambil dan mendudukkan dia dihadapan 
paduka?" 

Demikianlah kata-kata Sanghyang Yama, dan Sanghyang 
Siwa kemudian bersabda. "Uduh nanda Sanghyang Yama. 
Memang benar seperti apa yang nanda katakan. Memang 
sesungguhnya si Lubdaka adalah manusia jahat. Akan 
tetapi cobalah dengarkan ini dengan baik. Jangan nanda 
keliru memandang kehidupannya, si Lubdaka. Ketika 
bapamu membagun tapa brata yoga dan semadi di waktu 
silam, si Lubdaka juga melakukan hal yang sama. 
Bukankah karena dia takut mati dia lalu memanjat pohon 
maja? Kendati sengaja dia lakukan memetik-metik daun 
pohon maja itu untuk mengusir kantuknya, agar dia bisa 
terjaga semalaman. Bersamaan ketika bapamu melakukan 
yoga semadi. Berhasil si Lubdaka begadang semalam 
suntuk. Tidak tidur sepanjang malam, cening. Itulah 
keutamaannya si Lubdaka. Janganlah nanda salah terima. 
Karena memang sejak dahulu sudah ada pernyataan. Bila 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



121 



Trie Invisible Mirror 



5i;' «0 ir:')^'vr cpt' ct »r w?»X'^»''^ 



»J) 1^ CD iPfP »>T> g) fPjiO tmjTp lU-p ^T <^ ulrv tB i;! '^''^^j^ d^''? j£ '^»^'^'>'>2P'^'*^jQ^<^?lL- 




' ^'i 9-r^ o o^ vi ») *^ "^ ^"••"t» "or^ o"^o|o^^ cn"^"» 

ailBBBBI 






washed away. Whatever sins they had committed would 
be washed away. That is the way it is, my child. Don't 
be mistaken, my child." 



sahananning mala. Apa ja kepelihan ia imanusa sida 
kelebur. Keto nyen cening. Eda nyen cening salah tampi". 



ada seseorang yang berhasil melaksanakan tapa, yoga dan 
semadi, pada saat malam Siwalatri, akan dapat melebur 
segala dosa dalam dirinya. Segala kesalahan manusia 
dapat dihilangkan. Demikian nanda. Jaganlah nanda salah 
terima." 



Yes, that's what lord Siwa said to the king of hell. Please 
excuse me, my lord. If that is what happened, his great- 
ness is truly remarkable. He has already performed medi- 
tation and yoga on the night of Siwa. I dare not reject 
him. My lord should be happy. I do not dare oppose your 
orders, because you are the one who wields authority here. 
You give life to all living things. All living things die 
because of you. You destroy the world and all its con- 
tents. So I do not dare oppose you. If that remarkable 
achievement is true, I do not dare do anything but accept 
your decision. " Those were the words Lord Yama spoke 
to Lord Siwa. 



Yes, now the story continues. Your grandfather will tell 
you about what happened to Lubdaka in Siwa's heaven, 
my little ones, and also all you other listeners. Lubdaka 
was truly a remarkable soul. Some of you already know 
the story. Some of you already know. The night of Siwa 
is actually called the night of purging one's sins. That's 
what people say, my little ones. We should all perform 
the rituals of Siwa on that night. But it should be done 
seriously, my httle ones, and also all you honored listen- 



Nah, keto pengandikan Ida Batara Siwa teken Sang Yama. 
Matur lantas Ida Batara Yama." Nawegan titiang 
Ratu. Yen wantah sekadi asapunika sangkaning wenten 
kaluwihan ipun, sampun ipun ngelarang tapa yoga 
semadhi ring wengi Siwalatrine punika. Titiang nenten 
purun tulak. Ledang palungguh iratu, titiang nenten purun, 
duaning Iratu sane nitah, sane ngawi wenangan iriki. 
Ngurip sarwa tumbuh. Mrelina sarwa tumbuh, sangkaning 
ratu. Mrelina jagat, kenten sadagingnyane ratu naler. 
Titiang nenten purun. Yen wantah nika kautaman ipun I 
Lubdaka, katur, titiang nenten purun malih". Keto atume 
Sanghyang Yama teken Ida Batara Siwa. 



Nah kacerita jani. Lanturang pekak kenken ia paundukane 
adane ia I Lubdaka di Siwaloka nyen cening. Nah cening 
cucun pekak ajak makejang, kenten naler pamiarsa sareng 
sinamian. Maka sujatine keluwihan ipun ia I Lubdaka, 
sampun sareng sami pawikan. Ajak makejang suba 
nawang. Sawireh ring Siwalatrine ento maka sujatine 
malem peleburan dosa. Keto nak nyatuang, ning. Pang 
prasida ja ajak makejang teleb ngelarang ane madan 
Siwalatrine to, apeteng to. Sakewala pang saja-saja nyen 



Nah demikianlah sabda Sanghyang Siwa terhadap 
Sanghyang Yama, sembari beliau menjawab. "Maafkan 
hamba paduka. Kalau demikian halnya, karena 
keberhasilannya si Lubdaka melaksanakan tapa yoga 
semadi pada saat malam Siwalatri yang menjadi 
keutamaannya, hamba tidak berani menolaknya. 
Terserahlah pada paduka. Hamba tidak berani, karena 
padukalah yang mentakdirkan dan memiliki wewenang 
di sini. Menghidupkan dan juga membinasakan segala 
yang tumbuh; adalah paduka. Menghancurkan dunia 
beserta isinya adalah juga paduka. Hamba tidak berani. 
Kalau memang itu jasa dan keutamaannya si Lubdaka, 
hamba tidak berani lagi." Demikianlah kata-kata 
Sanghyang Yama terhadap Bhatara Siwa. 

Sekarang kakek lanjutkan kisah keberadaan si Lubdaka 
di Siwaloka. Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya, 
demikian juga halnya dengan seluruh pemirsa. Tentang 
keberhasilan si Lubdaka, semuanya sudah mengetahui 
dan memahaminya. Oleh karena pada malam Siwalatri 
itu merupakan malam peleburan dosa. Demikian orang 
mengatakan, cening. Kita semua dituntut untuk dapat 
melaksanakan malam Siwalatri itu dengan khusuk dan 
hikmat. Ya cening dan pemirsa semunya, yang utamanya 



122 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 










iijr^ «y^v? «r ^ "^ "^^ ' 



tA/'» O/ »J^'i^'r/rily^»jr-rMi 



nr ^-Vi inJ) ffW tfl^ > «J^Wf» t^ ^ en» JJ o^'' 07 p7 SO? r>^ ef I 

-"' "^[) 'J? i"^] ^ ^ o >^ u-VJ n. u^n n(| j^t'Jl'^ «A^r i,-)^^ W' 00 «^ 

u^ w^ iTJ er t* w ^A) o? o «A w^ i,^ jv> v> o w^ «V f.-i« tPa^ 4f-W t^^ n <{p J ^ 



6. 



i' Z' r ^r o i 1 ' \ 
> -C. . o»4 . 




ers. Because it was Lord Siwa's wish to grant insight to 
everyone using Lubdaka's behavior as a model. His ac- 
tions are a kind of illumination, a picture, a shadow of 
our true path in life. That is the way to truly see inside 
yourself: to reflect on what you have done in the past 
year, once a year. That's how it should be done. Yes 
look at what you have done during the past year. The 
bad things and the good. Maybe there was more bad 
than good. Siwa's night is the right time to reflect on the 
mistakes you have made. Don't perform the rituals of 
Siwa's night in a playful way. Be serious so that you can 
truly follow the path of Lubdaka. He committed lots of 
sins, mistakes and bad deeds, but he was still able to come 
close to Lord Siwa. That's what is wondrous about him. 



Yes, all you honored listeners. There are rules that should 
be followed when performing the rituals of Siwa's night. 
Yes, there is a certain way to behave on the night of Siwa. 
We all have to remember what to do in order to fulfill the 
obligations of Siwa's night. We have to study the proper 
way to carry out the ritual. One of the important ele- 
ments that needs to be present is a bila leaf. This bila 
leaf is a symbol of the lord almighty. When you perform 
the rituals of Siwa's night many other elements are also 
necessary, including many fragrant flowers: jasmine, fran- 
gipani, oleander, and other lovely blossoms. These are 
the elements that must be ready to use on the night of 
Siwa. Besides that, all you honored listeners, the rituals 



cening, kenten naler ida dane pamiarsa sereng samian. 
Duaning niki sampun titah Ida Batara Siwa ngicenang 
ngicenin kaweruhan, madasar antuk paripolah ipun 1 
Lubdaka. Nika pinaka suluh, pinaka gambaran, pinaka 
bayangan, ring sajeroning ngemargiang kauripane. 
Kenten. Mangdane sayuwakti prasida mulat sarira. 
Merenung, napi sane sampun kemargiang awarsa, setahun 
sekali. Kenten nika. Nggih atiban. Napi sane sampun 
laksanin. Kaon becike. Menawi akwehan iwangne nika. 
Pelihe liu nika sane renungan patutne ring malem 
Siwalatrine punika. Sampunang nyen meboya-boya, 
ritatkala ngelarang Siwalatrine punika. Magdene wiakti 
sekadi punapi pemargin ipune I Lubdaka. Akeh ipun 
ngelah dosa, ngelah keiwangan, kepelihan, prasida ipun 
parek, pack sareng Ida Batara Siwa. Nika kaluwihan ipun. 



Ainggih ida dane pamiarsa sareng sinamian. Duaning 
wenten niki uger-uger risajeroning pacang ngelarang sane 
kebaos Siwalatri, inggih punika nenten wenten tios maka 
sarana ritatkala malem Siwalatri punika. Sareng sami 
mangda prasida eling, inget, pacang ngemargiang 
Siwalatrine punika, mejalaran antuk upakara upacarane 
punika. Wenten sinalih tunggil sane utamane punika daun 
bilane. Punika pinaka piranti serana. Bila ne punika 
pinakang Ida Sang Hyang Widhi. Sangkaning sajeroning 
ngemargiang Siwalatrine punika, sarwa upakara, sarwa 
sekar sane miik, sekar menuh, cempaka, melati, napi sane 
maka luih-luih punika, mangda ne punika kaangen 
ritatkala nyangra inggih punika Siwalatrine punika. 



dituntut adalah kesungguhannya. Ini adalah perintah dari 
Dewa Siwa memberikan pelajaran berdasar perlakuannya 
si Lubdaka. Itu yang dijadikan cermin, sebagai gambaran, 
bayang-bayang ketika menjalankan kehidupan di dunia 
ini. Demikian. Agar dengan penuh kesungguhan dapat 
menginstrospeksi diri. Merenung. Apa yang telah 
dikerjakan selama setahun? Ya sekali dalam setahun. Apa 
yang telah dikerjakan? Perbuatan baik maupun perbuatan 
buruknya. Sudah barang tentu banyak kesalahan yang 
mungkin dilakukan. Perbuatan yang salah itulah patut 
direnungkan pada malam Siwalatri itu. Jangan asal-asalan 
saja manakala melakukan malam Siwalatri. Agar 
sungguh-sungguh seperti apa yang dilakukan oleh si 
Lubdaka. Dia memiliki banyak dosa, kesalahan, dan dia 
berhasil menghadap Sanghyang Siwa. Itulah 
keutamaannya. 

Ya para pemirsa yang budiman. Oleh karena ada tata 
aturannya ketika hendak melaksanakan apa yang disebut 
Siwalatri itu, yakni tiada lain adalah sarana yang 
digunakan pada malam Siwalatri tersebut. Semuanya 
harus paham, ingat, manakala melaksanakan Siwalatri itu, 
dengan sarana upakara pada upacara tersebut. Salah satu 
unsur penting dari upakara itu adalah daun "bila" (daun 
maja). Daun ini merupakan kelengkapan upakara yang 
harus disertakan. Daun maja itu adalah personifikasi 
perwujudan Tuhan. Oleh karenanya ketika melaksanakan 
malam Siwalatri itu, upakaranya dilengkapi dengan segala 
macam bunga yang berbau harum semerbak, seperti 
bunga menuh, cempaka, melati, dan bunga lainnya yang 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



123 



Trie Invisible Mirror 




W 



jiP«o «A ru) 0Y\ <rn xp T\^ <Tn f^^^ «A jrOrti a 




" <fJ^v>V^,KJ<*^ 



>T i'5>> ^ -ofj) i^ n «;> iT) jjT ^«j? ^ OA jft <n> ti T>^ <Tn fo^ «A x-Ort^^ 






v{m^i)*ty 






of Siwa's night should be performed seriously. It is es- 
sential to have the proper materials for the ritual: the 
proper flowers and the bila leaves that are necessary to 
worship the lord almighty. Fragrant incense should be 
present, as should the cam offerings to the lower spirits, 
and milk porridge. Then sacred lamps should be lit. There 
should also be sugared rice porridge to be offered with 
green peas. That is the most important caru offering. 
Yes, that's the highest form of caru offering. There should 
also be fruit and things to drink, together with fish. 



Yes, all you honored listeners. Don't forget to use drums 
and gongs and performances. These should also be in- 
cluded. Poetry and chanted prayers should also be per- 
formed. It would be even better if you could recite the 
story of Lubdaka. That is what should be recited on that 
night. On Siwa's night, that is what should be recited. 
These elements of the ritual are like bridges or illuminat- 
ing insights that have been recorded by wise men con- 
cerning life in the material world, concerning the path of 
human life. That's what all those things are. They are 
guide rails on the bridge of life. 

Actually the most important thing, all you honored lis- 
teners, is that you remember, remember the mistakes you 
have made on life's path. It is often said that no one is 
perfect. There is no one who performs their religious 
obUgations perfectly. Surely it is true that everyone makes 
mistakes. 



Tiosang ring punika naler mangdane ida dane sareng 
sinamian, sayuwakti ritatakala ngelarang Siwalatrine 
puniki, mangda teleb niki. Wenten utamane niki malih 
sahanane sarwa santun daun bila punika, mangda wenten 
ritatkala anggen mengarcana Ida Sang Hyang Widi. 
Suganda dupa dulurin. Punang caru bubur empehan. Saha 
greta maka sundih. Kenten naler bubur gula tios malih. 
Jagi katur liniwet Ian antak welis wills. Punika adining 
caru. Nah punika nirgamayang caru. Dulurin pala, pana 
yukti. Matsiaka dagingin reko. 



Inggih ida dane pamiarsa sareng sinamian. Saha 
sayanamba tan lali jangkep sampun gong Ian unen-unen, 
nah nika malih, unen-unen kekawin kekidungan. Napi 
malih sida kawacen sane kebaos kekawin Lubdaka 
punika. Mangda presida kawacen ritatkala wengine 
punika. Malem Siwalatrine punika, mangdane kewacen. 
Duaning nika pinaka titi, utawi suluh sane sampun kasurat 
majeng ring ida pawikan. Ngenanin kauripan ring 
mercapada. Ngemanin kauripan sajeroning ngemargiang 
kauripan. Napi ja sakaluire punika. Nika pinaka titi 
pengancan. 

Maka sujatin ipun, untengne pisan, mangdane Ida dane 
sareng sinami eling inget. Eling ring keiwangan- 
keiwangan sane sampun kemargiang, sane sampun 
kelaksanayang. Duaning ketah sane kebaos, ten wenten 
nyen manusa nulus, ngelarang darma, nenten wenten. 
Jjinten pisan, janten puniki, wenten pisan keiwangan ipun. 



berbau harum. Semuanya itu dijadikan sarana 
melaksanakan malam Siwalatri tersebut. Di samping itu 
para hadirin dituntut melakukannya dengan sungguh dan 
khusuk. Daun maja dan berbagai bunga yang harum- 
harum itu dijadikan sarana utama dalam pemujaan Tuhan. 
Dupa yang berbau harum juga dipakai. Demikian juga 
dengan persembahan caru bubur air susu. Penerangan suci 
dinyalakan. Dilengkapi dengan bubur gula ditambah 
dengan kacang buncis hijau, dimasak dan dijadikan 
persembahan utama. Itulah ibaratnya caru. Dilengkapi 
dengan ikan, minuman, dan buah-buahan. 

Ya pemirsa yang budiman semuanya. Tak lupa juga 
menggelar seni pertunjukan dan iringan gamelan, 
lantunan tembang kekawin dan kidung. Apalagi pada saat 
itu bisa dibaca lontar yang dipetik dari Kekawin Lubdaka. 
Itu yang patut diusahakan dibaca pada malam hari 
Siwalatri itu. Oleh karena lontar itu dikarang sebagai 
karya sastra oleh orang pintar, dimana isinya sarat makna 
yang dapat dijadikan titi dan pegangan atau pelita 
penerangan dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini. 
Semua isinya itu merupakan pegangan dan titi dalam 
berbuat. 

Isi sesungguhnya, esensi dasarnya mengajarkan kita dan 
pemirsa semua, untuk tetap ingat dan sadar. Sadar akan 
kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat dimasa lampau. 
Mengingat seperti sering disebutkan bahwa 'tiada orang 
yang mampu menjalankan darma secara utuh tanpa cacat.' 
Tidak ada. Sudah barang tentu pernah jua berbuat salah. 



124 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



'ifT^<^^»:)nyriy.^p'^j-T oi>^ 3^ii^^^''^^;^^ int^rxD^^^r^^ rmn»j^<j;)a)'^^ 



^s''-'<j)trzjtf.2<f 



-ID ~ 






t-A-l 



-v> 



\tlnP^ 









i 






Even more so in times like ours now. Life has many 
challenges. That's what people say. How is it possible 
for people to perform their obligations one hundred per- 
cent perfectly? Ha ha ha. It is impossible. Why is that? 
It is because of the times we live in. 



This is the point I am trying to make, my honored listen- 
ers. Actually the story of Lubdaka is like a lamp that 
illuminates the actions we should all perform, a light that 
we should follow. The contents of the story illuminate 
the path of our lives. 



Remember to ask forgiveness from the lord almighty, from 
above, from Lord Siwa, from the god Siwa, because he is 
the one who has power over the world. That is why on 
the night of Siwa we should all go to the sacred temples 
in the villages, and especially to the temples of the dead. 
Because Siwa dwells in the temple of the dead. That is 
the way things have been for a long time. That is the way 
things have always been. 



But I will say again that you should do all this very seri- 
ously, with deep thoughts. Use pure thoughts to control 
your passions. Reflect deeply on the things that you have 
done. Perform the ceremony of 'learning from your an- 
ger.' 



Napi malih ring aab jagate sekadi mangkin. Hidup banyak 
tantangan, kenten anake maosang. Duk kapan manusane 
sida ngelarang sane darma seratus persen, kenten ha ha 
ha. Ten mresidayang. Napi mahawinan sapunika ? Aab 
jaman sane ngawinan. 



Cutet ipun titiang nunas ring pamiarsa sareng sinamian. 
Maka sujatine niki wantah sesuluh sane utama, satuan 
ipun I Lubdaka. Ngiring sareng sami ngelarang puniki. 
Niki angen suluh. Niki inti niki, sajeroning ngemargiang 
kauripan. 



Eling nunas pengampura majeng ring Ida Batara ring Ida 
Sang Hyang Widhi. Ring Ida para keluwuran. Ring Ida 
Sanghyang Siwa. Ida Batara Siwa. Duaning Ida sane 
ngawi wenangang iriki ring jagate. Sangkaning mangkin 
ritatkala wengi Siwalatrine punika, sareng sami pura 
genah sane suci, ring desa pekramana mejanten sampun 
kagelarang ring Pura Dalem. Duaning Ida Batara Siwa 
melinggih ring Pura Dalem. Sane sampun ketah sampun 
sakeng nguni, sampun asapunika pemargine. 

Sakewanten malih pisan, mangdane sayuwakti teleb. 
Teleb kayun. Ningan kayune ne nguasa kita. Mulat sarira, 
elingan napi sane sampun laksanin. 



Apalagi pada era jaman seperti sekarang ini. Hidup 
banyak tantangan, demikian orang sering menyebutnya. 
Mana mungkin seseorang dapat menjalankan darma 
seratus persen. Ha ha ha. Tidak bakalan mungkin. Apa 
sebabnya demikian? Keadaan jamanlah yang 
menyebabkannya. 

Pada intinya saya mohon perhatian para pemirsa 
semuanya, bahwa sesungguhnya ceritera si Lubdaka ini 
adalah pelita penerangan hidup yang utama. Seyogyanya 
kita semua melaksanakan hal seperti ini. Ini dijadikan 
pelita penerangan. Inilah inti dalam mengarungi bahtera 
kehidupan. 

Mohon ampun kehadapan para Dewa kepada Tuhan dan 
kepada leluhur pendahulu generasi sebelumnya. Terhadap 
beliau Sanghyang Siwa, beliau Bhatara Siwa. Oleh karena 
beliaulah yang kuasa di dunia ini. Bhatara Siwa berstana 
di Pura Dalem. Itu sebabnya pada saat malam Siwalatri 
itu di tempat suci di wilayah desa seperti Pura Dalemlah 
tempat yang paling tepat untuk penyelenggaraannya. 
Sudah umum, dan berlangsung sejak dahulu memang 
demikian kebiasaarmya. 

Sekali lagi agar dari lubuk hati yang betul-betul khusuk 
hal itu dilakukan. Bersihkan, sucikan diri dari dorongan 
hati yang menguasai kehendak. Instrospeksi diri. Ingat- 
ingat apa yang telah kita perbuat. 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



126 



Trie Invisible Mirror 







'^'^^^J^*^'^'^^?^>^^p'^>^l9^^i'^C)(^m'J1^>iSv»0 




Make an offering of 'atoning for your anger' or 'learning 
from your anger.' If anger has already erupted, because 
of unsatisfied desires, perform the ceremony of 'learn- 
ing from your anger.' Anger can be a teacher. 

You already know what a teacher is, don't you. He is the 
one who gives guidance. We can be guided by our mis- 
takes. We can learn something from our bad deeds. That 
is why we perform the ritual of 'learning from anger.' so 
that Lord Anger will not erupt. We ask Forgiveness from 
Lord Siwa once a year, for the things that we have done 
that are good and bad. That is the time for self-reflec- 
tion, to remember our mistakes, so that the lord almighty. 
Lord Siwa can give blessings to our lives here in the 
material world. We ask the path of our lives to be blessed 
here in the material world. So that Lord Siwa will be 
happy to give us the blessing of happiness, and free us 
from our mistakes. Those are the rules. 



But even after you have finished performing the rituals 
of Siwa's night, there are still many challenges to face, 
as I said earlier. Surely you will accumulate more. I 
don't mean you'll be accumulating more wealth. You'll 
be accumulating more mistakes. Little by little you can 
assemble your mistakes and ask for forgiveness again on 
the night of Siwa. Reflect again on your past actions and 
ask Lord Siwa to forgive you for them. 



Ngiring meguru piduka. Ngaturang upakara bendu utawi 
guru piduka, nggih. Yen bendu punika sampun jantos sida 
sampun menggah, mangdane nenten sangkaning arsa, 
dulurin antuk Guru Piduka. 

Guru, sampun uning sareng sinamian guru? Pinaka 
ngicenan penuntun. Duaning katuntun antuk keiwangan- 
keiwangane. Maguru teken kepelihan. Sangkaning 
meguru piduka mangdane nenten Ida duka, nenten 
menggah. Nunas pangampura majeng ring Ida awarsa 
apisan, punika. Napi sane sampun kemargiang kaon 
becike. Iriki wantah galah mulat sarira. Ngelingan 
kaiwangane, mangdane prasida Ida Sang Hyang Widi 
Wasa, Ida Batara Siwa ngicenan penugrahan sareng iraga 
sareng sinamian sane uripe iriki ring mercapada. Nunas 
merta ngemargiang kaon becike iriki ring mercapada. 
Mangdane Ida ledang arsa ngicenang, ngicening 
keledangan, panugrahan. Prasida lepas sakeng 
keiwangane. Asapunika uger-ugere. 

Sakewanten diastun nyen puput ngelarang Siwalatri, 
sekadi atur titiang nuni, duaning hidupe akeh tantangan, 
mejanten malih ngumpul-ngumpulan. Ten ja ngumpulin 
kesugian, ngumpul keiwangane malih. Mapunduh akidik- 
kidik nyantos atiban malih ngelarang Siwalatri. Malih 
mulat sarira nunas pangampura ring Ida, sapunika. 



Mari menghaturkan guru piduka. Menghaturkan upakara 
yang bertujuan meredam kemarahan. Ketika kemurkaan 
alam yang terjadi dan tidak diharapkan seyogyanyalah 
dihaturkan guru piduka. 

Semuanya sudah mengetahui apa arti guru itu? Yang 
memberikan tuntunan. Belajar dari tuntunan kesalahan. 
Berguru melalui kesalahan. Oleh karenanya patut 
dihaturkan guru piduka, agar kemurkaan beliau tidak 
memuncak. Mohon pengampunan kehadapan Beliau, 
setiap tahunnya. Apa yang telah diperbuat baik yang baik 
maupun yang buruk. Di situlah waktunya untuk 
introspeksi diri. Menyadari akan kesalahan, agar Tuhan 
Yang Maha Kuasa, Beliau Bhatara Siwa memberikan 
anugrah dan memberkati kita dan mahluk hidup di dunia 
fana. Mohon dalam menjalankan baik buruk di sini di 
dunia nyata diberi kebutuhan kehidupan. Agar beliau 
berkenan memberikan anugrah kesejahteraan. Agar dapat 
lepas dari kesalahan. Demikianlah tatacara dan aturannya. 

Kendatipun sudah selesai menjalankan Siwalatri seperti 
yang telah saya paparkan di depan, oleh karena hidup ini 
penuh tantangan, sudah barang tentu akan kembali 
berkumpul lagi. Bukan mengumpulkan kekayaan, namun 
mengumpulkan kesalahan lagi. Sedikit demi sedikit 
kesalahan dibuat, dalam setahunnya wajib melaksanakan 
Siwalatri. Lagi introspeksi diri mohon pengampunan 
kehadapan Beliau. 



126 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



n'^i:^ 






^^ tj^'^ff) i^d)^^tj)irj^y^'^Sofiria 



o,^ p 



c>j'iOh<i>ir(itfti^tD'jir)ir'm'a 'a'^<u><>^x->'t^^,'shs,»'j\ij>'^i^'^^* 



nr v »> fci)v s^^ or im"""^2j^<x^ fljir^ cl^ *i> tr ^ »^ «/ «^ 



j) in^ ^ «n »9 -rt) «TO 1-5^ ix5i . 



.J?-^ 






Yes, all you honored listeners. I am just an ignorant soul, 
telling you the story of Lubdaka. You already know all 
about it. Now I will continue to explain the story's mean- 
ing as I understand it, from what I have read. 



This is what I think is the essential core meaning of the 
story of Siwa's night, and it is nothing other than this: 
Lubdaka's story is like a guide rail for us as we cross the 
bridge of our hves. He made many mistakes by hunting, 
yes, that's true. Lubdaka is a hunter. What was he really 
hunting for? The word for hunting is connected to the 
word for animal ('bum' and 'buron'). Animals have to 
be hunted. They have to be eliminated. Just like each of 
us has to kill the enemies that exist in our own bodies. 

Our beastly natures, our animal characteristics, need to 
be ripped away. Yes, because our animal natures do not 
understand the concept of 'Tri Premana." (The three uni- 
ties, elements, or heartbeats of thought, speech, and ac- 
tion.) Animals only have two of these elements, "Dwi 
Premana." Humans have all three elements: thought 
speech and action. That's what everyone says. For bet- 
ter or for worse we are all human. But humans have the 
most difficult lives. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather. It is 
difficult to be human. Especially in the times we live in 



Ainggih Ida dane pamiarsa sareng sinamian, duaning 
titiang puniki, napi wastane, jadma tambet. Nguningan 
sedaging satuane Lubdaka, duaning maka sami sampun 
pawikan. Niki wantah titiang ngelanturang sekadi daging 
sane uningan titiang. Sane polih wacen titiang. Nika sane 
katur. 



Untengne pisan puniki bobot ne pisan, malem Siwalatri, 
nenten ja wenten tios, sampun I Lubdaka pinaka titi 
pengancan punika. Iwang paripolah ipun meburu, nggih. 
Lubdaka wantah ipun meburu. Napi sane buru ipun? 
Mejanten maka sujatine, buru meteges buron. Burone nika 
nyandang pisan bum. Nyandang pisan punika kaonang. 
Nika pademan ane wenten meseh ring angga sarira iraga 
suang-suang. 



Sifat-sifat binatang, sifat-sifat burone punika, ngiring nika 
icalang. Inggih duaning burone punika ipun nenten sane 
kebaos medrebe Tri Premana. Wantah ipun medrebe Dwi 
Premana. Yening manusa Tri Premana. Bayu Sabda Idep. 
Manusa sane maosang maka sami. Becik, kaon, melah, 
sareng sami manusa. Sangkaning manusa paling keweh 
nyen idup. 



Nah cening cucun pekak ajak makejang. Keweh nyen idup 
dadi manusa. Apa buin di jaman j ani nyen ning nah. Beh 



Kiranya para pemirsa yang budiman semuanya telah 
mengetahui akan kekurangan diri saya ini dalam 
memaparkan seisi ceriteranya si Lubdaka. Terlebih lagi 
kebanyakan diantara pemirsa sudah memahami isinya. 
Saya menyampaikan isi dari ceritera tersebut seperti yang 
telah saya utarakan dari apa yang saya ketahui, yang saya 
dapatkan dari membaca. Itulah yang saya suguhkan. 

Pemaknaan yang hakiki dari malam Siwaltri itu sendiri 
tiada lain bahwa ceritera si Lubdaka itu yang dijadikan 
pijakan dan pegangan berbuat. Ya, perbuatannya sebagai 
pemburu memang salah. Si Lubdaka memang adalah 
seorang pembum. Apa yang dia bum? Pada kenyataannya 
sesungguhnya buru itu berarti buron, binatang. Sifat 
binatang yang menjadi musuh dalam diri kita itu patut 
untuk dibum, dan hams disingkirkan dari diri masing- 
masing. 

Sifat-sifat binatang, kelakuan sebagai binatang dalam diri 
itulah yang patut disingkirkan. Karena yang namanya 
binatang itu, dikatakan tidak memiliki apa yang disebut 
Tri Pramana. Mereka hanyalah memiUki Dwi Premana. 
Kalau manusia memiliki Tri Premana yang terdiri dari 
tenaga, ucapan, dan pikiran. Manusialah yang menyebut 
itu semua. Benar, salah, semuanya oleh manusia. 
Makanya hidup jadi manusialah yang paling sulit. 



Ya cening, cucu-cucu kakek semuanya. Memang sulit 
hidup menjadi manusia. Apalagi di jaman sekarang ini. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



127 



Th 



e invisi 



ible M 



irror 



'm 



«IM^— ■!■ Ill I '' '' ■ I 



Cr' 






o' ~ '?P/-^o^r no 



now. It is difficult for all of us to earn a living. It is hard 
for us to keep our desires under control. There are the 
enemies that dwell in our bodies. This is what the story 
of Lubdaka is really all about. We should perform good 
deeds. We should minimize the number of bad deeds 
that we commit, so that we can eliminate our mistakes. 
Even if we have made a lot of mistakes, we should re- 
member to perform the ritual of Siwa's night. That's the 
way it should be, my little ones. 

Yes, all you honored Usteners. I have already said enough. 
I have already told you the story of Lubdaka in seven 
episodes. Now I will summarize the essence of the story. 
On what is called the night of purging sins, one thing is 
important: to remember your bad deeds, the things you 
have akeady done, all the mistakes that you have made. 
On Siwa's night, we should all remember our mistakes, 
and nothing else. We should not be greedy on the night 
of Siwa. 

We should not ask for wealth or anything like that. That 
is the time for us to think about what we have done in the 
past. We should admit our mistakes and bad deeds to 
Lord Siwa, offer them to Lord Siwa, offer them to the 
almighty lord. We should offer our sins to the Lord, so 
that he will be happy to forgive us and give us blessings, 
and so that we can minimize our bad deeds. Yes. all you 
honored listeners. Now our time is almost finished. 



makejang- makejang keweh alih. Keweh, maka sujatine 
iraga ne pang ngidang gen ngeret ane madan indria. 
Musuh ane ada di angga sarira. Keto maka sujatine ne 
ada di satuane Lubdakane. Iragane pang berbuat ane 
madan rahayu. Pang abedikan ngae ane madan laksana 
tan rahayu. Pang bedikan ngelah pelih. Disagete nyen 
ngelah pelih liu, ingetang gelarang ane madan Siwalatri. 
Keto nyen, ning nah. 



Ainggih ida dane pamiarsa sareng sinamian. Mangda 
nenten titiang ngelangkungan puniki. Duaning sampun 
ping pitu titiang nyatuang puniki I Lubdaka. Maka 
sujatine inti titiang nyimpulang malih mangkin. Malem 
peleburan dosa sane kebaos, wantah asiki, eling ring 
keiwangan. Napi sane sampun kemargiang. Amongken 
suba liune kapelihane nika. Ngiring ring malem 
Siwalatrine nika, sareng sami ngelingan keiwangan 
punika ten wenten tios. 

Sampunang pemerih ring malem Siwalatrine punika. 
Ngerereh kasugihan, ten wenten punika. Ring galahe 
punika sareng sinamian mepekayun napi sane sampun 
kelaksanayang. Iwange punika, inggih iwange punika 
sane uningan ring Ida. Katur ring Ida Batara Siwa. Katur 
ring Ida Sang Hyang Widhi. Iwange aturang ring Ida. 
Mangda Ida ledang ngampurayang, mepica panugrahan. 
Mangda akidik nyen kantun keiwangane. 



Segalanya sulit dicari. Sulit, sesungguhnya agar kita 
mampu mengendalikan tuntutan indra diri. Musuh yang 
ada di dalam diri. Makna seperti itu sesungguhnya yang 
terkandung di dalam ceriteranya si Lubdaka. Kita 
diajarkan untuk berbuat baik. Mengurangi melakukan 
perbuatan yang tidak bagus. Mengurangi berbuat salah. 
Kalaupun memiliki banyak kesalahan patut ingat untuk 
melakukan Siwalatri. Demikian cening cucuku. 



Yah para pemirsa yang budiman semuanya. Agar saya 
tidak melewati batas, oleh karena saya telah membawakan 
ceritera si Lubdaka ini dalam tujuh episode, kini sebagai 
kesimpulan akhir saya akan utarakan lagi, bahwa yang 
disebut dengan malam peleburan dosa hanyalah satu 
yakni ingat akan kesalahan yang pernah dibuat. Apa y an' 
telah diperbuat. Seberapa banyak kesalahan pernai 
dilakukan. Pada malam Siwalatrilah tiada lain semutu 
kesalahan itu patut direnung. 

Tidaklah patut pamerih untuk memperoleh kekayaan pada 
malam Siwalatri tersebut. Jangan. Pada saa itu semuanya 
seharusnya berpikir tentang perbuatan yang telah 
dilakukan pada kurun waktu sebelumnya. Kesalahan yang 
diperbuat. Ya kesalah itulah yang mesti dimohonkan 
ampun, kehadapan Sanghyang Siwa, disampaikan 
kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, agar beliau berkenan 
mengampuninya dan memberi berkah. Agar kesalah 
tersebut menjadi semakin kecil. 



128 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di aalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 




Yes, all you little grandchildren of your grandfather. Your 
grandfather asks you to never stop performing the rituals 
of Siwa's night. And one more thing I want to remind 
you about. Don't ask for forgiveness from the lord only 
on the night of Siwa. My little ones already perform those 
rituals every day, when you say your daily prayers, the 
ones called Tri Sandyane. (Thi^ee Encounters with Time: 
Dawn, Mid-day, and Dusk). Yeessss, you ask forgive- 
ness for the mistakes in your thoughts. You ask forgive- 
ness for the mistakes in your actions, my little ones. You 
ask forgiveness for the mistakes you made in speaking 
words that were not kind. You are already asking for- 
giveness from Siwa when you perform your daily prayers 
of Tri Sandy a, my little ones. 

Yes, all you little grandchildren of your grandfather, and 
all you other honored listeners. I hope it was useful for 
you to hear the story of Lubdaka. The story is already 
very well known to all followers of the Hindu religion. 
All of you already perform the ritual of Siwa's night once 
a year. I wish you the blessing of peace from the al- 
mighty lord. 



Inggih Ida dane pamiarsa sareng sinamian, duaning puniki 
sampun mewasta galah. Nah cening cucun pekak ajak 
makejang. Pekak ngidih nyen teken cening, sawireh 
cening tusing suwud-suwud ngelarang ane madan malem 
Siwalatri. Buin besik ingetang pekak nyen. Da nyen di 
malem Siwalatri ne dogen nyen cening nunas pangampura 
ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Cening suba nyen 
serahina ritatkala cening suba ngelarang ane madan Tri 
Sandyane to suba, suba ada ditu. Eeem nunas 
pangampura, nunas keiwangan ripepineh cening. Nunas 
keiwangan teken laksanan cening . Nunas keiwangan 
teken raos ceninge ane sing melah to. Suba suba nyen 
nunas penugrahan to ritatkala cening ngelarang Tri 
Sandya ne to ning, naaa. 

Nah cening cucun pekak ajak makejang. Ida dane 
pamiarsa sareng sinamian. Dumogi nyen wenten 
pikenohnyane, titiang ngelanturang satuane ia I Lubdaka. 
Satua sane sampun ketah pisan. Turmaning umat sareng 
sinamian, ida dane sareng sami sampun sewarsa apisan 
ngelarang malem Siwalatri punika, sampun memargi. 
Dumogi asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi 
Wasa. 



Oleh karena ini sudah waktu. Yah pemirsa yang budiman 
semua, dan cening cucu-cucu kakek semuanya, kakek 
berpesan dan memohon agar cening tiada henti 
melaksanakan ritual malam Siwalatri. Satu lagi yang patut 
kakek ingatkan bahwa jangalah hanya pada malam 
Siwalatri itu saja cening mohon ampun dihadapan Tuhan 
Yang Maha Pengasih. Sesungguhnya setiap hari ketika 
cening menghaturkan puja Trisandya, sudah melakukan 
permohonan maaf. Di sana sudah termuat doa 
permohonan ampun atas segala dosa; dosa dari salah 
berpikr, kesalahan dari perbuatan dan kesalahan dari 
berbicara atau berucap yang kurang baik. Cening sudah 
memohon anugrah ketika berdoa dengan mantram Tri 
Sandya tersebut. 

Nah cening, cucu-cucu kakek semua demikian pula 
dengan seluruh pemirsa yang budiman semoga saja 
bermanfaat adanya manakala saya membawakan ceritera 
si Lubdaka ini. Ceritera ini sudah sangat lumrah. Apalagi 
umat semua, hadirin sekalian, sekali dalam setahun sudah 
berlangsung secara berkesinambuangan melaksanakan 
malam Siwalatri tersebut. Semoga saja Tuhan Yang Maha 
Esa senantiasa memberkati kita sekalian. 



There are many difficulties in the times we live in now, 
as we follow the paths of our lives in the material world. 
Hopefully the lord will bless you with his guidance. I 
wish peace and prosperity to all of you in the world. To 
all of you in the world I wish peace and prosperity. May 
you be guided by the lord. I will end with the closing 



Ring aab jagate sekadi mangkin, makweh sayuwakti 
kemeweh-kemewehan, ngelarang, ngemargiang keuripan 
di mercapada. Dumogi Ida ngicenan penuntun. Rahajeng 
rahayu jagat Ida dane sareng sinamian. Ida dane sareng 
sinamian rahayu rahajeng sareng sinamian. Ngemolihang 
penuntun ring Ida. Ainggih puputang titiang antuk 



Dalam era jaman seperti sekarang ini, sungguh banyak 
kesulitan melaksanakan kehidupan di dunia ini. Semoga 
saja Beliau berkenan memberi tuntunan. Selamat sentausa 
untuk negara para hadirin semua. Dan hadirin sekalian 
juga menemui selamat dan sejahtera semuanya, serta 
selalu mendapatkan tuntunan dari Beliau. Yah saya sudahi 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



129 



The Invisible Mirror 




• '"i^/f 



V^ ». ' ^ ' 






ih"y 



■5v 



^ ^^"1 



i^ <V «?j) Oi^ 5q ■<• «O "'O -u 







blessings. "Om santi, santi, santi, Om. " ("Let there be paramasanti. "Om Santi, Santi, Santi, Om." 

peace in your heart, peace in the world, and peace in the 

heavens.") 



The End 



Puput 



dengan menghaturkan paramasanti: "Om Snati, Santi, 
Santi, Om. " 



Selesai 






130 



SiwaratriUalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Pertunjukan 



Th 



e Invisible Mirror 



Luhdakas story as wayang: the cracked mirror of comic shadows 
Gerita Cuhdaka sebagai wayang: pecahan cermin dari bayangan komik 



In Bali the invisible world of the spirit is often made visible with the help of shadows projected 
by firelight. The shadow puppet plays, known as "wayang kulit" tell stories of heroes strug- 
gling to reconcile the realities of the material world with the ideals of the heavens. According to 
I Ketut Kodi, one of the principal dalang puppeteers in the shadow play version of Lubdaka's 
story performed in 2002 at Denpasar 's Puputan field on the night of Siwalatri, "the first re- 
sponsibility of the dalang is to understand that the puppet play is an embodiment of the reli- 
gious teachings of the weda '. Kodi believes that it is his job to give a visible shape to the 
spiritual lessons contained in the ancient hindu religious scriptures known as weda. By giving 
voices to flickering silhouettes on a screen. Kodi and other dalang can highlight the ways in 
which mythic stories are directly relevant to the audience 's everyday experience. Their ani- 
mated shadows mirror the intangible intersection betH'een the life of the spirit and the life of the 
flesh. 



The play begins with a declaration by the dalang that the world has fallen into an 'era of 
confusion '. Humanity is plagued by confusion, drunkenness, and boasting. This prologue is 
meant to remind the audience of the world they live in, so that from the start they can listen to 
the story with an awareness of its relevance to their own lives. 



As the plot progresses, the dalang's narrative duties are usurped by the traditional clown ser- 
vant characters known collectively as the 'penasar ' They include Twalen (or Malen), Merdah 
(or Wredah), Delem, and Sangut. The first two are ser\>ants to the gods. The second pair are 
servants to the demons. In addition to translating the words spoken by their masters from old 
Javanese or Kawi (incomprehensible to most spectators) into the common Balinese vernacular 
The Penasar provide a running philosophical commentary on the action of the play They are 
translators in every sense of the word, employing all possible means to convey the underlying 
meaning of Lubdaka's story to their audience. The clown servants use puns, humor, slapstick, 
metaphors, riddles, and analogies to current events as strategies of interpretation. Twalen claims 
to get his information about life in the material world from "the heaven post, " the afterlife's 
equivalent of 'the Bali post, ' the newspaper most Balinese rely on for information about con- 
temporary politics, scandals, culture, and crime. The fact that Lubdaka's story takes place in 
the afterlife, gives the clowns ample opportunity to refiect on the link between people 's actions 
on earth and the place in heaven or hell that is granted to their souls. 



Di Bali, dunia yang tidak tampak dari roh (alam niskala) sering dibuat kelihatan dengan bantuan 
bayang-bayang yang diproyeksikan oleh cahaya api. Permainan bayangan wayang, dikenal 
dengan "wayang kulit" yang menceritakan cerita kepahlawanan untuk menyelaraskan 
kenyataan dari dunia material dengan yang ideal dari sorga. Menurut I Ketut Kodi, salah 
seorang dalang wayang kulit yang mementaskan versi cerita Lubdaka tahun 2002 di Lapangan 
Puputan Badung di Denpasar pada malam Siwalatri mengungkapkan, "tanggungjawab yang 
pertama dari seorang dalang adalah untuk memahami bahwa permainan wayang adalah suatu 
perwujudan dari ajaran religius weda. Kodi percaya bahwa pekerjaannya untuk memberikan 
suatu bentuk visualisasi tentang ajaran rohani yang terdapat dalam kitab hindu kuno yang 
dikenal dengan weda. Dengan memberikan antawacana pada kerdipan bayangan hitam dari 
tokoh-tokoh di layar. Kodi dan dalang lainnya dapat menyoroti cara yang mana dalam cerita 
mistik tersebut secara langsung berhubungan dengan pengalaman penonton sehari-hari. 
Bayang-bayang yang dihidupkan mencerminkan persimpangan yang tak dapat diraba antara 
kehidupan roh dengan kehidupan nyata. 

Permainan dimulai dengan deklarasi oleh dalang yang mengatakan bahwa dunia telah jatuh 
ke dalam suatu 'jaman yang membingungkan'. Manusia digoda oleh kebingungan, mabuk- 
mabukan, dan kebohongan. Prolog ini dimaksudkan untuk mengingatkan penonton dari dunia 
mereka tinggal, sehingga dari awal mereka mendengarkan cerita dengan suatu kesadaran 
tentang keterkaitannya dengan hidup mereka sendiri. 

Demikian alur cerita bergulir, tugas-tugas naratif dalang dikuasai oleh karakter tradisional 
panakawan sosok abdi yang lucu yang dikenal sebagai 'penasar ' Mereka meliputi Twalen 
( atau Malen), Merdah ( atau Wredah), Delem, dan Sangut. Dua peran pertama itu adalah para 
panakawan/abdi kepada para dewaatau tokoh protagonis. Pasangan yang kedua adalah para 
panakawan/abdi kepada tokoh-tokoh kejam atau tokoh antagonis. Sebagai tambahan untuk 
menterjemahkan kata-kata yang diucapkan oleh tuan mereka dari Jawa kuno atau Kawi (yang 
kebanyakan tidak dimengerti oleh penonton) ke dalam bahasa daerah Bali yang umum. Penasar 
menyediakan suatu komentar filosofis pada saat permainan. Mereka adalah penerjemah di 
setiap kata, memanfaatkan semua alat yang memungkinkan untuk menyampaikan arti dari 
Cerita Lubdaka kepada penonton. Panakawan ini menggunakan permainan kata-kata, jenaka, 
kelucuan dagelan, kiasan, tebakan, dan analogi sebagai strategi penafsiran peristiwa kekinian. 
Twalen mengakui untuk mendapatkan informasinya tentang hidup di dunia material dari "the 
heaven post" padanan kata alam baka dari "Bali Post", surat kabar yang kebanyakan dibaca 
oleh orang Bali, dipercaya untuk memberikan informasi tentang politik jaman ini, skandal, 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



131 



Th 



e Invisi 



ble Mirror 



kultur, dan kejahatan. Secara fakta bahwa Cerita Lubdaka berlangsung di alam baka, 
memberikan kesempatan besar kepada pelawak untuk bercermin pada hubungan antara tindakan 
masyarakat di bumi dan di surga atau di neraka yang diterima oleh atma-atma mereka. 



"The story illuminates the meaning of 'karma pala ' notes the dalang Kodi. 'The essence of 
'karma pala ' is that all actions, good or bad, have their consequences. And Lubdaka 's story 
demonstrates that everyone, no matter what their status on earth, can perform actions that earn 
them a place in heaven. " Through the voice of the clowns in the shadow play Kodi makes it 
clear that even good deeds performed unknowingly will be rewarded in the afterlife. One of the 
recurring questions for those who encounter Lubdaka 's story is why a man who made his living 
as a killer would be given a place in heaven on the basis of performing a ritual action of which 
he was unaware. {He stayed awake all night out of fear for his life, not consciously trying to 
fulfill the requirements of Siva 's ritual). The clown servants explain that performing good deeds 
unknowingly and humbly are more laudable than performing them ostentatiously with a lot of 
fanfare. They also stretch the frame of the play to bring in references to modem day political 
corruption and religious hypocrisy, but are quick to point out that the audience is free to accept 
or reject their advice. "These are the thoughts of an old man, " says Twalen. "If they are good, 
you can use them. If they are bad you can give them back. There is no need to apologize for 
returning them. " 



In the world of wayang, the Penasar servant clowns are the intermediaries between the invis- 
ible world of the gods and demons and the material world of the audience. Potbellied, buck - 
toothed, and straight - talking, they translate the story 's spiritual values into concrete terms. 
"If you plant sweet potatoes, you will harvest sweet potatoes, ' is Delem's succinct summary of 
the concept of 'karma pala'. Confronted with a group of souls trapped in hell's 'field of empti- 
ness" De'lem jokes callously that their lamentations are "like angklung music to my ears." 
Sangut mocks his brother's insensitivity with a wry insult, "you use people's suffering for 
entertainment. " Their ironic perspective brings the heavenly story down to earth. The penasar 
filter the religious teachings of Empu Tanakung 's poem through the cracked mirror of comedy, 
but the essential meaning of the story is rendered even more vivid and memorable by the power 
of their reflected laughter 



"Cerita ini menjelaskan arti 'karma pala' berdasarkan catatan dalang I Ketut Kodi. 'Inti sari 
karma pala ' adalah semua tindakan, baik atau buruk, mempunyai konsekwensi masing-masing. 
Dan cerita Lubdaka menunjukkan bahwa setiap orang, apapun status mereka di bumi, dapat 
melaksanakan tindakan yang mengantarkan mereka pada suatu tempat di surga. "Melalui 
antawacana pelawak bersama permaianan wayang kulit. Kodi membuatnya menjadi jelas bahwa 
kebajikan dilakukan tanpa diketahui akan dihargai di alam baka. Satu pertanyaan yang berulang- 
ulang dipertanyakan berkenaan dengan Cerita Lubdaka yakni mengapa seorang laki-laki yang 
memenuhi kebutuhan hidupnya dari profesi sebagai pembunuh akan diberi suatu tempat di 
surga atas dasar melakukan suatu tindakan upacara agama yang mana ia lakukan dengan 
tidak sadar. {Ia bertahan terjaga semalam suntuk karena ketakutan akan keselamatan hidupnya, 
tanpa disadari usahanya telah memenuhi kebutuhan dari upacara agama Siwa). Para panakawan 
tersebut menjelaskan bahwa melakukan kebajikan yang tidak diketahui dan dilakukan dengan 
kerendahan hati, jadilah lebih terpuji dibanding melakukannya dengan memamerkan dengan 
cara diributkan. Mereka juga membentangkan bingkai permainan untuk mengacu ke hal-hal 
modernisasi kekinian, korupsi politik dan kemunafikan religius, tetapi dengan cepat juga 
memberikan kebebasan kepada penonton boleh menerima atau menolak nasihat mereka. "Ini 
adalah pemikiran dari seorang laki-laki tua. " Kata Twalen. "Jika itu baik, anda dapat 
menggunakannya. Jika tidak baik anda dapat mengembalikannya . Tidak perlu meminta maaf 
saat pengembaliannya. " 

Dalam dunia wayang, panakawan Penasar adalah perantara antara dunia yang tak tampak 
dari para dewa dan setan dengan dunia material penonton. Berperut gendut, bergigi hanya 
pada bagian belakang, dan cara berbicaranya tanpa tedeng aling-aling, mereka menterjemahkan 
nilai-nilai cerita rohani ke dalam terminologi kongkrit. " Jika kamu menanam ketela rambat, 
kamu akan memanen ketela rambat ", itu adalah ringkasan singkat Delem dari konsep 'karma 
pala '. Berhadapan dengan kelompok atma-atma yang terjerat di 'hamparan dataran kehampaan ' 
neraka, Delem melucu tanpa mengenal kasihan bahwa kesengsaraan mereka kedengarannya 
"seperti musik angklung di telingaku. " Sangut mengejek ketidakpekaan saudaranya dengan 
suatu hinaan miring, "kamu menggunakan penderitaan masyarakat untuk hiburan. " Perspektif 
yang ironis membawa cerita surgawi turun ke bumi. Penasar menyaring ajaran puisi Empu 
Tanakung melalui pecahan cermin dari komedi, tapi arti penting dari cerita disumbangkan 
lebih mengesankan dan dihidupkan lagi oleh kekuatan dari cerminan ketawa mereka. 



132 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Th 



e Invisi 



bleM 



irror 



O. oiwatrtrihalpa as Wayang: Luhdaka's story in shadow puppets at TPuputan IBadung Square in ^enpasai 
SiwaratnkaJpa Sehagai IPertunjukan Wayang Kulit di Lapangan IPuputan IBadung di Denpasar 




ENGLISH 



The era of balance gives way to the era of confusion. 
People are confused, drunk, and boastful. Boasting about 
their status, boasting about their wealth. They will never 
see heaven that way. People are truly confused. Herons 
look like crows. Crows resemble herons. 



Bad people strive for heaven. Kings strive for wealth. 
The moral obligations of dharma are ignored. Money is 
over- valued. Good people associate with bad people. They 
forget about dharma, and the world is no longer protected. 




BALI / KAWl 
Dalang: 
Dwapara nincap kali senggara, manusane bingung punyah 
bangga. Bangga ring gelar, bangga ring arta.Tan sida 
pacang nampekin gumi suargane madasar punika. 
Manusane wiakti bingung. Kokokan sinanggeh goak. 
Goak tinolih kokokan. 



Sang wibrama angayabinaning suarga. Sang Prabu 
angayabin arta, pipis. Nganggap Darma anyunjung arta. 
Sang kerta laksana mekanti ring durjana corah. Lantas 
lali ring swadarma. Angayomi panjak Ian gumi. Sane 



INDONESIA 

Jaman dwapara yuga telah beralih ke kalisengara. 
Manusia pada bingung, mabuk, dan bangga, dengan gelar 
sebutan, dan bangga akan harta.Tak bakalan mungkin 
dapat mendekati alam sorga dengan cara itu. Manusia 
sungguh bingung. Bangau dikiranya gagak. Gagak dilihat 
seperti bangau. 

Manusia bingung berjuang keras untuk memperoleh 
sorga. Seorang pemimpin mengagungkan harta dan uang. 
Merendahkan darma menjunjung harta. Orang bajik 
berteman dengan penjahat kakap. Kemudian lupa akan 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



133 



The Invisible Mirror 



When sins are committed, no one complains, and when 
wisdom is spoken, it is deemed senseless. 

Fire-balls, flames, and trash fill the world. Rape and 
violence rage unchecked. People in power act arbitrarily. 
They forget freedom, and find danger. Floods, fires, 
landslides, conflagrations. The whole world is in 
flames. Innocent children die. 



Yes, ladies and gentlemen. Let us all observe the proper 
rituals for the night of Siwa. Let us engage in the kind of 
self-reflection our religion teaches us. 

(Ihegamzlan music stops.) 

(sitys) I asfiprobinghj, when is tfie night of Siioa, my son Lord 

Atma. 



Ariwawuuuuuu. A little while later Lord Suniantala 
appears as a dark wind entering the Rangdu tree, the 
king of trees. The earth is trembling, as is the water, 
the wind, the fire, the sky, the stars, comets, and also 
the rays of the sun. 



It is time to Usten to "The Observing Siwa's Night" 
which was written flawlessly by Bagawan Tanakung. 



Apppeearrring now is Lord Kawi Swara, none other 
than the shaper of the story's structure. 

It is a story about Heaven. All the gods, priests. Ganas 

(the army of heaven), and Gandarwas (the heavenly musi- 
cians). Who am I? I am Lord Jagat Karana who will 
take the soul of Lubdaka who is already being led to 
heaven. 



iwang tan kaiwangin, muah sane beneh kabaos lengeh. 



Geni angabar-abar, asuri sampat ngebekin jagat. Metu 
ambek angkara parikosa. Para penguasa tetap sawenang- 
wenang. Mapuara kerta ya baya. Banjir, tanah longsor. 
Ageni baya, kebakaran, geseng telas bumi. Rare tanpa 
dosa matemahan pati. 



Inggih Ida Dane sareng sami.Ngiring mesedana antuk 
barata Siwalatri, ngiring sami mulat sarira. Kadi pituduh 
sang agama. 

(Qambelan terus sampai kemudian berhenti) 

(gending) Dahat aturing wang, nuju Siwaratri 

kalpaaaaaa. Duh nanak Sanghyang Atma. 

Dalang: 
Ariwawuuuu. Ri pira pinten gati kunang ikanang 
kala. Mijiiiil, Sanghyang Suniantara kadi gelap 
dumerasah sumusupin rangduning praja menala. 
Gumeter ikanang pertiwi, apah, bayu, teja, akasa, 
Hntang, trenggana muang ikanang surya, teeeeeja. 



Ariwawuuuu, riwusnian sampun jangkep ikanang 
Wrespati Siwaratrikalpa rineket denira Bagawan 
Tanakung natan hana waneh. 

Mijiiiiil. Sanghyang Kawi Swara natan sah amunggel 
punang tatwa carita. 

Antian kawinursita mangkin marikanang Suarga 
Loka. Wateking Widyadara, Resi, Gana, 
Gandarwa. Sira tekap nira Sanghyang Jagat Karana 
luirnia angamet pretan nira Sang Lubdaka. Bipraya 
sigra umawa marikanang Suarga. 



kewajiban, untuk melindungi rakyat dan negara. Yang 
salah tak pernah disalahkan. Yang benar dibilangnya gila. 

Api menjilat berkobar. Perbuatan sesat dan bejat 
memenuhi dunia. Menumbuhkan kehendak angkara 
dan pemerkosa. Para penguasa tetap se wenang-wenang. 
Mendambakan kebahagiaan justru dia sengsara. 
Banjir, tanah longsor. Bahaya api, kebakaran. Meluluh- 
lantakkan bumi. Bayi tanpa dosa menuai kematian. 

Ya para hadirin yang budiman. Mari berdasarkan berata 
Siwalatri, sama-sama introspeksi diri. Seperti yang 
diajarkan oleh agama. 

(gamelan terus sampai kemudian berhenti). 

Amat sangat permohonan seseorang, ketika malam 

Siwalatri. Duh nanda Sanghyang Atma. 



Ariwawuuuuuuuuu. Berapa waktu sudah 
terlewatkan. Muncullah Sanghyang Suniantara 
bagaikan kegelapan merasuk ke pohon randn 
pemerintahan kerajaan bumi. Bergetarlah tanah, 
air, angin, sinar, dan angkasa, bintang, gemerla[) 
langit, dan sinarnya surya. 

Setelah lengkap ceritera Siwalatrikalapa diguba! 
oleh Empu Tanakung, tiada lain. 



Munculah Sanghyang Kawi Swara, tiba-tiba saji 
memenggal gubahan ceritera tersebut. 

Diceriterakan sekarang di Sorga. Seluruh Widyadar» 
{penari sor^aziH), Resi (pendeta sorga), Gana (pasuliati 
perang sorga), Gandarwa {musisi sorgaioi) 

diperintahkan oleh Sanghyang Siwa mengambil 
atmanya si Lubdaka, untuk segera dibawa ke sorga. 



134 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Th 



e invisi 



ible Mirror 



It's liiiiike thaaaat (fwarse voice) Uhiiiik, hik hik hik. 



All the angels are together. Let's go, let's go, let's go. 
They are preparing to meet face to face with our god 
Lord Siva. Uhiiiiiik Please follow them. Please fol- 
low. Do not resist, We are all your little brothers. Get 
ready., ah aha, ah, eh, he. 



Don't be late, because there is already an invitation 
from Lord Baskara Dipati (t/ie sun) 



Also all the angels will wear costumes and go to 
heaven. 



Samangkanaaaaa. 
(Suara ringgH^an IQida) 
Uhiiiiiik, hik, hik, hik. 

Wateking Widydara Gandarwa sedaya. Enak, enak, 
enak, Umawas sigra umedek ri pangkajan nira 
Batara. Uhiiiiik. Lumaris-lumaris. Natan wihang 
yayateki ranten inganika sedaya. Pada sigraaaa. Ah, 
ah, ah, eh, eh, eh. 

Widyadara: 
Yatna-yatna, lamakana tan kasepan! Mapan sampun 
angascarya sira Sanghyang Baskara Dipati. 

Dalang : 
Mangkana juga sakwehing Widydari. Bipraya 
angrangsuk busana, mamujug ikang Suralaya. 



Demikiaaaaanlaaah. 

(Suara ^Rpiggi^n IQida) 
Uhiiiiiik, hik, hik, hik. 

Seluruh Widyadara, Gandarwa semua, mari mari, 
mari segera menghadap Bhatara junjungan. Uhiiiiik. 
Ayo berangkat, berangkat, tiada seorangpun 
adindamu menolak. Sama-sama segera berngkat. 
Ah, ah, ah, eh, eh, eh 



Bersiap-siaplah jangan sampai terlambat, 
karena matahari sudah semakin meninggi. 



Oleh 



Demikian juga untuk semua Bidadadari. 
Bergegaslah mengenakan busana, segera ke sorga 
untuk menghadap. 



It's also like this, all the angels are there. 



Sendon: 
Muang ikang tuahing werapsari. 



Dan seluruh Bidadari juga datang ke sana. 



{giri singers): the angels are all ready 



(mak singer): They are already joyous. 



Oh my lord, the presence of the angels is truly amazing. 
Some are called Widyadari and some are called 
Gandawra. All of them are there facing the Lord God 
Siva. That is the way it should be, all my little sisters. 



Sendon choral chanting: Sweet enchantment. It is not 
far away. A journey of long striding steps. 



Widyadara, 



Gerong; 

Widyadari pada sayaga sami. 

Sendon: 



Luir arsa pada sampun. 

Condong: 

Dong dewa ratu. wiakti ngangoban pisan, kawentenan 
Surapsarine maka sami, pada maican-ican. Yata 
kasarengin minakadi watek Widyadara- Widyadara, 
Gandarwa. medek ri pangkajan nira Batara. Nah pang 
keto, pang keto adi ajak makejang. 

(sendon) Uduh manis mangedanin. Ye haywa 
mangadoh. Tayung-tayung pejalane 



Semua Bidadara dan Bidadari siap siaga. 



Selagi semuanya sama-sama suka. 



Ya Tuhan, sungguh sangat mengagumkan keberadaan 
seluruh Bidadari. Semuanya bersuka cita. Mereka disertai 
oleh Bidadara dan Gandarwa untuk menghadap 
kehadapan Bhatara. "Yah demikianlah semestinya. 
Demianlah sepatutnya adik-adikku semuanya. 

Waduh manis menggemasJcan. Ye janganlah jauh-jauh. 

Jalannya sembari bertayungan. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



135 



Th 



e Invisi 



Die Mirror 



Angel: 
My sister, don't go far. Follow your older brother. 

Angel: 
My brother, I am following without resistance. I am 
your little sister. Please let's go together. 



Widyadara; 
Yayi aje doh. TXit wuri sira kakanta! 

Widyadari: 
Kakaaaa. Aneda ngiring natan wihang yeki ranten 
inganika. Enak pada lumaris. 



(tfie ma[e and f emak 'Widyadari and 'Widyadara anyeis dance) (Tara 'Widyadara, 'Widyadari menari) . 



Okay, that's right, that's right. Continue to be vigilant. 



Where is Merdah? Daaah, (the nickname of Merdah is 
Dah). Don't play games there under the pagoda. Do you 
think small change will fall down there. Come here 
quickly. Daaaah! 



Dalang : 

Nah pang keto, pang keto, nawa yatnane sandangan. 

Twalen: 

Ih, ne dija laku Werdah? Daaah, de ci krasak-krosok ditu 
di beten merune! Kaden ci ada sesari kenken ulung. 
Enggalan mai Daaah. 



Dinda, jangan menjauh. Ikuti langkah kakandamu. 



Kakanda. Baiklah, dinda mengikuti perintahmu. 
Mari kita sama-sama berangkat. 



Tara 'Bidadara dan 'Bidadari menari). 



Yah demikian sepatutnya, demikian. Waspadalah selalu. 



Ih, Nih mana sih si Merdah? Daaah, jangan di bawah 
meru di sana kamu grasa-grusu. Kamu kira ada sesari 
apa yang jatuh. Ayo cepat ke sini Dah. 



Oh, ha, ha, ha,. I am following you, I am following. I 
am, father. How does it feel to be in heaven with my 
father serving all the gods. What did father and I do in 
the past in the world to merit such a good place (in heaven) 
serving all the gods. 



That's right. It's like that, Dah. Our time in the world is 
past. That world was not our fmal destination. The final 
destination is here in heaven. That's because of how we 
were doing things. The material world is a place where 
you can look for the invisible world. In the material 
world we want to accomplish things like good deeds and 
studying. The result is that we get to heaven. If we did 
good things, yeeesss, we get chosen to go to heaven. If 
we did bad things, we would go to hell. 



Werdah: 

Aduuh, ha, ha, ha. Masedewek, masedewek wake, 
nanang. Kenken kerasa baan nanang ada minakadi 
Nanang wake dini di Suarga? Ngiring minakadi watekin 
Dewatane. To kenken ya jenanga pakardi ane suba di 
mercapada, sida wake kelawan nanang, maan tongos 
ne melah memarekan ngiring kadi linggih Dewatane sami. 

Twalen: 

Aduh nak mula keto Dah. Apan iraga lade di Mercapada, 
nak Mercapda to bukan tujuan akhir. Tujuan akhire mula 
dini di Suarga. Mawinang kenken abete mekardi, 
melaksana. Mapan sekala maka wadah ikang niskala. 
Nyak di sekala iragane megae, meyasa, melajah, 
pikohhne dini alap di Suarga. Yen melah pekardie, Eeee. 
Ka Suarga pendake. Yen jelek pakardine kema ke 
Yamadiloka. 



Aduuh ha, ha, ha. Baiklah, baiklah ayah. Bagaimana 
menurut ayah, adanya ayah dan aku di sini, di sorga? 
Menghamba kehadapan para dewata semua. Entah 
bagaimana barangkali karma kita sewaktu berada di dunia 
fana, berhasillah aku dan ayah mendapat tempat layak, 
mengabdi di sini dihadapan para Dewata semua. 



Aduh memang demikian sepatutnya Dah. Ketika kita 
masih berada di dunia fana, keberadaan kita di sana 
bukanlah merupakan tujuan akhir. Sorgalah merupakan tujuar 
akhir kita. Karenanya, bagaimana mestinya kita berbuat 
sesuatu. Sebab dunia nyata merupakan wadah dar: 
dunia maya. Bila kita rajin bekerja, berbuat bajik, belajar 
hasilnya akan dipetik di sorga. Kalau perbuatan kita baik 
Eeee. Dijemput di ajak ke sorga. Kalau perbuatan kitt 
buruk, ke nerakalah kita diantarkan. 



Ooo, is that the way it goes? According to our actions? 



Werdah: 

Ooo, keto pejalane, aaa tingkah iragane? 



Ooo, begitu toh perjalanan hasil kelakuan kita? 



136 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 






Twalen: 



That's right, Dah. 



So, so if that's what you, my father think, how are things 
going now in the material world. 



The situation in the material worid is like this, Dah. Your 
father knows about the worid, because there is the Heaven 
Post (apparentCy a cefestiaf edition of the 'Bdi Tost). 

What? 



The Heaven Post. The Heaven Post has all the important 
news in the worid. So that's why I know all about the 



Beneh, Dah. 



Werdah: 

Men-men yen kakeneh baan anake buka nanang kenken 
pidabdabe jani, keto di Mencapada? 

Twaien: 

Pidabdabe di Mercapada nak, nak kene Dah. Nah Bapa 
nawang unduk di Mercapada, sing ada nah Suarga Post. 



Werdah: 



Apa? 



Twalen: 

Suarga post. Di Suarga Postse makejang di muat sarin- 
sarin korane di Mercapada. Mawinang tawang kenken 



Benar, Dah. 



Ya terus, bagaimana kiranya menurut ayah keberadaan 
manusia di bumi sekarang ini? 



Keberdaan di dunia fana dewasa seperti sekarang ini, 
seperti ini anakku. Nah ayah tahu seluk beluk di dunia 
fana, menurut versi Sorga Post. 



Apa*] 



Sorga Post. Sari-sari berita koran di dunia fana semuanya 
dimuat di Sorga Post. Oleh karenanya segala sesuatu yang 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjutan 



137 



Th 



e invisi 



ible Mirror 



situation in the world, like how religion is doing. In the 
past didn't they have something called Tri Hita Karana: 
Pariangan, Pawongan, Palemahan: The connection be- 
tween humans and the gods, the connection between hu- 
mans and other humans, and the connection between hu- 
mans and the environment. That's why there are hori- 
zontal, vertical, and diagonal lines (representing tfiese three 
types of refationsfiips). Now it's changed a little bit com- 
pared to how it was before. The connection between the 
humans and the gods is already good because there is 
yadna. (the performance of refigious rituals). 



unduke di Mercapada, pejalan agama. 



Yen ane suba, pejalan agamane sing ne madan Tri Hita 
Karana. Pariangan, Pawongan, Palemahan. Hubungan 
manusia dengan Tuiian, hubungan manusia dengan manusia, 
hubungan manusia dengan lingkungan. Mawinang ada garis 
horisontal, vertikal, diagonal. Jani be melenang biin 
bedik bandingan ken ne suba. Hubungan manusa ajak 
Tuhane yadnya be mejalan. 



terjadi di dunia fana dapat diketahui. Baik tentang 
perjalanan agama juga. 

Menurut ajaran agama sejak dahulu ada yang disebut 
dengan Tri Hita Karana, terdiri dari bagian yakni 
Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan. Hubungan 
manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, 
hubungan manusia dengan lingl<ungan. Maltanya ada garis 
horizontal, vertikal dan diagonal. Sekarang ini sedikit sudah 
bergeser, dibanding dengan masa-masa lampau. 
Hubungan manusia dengan Tuhannya melalui upacara 
ritual sudah berjalan baik. 



Already good? 



Werdah: 



Ba luwung? 



Sudah bagus? 



Right. But, nowadays in the material world the connec- 
tion between humans and other humans is plagued with 
arguments. 



Twalen: 

Bench, Hubungan manusiae peturu ajak manusiae pragat 
meyegan di mercapada jani. 



Benar. Hanya hubungan manusia sesama manusia di dunia 
dewasa ini tak henti-hentinya bertengkar. 



What are they fighting over, Dad? 



All they do is argue. First, they argue because they like 
to say bad things about their friends. Secondly, they fight 
over the wet spots (the most lucrative positions). But if it 
gets too wet, they will be washed away by floods. 



And what about the connection with the environment, 
how is that? 



Werdah: 

Apa ya garange to nang? 

Twalen: 

Sing ada len tuah garange, to abesik, ia meyegan ulian 
demen pada ngetarang jelek timpal. Nomer dadua, pada 
megarang tempat basah. Lebian lantas basahe banjir 
nguyak lantas. 

Werdah: 

Men hubungan ajak lingkungane to? 



Apa barangkali yang mereka perebutkan. Ayah? 



Mereka berkelahi disebabkan oleh: pertama, merek i 
bertengkar karena mereka doyan saling menunju 
kejelekan teman. Keduanya, memperebutkan tempa 
basah. Terlalu basah, bajirlah yang melanda mereka. 



Bagaimana hubungan mereka dengan alar 
lingkungannya? 



Nowadays humans corrupt the environment too much. 
What places remain suitable for little creatures? What 
places remain suitable for the spirits and ghosts? Now 
they have already been forced out by humans. In the past 



Twalen: 

Jani to manusane bes memperkosa alam. Ne cen pantes 
tongos gumatat-gumitit, cen samar memedi? Jani jeg be 
paksae ken manusane. Yen lade tongos sisin-sisin tukade 
ada ne pidan lade tongos samar, tongos memedi, jani 



Sekarang ini manusia terlalu serakah memperkosa alam 
Yang mana tempatnya mahluk kecil-kecil, jin, hantu' 
Sekarang ini sudah dipaksa pergi oleh manusia 
Sebelumnya di tepi-tepi sungai, adalah tempatnya jin 



138 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjiikaii 



The Invisible Mirror 



there was a spot on the river bank that was once a place 
for spirits, a place for ghosts. Now it has been rebuilt for 
humans. That's the reason more and more bad things are 
happening to humans. 

You and I are lucky that our good deeds from the past 
brought us to this place. I always hear people saying bad 
things about their friends. That's what it's like on earth. 
So now the ones who liked to talk about their friends, the 
ones who said bad things about their friends, the ones 
who always looked for bad things to talk about, they all 
arrive in hell with their mouths in flames. The ones who 
steal the wealth of the country for private uses, will have 
their sinning hands chopped up in hell. 

If we pay attention to all of them, we see that there are 
also some good ones who belong in heaven. 



Oh Dad, that's the way it is with Ruabineda. (A pfiifosopfiy 
of diakcticaC contradictions that CTQSt in an interdependent state 
of dynamic equifibrium). There is bad and good. If there is 
no bad there is no good. That's the way it is. 



Now let's get back to the important things. What are all 
the angels thinking? Some are riding on elephants, some 
on horses. What are all the angels planning to do? 



Didn't you hear the news, Dad? The Lord will hold an 
open meeting now. What it's about, I don't really know. 
Let's get ready to approach them now. 



benine ken manusae to makejang.Keto-keto jani 
mawinang to jelekne biin bedik. 



Aget bapa ngajak nani, luwung ia lad pekardi jani suba 
ia lantes kekene. Orang jeg dingeh meyegan doen, saling 
omongan timpal, to di Mercapada. Awinang jani, ulian 
demen ngomongan timpal, nyelek-nyelekan timpal, ye 
demen ya memperhatikan jelekne, ked di Yamaloka jeg 
bobor bungtne. Ane demen nyuang, eeee. kekayaan negara 
angon kekayaan pribadi, limane pelih, limane tekteke ked 
di Yamaloka. 



Yen urusin to makejang ada mase ane melah, ane patut 
bakal maan Suargan. 

Werdah: 

Aduh nanang nak mula keto Rwa Binedae. Ada jele ada 
melah. Yen sing ada ne jele sing ngenah melahe. Nak 
mula keto. 



Twalen: 

Nah mawinang pamekas ne jani. Kenken pakayun 
widyadarane makejang, pada ngelinggihan gajah, 
ngelinggihin jaran? Para Widyadarine makejang nak 
kenken itungane? 

Werdah: 

Ye nanang sing ningeh orta? Ida Batara lakar ngadakang 
peparuman buka jani. Yen unduk apa to wake sing sanget 
be nawang. Jalan pada siaga dabdabang tangkil buka 
jani. 



Twalen: 



Let's go, let's go. Dad. 



Jalan-jalan, Jalan Dah. 



hantu, sekarang semuanya sudah diperbaiki oleh manusia. 
Demikianlah beberapa kejelekan perlakuan manusia 
sekarang ini. 

Beruntunglah ayah dan kamu, karena hasil perbuatan baik 
kita di dunia, makanya sekarang seperti ini. Aku bilang, 
mereka di dunia sana pada bertengkar terus saling 
menjelekkan teman. Makanya karena mereka suka 
menjelek-jelekkan teman, mencari-cari jelek teman, 
sesampainya di neraka, mulutnya dibakar. Mereka yang 
suka mencuri kekayaan negara untuk kekayaan pribadi, 
tangannya yang salah, tangannya dicincang di sana di 
neraka. 

Kalau ditelusuri ada juga diantara mereka yang berbuat 
baik, yang layak untuk mendapatkan sorga. 



Aduh ayah, memang demikian hukum rwa-bineda 
namanya. Ada yang buruk dan juga yang baik. Kalau tidak 
ada yang buruk, tidak bakalan kelihatan baiknya. Memang 
demikian adanya. 



Nah pentingnya sekarang ini, bagaimana kehendak para 
Widyadara semua? Semuanya pada menunggangi gajah, 
menunggangi kuda. Apa rencana mereka itu semua? 



Ooo, ayah tidak mendengar berita? Ida Bhatara bakalan 
menggelar pertemuan sekarang ini. Apa yang hendak 
dibicarakan, aku sama sekali tidak tahu. Mari kita siaga 
berkemas untuk menghadap sekarang juga. 



Mari, mari, mari, Dah. 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



139 



Th 



e Invisi 



ble M 



irror 



Dalang: 
So then all the Gandarwa angels appeared. They are Yayatika sakwehing ikanang Gandarwa, yata pada 
all looking for a place close to the Lord. kamulat ikanang unguan, bipraya pedek ri pangkajan 

sira Bhatara. 



Demikianlah kebanyakan para Gandarwa masing- 
masing mencari tempat duduk, hendak menghadap 
kehadapan paduka Bhatara. 



Brother, get ready, quickly. 



Gandarwa: 
Yayi pada sigra-sigra! 



Adinda, ayo segeralah, sama-sama. 



Okay. I'm not refusing. Here I am, your younger 
brother. Let's go together. 

(a song is sung) 



Please get ready and take your places. Don't worry 
about who you are (your status). Let's be together. 
Sit down anyplace, because the sun has already risen 
high over the mountain. 

(mak singer, soCo) A[C fmve arrived and off er their respects. 



All of the Gandarwa angels have already arrived. The 
Surenggana angels. The Widyadara angels. Suddenly 
Sang Citraganada appears, the right hand man of 
Lord Siwa. 



My Lord, why have you asked us all here: the 
Gandarwas, the Widyadaras, and the Surengganas. 
Please give us the pleasure of telling us why. 



Widyadari: 
Namyaaa. Natan wihang yayateki ranten inganika. 
Pada lumariiiiis. 

(nyanyian) 

Dalang: 
Enak pada taki-taki ikanang ungwan! Haywa kita 
mulating kraman ikanang angga. Ah enak prasama 
pada alungguh-alungguh pada rikanang ungwan! 
Mapan sampun ninggal parwata pun Hyang Baskara. 

Sendon: Pratapa, prasama pada umatur 

Dalang: 
Wireh sampun jangkep teka ikang Gandarwa, 
Surenggana, Widyadara. Warnaneeeeen ariwijil 
sira Sang Citrangada maka tangan tengen nira 
Sanghyang Nilakanta. 

Widyadara: 
Pakuluuun, kang kadiang punapa inganika minang 
yayateki wateking Gandarwa, Widyadara, 
Surenggana. Enaaaak yan sida pada enak 
winarahakna! 



Baiklah. Saya tidak menolak apa yang kakanda 
katakan. Sama-sama berangkat. 

(nyanyian) 



Silahkan cari tempatmu sendiri-sendiri. Jangan 
menghitung siapa dirimu. Mari, sama-sama 
mengambil tenpat duduk cari tempat masing-masing 
Matahari sudah semakin meninggi di atas gunung. 

Karena keagungan semuanya pada menyembah. 



Oleh karena semua para Gandarwa, Surenggana 
Widyadara sudah lengkap dan siap. Diceriterakar 
kehadiran sang Citrangada, beliau adalah sebaga 
tangan kanan Sanghyang Siwa. 



Yang Mulia, ada apa gerangan paduka memanggil 
kami semua para Gandarwa, Widyadara, Surenggana 
untuk datang menghadap. Silahkan beritahulah kami. 



Hey all of you angels, Widyadara, Surenggana, 
Gandarwa. Here is the statement of Sanghyang Jagat 
Nata (Lord Siwa). Some news has come to his atten- 



Sang Citrangada; 
Uduuuuuh. Uduuuh, Widyadara, Surenggana, 
Gandarwa sedaya. Yayateki hana bisama nira 
Sanghyang Jagat Nata. Mapan sampun hana weletik 



Uduuuuuh, uduuuuuh, Widyadara, Surenggana, 
Gandaarwa semua. Ini ada pembicaraan beliau 
Sanghyang Siwa. Oleh karena sudah tersebar kabar 



140 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Pertormance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



tion. 



There is an important human in the world whose name 
is Sang Lubdaka. He just died, and his soul has been 
seen between heaven and earth. He should be taken 
and brought to heaven. That is the message from Lord 
Siwa. 



ikang dasa werta. 

Hana manusa mautama marikanang Jagat Raya 
mengaran sira Sang Lubdaka. Sira wus pejah 
umawas pretanira hana maring pantaraning ikanang 
Suarga, dulur Mercapda. Yayateka wenang tinamet 
yata umawa marikanang Suarga. Mangkana 
bisamanira Sanghyang Siwa. 



beritanya. 

Adalah seorang manusia utama dari dunia fana yang 
bernama si Lubdaka. Dia sudah mati dan atmanya 
sekarang melayang-layang diantara alam sorga dan 
bumi. Atmanya itu patut diambil dan bawa ke sorga. 
Demikianlah sabda beliau Sanghyang Siwa. 




Lord, if that's how it is, we will obey, all of us, all the 
Gandarwa, Surenggaana, and Widydara. Please re- 
turn to your palace. I will tell all the Gandarwa to 
come down to earth. 

Ha, ha, ha.... Hey, all you angels, get ready quickly. 
Don't forget to bring your weapons, because we don't 
really know what to expect. Maybe there will be dan- 
ger on the journey. 



Gandarwa: 
Pakuluuun, yan mangkana, namya natan wihang 
yayateki Gandarwa, Surenggana, Widyadara sedaya. 
Enak sungsung alungguh inganika. Antian ingulun 
bipraya awarahaken ikanang Gandarwa prasama 
lamakana tumedun marikanang Mercapda. 
Ah, ah, ah. Wadwa lah kita sigra-sigra mangke! 
Haywa malupa angawa ikanang senjata. Mapan tan 
wruh, meh-meh hana baya yata marikanang 
kahawanan. 



Paduka Yang Mulia, kalau demikian halnya kami 
para Gandarwa, Surenggana, Widyadara semua siap 
dan tidak ada yang menampik. Sebaiknya paduka 
kembali ke istana. Hamba bakalan memanggil 
seluruh Gandarwa semua supaya turun ke bumi. 
Ah, ah, ah. Para prajurit semua. Bersiap-siaplah 
kalian segera. Jangan lupa membawa senjata. Sebab 
kita tidak pernah tahu, barangkali ada bahaya yang 
menghadang dalam perjalanan nanti. 



Sn 



■trikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



141 



Trie Invisible Mirror 



Yes, if that's how it is, go ahead. Get ready. 



(end of tfie Ttieetiry) Iriiiiih. Ha, ha. Quick, quick, quick, 
quick. Uhiiiiiik. Gik, gik, (myhing sound of fwrse). Quick, 
quick. Let's all get ready. Don't get left behind. Don't 
get left behind. There they are, hiiiiik. They get on 
their chariots. Hiiik. Flying in the sky. Oh, oh. (sound 
of surprise). 



Werdaah. 



Singgiiiih. 
sigra. 



Para Gandarwa: 
Yan mangkana enak pada umawas, sigra- 



Dalang: 
(Bubar petangkilan) Iriiiiii. Ihhh. Ha, ha , ha. 
Engal, enggal, enggal, engal! Uhiiiik. Gik, gik, 
gik. Enggal-enggal! Pada sigra. Aje kulen, aje 
kulen kita! Irikaaa, hiiiik. Marikanang kerete 
pwa sira. Hiiik. Umiber marikanang antariksa. 
Waduh. Beee. 



Twalen: 



Werdaaaah. 



Yang Mulya, jika demikian halnya dengan penuh 
perhatian, mari kita sama-sama, segera berangkat. 



(Pertemuan bubar). Iriiiii Ihhhh. Ha, ha, ha. 
Bergegaslah, bergegaslah, bergegaslah. Sama-sama 
siap. Jangan lamban. Jangan lamban. Irikaaa hiiiik. 
Di atas keretalah mereka berada. Hiiik. Terbang di 
antariksa. Waduh. Beee. 



Werdaaaaah. 



Dad, why is it that all the gods and goddesses and their 
angels are all looking for the soul whose name is Lubdaka. 



Oh, it's like this, Dah. Lubdaka is an ordinary person 
who has no status. 



Werdah: 

Nanang. Kenken dadi buka kene samah pesan kerasa 
Dewatane, Gandarwa ne makejang bakal ngalih pretane 
ne madan I Lubdaka to Nang. 

Twalen: 

To kene Dah, I Lubdaka to nak jelema sing mewangsa to 
Dah. 



Ayah. Bagaimana bisa begini para Dewata, Gandarwa, 
rasanya penuh berjejal. Mereka semua akan mencari 
atmanya si Lubdaka, Ayah. 



Begini Dah. Sesungguhnya di Lubdaka itu bukan manusia 
berkasta. 



Werdah: 



No status? 



He is a person of low status. It appears that he has no 
titles, but he has carried out good deeds. 

In heaven no one is looking for titles. Even if you have 
high status and fancy titles, if your conduct on the earth 
is not good, you cannot be sure to get into heaven. Even 
if someone is listed as having the lowest status, if he likes 
studying the wisdom of religious books, the command- 
ments of Lord Dharma, he can get to heaven. 



Sing mewangsa? 



Twalen: 

Nistange ken wangsan ye ne. Rasa-rasa tanpa wangsa. 
Kewala mapan melah pekardin ya ne. 

Mawinang di Suarga nak sing milih wangsa. Apin tegeh 
wangsane yen ba rasa di Mercapada sing melah, konden 
karwan maan Suarga. Apin ya mabacaken nista, ye demen 
melajin tutur agama, nudonin pituduh Sanghyang Darma 
molihang Suarga. 



Tidak berkasta? 



Dia dinistakan oleh kaumnya. Dia orang tidak berkasta 
Akan tetapi kelakuannyalah yang baik. 

Makanya, di sorga orang tidak menghitung dan tidal 
memilih kasta. Kendatipun kastanya tinggi, bila saat dii 
hidup di dunia nyata tidak pernah berbuat bajik, belun 
tentu mendapat sorga. Kendatipun dia disebut sebagai 
seorang nista, bila dia rajin dan senang mempejari ajarar 
agama, melaksanakan seperti yang dititahkan oleh ajarar 
Sanghyang Dharma, dia berhasil mendapatkan sorga. 



142 



Siwaratrikalpa: Baiinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



Because right and wrong actions do not depend on sta- 
tus. If you study literature diligently, study what is good, 
you will achieve good things. So what should we be do- 
ing? 



Dad, if that's how it is, do you maybe have a desire to 
return to the material world? 



Oh, it's like this, Merdah. The aim of what we call reli- 
gion is. . . to stay forever in heaven. So, if you're asking 
me, I have no plan to return to the material world. Why? 
The forest, the land in the material world is all over-de- 
veloped now, Merdah. If I return back there, I will have 
no place to stay. Why do I think that? It's been a long 
time that I've been living here with you. In the future 
who will take care of the material world. 



Oh, dad, don't talk about that. If you are here in heaven, 
just think about heaven. That's how it should be. 



That's the way it is. That's the reason you should behave 
well now, Merdah. We will follow all the gods. Surely 
they will pick up the soul of Lubdaka. 



Mapan bench pelihe to nak sing milih tongos. Yen demen 
nguhg sastra, melajah ayu, ayu ja tepuke. Mawinang 
jani kenken abete. 



Werdah: 

Nang, yen be keto, ada mirib keneh nanang buin ka 
Mercapda keto? 

Twalen: 

Aduh, keneDah. Tetujon agama, apa ne madan agama? 
Langgeng ditu di Suarga Loka. Yen bapa yen dadi, ada 
sing itungan ke Mercapada biin. Apa karana? Alase, 
tanahe di Mercapada nak be telah kapling-kaplinge jani 
Dah. Yen bapa kema, bapa sing maan tongos. To rambang 
bapa. Makelo kalin dini ajak nani. Biin mani, nyen ya 
ngapling di Mercapada? 



Werdah: 

Aduh Nanang de benya ngomong ne keto-keto. Yen 
benya dini di Suargan, Suargan gen rambang keto nake ! 



Twalen: 

To ba. Mawinang benehang yasa jani Dah! Bakal ngiring 
watek Dewatane makejang. cendek jani bakal nyemput 
atmane ia Sang Lubdaka. 



Makanya benar dan salah itu tidak pernah memilih tempat. 
Kalau suka mempelajari sastra, belajar yang baik-baik, 
yang baik-baik juga akan diketemui. Oleh karenanya, 
bagaimana semestinya kita sekarang? 



Ayah, kalau demikian halnya, apakan ayah mempunyai 
niat untuk kembali ke dunia nyata? 



Aduh, begini Dah. Tujuan sebuah agama; apa yang 
disebut agama? Langgeng di sana di sorga. Kalau ayah, 
tidak ada niat untuk kembali ke dunia nyata. Apa 
sebabnya? Hutan, dan tanah di bumi sekarang sudah habis 
dikapling-kapling. Kalau ayah datang lagi ke sana, ayah 
tidak bakalan kebagian tempat. Ngapain mikirin itu? 
Sudah lama ditinggal sama kamu berada di sini. Besok- 
besok siapa lagi kiranya yang bakalan ngapling di bumi? 



Aduh ayah, sudahlah. Jangan berbicara yang bukan- 
bukan. Kalau kita berada di sini, di sorga, sepatutnya sorga 
inilah yang patut kita pikirin. 



Itu dah. Makanya sekaranglah perbuatan kita ini mesti 
diperbaiki, Dah. Sekarang kita akan mengikuti para 
Dewata semua, tiada lain untuk mencari atmanya si 
Lubdaka. 



Oh, if it's like that, let's go, Dad. Quickly, quickly. 



Okay, Merdah, let's go. 



Werdah: 

Ooo, yan keto, jalan-jalan Nang, enggal-enggal! 



Twalen: 



Ooo jalan Dah, jalan. 



Ooo kalau demikian halnya. Ayolah, ayah, cepat-cepat, 
ayah. 



Ooo mari Dah, mari. 



Siwaratrifcalpa: Balinese Uteiature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



143 



Trie Invisible Mirror 



Oh, what a commotion among all the Widyadara and 
Gandarwa angels. Let it be told far and wide that 
many souls are being tortured by the Cikrabala de- 
mons. 

A soul: 
Oh, Lord God. What have I done wrong in the material 
world to have my body thrashed? 



I feel I have done something wrong in the material world. 
Oh, oh, oh. Mother, help me, my mother. Day and night 
I am in pain, being chopped up, being sawed into pieces 
by all the Cikrabala demons. Oh, oh. 



Dalang: 
Aduuuuuh, geger-geger wateking Widyadara, 
Gandarwa prasama. Warnaneeeeen. Caritanan 
Tegal Penangsaran pwa sira. Yayatika sakweh 
ikanang preta, binanda tekapning Cikrabala. 

Atma: 

Aduuuh, Ratu Betara. Napi iwang titiang ring Mercapada 
dados Betara ngemayang-mayang sikian titiang? 



Merasa-merasa titiang ring pelih ring Mercapada. Aduh, 
aduh, aduuuuuh. Meme tulung-tulung tiang meme. 
Peteng lemah tiang kesakitin, katektek, karegaji baan 
watek Cikrabala. Aduh, aduuuh. 



Aduh, Geger-geger seluruh Widyadara, Gandarwa 
semua. Warnaneeeeen. Diceriterakan di Tegal 
Penangsaran keberadaanya. Di sana kebanyakan 
atma-atma sedang disiksa oleh Cikrabala. 



Aduuuuh, sembah hamba kehadapan paduka Bhatara. Apa 
salah hamba di bumi? Paduka menyiksa hamba dengan 
keji. 

Tahu-tahulah hamba akan kesalahan hamba di bumi. 
Aduh, aduh, aduuuuh. Ibu, tolong saya ibu, tolong. Siang 
dan malam saya disiksa, dicincang, digergaji oleh para 
Cikrabala. Aduh, aduuuuh. 



In the hottest cauldrons of hell. Weeeahhhhh. 



Dalang: 
Marikanang Kawah Camrogohmuka. 
Aaaaah. 



Weee. Di kubangan kawah Cabragohmuka. Weee. Aaaaah. 



A soul: 



Oh, oh, Loooord. 



Aduuuh , 



Atma: 

aduh Bataraaaa. 



Aduuuh , aduh Bhataraaaa. 



What else do you have to say? Why have you been 
thrown into hell? You have committed many sins in 
the material world. It's burning hot, and now you 
deserve to be thrown into the hottest cauldrons of hell. 
Weeee.aaaah. 



Cingkara Bala: 
Apa muang ucap kita? Apa matangian kita kelebok 
marikanang kawah? Kita-kita anandang dosa rikang 
Mercapada. Mahabara, mangkin kita wenang 
kalebok ring kawah Cambrogohmuka. 
Weeeee. Aaaaah. 



Apalagi yang mau kau bilang? Apa sebabnya kami 
dijebloskan ke dalam kubangan kawah? Kamu 
kamu menerima dosamu yang kamu perbuat ketiki 
di dunia fana. Sangat panas. Sekarang patutlah kami 
dicelupkan ke dalam kawah Cambragohmuka 
Weeee. Aaaaah. 



So that is what all the CikraBala are doing. And all 
the demons are doing the same thing. The Buta Gering 

(p[a£ue demons). The Buta Gagak (crow demons). 
Weecweee. aaaah.wee. 



Dalang: 
Yayatika sakweh ikanang Cikrabalaaaaa. Mangkana 
juga sakweh ikanang buta-buti. Buta Gering. Buta 
Gagak. Weee. Wee. Aaaaah. We. 



Demikianlah banyaknya Cikrabala. Demikian jug£ 
banyaknya buta-buti. Buta Gering, Buta Gagak 
Weee. Wee. Aaaaah. We. 



Younger brothers, let's dance. Let's dance. Weee. 



Buta Kala: 
Yayiii, enak pada angigel. Enak pada angigel! 



Dindaaaa, mari bersuka ria sambil menari. Mari 



144 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



aaaah. Uh.we, he, he. Let's all appear before his maj- 
esty the king of hell, Lord Yamadipati. Lord Jogor 
Manik and Lord Suratma. 



Weeeee. Aaaaah. Uh. We, he, he. Yayiiiii, enak 
prasama pedek ri pangkajan nira Sanghyang 
Yamadipati. Sang Jogor Manik luir Sang Suratma. 



menari. Weeeee. Aaaaah. Uh. We, he, he. Dindaaa, 
Mari kita semua menghadap kehadapan Sanghyang 
Yamadipati, Sang Jogormanik, dan Sang Suratma. 



If that's how it is, let's go, quickly, quickly. Ih, he, he, 
he, hiuk, heee. 



("Enter Dekm, zvfw aiong ivith his Brotfier Sangut, is a servant to 
the [ords of hef[) Aarraaah. liih. laaah. (sings) There is a 
song about midnight. Sanguuuut. Come out, come out, 
come out. It's me, your older brother. 

Okay, I'm ready, Melem. 



Buta Kala: 
Ih hok, weee, yan magkana enak pada lumampah, 
sigra-sigra. Ih. he. He he he. Hiuk hiuk heeeee. 

Delem: 

Araaaah. liiih. laaah. (gending) Hana kidung rumakseng 
ring tengahing wengi. Sanguuut! Pesuang, pesuang, 
pesuang iban caine! Kaka kakan kita. 



Sangut: 



Nah masedewek Melem. 




Oh, oh, oh. 



Itaaaah. 



Delem: 

Yeee iiit ut ut ye aaa. Yeeee iiiit ut ut ye aaaa. Gebrasang, 
Step lively, step gebrasang iban caine! 
lively, step lively. 
You, yes, you. 



gebrasang. 



Go ahead, Melem. Lautang Melem! 



Sangut: 



Delem: 

laaah, Sanguut, laaaah. Sanguuuuut, iaaah. 
laaaah. ('D e [em and (Dekm Sangut menari). 
Sangut dance.) 



Aduh, aduh, aduh. 



It iaaah. 



Sangut: 



Delem: 



Ih hok, weee, kalau demikian, baiklah mari segera 
menghadap. . Ih. he. He he he. Hiuk hiuk heeeee. 



Araaaah. liiih. Iaaah. Ada nyanyian penjagaan di 
tengah malam. Sanguuuut! Keluar! Keluar! Ayo keluar 
kamu! Kakak, kakandamu. 



Nah, saya siap Melem. 



Yeeee iiiit ut ut ye 
aaaa. Semangatkan, 
semangatkan, 
semangatkan dirimu. 



Silahkan, Melem! 



laaaah. Sanguuuuut, 
iaaah. ('Delem Sangut 
menari) 



Aduh, aduh, aduh. 



It iaaah. 




Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bah Ji dalam Seni Pertunjutan 



145 



Trie Invisible Mirror 



Oh, oh, ohh. Sangut: Aduh, aduh, aduh. 

Aduh, aduh, aduh. 

Delem: 

laaaat aaaah, oh, duh, duh. You, fooUsh man, Sangut. laaaat aaah. Aduh duh duh. Kakin jelema Sangut. laaaat aaah. Aduh duh duh. Kakekmu emangnya lu, 

Sangut. 

Sangut: 

Whenever you dance Hke that you hurt the people around Sabilang Melem ngigel keto nyakitin timpal keto. Setiap Melem menari, menyakiti teman, tuh. 

you. 

Delem: 

That's true. It's too much, when I spin around like that. Ajanehah. Dongjaaeng. Mara kaka melincer monto, Aja neh ah. Tampang lu. Baru hanya sebegitu aku 

It's like getting hit by lightning, and all the color is drained cara sander petir ci. Jeg kene seming latig jeneng ci. berputar, kamu ibarat orang disambar petir. Tampangmu 

out of you. jadi pucat pasi. 

Sangut: 

Don't compare your energy to mine. You have a lot of De nak patuhne bayune. Awake gede bayue. Pikir nak Jangan kamu samakan tenagamu denganku. Kamu punya 
energy. Think also about your friends. timpale mase nake. tenaga besar. Pikirkan juga teman, dong. 

Delem: 

Hey, Sangut. You truly have all the color drained out of Eee, I Sangut. Dong jasaja-saja kuning latig jeneng ci, Eee, si Sangut. Emang sungguh pucat pasi, kuning 

your face. Stay still, stay still. I will examine your heart, nengil-nengil malu, kel periksa cang jantung ci mirib tampangmu. Diam, diam sebentar! Aku mau perikasa. 

It seems weak. You be still now. lemah ne. Nengil ci lu! Nampaknya jantungmu yang lemah ini. Diam kamu! 

Sangut: 

Hiiiik. Hik. Hik. 

Delem: 

Why is your heartbeat so weak? How many times does Nguda gigis kene kletugan jantung cie. Biasane amenit Kenapa begini lemahnya denyut jantungmu? Biasanya 
your heart usually beat in a minute? to pang kuda makletugan jantung cine? berapakah jantungmu berdenyut per satu menitnya? 

Sangut: 

I can't worry about that. I haven't had time to feed my Sing maan cang ngurus ketoa. Bangkung cange pat sing Enggak ada waktu aku ngurusin gituan. Induk Babiku 

four sows. Three of them died. How can I worry about taen baang cang ngamah. Bangka bin telu. Salih ngurus empat ekor tak sempat aku bikinin makanan. Sudah mati 

my heart. jantung. tiga ekor. Apalagi ngurusin jantung? 

Delem: 

Oh, you are not thinking about yourself. Who will you Adah. Iban ci sing pikir ci. Nyen orin ci mikir iban ci? Waduh. Kamu saja tidak memikirkan dirimu sendiri. 

l'^O Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



ask to think about you? If you don't do it, who will? 
Let's examine your eyes first. Let's examine your eyes. 
This is where sickness shows up. You should know that. 
That's why if you go to the doctor the first thing he does 
is shine a light in there. That's where the sickness shows 
up. 

If your eyes are yellow, that's a symptom of liver sick- 
ness. If your eyes are red, that means high blood pres- 
sure. If your eyes are blue, you're just looking for dol- 
lars. Oh, this is unusual. They're not yellow. They're not 
red, not blue. Maybe you never ever had any money. 
That's what is in your eyes. Your eyes are pink. 



Then, if they are pink, what does that mean? 

You think only of pretty girls. Ha, ha, ha. 

That's all you care about, Melem. 

That's what I like. I admit it. Arah. Hi, ha, ha, ha, hu, u, 
ha, ha, huuu, uuuu. 

You're sick, aren't you? 

Ngut, ngut, ngut. It cannot be expressed how very happy, 
happy, happy my feelings are, Ngut. Ask me why I am so 
happy. 

I'm too tired, you see. 



Yen sing ci mikir iban ci aaaah. Neng balin matan ci 
malu. Balin matan ci malu! Dini ngenah penyakite apa 
kaden ci. Sangkal ci yen ke dokter ne be suklit- suklite 
malu. Dini ngenah penyakite. 



Yan kuning matan cie, gejala leper to. Yen barak matan 
cie tekanan darah tinggi. Yen pelung matan cie dolar 
gen not cie. Beh, ne soleh ne. Kuning sing, barak 
sing, pelung sing. Mirib mula ci sing taen ngelah pis. 
Kene matan cie. Matan cie merah muda ne. 



Sangut: 

Men yen merah muda apa mena? 

Delem: 

Cewek gen not ci. He he he. 

Sangut: 

Ada gen rambang Melem. 

Delem: 

Keto demen cang, keto orang cang. Arah. Hi ha ha ha 
ha. Hu u. Ha ha ha, hu uuuu. 



Jelema gelem ne? 



Sangut: 



Delem: 

Ngut, ngut, ngut. Sing amat-amat liang, liang, liang, 
liang kayun kaka, Ngut. Takonang kaka apa ane 
ngeranayang liang? 



Siapa yang kamu suruh memikirkan dirimu? Kalau kamu 
tak mau memikirkan dirimu... Aaaah... Coba coba ku 
lihat matamu. Mana? Lihat matamu! Kamu tahu enggak? 
Di sini kelihatan semua penyakitnya. Makanya, kalau 
kamu ke dokter, inilah yang pertama kali di belit-belit. 
Dari sini kelihatan penyakitmu. 

Kalau matamu kuning, itu gejala liver Kalau matamu 
merah; tekanan darah tinggi. Kalu matamu biru, matamu 
hanyalah dibayangi oleh dollar saja. Wah ini agak aneh 
nih. Kuning enggak, merah enggak, biru juga enggak. 
Ini tandanya kamu memang tak pernah punya uang. 
Makanya matamu begini. Merah muda. 



Ya ya kalau merah muda, apa artinya itu? 



Yang kamu lihat hanyaah cewek. He he he. 



Ah, kamu ada-ada saja. 



Emang itu kesukaanku, itu yang aku omongkan. 
Arah. Hi ha ha ha ha. Hu u. Ha ha ha, hu uuuu. 



Sangut: 



Won ja atin, cang not. 



Kamu ini orang sakit? 



Ngut, ngut, ngut. Tak terbilang betapa girang, girang, 
girang hatiku, Ngut. Tanya aku! Apa yang membuatku 
girang? 



Ah males. Capek aku. 



Siwaratrikalpa: Balinese Uterature in Perfonnance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



147 



Trie Invisible Mirror 



You foolish man. You're tired when I ask a httle thing 
Uke that. Yes, what is the reason? Nothing other than the 
fact that I am following and serving Him, whose name I 
beg forgiveness for mentioning, Lord Ya ma di pa. . .? 



. . . spikes, (finishing the name with the syiiable 'Iqi' which turns 
the fast part of the name into 'palqi' which means 'naif' or 'spilie. ') 



Aaaah, you. Be quiet if you don't want to answer. 



It's because you said Yamadi...., Yamadi...., I couldn't 
stop myself from saying "spikes" (pa...ku). 



Only the two of us are here, so you just be quiet. We are 

here in Yama di lo ? kaa. (Hell). If you don't like it 

here, don't complain. Here in Yamaloka they punish souls 
who have committed sin in the material world. 



They punish the souls who behaved badly? 



Delem: 

Kakinjelema. Won, orin nakonang monto gen. Ye apa 
ane ngeranayang? Sing ja ada len, ngiring-ngiring Ida, 
nunas lugra kaka Ida Sanghyang Ya ma di pa ...? 



Sangut: 



Kuuu. 



Delem: 

Aaaah, jelema. Tengilin ibane yen sing ada bayun ci 
nyautin. 

Sangut: 

Ajane misi, Yamadipa, Yamadipa, sepanan ngorang 
ku. 

Delem: 

Bes jak dua gen dini, ci nengil gen ci. Dini di Ya ma di 
lo . . .? kaaa. Ye sing demen sing tungkas ya. Dini di 
Yamadiloka ngemaang hukuman kapin atma-atma dane 
mabikas usak ditu di Mercapada. 



Sangut: 

Ngemang hukuman atma-atma dane mabikas usak? 



Ah kamu disuruh gituan saja; malas, cape. 
Apa yang menyebabkan? Tiada lain, adanya kita 
menghamba kehadapan paduka Sanghyang Ya ma di 
pa . . . ? 



Kuuu. 



Aaaah kamu. Tutup mulutmu. Kalau kamu tak niat untuk 
menjawab. Diam! 



Yah kamu yang bilang Yamadipa... Yamadipa... cepat 
aja jawabannya ... ku. 



Kita di sini hanya berdua. Diam, diam, diam kamu. Di 
sini di Ya ma di lo . . .? Kaaa. Kalau enggak suka, maka 
dia tidak menampik. Di sini, di Yamadiloka adalah tempat 
memberi hukuman kepada atma-atma yang berperilaku 
bejat di dunia fana. 



Memberi hukuman terhadap atma-atma yang berperanga i 
rusak? 



Yes. 



Delem: 



Aaaa. 



Yaaa. 



Whoever reaps good things, has planted good things. 
Whoever reaps bad things, has planted bad things. 

The evil done there in the material world, is harvested 
here in Yamaloka. When good things are done there, 
good things are also harvested here in the afterlife. 



Sangut: 

Siapa kari temung ayu masedana sarwa ayu, Niata 
katemungning ala masedana sarwa ala. Jele gaene 
ditu di Mercapada jele ne lakar pupuange dini di 
Yamaloka. Melah gaene, melah lakar pupuange dini. 



Siapa yang menuai baik karena dia menanam yang 
baik. Kalau orang yang menemukan keburukan karena 
keburukan yang dia lakukan. Kalau perbuatannya di 
dunia fana jelek, makanya jelek pulalah yang diterima di 
sini, di neraka. Kalau perbuatannya baik, baik pulalah 
hasilnya di sini. 



148 



Siwaratribalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



If you plant sweet potatoes, you will harvest sweet pota- 
toes. 

Is it like that? 



Yes. That's why it is difficult to be a human. Now, now, 
now there is another new task. 



Another new task? 



Another one. 



They keep adding new tasks, so why doesn't our pay get 
raised? 



Delem: 

Sela pula, sela lakar pupuange dini. 



Keto? 



Sangut: 



Kalau menanam ubi, ubi pulalah yang akan di panen. 
Ooo begitu? 



Delem: 

Aaa. Sangkal nak keweh dadi mansua. Ne ne ne jani Yaa, makanya memang sulit jadi manusia. Ini ini ini ada 
biin ada tugas baru. lagi tugas baru. 



Sangut: 

Bin maan tugas baru ne? 



Delem: 



Bin. 



Dapat tugas baru lagi? 
Satu lagi 



Sangut: 

Terus nambah tugase. Onore sing nambah-nambah adi? Terus saja tugasnya nambah. Kenapa honornya tak pernah 

nambah? 



You only talk about your salary. 



So what is our new task? 



Delem: 

Ci j eg onor gen petang ci. 

Sangut: 

Men apa tugas barun ragae? 



Omonganmu hanya pada honor saja. 
Yah, apa tugas baru kita? 



My new task is none other than that I have been ordered 
to investigate things over there in the material world. To 
see which ceremonies are being performed there in the 
temples. To see if there are care-takers who use the 
temples to make profit for themselves. If they commit 
corruption in the temples, I will note it down. 



Melem notes it down. 



Yes. Corruption is not allowed in the temple. As soon as 



Delem: 

Tugas barun kaka sing ja ada len, kaka kanikayang Tugas baru gua tiada lain... gua disuruh menyelidiki di 

nyelidikin ento ditu di Mercapada. Yan ada odalan ditu sana, di dunia sana. Bila ada upacara di Pura, kalau ada 

di pura, pura, yen ada pengurus-pengurus demen ngalih pengurus senang mencari keuntungan di pura, senang 

gae di pura, demen korupsi di pura, kaka lakar nyateten. korupsi di pura, tugas gualah mencatatnya. 



Melem nyatet? 



Sangut: 



Melem yang bakalan mencatat. 



Delem: 

Aaa. Sing dadi anake apa adane korupsi di Pura. Mara Aaaa. Orang tidak boleh korupsi di pura. Sangat besar 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



149 



Trie Invisible MiVror 



there is a big ceremony in the temple, some people try to 
make a profit from it. It's a big sin. That is called steal- 
ing what belongs to God. 



That's not allowed. 



It's not allowed. 



So for me, what is my job? 



You, your job is none other than to investigate the work 
of the pemangkus. (tfie tempk care-takers). 



The work of the pemangkus? 



Yes. If there are pemangkus who are always quarreling 
over the money in the offerings, you investigate it. An- 
other thing that has to be emphasized is the problem of 
pemangkus who are looking for adulterous affairs. You 
should note that down. 



ada gae gede jek ba ngalih gae di Pura. 
Artine malinge duwen Ida Batara. 



Gede pelihne. 



Sing dadi? 



Sing dadi! 



Sangut: 



Delem: 



Sangut: 

Men cang apa tugas cange? 

Delem: 

Ci tugas ci sing ada len nyelidikin to bagian pemangkune. 



Bagian pemangkue? 



Sangut: 



Delem: 

Aaaa.Yen ada pemangku sesai makerah baan sari ci 
nyelidikin to! Ne garis bawahen biin besik ne, yen mirib 
ada pemangku ngalih mitraaa, ci nyatet to! 



kesalahannya, ketika seseorang mencari keuntungan pada 
saat ada upacara di pura. Artinya mencuri milik Bhatara. 



Tidak boleh? 



Tidak boleh! 



Kalau saya, apa tugas saya? 



Tugas kamu tiada lain, yakni menyelidiki para pemangku. 



Bagian pemangku? 



Aaaa. Kalau ada pemangku selalu bertengkar karena uang 
sesari, kamu yang menyelidiki itu. Satu lagi yang perlu 
digaris bawahi, kalau ada barangkali pemangku mencari 
selingkuhan, itu kamu yang mencatatnya. 



Oh, don't give me a job like that. Don't you think, Melem, 
that the pemangkus will become my enemies. 



No. That's not allowed. Don't you know that? What is a 
pemangku? What does it mean to be a pemangku? 
Pemangku means: pemangku. Pemangku means: take care 
of the temple. 



Sangut: 

Ah de baang gae keto. Apa kaden Melem? Musuhang 
pemangku cang nyen. 

Delem: 

Aing. Nak sing dadi. Kenken ci? Apa madan pemangku? 
apa artin pemangku?Pemangku artine pemangku. 
Pemangku artine ngempu Pura. 



Taking care of the temple? 



Ngempu Pura? 



Sangut: 



Aah jangan saya diberi tugas seperti itu. Melem tahu itu 
kan? Saya bisa dimusuhi oleh pemangku. 



Tidak. Orang tidak boleh. Gimana kamu? Apa yang 
disebut pemangku? Pemangku, artinya pemangku? 
Pemangku artinya pemelihara pura. 



Pemelihara pura? 



160 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukar 



The Invisible Mirror 



Ae. Yes, Ngut. 

So what then? 

There is one Utile thing I would like to ask you. 

What will you ask, Melem? 



It is about the world over there in the material world? 
What do you think about it, Ngut? Is it good or bad, that 
place over there in the material world? 



Aaa. Yeee, Ngut. 



Men engken? 



Delem 



Sangut: 



Aaa. Yeee, Ngut. 



Terus bagaimana? 



Delem: 

Ne ne ada takonang kaka bedik teken cai ne. 

Sangut: 

Apa kel takonang Melem? 

Delem: 

Ne unduk Gumine ditu di Mercapada. Yan ci ngenehang 
kenken Ngut? Luwung apa jelek Gumine ditu di 
Mercapada? 



According to me? 



Yes. 



Yen menurut cang? 



Aaa. 



Sangut: 



Delem: 



According to me the world is good. 



So what is the reason you say it's good? 



I have already seen that the development of the material 
world is going smoothly. Human education is already at 
a high level. Technology is advanced. 



Is that the reason you say things are going well there in 
the material world. 



Sangut: 

Yen menurut cang Gumine luwung. 

Delem: 

Men apa dasar ci ngorang luwung? 

Sangut: 

Be sekala be tepuk cang ditu di Mercapada, 
pembangunane suba lancar. Pendidikan manusia ne suba 
tinggi-tinggi. Teknologi suba tinggi-tinggi. 

Delem: 

To mawinang ci ngorahang Gumi ne maju ditu di 
Mercapada? 



Sebentar, ada yang gua tanyakan pada lu. 



Melem, mau menanyakan apa? 



Tentang negara di sana, di dunia fana. Kalau menurut 
kamu bagaimana, Ngut? Bagus apa jelek keadaannya di 
dunia fana? 



Kalau menurut saya? 



Yaaa. 



Kalau menurut saya, dunia di sana bagus. 



Terus, apa dasarnya kok kamu bilang bagus? 



Sudah saya lihat kenyataanya di dunia fana, 
pembangunannya semua lancar. Pendidikan orang- 
orangnya sudah tinggi. Teknologi juga semakin cangih. 



Itu sebabnya kamu bilang dunia di alam fana maju? 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



151 



The Invisible Mi 



rror 



Sangut: 



Right. 



Ooo, the world is good. 



Hold on, hold on. The world is bad. 



So, why do you reverse yourself? 



Beneh. 



Delem: 

Ooooo, luwung ya Gumi ne. 

Sangut: 

Ye nden malu, nden malu. Ye jelek Gumie aaa. 



Delem: 



Ye to, mebalik kenken? 



Sangut: 

No, when I look closely, there are a lot of hungry people Sing, mara telektek-telektekan cang liu ada ditu di 
in the material world. There are many refugees with noth- Mercapada ada nak kelaparan. Ada pengungsi-pengungsi 
ing to eat. There is, what else...? There is rape. There sing ngamah-ngamah. Ada keto, apa biin nah? Ada 
are pickpockets. I see lots of bad things. pemerkosaan. Ada copet. Liu ne jelek-jelek tepuk cang. 



The world is bad? 



The world is bad. 



Jelek Gumie? 



Jelek Gumie. 



Delem: 



Sangut: 



Ooo, if it's like that, the world is bad. 
Ohhh, the world is good. 



Delem: 

Ooo, yan keto jelek ya Gumie. 

Sangut: 

Eeee, luwung Gumie ae. 



Delem: 

You foolish old man. First it's good, then it's bad. What Kakin jelema. Biin luwung, biin jelek. Kenken keneh 
do you think? You really don't know anything. You're cine? Lagut sing nawang. Sing ja tetap pendirian ci. 
not stable. You're unbalanced. Really. Sajan. 

Sangut: 

I'm troubled. I'm confused when I think about the world. Inguh. Bingung -bingung cang mikir Gumi. Yan orang 



Benar. 



Ooooo, kalau begitu ya dunia memang bagus. 



Sebentar dulu. Sebentar dulu. Ya kenyatannya dunia 
sebenarnya jelek, yaa. 



Waduh. Kok bisa berbalik. Gimana ini? 



Akan tetapi setelah saya amati lebih cermat, banyak 
diantara mereka kelaparan di dunia fana. Banyak 
pengungsi yang tidak pernah makan. Ada lagi... apa itu 
yah? Ada pemerkosaan. Ada copet. Banyak saya lihat 
yang jelek-jelek. 



Dunia jelek? 



Dunia jelek. 



Oooo begitu toh. Jadinya dunia, emang jelek. 



Eeee, dunia bagus e ae. 



Ah kamu. Apa maksudmu ini? Lagi bagus, lagi jelek 
Emangnya kamu tidak tahu? Sungguh, kamu ini tidaJ 
tetap pendirian. 



Susah, bingung kalau aku pikirkan tentang dunia. Kalai 



152 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bau di dalam Seni Pertunjufcaj 



The Invisible Mirror 



If I say the world is good, many people have nothing to 
eat. Many people have no jobs. If I say the world is bad, 
there are many people who secretly keep buying 
ricefields. They have one car, but they are not satisfied 
until they buy five cars. That's why I say the world is 
bad. Am I wrong? 



cang Gumi ne to luwung, liu ne sing makan-makan. Liu 
ada nak sing ngelah gae. Men yen orang cang gumine 
jelek, liu ada menep-menep meli carik lonto. Ngelah 
mobil besik, kanti sing, sing puas besik, meli mobil lima. 
To orang cang Gumine jelek. Sing jeg pelihne cang to. 



saya bilang negara di dunia fana bagus, banyak yang tidak 
makan-makan. Banyak orang yang tak memiliki 
pekerjaan. Kalau saya bilang negara jelek, banyak yang 
diam-diam terus membeli tanah persawahan. Sudah punya 
satu mobil, tidak puas, beli lagi, sampai punya lima mobil. 
Apa itu saya bilang dunia jelek? Nanti kan saya yang 
disalahkan. 



According to you, how is the world doing? 



I can't manage it. 



Oh, if that's how it is, then the world is just going on as 
usual. According to what I think, isn't it like that, Sangut. 
In the world, over there, the material world, technology 
is advancing, education is improving, development is 
moving forward, but human morality is degenerating. 



So why do you say that, Melem? 



Yeeees. There are more than a few government officials 
who have titles as Professors, Architects, Doctors, and 
they are replaced. What is the reason for that? Do you 
know? 

What's the reason? 



Morals are declining. There is already evidence: humans 
are clever in speaking, and those clever ones are the ones 
who are destroying the world, don't you see? 



Delem: 

Men yen cara ci kenken Gumine? 

Sangut: 

To ba sing kena baan cang ngurus. 

Delem: 

Ooo, yan keto biasa-biasa gen Gumie. Yen kaka 
ngemaang ide keto Ngut. Gumi ne to, apa adane ditu di 
Mercapada; teknologi saja maju. Pendidikan manusa 
saja maju. Pembangunan saja maju. Kewala moral 
manusane turun. 

Sangut: 

Men dadi Melem ngorang keto? 

Delem: 

Yeee. Sing ja bedik ada pejabat-pejabat keto ne ngelah 
titel Profesor, Insinyur, Dokter, keto, jeg lengser. 
Apa sebabne? Tawang ci. 



Apa kranane? 



Sangut: 



Delem: 

Moral ne menurun. Sangkal ne nak suba mabukti, 
manusa ane duweg-duweg ngomong, manusa ane duweg- 
duweg keto, to mula ngawinang Gumine di Mercapada 
usak. Apa kaden ci? 



Ya menurutmu, bagaimana keadaan dunia? 



Itu dah. Saya tidak tahu mengurusinya. 



Oooo, kalu demikian halnya, biasa-biasa saja dunia itu. 
Begini Ngut. Ini ideku saja. Keadaan dunia, di dunia fana, 
teknologi memang maju. Pendidikan manusianya 
memang betul maju. Pembangunan memang maju. Hanya 
saja moral manusianya yang merosot. 



Bagaimana Melem bisa bilang seperti itu? 



Yeee. Tidak sedikit pejabatnya yang memiliki gelar Pro- 
fessor, Insinyur, Dokter, tiba-tiba saja lengser. Kamu tahu, 
apa sebabnya? 



Apa sebabnya? 



Moralnya yang merosot. Itu sudah menjadi bukti bahwa 
manusia-manusia yang pintar ngomong, manusia yang 
pintar-pintar itu, mereka itulah yang membuat dunia fana 
itu hancur. Apa kamu kira? 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



153 



Trie Invisible Mirror 



The ones who are clever in their speaking.? 



Yes. Most of the people who are clever in speaking are 
the ones destroying the world. Have you ever heard of 
fanners destroying the world? Actually it is the ones 
with the titles who do it. (audience apptauds). That's why 
all the clever-speaking people are the cause of the world's 
chaotic babbling. 



Sangut: 

Nak ane duweg-duweg ngomong? 

Delem: 

Aaaa. Liunang manusa ane duweg-duweg ngomong to 
ngawinang Gumine uyut. Taen dingeh ci petanine ngae 
Gumi usak? Pasti nak bertitel, (penonton tepul(^tan£an). 
Angkale makejang manusane ane duweg-duweg ngomong 
to ngawinang Gumine uyut. 



They're working to make the world full of chaotic bab- Ngae Gumine uyut? 



bhng? 



Yes. 



Sangut: 



Delem: 



Aaa. 



Orang yang sok pandai bicara? 



Aaaa. Kebanyakan manusia yang pandai ngomonglah 
membuat negara itu ribut. Pernahkah kamu mendengar 
negara rusak akibat ulah petani? Pasti rusaknya 
disebabkan oleh orang bertitel, (penoton bertepuk^ tangan). 
Makanya kebanyakan manusia-manusia yang pandai 
bicaralah yang membuat dunia itu ribut. 



Membuat dunia ribut? 



Aaaa. 



Are you sure about what you're saying? Prove what 
you're saying. 



Yeah, I base what I say on evidence, you know. If the 
clever people didn't say anything, there wouldn't be any 
babbling, would there? Did you ever hear mute people 
babbling? It's like I already said, the clever speaking 
people make all the babbling. If they were not clever, 
em, eem, emm, how could they enjoy babbling. You're 
really a pain in the neck. The meeting is over, did you 
hear the news? 



What news is that? 



They say there is a soul called Lubdaka. 



So? 



Sangut: 

Be seken munyin Meleme to? Buktiang munyin Meleme 
nake! 

Delem: 

Ye kaka nak mula berdasarkan bukti kenken ci. Yen sing 
ne duweg-duweg ngomong kenkene uyut ia? Taen dingeh 
ci nak bega uyut. Aja, be orin nak ne duweg-duweg 
ngomong be uyut! Jaba ya duweg, eril e, em e, em e. 
kenken ya uyut demen, ajan jelema pengeng ne. Suud 
rapet ci ba ningeh ortae? 



Orta apa to? 



Sangut: 



Delem: 

Ne ada kone atma dane madan Lubdaka. 



Emangnya omongan lu itu udah pasti? Buktikan apa yang 
kamu bilang! 



Gua bicara memang berdasarkan bukti. Gimana kamu ini? 
Kalau bukan orang-orang yang pandai bicara, bagaimana 
mereka bisa ribut. Pernah kamu dengar orang bisu ribut? 
Udah ku bilangin, orang-orang yang pandai bicaralah 
membuat keributan. Kalau dia tidak pintar, em e, em e, 
em e, bagaimana dia bisa ribut. Kamu memang orang 
keblenger. Pertemuan telah selesai. Apa kamu sudah 
dengar berita? 



Men? 



Sangut: 



Berita apa? 



Katanya ada atma yang bernama si Lubdaka. 



Terus. 



154 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertxmjufcai 



The Invisible Mirror 



They say that when he died he was counted by Siva among 
those to be rewarded with heaven. How did Lord Siva 
calculate that? I don't understand. In the past, he was 
proven to have done bad deeds. He has already wrought 
enough destruction in the material world to be thrown 
into hell. 



So? 



Delem: 

Ya kone mati aa, aa, apa adane to, ada kone itungan 
Batara Siwa ngemang Suarga, ci. KerJcen ya kali-kali Ida 
Batara to? Sing ngerti kaka. Ane malu-malu nak suba 
mabukti ye suba melaksana jelek suba pelaksanane usak 
di Mercapada jeg timpugin ke kawahe. 



Men? 



Sangut: 



Dia katanya sudah mati aa, aa, apa namanya itu... ada 
lah rencana Bhatara Siwa akan memberi dia sorga. 
Bagaimana tuh perhitungan Ida Bhatara? Aku enggak 
ngerti. Yang telah lampau, sudah terbukti kalau ada 
seseorang beiperilaku jahat ketika dia masih berada di 
dunia fana, udah dibuang saja ke dalam kawah di neraka. 



Terus? 



So, Lubdaka who is bad, and has wrought much destruc- 
tion over there in the material world, is now rewarded 
with heaven. Was some one bribed to get him there? 



What does that mean? 



It's common enough, you know. 



Oh, Melem, don't be insulting. Melem, don't measure 
Lord Siwa by comparing him to what you would do. 



If it didn't happen like that, how did it happen?... if 
Lubdaka was the one who killed so many animals there 
in the material world. Don't you think that's too small a 
punishment for killing so many animals? 



Should the punishment be big? 



The punishment should be big. Because according to 



Delem: 

Apa jani ada Lubdaka to jek, monto usak pelaksanan ia 
ditu di Mercapada, jani baang Suarga. Sing nyen maan 
koin nyen to. 



Apa madan keto? 



Sangut: 



Delem: 

Eee, biasa keto engken ci. 

Sangut: 

Duh Melem de Melem pramada Meleeem. De patuhange 
ukuran Meleme ngukur to Ida Sanghyang Siwa. Da 
patuhange. 

Delem: 

Men yen sing keto ngudiang mena? Yan monto 
pelaksanane I Lubdaka ditu di Mercapada ngematiang- 
ngematiang buron. Kaden ci cenik hukumane ngematiang- 
ngematiang buron to. 



Gede hukumane? 



Sangut: 



Delem: 

Gede hukumane. Sawireh yan Ida Sang Hyang Widhi 



Beda dengan adanya si Lubdaka, yang sudah nyata-nyata 
perlakuannya di dunia fana rusak, sekarang mau diberi 
sorga. Tidakkah itu karena adanya recehan? 



Apa itu? 



Eee, bisa saja begitu. Gimana kamu? 



Aduh Melem jangan kamu melecehkan Meleeeem. 
Jangan kamu pakai ukuran kamu sendiri mengukur 
Sanghyang Siwa. Jangan disamakan. 



Yah. Kalau tidak demikian mana mungkin bisa? Sudah 
nyata perlakuan si Lubdaka di dunia fana membunuh 
berbagai binatang. Dia itu membunuh banyak binatang. 
Kamu kira kecil hukumannya? 



Ooo besar hukumannya? 



Hukumannya besar. Kalau dicari menurut hukum Tuhan, 



Siwaratrifcalpa: Balinese Uterature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Perhinjutan 



155 



Th 



e Invisible Mirror 



Lord Widhi Wasa, if we follow the laws of Siwa, Sangut, 
the soul of a human is equivalent to the soul of an ani- 
mal. That's why he is called Lord Cintya. What does 
Cintya mean? Cin Ta Ya. That means he is the Lord who 
loves all things equally. He also loves the ants. No mat- 
ter how small the creature, he still loves it. The lord loves 
animals and humans equally. 



Equally? 



Equally. That's why it is forbidden to kill the animals, 
even more so for big animals. The small ones should not 
be killed either. Ants, bugs, things like that, can't be 
killed. There is a big punishment for that also. According 
to law all souls are equal. 



It's not permitted to kill an ant? 



It is not permitted to kill an ant. Killing a mosquito like 
that is easy. Buzz buzz buzz, kill the mosquito for no 
reason, but the mosquito you kill does not belong to you. 



We are not allowed to kill a mosquito. 

Not allowed. 

Then if the mosquito bites us? 



Wasa, yan alih di hukum Siwa ngut, jiwan manusa kapin 
jiwan beburon to nak patuh. Mawinang Ida kaucap Ida 
Sang Hyang Cintya. Apa artine Cintya? Cin Ta Ya. 
Artine Ida mencintai onyang-onyang. Semut Ida 
sayangne mase. Mongken ja cenik burone jeg sayang ne 
mase. Patuh antuk Ida ny ay angin I Buron teken I Manusa. 



Patuh? 



Sangut: 



Delem: 

Patuh. Sangkale sing dadi ngematiang buron, apa bin 
buron ane gede-gede, ane cenik-cenik sing dadi matiang. 
Semut, muring ne keto sing dadi matiang. Gede hukumane 
mase to. Nak uh di hukum jiwa nak patuh artine to. 



Sangut: 

Sing dadi ngematiang semut? 

Delem: 

Sing dadi ngematiang semut. Ngematiang legu keto ci 
mara ci aluh ja ngueng, ngueng ngematiang legu jeg awag 
ci matiang-matiang ci legun nake. 



Sangut: 

Sing raga dadi ngematiang legu? 



Delem: 



Sing dadi. 



Sangut: 

Men ginteng legu lantasen raga? 



Delem: 

If the mosquito bites, he is looking for something to eat. Ye yen ginteng legu, ya nak ngalih maman, engken ci. 
you see. 



menurut Hukum Siwa, jiwa manusia dan jiwa binatang 
itu sama. Makanya beliau disebut sang Acintya. Apa 
artinya Cintya? Cin Ta Ya. Beliau mencintai semuanya. 
Kepada semut beliau juga sayang. Betapun kecilnya 
seekor binatang, juga beliau sayangi. Cara beliau 
menyayangi binatang dengan manusia, sama. 



Sama? 



Oleh karenanya, tidak boleh membunuh binatang. Apalagi 
binatang besar, binatang kecilpun tidak boleh dibunuh. 
Semut, serangga kecil tak boleh dibunuh. Hukumannya 
juga besar. Menurut hukum jiwa artinya itu sama. 



Tidak boleh membunuh semut? 



Tidak boleh membunuh semut. Membunuh nyamuk 
dengan mudahnya kamu lakukan. Baru demikian ngueng, 
ngueng seperti itu kamu bunuh dengan serampangan 
nyamuk orang. 



Tidak bolehkah membunuh nyamuk? 



Tidak boleh. 



Bagaimana kalau kita digigit nyamuk? 



Kalau nyamuk menggigit, dia itu minta makan. Gimana 
kamu? 



156 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjtitan 



The Invisible Mirror 



Why is my blood used for his food? 



Well, why do you use his food for your blood. Ha ha ha. 
Okay, let's say the blood is yours. That means before he 
bites you he has to ask first for your permission. 



Sangut: 

Ngudiang getih cange angone mamane? 

Delem: 

Ye ngudiang maman angon ci getih. He he he. Nah 
orang be ci ngelah getihe to. Artine satondene ia ngiteng 
ia nak maan ngorang malu, masewaka ia malu. 



Kenapa dia cari darahku sebagai makanannya? 



Yee, kenapa makanan orang kamu jadikan darah. He he 
he. Yah udah. Bilanglah darah itu memang punyanya 
kamu. Artinya sebelum makan dia sudah bilang terlebih 
dahulu. 



So what does he say? 



Nguing, nguing, buzz, buzz, give me a httle blood, okay? 
But you don't understand. Maybe that's your fault and 
not his. 



Sangut: 

Men kenken ya ngorang? 

Delem: 

Nguing, nguing, nguing, baang getihe bedik nah. Kewala 
ci sing ngerti. Da nak pelih ne nake. 



Bagaimana caranya dia bilang? 



Nguing, nguing, nguing, kasi saya darahmu sedikit ya. 
Akan tetapi kamu tidak mengerti. Makanya jangan dia 
disalahkan. 



He already asked? 



That means he already asked. 



KilUng a mosquito is not permitted? 



Killing a mosquito is not permitted. 



So, if you are bitten by a mosquito, what then? 



I slap the mosquito's mouth. 



You said it's not permitted to kill a mosquito. 



Be ngorang ia? 



Sangut: 



Delem: 



B a ngorang ia artine to. 

Sangut: 

Sing dadi ngematiang legu? 

Delem: 

Sing dadi ngematiang legu. 

Sangut: 

Men yen Melem gugut legu lantas? 

Delem: 

Tamplak cang bungut ne. 

Sangut: 

Ya ngorang sing dadi gematiang legu. 



Dia sudah bilang? 



Itu artinya dia sudah bilang. 



Tidak boleh membunuh nyamuk? 



Tidak boleh membunuh nyamuk. 



Bagaimana kalau Melem yang digigit nyamuk? 



Saya pukul mulutnya. 



Kamu bilang tidak boleh membunuh nyamuk. 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji jalam Seni Pertunjukan 



157 



Trie Invisible Mirror 



That means I just slapped the mosquito's mouth. If that 
ends up kilhng it, this is not my responsibility. Do what I 
say, not as I do (spol(en in 'EngCisH). Do what I say, don't do 
what I do. You cannot kill. You cannot punch each other, 
but I can. He, he, he. 



Oh my god. 



Yeah, yeah, yeah, look, Sangut. Since it is already late in 
the morning, let's appear before our Lords Suratma and 
Jogormanik. 



Well, you're right, Melem. (to his Lord) My great Lord, 
please, please come out, Lord. 



None other than Lord Suratma appears. 



Delem: 

Artine cang namplak bungt ne gen. 



yan urusan mati 



sing ia ngelah tanggung jawabe. Do what I say not as I 

do. Lakukanlah seperti yang saya katakan, jangan lakukan 
seperti yang saya lakukan. Tidak boleh membunuh, tidak 
boleh saling jagur, tetapi saya boleh. He he he. 



Sangut: 



Aduh Ratu. 



Delem: 

Nah nah nah nah, iwasin Ngut! Nah sawireh suba tengai 
ne lan tangkil ring Ida Sanghyang Suratma kalawan Ida 
Sang Jogormanik. 

Sangut: 

Aduh. aduh saja Melem. Aratu Ratu Betara, durus-durus 
palungguh Betara medal. Ratu! 

Dalang: 
Ariwijiiiil, sira Hyang Suratma natan hana waneh. 
Emmm. 



Artinya saya hanya memukul mulutnya saja. Urusan 
matinya itu kan dia punya tanggungjawab. Do what I say 
not as I do. Lakukanlah seperti yang saya katakan, jangan 
lakukan seperti yang saya lakukan. Tidak boleh membunuh, 
tidak boleh saling jagur, tetapi saya boleh. He he he. 



Oh Tuhan. 



Nah nah nah nah, lihatlah, Ngut! Hari sudah semakin 
siang, mari kita menghadap kehadapan Sanghyang 
Suratma dan Sanghyang Jogormanik. 



Aduh. Aduh, betul Lem. Yang mulia paduka Bhatara. 
Silahkan paduka, silahkan turun. 



Hadirlah Sanghyang Suratma tiada lain. Emmm 



My Lord, please go ahead. Look, all the souls are wait- 
ing for you here in the field of emptiness. Go ahead, go 
ahead and beat these souls. Go ahead and beat them my 
lord. 



(stuttering) What's going on here. You're acting like the 
boss, giving orders. I'm the one who should be giving 
orders. Why are you telling me what to do? 



Sorry, sorry, boss, sorry, (spoken in English) 



What kind of behavior is that. Where do you think you 



Delem: 

Aratu Ratu Betara, durusang puniki, aaa, wateking 
atma sampun sayaga nyantos Palunggh Betara irika ring 
tegal pepenehan. Durus-durus paduka Betara nyakcak 
punika atmane! Durus-durus Paduka Betara nyakcak. 

Sang Suratma: 

Kenkenja, kenkenjacara, jek cara bos takeh ci mrentah- 
mrentah ngong. Pantesne ngong merintah ci. Adi cang 
perintah ci? 

Delem: 

E, soiTy, sorry bos sorry. 

Sang Suratma: 

Takeh ci ne. Dija ci ngalih gae mone keweh ne ngalih 



Paduka Bhatara, silahkan paduka, yaaa semua atma sudah 
pada menunggu kehadiran paduka di tanah lapang tanpa 
batas. Silahkan paduka untuk menyiksa mereka, semua 
atma itu. Silahkan, silahkan paduka memukulinya. 



Lihat tuh, tak ubahnya kayak Bos saja lagakmu, 
memerintah, memerintah Aku. Semestinya Akulah yang 
memerintah kamu. Kenapa kamu yang memerintah Aku? 



Eeee sorry, sorry Bos, sorry. 



Lagakmu. Di mana kamu akan cari kerjaan? Begini 



158 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertimjutan 



The Invisible Mi 



irror 



can find another job? Looking for work is not easy. gae. Manguuuuuut. 
Manguuuuuut. 



sulitnya orang nyari kerjaan. Manguuuuuuut 



Oh, he called me his pal Mrungut. 



What do you mean 'pal?' 



Call me by my right name. What is it? 



Sangut: 

Peh Mrungut kaukine timpalne. 

Sang Suratma: 

Timpal-timpal apa to? 

Sangut: 

Aje melahang nak kaukin adan tiange engken? 



Peh dipanggil Mrungut, temanNya. 



Teman. Teman apa? 



Yaa. Coba panggil nama saya dengan baik, bagaimana 
sih? 



Why is your expression so ugly? Are you sick? 



I have dysentery. 



You shouldn't be talking about diarrhea. 



Ah, Lord Suratma, go ahead and appear before Lord 
Yamadipati. 



Oh, If that's how it is, let's go. (to LorcCyama). My Lord 
Yamadipati. 



Here I come, none other than Lord Yamadipati. Hooli 
weee hoook. Hey, Lord Suratma. 



My honorable and respected Lord. 



Sang Suratma: 

Ne kenken adi jeg jelek san sebeng cie. Ci gelem ne? 



Tiang disentri. 



Sangut: 



Delem: 

Tuh to mising ajak aturan ci. 

Sang Jogormanik: 
Ah, hyang hyang hyang Suratma enak ka sira 
umedek lawan sira Yang Yamadipati. Katuran age. 



Sang Suratma: 
Baaaah yan tunimangkana enak pada sigra. 
Pakuluuun, Hyang Yamadipati. 

SangYamadipati: 
Ariwijil pwasira Hyang Yamadipati natan hana 
waneh. Hook weee hook. liiiih Hyang Suratma. 

Sang Suratma: 
Hyang Sinuwun yata kalaganta. 



Gimana nih, kok tampangmu muram dan jelek. Kamu ini 
sakit? 

Hamba disentri. 



Ah, kamu ngomongkan mencret dihadapanku. 



Ah Sanghyang Suratma, mari kita sama-sama 
menghadap kehadapan Sanghyang Yamadipati. 
Disuruh segera. 



Yah kalau demikian halnya, mari sama-sama. Paduka 
Sanghyang Yamadipati. 



Muncullah Sanghyang Yamadipati tiada lain. 
Hook weee hook. liiiih Hyang Suratma. 



Junjungan hamba paduka tiada lain. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



159 



Trie Invisible Mirror 



Sang Yamadipati: 
Pleeeease, get ready to punish all the souls. Enaaaak, antian sigra yata angacak ikanang Mari, segera kita akan menyiksa atma-atma 

wateking atma sedaya! semuanya. 

Sang Suratma: 
Aduuuh. If that's how it is, please be seated. I will watch Aduuuh yan tuni mangkana enak aneda, alungguh- Aduuuh, kalau demikian halnya, baiklah, baiklah, 
over you, my Lord. alungguh. Angemit yayateki paduka Betara. ambil tempat. Ambil tempat. Kami akan menjaga 

paduka. 

Sang Yamadipati: 

Weeee. Ifthat's how it is, go ahead and do the job quickly Weee. Yan tunian mangkana enak sigra pepareng. Weee. Kalau demikian, mari bersama-sama. Wriiiik 
together. Wriiiik. 

Sang Suratma: 

Please return to your throne, my Lord. Durus-durus malungguh Paduka Bhetara. Silahkan, silahkan ambil tempat, Paduka Bhatara. 

Sangut: 

Melem, whenever I come to this field of emptiness I feel Melem, saling ba neked cang dini di Tegal Kuru Melem, setiap aku sampai di sini, di Tegal Kuru 
unsettled. Penangsaran, jeg nyelek ati be cang. Penangsaran, semaput dah aku. 

Delem: 

Why is that? Dadi keto adi? Kenapa demikian? 

Sangut: 

I can't really explain the feeling I have when there is Ne mirib cang sing duga baan cang naenang kesakitan Saya tidak tahan menyaksikan betapa sengsaranya para 

suffering. I feel the suffering of the souls inside myself, iane. Dadi jeg bareng dadi rasang cang sakit atmane. atma disiksa,justru saya merasakan sakitnya mereka. Ada 

When the souls cry out in lamentation, my tears fall for Ada atma kelara-lara, jeg pesu yeh matan cang Melem. atma merintih kesakitan membuat air mataku mengalir 

them, Melem. menetes. 

Delem: 

Oh, Sangut is very sad. Your heart is sad whenever you Aduhbih, sebet I Sangut. Sebet atin cai ne mai ka Tegal Waduh si Sangut sedih. Sedih hatimu Ngut, kalai 
come here to the field of emptiness. Kuru Penangsaran? berkunjung ke sini ke tegai Penangsaran? 

Sangut: 

Yes. Aaa. Aaa. 

Delem: 

Woah, Your snotty nose is running, dripping. Wipe away Pih ngetel tenges ci ne. Kaadang-kaadang tenges ci ne. Waduh, lihat tuh ingusmu menetes. Bersihkan, bersihkai 
the snot (from your nose). kaadang-kaadang! ingusmu, bersihkan! 

loO Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Pertunjutar 



The Invisible Mirror 



Ciiis! (tHis is tfie sound of Tiekm sneezing the snot from fiis 
nose). 

Just eat it, man. Your mind really isn't very strong. When 
I come to this field of emptiness, I feel entertained. If I 
am looking for entertainment, I come here to the field of 
emptiness. You see. Over there people are moaning in 
lamentation. "Oh, mother, help me, mother, look for me 
here, mother. That's what my heart likes to hear. It's like 
angklung music to my ears. 'Nir nir nar nir nar nur,' that's 
what I hear. 



Wow, you use people's suffering for entertainment. 

Over there, there, there. Look, Sangut, the souls are lin- 
ing up. 

Oh, that's right, Melem. 



Yes, they're all lining up. Well, what kind of soul is that, 
there almost in the back, Sangut? Why is his sarong tied 
so tightly? 



Oh, you mean that one, Melem. That's a soul who cannot 
weave. 



A soul that cannot weave? 



Sangut: 

Ciiiiiiiis. (mengefuarlQin ingus hidung). 

Delem: 

Tidik lantas nake! Ci jag aja, mental ci ne sing kuat ne. 
Yan kaka mai ka Tegal Kuru Penangsaran, jeg aaa, 
terhibur kenehe. Yen kaka ngalih hiburan jeg mai ba 
kaka ka Tegal Kuru Penangsaran. Engken ci. Ada nak 
aduh-aduh. Aduuuh meme, tuluuung meme, alih tiang 
mai memeee. Ketojeg demen atine ningehang, kenken 
j a cara munyin angklung dingeh. Nir nir nar nir nar nur 
ke to dingeh. 



Sangut: 

Tuh sakit nake angon Melem hiburan. 

Delem: 

To to to to. Bih iwasin Ngut. Jeg atmane jeg mererod not 
ci. 



Tuh saja Melem. 



Sangut: 



Right. A soul should know how to weave. 



Delem: 

Pih jeg pada mererod. Nah nah to atma kenken mirib ne 
si duri to Ngut? Dadi jeg kabet keto kamen ya adi? 



Sangut: 

Aduh, totonan Melem to? To atma sing bisa nenun adane 
to. 

Delem: 

Atama sing bisa nenun? 

Sangut: 

Bench. Atmane kawisaya manenun. 



C\m\ii\s.(suara mengeuarl(an ingus) 



Makan aja langsung, gimana sih? Emangnya, mentalmu 
yang kurang kuat nih. Kalau aku datang ke sini ke Tegal 
Kuru Penangsaran, hatiku terasa terhibur. Kalau aku mau 
hiburan, ya datang saja ke sini ke Tegal Kuru 
Penangsaran. Gimana kamu. Kalau mendengar orang 
menduuh kesakitan, aduuuh ibu, tolooong ibu, cari 
anakmu di sini ibuuu... Kalau mereka begitu wah aku 
senang sekali mendengarnya. Tak ubahnya seperti bunyi 
gamelan angklung kedengarannya. Nrr nir nar nir nar nur 
seperti itu bunyinya. 



Tuh, sakitnya orang kamu jadikan hiburan. 



Tu tu tu tuh. Lihat tuh Ngut, kamu lihat tuh. Para atma 
berbaris berjejer. 



Tuh betul Melem. 



Waduh, mereka berbaris semua. Nah nah tuh atma apaan 
itu yang paling belakang itu, Ngut? Kenapa kainnya 
demikian ketatnya? 



Waduh, Yang itu tu Melem? Itu atma yang tidak bisa 
menenun. 



Atma yang tidak bisa menenun? 



Benar. Atma mestinya punya keahlian menenun. 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjutan 



161 



tU 



e Invisible Mirror 



Soul 1: 

(tfiey approach anotfier souf doing push-ups) 
One, two, three, four, five six, seven, eight, nine, ten, 
eleven, twenty, twenty one, twenty three, one hundred, 
one hundred and one, one hundred and two, two hun- 
dred, one one I love my mother. Two two I love my mis- 
tress. Three three, I love grandma and greatgrandpa. 



Atma 1: 

Ga, pat, lima, enam, ju, pan, sembilan, sepuluh, 
sebelas, dua puluh. Dua puluh satu, dua puluh tiga, 
one hundred, one hundred besik, one hundred roro, 
two hundred, satu-satu aku sayang ibu. Dua-dua juga 
sayang mitra. Tiga-tiga sayang dadong kumpi. Ah ah. 



Ga, pat, lima, enam, ju, pan, sembilan, sepuluh, 
sebelas, dua puluh. Dua puluh satu, dua puluh tiga, 
one hundred, one hundred besik, one hundred roro, two 
hundred, satu-satu aku sayang ibu. Dua-dua juga sayang 
mitra. Tiga-tiga sayang dadong kumpi. Ah ah. 



Hey, hey, yan, yan, yan, yan, yan. Mr. Wayan, are you a 
soul? Yan, yan, yan, Mr. Wayan, are you a soul? De, de, 
de. Man, man, man. Tut, tut. Are you a soul? He's not 
talking. He can't speak Balinese, maybe? (in Indonesian) 
Hey, are you a soul? He's looking at me with bulging 
eyes. What kind of language should I use? (in "Engtish) 
Do you speak English? (in f af:e Japanese) Bad. Good, deska? 

Soul 1: 

Your mouth is just blabbering. 



Del em: 

We we we. yan, yan, yan, yan yan. Wayan atma ne? 
Yan yan yan, wayan atma ne? De, de de. Man man man. 
Tut tut. A, ketut atma ne? Ye nengil ya. Sing bisa basa 
Bali ne? E, aaa, kamu atma ya? Dengengne mata di? 
Bahasa apa dik baang neh. Aaa, Do you speak English? 
Alalawan hayu dis kak? 



Atma 1: 



Peta gen bungut ci. 



We we we, yan, yan, yan, yan yan. Wayan ini atma 
ni? Yan yan yan, apakah wayan ini atma? De, de, de. 
Man man man. Tut tut. A, Ketut ini atma ni? Yeee kok 
diam aja ditanya. Apakah enggak ngerti bahasa Bali ni? 
E, aaa, kamu atma ya? Mendelik pandang matanya. 
Bahasa apa mesti dikasih? Aaa, Do you speak English? 
Alalawan hayu dis kak? 



Cerewet amat mulut lu. 



How did I meet a soul like this? Hey, I'm asking you 
nicely. Could you please tell me what your job was in 
the material world. 



Delem: 

Ne kene bakat adi ah? We ne tiang metakon beneh-beneh 
ne. Dadi tiang nawang geginane ditu di Mercapada? 



Ooh kok yang ginian aja terus didapat. Hai, saya ini tanya 
dengan baik-baik. Boleh saya tahu apa pekerjaanmu 
sewaktu di dunia fana? 



Soul 1: 

So you're askin' me my job? 



Atma 1: 

Geginan cange takonang ci? 



Kerjaan gue lu tanya? 



Yeah. 



Delem: 



Ae. 



Yaa 



Soul 1: 

Thief. Robber. I break into stores. Rapist. 



Atma 1: 

Ngemaling. Merampok. Bongkar toko. Pemerkosa. 



Mencuri. Merampok. Bongkar toko. Pemerkosa. 



What? 

Soul 1: 

For a killing: five thousand (rupiah) is enough, (of a fee). 



Delem: 



Ngudiang? 



Atma 1: 



Kill e, Lima ribu oke. 



Ngapain? 



Bunuh, untuk lima ribu aja oke. 



162 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



Delem: 

How did you die? Matin ci kenken? Bagaimana matimu? 



••&^ 



Soul 1: Atma 1: 

A riot in the banjar, (nei^hborfwod) Garang Banjar. Direbut masa. 

Delem: 

If the whole banjar didn't kill him, no one else could. Yen sing banjar ye ngarang sing ngidang, yen mone Kalau begini kuatnya memang enggak akan mungkin mati 
He's so strong. sitengne. kalau enggak banjar yang merebutnya. 

Soul 1: Atma 1: 

Get out of my way, or I'll punch your face. Sampingan ibane setut peleng ne nyen. Minggir. Gua jitak kepala lu nanti. 

Delem: 

Okay, go ahead, go ahead, appear (Before tfte Lord). Na na nah, tangkil-tangkil ! Ya ya ya menghadap, menghadap. 

Soul 1: Atma 1: 

Okay. Hut, hut, hut (marcftitiff aivay) Atuh, ait, ait, ait, ait. Atuh, ait, ait, ait, ait. 

Soul 2: Atma 2: 

(aSaBy):'Wceeee, mommy, weeee, where's my mommy? Weee, meme, waiii, dijamemeah. Weee, meme, meme Weee, ibu, waiii, dimana ibu yah. Weee, ibu, ibu 
Mommy. dija nah? Meme ne? dimana ibu yah? Ibu nih? 

Delem: 

Do you see your mother? She may rip out your intes- Memen ci ne tepuk ci? Kedeng bol ci nyen. Kamu lihat ibumu? Disedot nanti duburmu, 

tines, (sfk is a demonic ieyali} 

Soul 2: Atma 2: 

Mommy. Meme ne? Ibu. 

Delem: 

Wow. Ye to. Ye to. 

Sangut: 

Delem don't be rude to him, he's only a child. Melem. I DeMelem keras-keras ngetoang nak cenikMelem! Gang Jangan keras-keras sama anak kecil Melem. Biar saya 
will ask him. ' nakonang. yang tanya dia. 

Soul 2: Atma 2: 

Mother, mother. Mee, me. Ibu, bu 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 163 



The Invisible Mirror 



Hey, Wayan. Wayan, why are you calling for your mother? 

Soul 2: 
Where is my mother? (sings) Small stars in the blue sky, 

many of them adorn the sky f/ zvant to ffy and dance, 

fi^fi and far, in t fie place in t/ie s^ wHerei/ou are). . . I want to 
buy rice cakes, but there are no venders. 



Heh, he can sing, yeah, Sangut. 



Yeah, that Wayan is a clever singer. Other than that one, 
do you know any more songs? 

Soul 2: 

Noooo. Small stars in the blue sky. 



Okay, we already heard about the small stars. Can you 
sing anything else besides 'small stars.' 

Soul 2: 

(singing) Small stars in the blue sky, many of them adorn 
the sky. I want to fly and dance to the place in the sky. 



Sangut: 

We wayan. Wayan ngibukan memen Wayan? 



Hai Wayan. Wayan mencari ibumu? 



Atma 2: 

Meme dija nah? (nuyendiiy) : Bintang kecil di langit Ibu di mana yah? 

yang biru, amat banyak menghias angkasa, meli tipat (bernyanyi) Bintang kecil di langit yang biru, amat banyak 

sing ada dagang. menghias angkasa, beli tipat tidak ada dagang. 



Delem: 

Eh, bisa magending ya Ngut. 



Eee, bisa nyanyi dia, Ngut. 



Sangut: 

Pih duweg keto Wayan magending. Len ken to sing ada Waduh pinter amat Wayan bernyanyi. Ada nyanyian lain 
bisa biin gending ne lenang? yang kamu bisa, selain itu? 



Atma 2: 
Siiing. Bintang kecil, di langit yang biru. 



Tidak. Bintang kecil, di langit yang biru. 



Sangut: 

Nah to bintang kecil ba. Jani len ken bintang kecil ada Ya itu dah, bintang kecil. Nah selain bintang kecil, lagu 

Wayan bisa? apa Wayan bisa lagi? 

Atma: 

Bintang kecil , di langit yang biru, amat banyak mengias Bintang kecil , di langit yang biru, amat banyak mengias 

sakasa. Aku ingin terbang dan menari ke tempat sakasa. Aku ingin terbang dan menari ke tempat 

kabakasa. kabakasa. 



Sangut: 

Oh my god, you're a clever singer. But all you know is Pih ratu duweg pesan Wayan magending, sing bintang Waduh pinter amat Wayan bernyanyi. Yah kalau tidak 

'small stars.' But now, other than 'small stars,' is there kecil sing ba bisa Wayan. Men jani lenang ken bintang bintang kecil Wayan tak bisa kan? Nah sekarag selain 

anything else Wayan can sing? kecil ada Wayan bisa biin? bintang kecil, ada lagu lain yang Wayan bisa? 



Soul 2: 



Atma 2: 



Yes there is. 



Ada. 



Ada. 



What song is that? 



Men gending apa to? 



Sangut: 



Yaa, lagu apa itu? 



164 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji Jalam Seni Pertunjxujan 



The Invisible Mirror 



Soul 2: 
Small star. Weeee. Where is my mommy? 



Oh my god. Go ahead and look for your mommy. Maybe 
she is there. 

Soul 2: 

Weee. Don't leave me behind, mommy, wuuuu. 



Oh my god. Oh, oh, Sangut. I feel sorry him, looking for 
his mother. Oh, you see, he found his mother there. Oh, 
oh. 



Atma 2: 
Bintang kecil. Weee, dija meme nah? 



Bintang Kecil. Weee dimana ibu yah? 



Sangut: 

Mih ratu. Me alin-alin memen Wayane ditu mirib ada Ya Tuhan. Sana, sana lihat-lihat barangkali ibumu ada di 
ditu. sana. 



Weee, de kalin me. 



Atma 2: 

wuuu. 



Delem: 

Aduh. Ratu. Aduh aduh pih. Ngut pedalem ya ngalin- 
ngalin memene. Aduh tepuke memene ditu not. Aduh 
aduh. 



Weee, jangan ditinggal bu, wuuu 



Aduh. Ratu. Aduh aduh pih. Ngut kasihan dia mencari- 
cari ibunya. Aduh, kamu lihat tuh, ditemuinya ibunya 
di sana tuh. Aduh aduh. 



Oh, that's right, Melem. 

Soul 2: 

Mommy, come here, come here, mommy. 



Oh my god, Melem. His mother can't find her way, my 
god. She's guided by her child. "Oh, come here, lead the 
way for your mother." Oh. He's leading her to the Shaky 
Bridge, (tfk treacFierous bridge that must be crossed by souls 
trying to enter heaven). Oh, he's leading his mom by the 
arm. 

Oh, oh. Amazing. What a rascal that little boy is. He 
pushed his mother off the shaky bridge. Wow. Wow, what 
kind of child is that? I'll strangle his neck. 



Oh, Melem, you can't do that. That is the child's true 
path. Because when he was in the material worid, he was 
aborted. That's why he takes his revenge now here, here 
in hell. 



Aduh saja Melem. 



Me mai mai me. 



Sangut: 



Atma 2: 



Sangut: 

Aduh ratu, Leeem. Sing nepukin jalan memene, aduh ratu. 
Atin ne ben panakne. Aduh mai, meme baange jalan 
meme. Pih atin neked di Titi Ugal-agile. Tuh ratu dandane 
memene. 



Delem: 

Aduh, aduh, mimih jeg brengsek keto nak cenik. Jeg ngek 
a memene ked di Titi Ugal-agile ci. Aduh aduh kenken, 
jelema cenik kenken? llut baongne nyen. 

Sangut: 

Duh Melem, sing dadi benya keto Melem. To nak mula 
ambah ya ne adane. Sawireh ditu ya di Mercapada ya lad 
kutange.Mawinang jani ya males dini, dini di Yamaloka. 



Aduh, ya betul Melem. 



Ibu sini, sini ibu. 



Melem, Ibunya tidak tahu jalan, Ya Tuhan. Dia kemudian 
diantar oleh anaknya. Aduh, sini ke sini bu. Mari ku antar. 
Waduh dia diantar sampai di jembatan goyang. Ya, ampun, 
dia papah ibunya. 



Aduh, aduh, brengsek amat anak kecil itu. Kamu lihat 
tuh, ibunya didorong dari jembatan goyang. Aduh, aduh, 
gimana tu. Anak kecil apa itu? Ku pilin lehernya nanti. 



Duh Melem, tidak boleh begitu, Melem. Memang sudah 
takdirnya demikian. Oleh karena ketika dia di alam fana, 
dia dibuang oleh ibunya, sekarang di sini di neraka dia 
membalasnya. 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



165 



Trie Invisible Mirror 



He was aborted over there in the material world? 



Delem: 

la kutange ia ditu di Mercapada? 



Sangut: 

That's right. He was just created by geret gerut (sound Beneh. Gae a gen ia ditu, great-gerut ia megae. Sing 
and movement of se?(). They didn't want to take care of inget ya miara. Jeg ia ditu jeg entungange ken ia. 
him. Over there he was just thrown away. That is why Mawinang dini lakar nge wales y a I pianak. 
the child will take his revenge here. 



Oh, that's how it is. 



That's right, Melem. 



Bih keto. 



Saja Melem. 



Delem: 



Sangut: 



Okay, get ready, get ready to torture them. The Cikrabala 
(the demon soldkrs of hefCj are experts in beating. My lord, 
all the souls are being beaten. 



Oh my Lord, (cdtiiy) Melem. 



(a[[ spealqng at once) Don't go far. We're torturing the 
souls. Okay. Yeah, yeah. Get ready to torture all the 
souls. Wee, yoooo, yoooo. 



Ooooooh. Don't do this to me, my looord. 

Weeee. Haaaa. How do you feel? Weeee. Weeeee. 

Soul: 

ooooooohh. 

Throw him down, (into the fires of fieCCj Weee.weee. 



Delem: 

Nah dabdabang, dabdabang, pih bakal nyakitin. 
Cikrabala tukang nyakcak-nyakcak. Dewaratu jeg 
cakcake wateking atmane, dewa ratu. 



Dewa ratu Melem. 



Sangut: 



Cikrabala: 
Enak aja doh, amidanda ikanang atma. Weee aaa, 
enak sigra-sigra amidanda ikanang atma. Weee, yog 
yooooog. 

Atma: 

Aduuuh de tiang kenoange Betaraaaa. 

Cikrabala: 
Weee haaa. Apa karasa denta? Weee, weee. 



Atma 



Aduuuuuh. 



Cikrabala: 
Puncangakna! Weeeee. weee. 



Ooo ya. Dia dibuang ketika di dunia fana? 



Ya betul. Di sana dia dibikin dengan semangat, gerut- 
gerut, demikian mereka bekerja keras. Kemudian tak ingat 
dia untuk memelihara. Akhirnya dia kemudian dibuang. 
Makanya di sinilah si anak membalasnya. 



Waduh, begitu toh? 



Betul, Melem. 



Nah, siap-siaplah untuk menyakitinya. Cikrabala tukang 
pukul. Ya ampun, semua atma dipukul-pukul, ya ampun. 



Delem, ya ampun. 



Mari jangan jauh-jauh untuk menyiksa semua atma. 
Weee aaaa, mari cepat-cepat siksa semua atma. Weee, 
yog, yoooooog. 



Ampun B batara, jangan hamba disiksa. 



Weee haaa. Apa terasa olehmu? Weee, weee. 



Aduuuuuh. 



Cemplungkan. Weeee, weee. 



166 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



Soul : 

Oohhhh. Mommy, look for me. Father, I can't stand it 
anymore, father. 



Weeee. Throw him down to the fires of darkest hell. 
Weeeee. 

Soul 3: 

(tambah angka 3 pada 'soul' kesamping dan bawah) 
Oooh. Help. Don't do this to me. 



Atma: 

Aduuuuh. Meme alih tiang meme!, Bapa sing ngidang Aduuuh ibu, cari saya ibu. Ayah, tak kuasa saya menahan 

tiang naenang bapa. siksaan, ayah. 

Cikrabala: 

Weeee. Tuncangakna marikanang Kawah Weeee. Lemparkan ke kubangan kawah neraka. 

Yamadiloka! Weee. Weeee. 



Atma 3: 

Aduuh tulung. de tiang ketoange. 



Ya ampun, toloooong jangan saya dibeginikan. 



Weeee, how do you feel? Do you want more? 

Soul 3: 

Ohh, looooord. 



Your highness, my lord. Please cast judgement on this 
soul. 



Here I come, none other than Lord Suratma. Eeeeem. 
Are there any more souls left? 



My lord, there is a soul who is hanging between heaven 
and hell. Please find out who he is. 



Is this another soul? It looks like a soul. Hey, you soul, 
what is your name? 

I am none other than Lubdaka. 



Cikrabala: 
Weee, apa kerasa, denta muah? 



Atma 3: 



Aduh Betaraaaaa. 



Weee, apa yang kamu rasakan lagi? 



Aduh Betaraaaaa. 



Cikrabala: 

Pakuluuuun. Pakulun paduka Betara, enak Yang mulia, yang mulia Paduka Bhatara. Mari 

anentuaken ikanang preta! tentukan nasib para atma. 

Sang Suratma: 

Ariwijil sira Hyang Suratma natan hana waneh. Muncullah Sanghyang Suratma tiada lain. Eeeem, 

Eeeem, ne kenken nureksang... hana? Gimana nih memeriksa... ada? 

Cikarabala: 

Pakuluun yayeki hana Preta luir klamang-klamang Paduka, ini ada atma sepertinya melayang-layang di 

marikanang pantaraning Kawah Yamadiloka dulur antara neraka dan sorga. Mari periksa dia sama- 

yata Suarga. Enak pada cihnaakna! sama. 

Sang Suratma: 

Ne biin ada atma to? Kalo asa de atma. Ah atma kita. Tuh, ini ada atma lagi? Sepertinya ada atma lagi. Ih kamu 

siapa aranta.^ atma. Siapa namamu? 

Lubdaka: 

Pakuluuuun tan len yata Sang Lubdaka yata ingulun. Paduka, tiada lain hamba ini adalah Lubdaka. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



167 



The Invisible Mirror 



Aaah, Lubdaka? Well, well, wait a minute, I'm looking 
for my notes. 



Lubdaka. Is it under the B's or the L's. Yes. Lubdaka. 
L. Lubdaka. Under L there is a civet (a smaff mfcf animaf 
/Qiozcn in Indonesian as [u5al<J. That's not it. Why am I look- 
ing in the animal section? Lubdaka, let's see. Lubdaka, 
Lubdaka. L is for little monkey ([utun£=a smatt species of 

monkey). Ah. L lassies, ([uuien^ = youn£ £ir[) ah. 

Who's that? Who's that? 



Sang suratma: 

Aaaa, Lubdaka? Piih, nen nen malu nah malin kreplekan 
malu. 

Sang Suratma: 

Lubdaka. ahn bagian B ne ya, e, bagian L ya. Lubdaka. 
L. Lubdaka, lubak, e, sing ya. Bagian buron kat 
balin adi. Lubdaka. alin-alin. Lubdaka, Lubdaka. 
Lutung. Ah. Luu, luweng, ah. Nyen nyen nyen? 



Aaaa, Lubdaka? Wah, sebentar, sebentar dulu yah. Lihat 
cacatan dulu. 



Lubdaka. Cari pada bagian B eee bukan, bagian L ya. 
Lubdaka. L Lubdaka, lubak {musang), eee bukan. Salah 
lihat tuh bagian binatang. Lubdaka. Cari-cari Lubdaka. . . 
Lutung. Ah luu... luweng (cewek). Ah. Siapa? Siapa? 
Siapa? 



I am Lubdaka, truly him and no one else. 



Lubdaka: 
Tan sah Sang Lubdaka yata gatin ingulun. 



Tiada lain hamba ini Lubdaka. 




O, Lubdaka. How could my brain forget. Lubdaka. Okay, 
Lubdaka. (to Lubdalqi) You're the one. You killed all 
kinds of animals in the material world. That adds up 
to a lot of sins. 



Sang Suratma: 
O, Lubdaka, sap kene otake adi. Lubdaka. Naaaa, 
Lubdaka tan len, antian kita luir amejahakken yata 
ikanang sarwa sato marikanang Mercapada. 
Luirnian mageng yata ikanang dosan ta. 



Ooo, Lubdaka. Otakku lupa-lupaan. Lubdaka. Naaaa. 
Lubdaka, kamu tiada lain orang yang selalu 
membunuh binatang ketika di dunia fana. Sungguh 
amat besarlah, dosamu. 



168 



trikalpa: Balinese Literature in Perf( 



ormance 



Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



Cikrabala: 
Okay. If that's how it is, let's throw him into the hot Weee. Yan tuning mangkana, enak-enak tuncangaken Weee. Kalau begitu halnya, baik-baiklah. Kamu harus 
burning crater of hell, Yamadiloka. marikanang Kawah Yamadiloka. dimasukkan ke kawah neraka. 

Sang Suratma: 

Yes, just thrown him over there into the burning crater. Ah jeg entungan ditu di kawahe, gede-gede pelih ya ne. Sudah ah. Buang saja dia di sana di kawah neraka. Besar 
His sins were great. kesalahannya, besar. 

Cikrabala: 

Oh, if that's how is, please excuse me, my lord, (to His Ah yan tunian mangkana mamuit-mamuit Paduka Ah, kalau demikian mohon diri hamba dari hadapan 

friends). Let's torture him now, wweeeeee, Betara. Enak yata midanda sira, weeee, paduka. Mari-mari hukum dia. Weeee 

Lubdakaaaaaaaa. Lubdakaaaaaaa. Lubdakaaaaaaa. 

Lubdaka: 
Oh, my looooord. Pakuluuuuun. Yang mulia. 

Dalang: 
Let's now tell the story of the arrival of the Caritanen mangke wateking Gandarwa kabeh. Diceriterakan sekarang seluruh Gandarwa. 

Gandarwas. (Shiva's army of aryek) 

Cikrabala: 
Lubdaka, now let's go. Weeee. How are you feeling Lubdaka enak lumaku kita! Weee. Kadiang apa Lubdaka, ayo, ayo berangkat kamu. Weee Bagaimana 
now? rasanian? rasanya? 

Dalang: 

Hiiik, eeek. Hiiiik. Hiiiiik, eek. Hiiiiik. Hiiiiik, eek. Hiiiiik. 

Cikrabala: 

Weee hik. Weee hik. Weee hik. 

Lubdaka: 
Oh, My looord. Pakulun. Yang mulia. 

Gandarwa: 

What a surprise to see Sang Lubdaka being tortured Kascaryaaaa, mulat yata ri sira Sang Lubdaka Terperanjatlah beliau melihat si Lubdaka disiksa oleh 

by all the Cikrabalas. Now I will snatch away his soul, binanda ri watekin Cikrabala. Bipraya angamet yata para Cikrabala. Untuk mengambil atmanya sekarang, 

I will immediately transform myself into a Cikrabala Pretanira mangke, tan sab anyukti rupa matemahan tiada lain dengan cara merubah wujud menjadi 

demon. I will do it now. With words ^cj/ ma^ic;, bell ikanang ikanang Cikrabala yata sira. Wak bajra Cikrabala. Wak bajra mantram beliau. Saksana. 
(magic sound), and prayer. And nooooooow. pangastutin nira. Saksanaaaa. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



169 



Tne Invisible M 



irror 



Lubdaka, how are you feeling now? Hik huk weeee. 

Fake Cikrabala: 
Heey. Let me beat him once. Give him to me. 



Weeee, if that's how it is, let's be quick and torture 
Lubdaka together. Weeee. Ahhheeee. 



False Cikrabala: 



Weeee. 



Cikrabala: 
Lubdaka kadiang apa rasanian? Hik huk weeee. Bagaiman rasanya Lubdaka? Hik huk weeee. 



Cikrabala palsu: 
Weeee. wehaken kakanta apisan, wehaken! 



Weeee. Berikan abangmu giliran sekali. Berikan. 



Cikrabala: 
Weee yan tuniani mangkna enak sigra-sigra papareng Yah, kalau demikian halnya mari sama-sama 
midanda sira Sang Lubdaka. Weeee. Ahhhheee. menyiksa si Lubdaka. Weeee. Ahhhheee. 



Weeeee, eee. 



Cikrabala palsu: 



Weeeee, eee. 



Weee, what a surprise. 



Cikrabala: 



Wee kascarya mulat. 



Wee terperanjatlah setelah menyaksikan. 



Gandarwa: 

(He fias aCready cfianged his form 6acl<iinto an ange[ and carries (Sudah berubah ks-mbati dan membawa sang Lubdaka) (Sudah berubah kembaU dan membawa sang Lubdaka)- 
Lubdaka away). Lubdaka, it is not right for you to be Lubdaka kita nora pantes marikanang Yamaloka. Lubdaka, kamu tidak pantas berada di neraka, 

here in hell. 



Oh, who is he? Wreeeeeee, wweee, 
Who is that? 

How dare he come here to hell in Yamaloka. He is 
nothing more than an imitation who transforms him- 
self into a Cikrabala in order to.... Kill him. 



Weeeeh. Weeee. Kill all the Gandarwa angels. 



Beh, siapa ya? 



Cikrabala: 
Wreeee, we, we, siapa ya? 



Cikrabala 2: 
Luir ambek kita marikanang Yamadiloka, tan len 
matemahang ikanang Cikrabala yata sira. Pejahaken 
sira! 

Cikrabala: 
Weeeeeh. We, we. Pejahaken ikanang Gandarwa! 



Hiiiiik. 



Hiiiik. 



Dalang: 



Beh, siapa ya? Wreeee, we, we, siapa ya? 



Wah, keterlaluan amat lagakmu berada di neraka, 
dan merubah wujud menjadi Cikrabala, kamu. 
Dibunuh saja dia. 



Weeeeeh. We, we. Bunuh saja seluruh Gandarwa! 



Hiiiik. 



Gandarwa: 

(after a fight, with the enemy) Is that all. We are the Hana muah yeki Gandarwa apa karana pretanira 
Gandarwas. The reason we are here is to take this mulat sakeng Yamadiloka, enak sigra yatna-yatna. 
soul out of hell, (to the other angeis) Let's get ready to do 



Ada lagi. Ini para Gandarwa datang untuk 
mengambil atma dari neraka. Mari bergegas dan hati- 
hati. 



170 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



it carefully. 



Wee, weee. How arrogant all you Gandarwas are, 
snatching away the soul of Lubdaka. 



liiiih, all you soldiers of hell in Yamaloka should stop 
talking so much. We will match our powers against 
yours. 



Cikrabala: 

Wee, weee. Ya wateking Gandarwa, bobab antian Wee, weee. Kamu seluruh Gandarwa. Lancang kamu 

angamet Pretania Sang Lubdaka. mengambil atmanya si Lubdaka. 

Gandarwa: 

liiiih wateking Yamaloka hay wa kweh mojar, enak liiiih, seluruh pasukan neraka. Jangan terlalu banyak 

tobaken ikanang kawidnyanan ta! omongan. Mari benturkan kekuatanmu. 



Wee. How dare you act so audaciously. And now. 

OFJgftt Between the armies of heaven and heU) 



Weee aaa heee wee. Gandarwaaaa. Here I am. Show 
all your power, so I can have a chance to kill you. 



Weee, you think you're so clever. Just be ready. Get 
your weapons ready. All of you will be killed... You 
don't scare us at all. Charge! Aiiiii. 



Cikrabala: 
Weee gede ambek mu. Sigraaaa. 

{'perang antara Qandarwa dengan Cikjabaia) . 

Cikrabala: 
Weee aaa hee weee. Gandarwaaaa. Yayateki ngong, 
pinelasaken kawisayan ta. Ngong pang taen 
ngematiang kita. 

Gandarwa: 
Weeee, antian pradnyan gatin ta. Kewala yatna- 
yatna! Aiiiii. Ya yan samangkana, yatna-yatna 
kita mawa kunang senjata. Yata pejah muang kita 
prasama. Antian mulat kita prasama, Saksanaaa. 
Aiii. 



Weee besar amat ambekmu. Segeraaaa. 

(Terang antara Qandarwa dengan CilqaSaCa) . 



Weee aaa hee weee. Gandarwaaaa. Ini aku, ayo 
keluarkan semua kekuatanmu. Aku sangat bernafsu 
membunuhmu. 



Weeee, Berlagak pintar rupanya kamu. Siap-siaplah 
kamu. Kalau demikian halnya bersiaplah kamu 
dengan senjatamu. Tak urung kamu semua akan mati. 
Lihatlah olehmu semua. Saksana. Aiii. 



Weeee, huk ai. Get ready. Get ready. Use all your 
power. 

Weee, I'm safe. I'm safe. None of them (the weapons) hit 
me. 



Cikrabala: 
Weee, huk ai. Yatna-yatnaaa! Telasaken kawisayanta. 



Weee, huk ai. Siap-siaplah. Tumpahkan semua 
kekuatanmu! 



(6att[e sounds) Ah, hi, aiii, huk huk, huk huk. Aiiiii. Yaiiih, 
yeeah. 



Cikrabala: 

Wee, ngong selamet, ngong selamet. Tanpa kena Wee Gua selamat, gua selamat. Aku tidak kena. 
siaku. 

Ttalang: (suara penggambaran situasi perang), ah hi aiiii huf^ (suara penggambaran situasi perang), ah hi aiiii hul<i hul<i hul(^ 
hul<ihufihullhuk, aiii. JaHih, yeeeah. hui^huli^ aiii. yaiiih, yeeeah. 



SiwaratriUalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



171 



Tne Invisible Mirror 



What a surprise. I am so surprised to see all the 
Cikrabala demons flghting against the heavenly army 
of Gandarawa angels. 



Pakluuuuuuuuun (9i{y ford) 



Let us observe the ways of the Cikrabala while they 
flght against the Gandarwas, Surenggana. My plan is 
to find Lord Siwa. 



You want to discover why Lord Siwa is doing this. Why 
are all the heavenly armies carrying weapons to fight the 

armies of hell? Why is he engaging in this battle? 

Tuk tuk tuk. 



Sang Yamadipati: 
Dadia. Yaya kascarya Hyang Yamadipati lumihat 
kraman ikanang Cikrabala, sedeng aperang lawan 
wateking Dewata, Gandarwa, Surenggana, wijaya. 



Pakuluuuun. 



Sang Jogormanik: 



Sang Yamadipati: 
Enak bipraya umawas-awas kraman ikanang 
Cikrabala sedeng aperang lawan wateking 
Gandarwa, Surenggana. Antyan harep ingulun 
bipraya anusur Sanghyang Jagat Karana. 

Delem: 

Kayun medal sekadi mangkin jaga merika nampek ring 
Ida Batara Siwa? Sapunapi kawyaktian kayune, dados 
watek aaa Dewatane, Widyadarane, a Resi Ganane, 
jeg makejang masiat? Ngaba senjata nyiatin watek 
Cikrablane. Kenken men itungane nyiatin? Tuk tuk 
tuk. 



Waduh. Sangat terkejut Sanghyang Yamadipati 
melihat keadaan prajurit Cikrabala yang tengah 
berperang melawan kelompok Dewata seperti 
Gandarwa, Surenggana, berjaya. 



Paduka. 



Segera hendak menyaksikan keberadaan seluruh 
Cikrabala sedang berperang melawan pasukan 
Gandarwa, Surenggana. Muncul keinginanku untuk 
bertemu dengan Dewa Siwa. 



Kehendak paduka, datang seperti sekarang ini, mau ke 
sana, menghadap Sanghyang Siwa? Apa maunya para 
Dewata, Widyadara, Resi Gana, semuanya berperang? 
Lengkap membawa senjata berhadapan dengan para 
Cikrabala. Apa maunya memerangi? Tuk tuk tuk 



Sangut: 

Slow down, Dalem. No one is fighting over your words, Adeng-adeng Lem! Ada sing nak ngarang munyin Pelan-pelan 'Lem. Tak seorangpun ada yang mau merebut 
Dalem. Lem e. kamu bicara. 



(to sangut) Shut your mouth, (to yama) Go ahead, my lord, 
please proceed. Let me follow you. Let's go. 



He he he. 



Delem: 

Siepangibancie!Memarga Betara memarga! Banggiang Diam. Tutup mulutmu. Berangkatlah paduka, 
titiang ngiring. Ayok jalan! Berangkatlah. Biarkan hamba yang menyertai. Ayok Jalan! 



He he he. 



Sang Yamadipati: 



He he he 



Sendon: 
(sings a departure song) The power of hell's armies is Antia prayowateking yama loka kajerihang panarikosa. Sungguh kekuatan pasukan neraka, dikalahkan oleh 
frightening to behold. cara pemaksaan. 



172 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Tne Invisible Mirror 



Ask, my lord, ask. What is the real intention of Lord Siwa? 
Is Lord Siwa engaging in con'uption down here? That 
must be it. The Lord is not setting a good example. Won't 
the people in the material world follow his example? Since 
that's the way it is in heaven, maybe the law in the mate- 
rial world is also unreliable. 



My lord Siwa, creator of the world. Forgive me, Sang 
Yamadipati, for asl^ing you this question. What is the 
reason you commanded all the Widyadara, 
Surenggana, and Gandarwa to fight against the 
Cikrabala demons, and to snatch away the soul of 
Sang Lubdaka? What is the reason for that? Speak 
to me, Yamadipati, so that I can understand this. 



Weeeiiih, hi, ha, ha ha. Ha ha ha. Lord, lord, lord. Naaa. 
Excuse me, my lord, I am Melem, who (ngojah) trans- 
lates the words of Sang Yamadipati and am speaking to 
you now. What is the reason my Lord commanded all 
the Gandarwa,Widydara. and all the Resinggana to fight 
against the Cikrabala demons while they were carrying 
the soul of Lubdaka to the hot craters of hell? What was 
your true reason for this, my Lord? 



Please inform us. Let us know. 



The lord should set a good example, and should be a good 
role model, to show people clearly what is black and what 
is white in the world, what is clearly right and what is 
clearly wrong. Now why do you violate that rule? What 
are you thinking, my Lord? Go ahead. Aren't you the 



Delem: 

Takenang Betara, takenang! Ken ken kasujatian 
pekayun Ida Batara Siwa? Napi Ida Batara Siwa kena 
korupen puniki? Pang karwan. Betara ngae contoh ne 
tara-tara, sing tulade ken manusane di Mercapada. Di 
Suargan kene. Bench jeg di Mercapada jeg sing maunduk 
apa hukume dingeh. 



Sang Yamadipati: 
Pakuluuun, Sanghyang Siwa, Sanghyang Jagat 
Karana Inganika. Kesamaaknaaaa, yayateki Sang 
Yamadipati atanya lawan Inganika. Apa nimitanian 
Inganika anyineng wateking Widyadara, 
Surenggana, Gandarwa sedaya, lamakania aperang 
lawan watek Cingkrabala? Muah angregep Pretanira 
Sang Lubdaka. Apa marmitanian mangko? Warah, 
warah, warah, lamakana Yamadipati kamaweruha! 

Delem: 

Weeeeiiih, hi ha ha ha. Ha ha ha. Betara, betara, betara. 
Naaa. Nawegan piniki titiang Melem ngojah kadi 
pawecanan Ida Sang Yamadipati matur paduka Betara 
sekadi mangkin. Napi mawinang Betara merintah watek 
Gandarwa ne, aaa Widyadara ne, watek Resinggana ne, 
nyiatin Cikrabala ne rikalaning nyemak atman ya ne 
Lubdaka jaga kacebloking merika ka Kawahe. Ken ken 
sujatine pekayun Batarane? 



SangYamadipati : 
Enaaak, warah, warah, warah! 

Delem: 

Betara pantes angon conto, pantes angon tetuladan, 
nyelem putihang di Gumine. Ne ken patut pelih, ne ken 
patut bench. Jani Betara dadi melanggar hukum toto, 
kenken itungan Betara na? Lautang ! Kaden Betara madue 
pekayune, Betara mekarya peraturane sane riiin. 



Tanyakan, Paduka Bhatara, tanyakan! Apa sih 
sesungguhnya maunya Bhatara Siwa. Apa beliau Bhatara 
Siwa kena skandal korupsi? Biar jelas. Bhetara membuat 
contoh yang bukan-bukan. Tidakkah ini yang dijadikan 
acuan oleh manusia di dunia. Kalau di Sorga saja seperti 
ini. Pantaslah di dunia fana mafia peradilan membuat 
hukum tak keruan, beritanya. 



Paduka Sanghyang Siwa juga paduka disebut 
Sanghyang Jagat Karana. Maafkan hamba 
Sanghyang Yamadipati bertanya pada paduka. Apa 
sebabnya paduka menyuruh Widyadara, Surenggana, 
Gandarwa semua, agar berperang melawan prajurit 
Cikrabala? Dan mengambil paksa atmanya si 
Lubdaka. Apa sebabnya demikian? Jawab, jawab, 
jawab, agar Yamadipati mengetahuinya. 



Weeeeiiih, hi ha ha ha. Ha ha ha. Bhatara, bhatara, 
bhatara. Naaa. Maafkan hamba ini, Melem, 
menterjemahkan kata-kata Beliau Sang Yamadipati yang 
disampikan kehadapan paduka Bhatara seperti sekarang 
ini. Apa sebabnya Paduka Bhatara memerintahkan para 
Gandarwa, aaa Widyadara, seluruh Resinggana, untuk 
memerangi Cikrabala manakala mereka mengambil 
atmanya si Lundaka untuk dijerumuskan di kawah 
neraka? Bagaimana sesungguhnya maksud Bhatara? 



Silahkan jawab, jawab, jawab! 



Bhatara pantas dijadikan contoh, pantas untuk dijadikan 
panutan, menghitam putihkan di dunia. Yang mana patut 
disalahkan, yang mana patut dibenarkan. Sekarang kenapa 
Paduka Bhatara yang melanggar hukum tersebut? 
Bagaimana rencana Bhatara? Silahkan! Bukankah itu 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Perto 



Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



173 



tU 



e Invisible Mirror 



one, my Lord who had the idea of creating all these laws 
in the first place, my Lord? 



Right. When some one gets bad results, it's because 
they did bad deeds. When someone gets good results, 
it's because they did good deeds. 



Aren't you, my lord, the one who made these rules in the 
first place? Whoever committed bad deeds, would rightly 
be put into the hot crater of hell. Whoever committed 
good deeds, would rightly be put into heaven. Because 
humans are responsible for their own behavior, if they 
do bad deeds, when they die, they will go to hell. If they 
do good deeds, the will go straight to heaven. My Lord 
made these rules. Aren't you the one who put your signa- 
ture on them when the gods came together in their meet- 
ings. Now you are the one who is changing them. What 
is your true intention my Lord? (to fiimseff) I have a fire in 
my belly about this. I've been pacing back and forth 
about over it. 



Melem, stay still. Don't pace back and forth, Melem. 



If I don't at least pace back and forth, then I am going 
nowhere as the prosecutor here in hell. Here (in fieff) it's 
not like that, (impfying tfiat it is [il^ that on earth ivhere pros- 
ecutors do not f uCbj punish the crimes of some criminals). What's 
wrong is wrong and what's right is right. No one should 
be influenced by money, no one should be influenced by 
who your relatives are. If you do bad deeds you will be 
punished by bad things. And if you are justly punished to 
die, then you should be killed. (Terhaps a reference to the 
'Bad bombers stiCfon death row). To make sure that evil does 
not flourish, to avoid keeping one alive and letting a thou- 



Sang Yamadipati: 
Yogyaaa. Siapa tan kenaning ala masedana sarwa 
ala, siapa tan kenaning ayu masedana sarwa ayu. 



Delem: 

Kaden Betara ngae peraturane sane riin. Asing sane 
melaksana corah patut maan di Kawah. Asing melaksana 
ayu patut maan Suarga.Mapan tingkah jelema nak ya sane 
ngatur.Yen jelek pakardine, di matie nganteg ka 
yamadiloka.Yen melah pakardine nganteg kema ka 
Suarga loka. Betara ngae peraturane punika, Kaden Betara 
menanda tangani paum sekha perkumpulan Betarae nika. 
Sane mangkin Betara sane ngobah. Uuu, kenken sujatin 
kayun Betara? 



Naaah, jeg jengah basange ben. Jeg cagcag cigcig ben 
kene. 

Sangut: 

Lem, oyongan ibane, de cagcag, cigcig Lem! 

Delem: 

Yenkaka sing cagcag, cigcig, kaka to kejaksaan dini di 
di di Yamaloka jalan di tempat. Yen dini sing ada keto. 
Cunetneyenpelihjegpelih, yen beneh patut beneh. Sing 
bakal tertarik dengan uang. Sing tertarik keturunane, yen 
suba pelih jeg pelihang. Yen nak suba pantes mati jeg 
matiang. Pang sing nyen akar baru panakne numpuk. 
Pang sing ngidupang ane aukud ne seribu mati. Lebih baik 
yang satu mati, jangan mengorbanl<an yang banyal<. 
(penonton tepuli^ tangan). Keto yan itungane dini di 
Yamaloka. Sing tawang aturan Betaraaa. Ken ken nyet 
Betara? Yen Betara nueg, yen nu bakal elag- eleg ngisi 
hukum cendek Sanghyang Yama Cikrabala makejang 



merupakan kehendak Bhatara? Dan Bhatara pulalah 
dahulu yang membuatnya peraturan itu. 



Memang benar. Barang siapa yang menerima pahala 
buruk, karena berdasar pada perlakuannya yang 
buruk; barang siapa yang menerima pahala baik, 
karena berdasar perbuatannya yang baik. 



Bukankah Bhatara dahulunya yang membuat peraturan 
ini. Setiap orang yang berbuat jahat mendapat tempat di 
neraka. Setiap orang berbuat bajik akan mendaptkan 
sorga. Mengingat tingkah polahnya manusia, dia sendiri 
yang mengaturnya. Kalau perlakuannya jelek, ketika dia 
mati sampailah dia di neraka. Kalau perbuatannya baik, 
akan sampai di Sorga. Bhatara yang membuat peraturan 
itu. Bukankan bhatara pula yang menanda tangani hasil 
rapat perkumpulan kelompok Bhatara itu? Sekarang, 
Bhatara yang merubahnya. Uuu, bagaimana sesung- 
guhnya maksud Bhatara? 

Naaah, sungguh panas hati ini. Makanya terus mondar- 
mandir di sini. 



Lem, diam Lem, jangan mondar-mandir aja terus. 



Kalau gua enggak mondr-mandir; gua ini kejaksaan di 
neraka yang jalan ditempat. Kalau di sini tidak ada begitu. 
Pokoknya kalau salah, ya salah, kalau benar patut 
dibenarkan. Tidak bakal tertarik dengan uang. Tidak 
tertarik oleh keturunannya, kalau sudah salah ya 
disalahkan. Kalau dia sudah pantas mati, ya dibunuh. Biar 
akar baru anaknya tidak numpuk. Biar tidak karena 
menghidupkan yang satu, yang seribu mati. Lebih bail< 
yang satu mati, jangan mengorbankan yang banyak, (penonton 
6ertepui<i tangan). Demikianlah perhitungannya di sini di 
neraka. Tidak tahu bagaimana perhitungan menurut 



174 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Perrormance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



sand die, it is better for one to die than to sacrifice many 
victims (audience appfauds). That is the thinking here in 
hell, I don't know what you are thinking, my Lord. What 
is your intention, my Lord? If you insist on being clever 
and wavering on the enforcement of the law, then surely 
Sang Yama and all the Cikrabala demons will resign. 
Even more so because now we are in the era of resigna- 
tions. (Sufiarto and Mdurrafiam Wahid fiad Both recentfy re- 
signed the presidency of Indonesia). 



mengundurkan diri. Napi mangkin, 
napi malih mangkin sedeng jaman 



me-ngundurkan diri. 




Bhataraaa. Apa maksud Bhatara? 
Kalau Bhatara berlagak pintar, masih 
saja goyah dalam menjalankan 
hukum, pokoknya Sanghyang Yama, 
Cikrabala semua mengundurkan diri. 
Apa lagi, sekarang ini adalah jaman 
me-ngundurkan diri. 



Delem, Delem, if you resign, who knows, maybe your 
salary will be increased. 



If my salary is increased, I'll get nothing other that what 
is due to me, you see. 



Sangut: 

Lem, Lem, yen mengundurkan diri Lem, sing tawang 
menek gajihe nyen. 

Delem: 

Yen menek gajihe sing len biin duman kaka. Kenken ci? 



Lem, Lem, kalau mengundurkan diri Lem tidakkah tahu 
upah gajihnya akan meningkat nanti. 



Kalau gajih naik, bagianku kan lain lagi. Gimana kamu? 



What's going on? What is it? What, what, what? If 
you want to know, about the behavior of Lubdaka, he 
was always engaging in torture, violence (O-tinua karma), 
and killing when he was in the material world. This is 
what Lord Surya, the god of the sun, testified to me, 
Sang Yamadipati. If you really want to know about 
Lubdaka 's behavior while he was still in the material 
world, then please look at this. 



Yamadipati: 
Kadiang punapa? Kadiang punapa, punapa, 
punapa? Yan inganika harep maweruha, kadi tingkah 
nira Sang Lubdaka luir tan wus-wus angelaraken 
Himsa karma, amati-mati marikanang Mercapada. 
Yayateki Sanghyang Surya sampun maweh pawekas- 
wekas lawan Sang Yamadipati. Yan harep inganika 
kumeweruhe, angapa polah sira Sang Lubdaka nguni 
marikanang Mercapada. Enaaak, yayateki tutuana. 



Bagaimana? Bagaimana? Gimana? Gimana? 
Gimana? Kalau paduka ingin mengetahui seperti apa 
perlakuannya si Lubdaka yang memang tak henti- 
hentinya berbuat Himsakarma, bunuh dan 
membunuh di dunia fana. Ini Sanghyang Surya telah 
memberikan kesaksiannya kepada Sanghyang 
Yamadipati. Kalau paduka mau mengetahuianya, 
bagaimana tingkah polahnya si Lubdaka ketika dia 
masih berada di dunia fana, mari ini disaksikan. 



My lord, if you never knew about the true behavior of 
Lubdaka, here we are, without a doubt, Sanghyang Surya, 
Sanghyang Candra {the sun and the moon), as witnesses of 
all those things (LuSdaia's behavior). Look. My Lord 
should now see with eyes stretched wide open, my Lord. 
Behold, Lubdaka's past behavior in the material world. 
Killing innocent animals. Look. Look. Look. 



Delem: 

Batara yen ten naenang, kenken kasujatian tingkah ipun 
I Lubdaka , puniki titiang cutetne meriki, Sanghyang 
Surya, Sanghyang Candra sane pinaka saksi ngicen 
punika maka sami. Cingaaak. Betara sane mangkin 
nyingak, bengbenganpenyingakan Betarane! Suryiin, 
tingkah ipun I Lubdaka nguni ring Mercapada. Amati- 
mati buron tanpa dosa. Cingak, cingak, cingak! 



Bila Bhatara tidak pernah (menya/^siHan), bagaimana 
sesungguhnya tingkah polahnya si Lubdaka, pokoknya 
hamba datang ke sini disertai oleh Sanghyang Surya, 
Sanghyang Bulan, yang akan memberikan kesaksian 
semuanya. Lihatlah. Paduka Bhatara sekarang 
menyaksikannya. Buka mata paduka lebar-lebar! 
Saksikan tingkah polahnya si Lubdaka dimasa lalu ketika 
dia ada di dunia fana. Binatang tanpa dosa, dibunuhnya. 
Lihat. Lihat. Lihat! 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjutan 



175 



Tk 



e Invisible Mirror 



Now Sanghyang Yamadipati shows the all things Lubdaka 
has done in the past in the material worid. Hunting in the 
middle of the forest. 

(demonstrating the IqCCings committed 6y LuSda^) 



Yes, let's now tell the story of the past deeds of Lubdaka. 
Every day he hunted in the center of the forest. Close to 
the lake there are animals, there are fish, whose beauty 
should inspire true reverence, there in the middle of the 
fertile fields and in the middle of the forest. 



Dalang: 
Irikaaaa, Sanghyang Yamadipati luirin paweh 
sahananira Sang Lubdaka nguniweh rikang 
Mercapada. Kapwa maburu marikanang telengin 
wana cala. 

(pen££am6aran perSuruan si Lubdalia, Banyal(_ memSunuh 
binatang k^tiSqi. dia masih hidup. 

Ainggih centang sane riiin kawentenang Sang Lubdaka. 
Sadina-dina tuah ipun wenten maboros ring tengahing 
wana cala. Nampek ring danau wenten baburonan, 
wenten ulam, sane ngelangenin wiakti ring telengin 
udiana minakadi ring telengin wana. 



Demikianlah Sanghyang Yamadipati memberikan 
kesaksian perbuatan si Lubdaka di dunia fana pada 
masa lalunya. Dia berburu di tengah hutan. 

(penggambaran perburuan si Lubdaka., banyak membunuh 
binatang ketika dia masih hidup. 

Ya diceriterakan pada waktu yang lampau keberadaannya 
si Lubdaka. Setiap harinya dia hanyalah berburu di tengah 
hutan. Di dekat danau ada berbagai binatang, ikan, yang 
suasananya sungguh mengasyikkan berada di tengah 
taman dan juga di tengah hutan. 



Sendon: 



(choraC singing) 



True, all the animals are in the middle of the forest. True 
is the greatness of the supreme lord god of gods. Like an 
umbrella over the universe. 



(jendir^) 



Dalang: 

Wiakti sahananing buron wenten ring tengahinng wana. 
Wiakti Ida Sang Hyang Widi maha agung. Pinaka tedung 
Jagat Rayane. 



Sendon {lagu) 



Berbagai jenis binatang ada ditengah hutan. Sungguh 
Tuhan Yang Maha Kuasa Maha Agung. Sebagai payung 
jagad raya. 



Those who witness the sight with their eyes are lost in 
reverence of the beauty of the colors of all the animals 
created by the Lord. They are truly entranced by the 
beauty in the world. 

(Hihe seem portrays the atmosphere of the forest through depic- 
tions of the rmturaC beauty and behavior of the animals in the 
forest.) 



Dalang: 

Sane ngelangunin panyingakan, sarwa warna sahananing Yang membuat mata terkesima adalah keindahan wama- 

buron kakaryanin antuk Ida. Mapuara ngulangunin waminya berbagai binatang yang diciptakan oleh Tuhan, 

wiakti ring j agate. Sungguh asyik untuk dinikmati di dunia. 

(Adegan menampilkan suasana di hutan yang sangat indah, dan (Adegan menampilkan suasana di hutan yang sangat indah, dan 

tingkah dari para binatang hutan) . tingkah dari para binatang hutan) . 



(choral singing) In the land, in the atmosphere of night, 
all the mountains are full of animals. They want to 
be close to 

Frogs: 

Ting, pung (they darwe). Tung pung, ping, ping. Tung, pung. 



Sendon: 
Kunang petala, ri kunang ambek ring latri, sagiri- 
giri wateking sato, mahyun nira tampek riiiing.... 



Di hamparan dataran memenuhi gunung tingkah polah 
para binatang di malam hari, mereka berkeinginan 
mendekat dengan.... 



Wayang Kodok: 

Ting, pung, (menari) . Tung, pung, ping, ping. Tung, Ting, pung, (menari) . Tung, pung, ping, ping. Tung, 



176 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali oi dalam Seni Pertunjuban 



The Invisible Mirror 



piTi£. 'Ping ping ping pung. 



(sings Sendon) All animals ran whenever Lubdaka ar- 
rived with his weapons. 



My lord, that is the past behavior of Lubdaka in the 
material world. He never stopped looking for a chance 
to kill innocent animals. If that's how it is, why should 
he be rewarded with a place in heaven? How do things 
work in the world? It's wrong for you to be followed 
as a model by the people in the world. 



Yes, what is going on? Think about it. Think about it. 
You, my Lord, have already witnessed his behavior in 
the material world. He never stopped hunting, killing 
innocent animals. He didn't care if they were small or 
big. If that was his behavior, and you reward him with 
heaven, what will happen to the law? If your decision 
goes like this, and then your model is followed by people 
in the world, what will become of the world? Think about 
that, my Lord. Where is the evidence that Lubdaka de- 
serves to achieve heaven? Think about this, my Lord. So 
that places in heaven will not be awarded irrationally by 
my Lord. 



My honored Lord Yamadipati. That is the nature of 
your discussion. But according to me, Sanghyang 
Siwa, I understand the higher Dharma of Lubdada's 
actions. On the night before the dark moon of the sev- 
enth month, he performed yoga and meditation. He 
performed the same actions that I performed. 



pung, pungping. Ting ping ping pung. Dst. 

Sendon: 
Sawateking sato pernah melayu ri polah nia sira I 
Lubdaka. Saha astra winawania. 

Sang Yamadipati: 
Pakuluuuun, mangkana akhirne Sang Lubdaka 
nguni marikanang Mercapada. Yadian tan surud- 
surud amolih amejahaken sato tanpa dosa. Yan 
mangkana muah ira yayatika awehaken Suarga. 
Temah paran kraman ikanang Jagatraya. Antian 
singsal inganika tiniru tekap ikanang Jagat. 



Delem: 

Inggih napi malih. Kayunang-kayunang ! Betara sampun 
aaa nyaksiang punika mugguing bikas ipun ring 
Mercapada. Ten wus-wusan ipun maboros mamati-mati 
buron tanpa dosa. Tan ngitung cenik tan ngitung gede. 
Yan asapunika bikas ipune jaga icen Batara Suargan? 
Punapi dados penadosan hukume? Yan pemargan Betara 
puniki raris tulade ring jatmane manusane ring 
Mercapada, punapiaaaang, punapiang jaga Jagate. 
Punika sandang pikayunin Betara. Dija buktine I Lubdaka 
patut molihang Suarga. Punika sandang pikayunin 
Betara! Pang ten ngawag-ngawag Betara ngicen Suargan. 



Batara Siwa: 
Uduuuuh. Sanghyang Yamadipati inganika. Antian 
mangkana kadi wecanan inganika. Yaning yayateki 
Sanghyang Siwa kamaweruha juga ri kasadu darman 
sira Sang Lubdaka. Antian ripurwateknian 
Purwaning Tilem Kapitu, yayatika ngelaraken yoga 
semadi. Luirnian peparengan nira ri karamaning 
Sanghyang Siwa. 



pung, pungping. Ting ping ping pung. Dst 



Semua binatang pernah lari menghindar dari tingkah 
lakunya si Lubdaka dengan panah bawaannya. 



Paduka, demikianlah perlakuan si Lubdaka di dunia 
fana pada waktu yang lampau. Terlebih lagi dia tak 
pernah henti-hentinya membunuh binatang tanpa 
dosa. Kalau demikian perlakuannya, pantaskah dia 
diberikan tenpat di sorga? Bagaimana jadinya dunia 
nanti? Salah paduka kalau manusia di dunia meniru 
cara paduka. 



Ya apalagi? Pikirkan, pikirkan! Bhatara sudah 
menyaksikan mengenai tingkah lakunya di dunia. Tak 
henti-hentinya dia berburu dan membunuh binatang yang 
tidak berdosa. Tidak memihh kecil ataupun besar. Kalau 
demikian perlakuannya, akankah dia diberi sorga? 
Bagaimana supremasi hukum itu jadinya? 
Kalau perlakuan paduka Bhatara seperti ini, kemudian 
dijadikan panutan oleh manusia di dunia, mau diapakan, 
mau diapakan dunia nantinya? Hal itu perlu paduka 
Bhatara pikirkan. Dimana buktinya si Lubdaka pantas 
untuk mendapatkan sorga? Itu yang perlu Bhatara 
pikirkan. Biar tidak serampangan Bhatara memberikan 
seseorang sorga. 



Aduuuuuh nanda Sanghyang Yamadipati. Memang 
benar seperti apa yang nanda utarakan. Sanghyang 
Siwa juga mengetahui kebaikan budi, sadu darmanya 
si Lubdaka. Sehari menjelang bulan mati pada bulan 
ke tujuh si Lubdaka melakukan yoga semadi, dan dia 
lakukan bersamaan dengan Aku, Sanghyang Siwa. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Perrormance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



177 



Th 



e Invisible Mirror 



Well, my honored Lord Yama, excuse me. Perhsaps you 
have miscalculated, and are mistaken about Lubdaka's 
life journey. Here I am in heaven as a witness who also 
has proof about the greater Dharma of Lubdaka. On the 
night before the dark moon of the seventh month, I was 
perfoiTning yoga. Lubdaka climbed up into the Bila tree. 
He stayed awake all night until daylight. Together with 
me he performed yoga. 



Your highness, what you have said is true, but I now 
want you to understand the true actions of Lubdaka. 
On the night before the dark moon of the seventh 
month you were performing yoga. But Lubdaka was 
not performing yoga. He only stayed awake because 
he was afraid of falling out of the Bila tree and being 
eaten by a tiger. 



Yeeeik. Excuse me, my Lord. That is true what you said 
that you, my lord, performed yoga on the night before 
the dark moon of the seventh month. It's true. He, 
Lubdaka, was there in the Bila tree staying awake all 
night. But you should know he did not truly perform yoga, 
because he did not feel that he was performing a sacred 
act (yadnya). He did not feel that he was performing yoga. 
He was only avoiding the danger of falling out of the tree 
and being eaten by a tiger. If someone who does not 
know he is performing a sacred act (yadnya), is it right 
that he be blessed? Is it right that he be rewarded with 
something good? You should think about that. 



My honored Lord Yamadipati, if we find a person who 
performs a sacred act without feeling that he is per- 
forming a sacred act, that is the most sacred act. 
Surely that person will reach heaven. 



Twalen: 

Aduh Ratu Betara Yama nawegang. Yen Betara maosang 
singsal, kaon mungguwing pamargin ipun I Lubdaka, 
puniki titiang ring Suarga Loka nak mederbe taler bukti 
saksi mungguwing kesadu darman ipun Sang Lubdaka. 
Rikalaning Purwaning Tilem Kapitu, titiang anangun 
yoga, ipun I Lubdaka wenten menek ring punyan kayu 
Billane. Megadang ipun taler kanti ke lemah. Nyarengin 
minakadi titiang anangun yoga. 

Sang Yamadipati: 
Pakuluuun. Yan mangkana kadi wecana inganika, 
weruh yayateki SanghyangYama ri tingkah nira Sang 
Lubdaka, mabener. Wetnian ri Tilem Kapitu Inganika 
anangun ikanang yoga, Nangiiing Sang Lubdaka 
dudu anangun yoga. Nanging tan len sira jagra 
lamakana tan labuh sakeng Billa, pinangan tekap 
ikanang Mong. 



Delem: 

Yeeeik. Betara nawegan. Wiakti kadi pawecanan Betara 
duk Betara nangun yoga rikalaning Purwaning Tilem 
kapitu, wiaktiiii. Ipun I Lubdaka wenten ring kayu 
Billa ne megadang. Kewela ipun nak ten merasa nyen 
ring dewek ipune meyadnya, ten merasa nyen dewek 
ipune mayoga. Nak mula sangkaning ipun ngelidin pang 
ten nyen ipun ulung caploke ring macane. Yan nak sing 
merasa mayadnya punika patut maan panugran? Patut 
punika icenin pikolih sane becik? Sandang kayunin! 



Batara Siwa: 
Uduuuuh, Dewa Sang Yamadipati. Yan alih wang 
meyadnya tan rumasa lawan sarirania meyad-nya, 
yayatika utama ngarania. Wenang amolihaken 
ikanang Suarga. 



Aduh paduka Bhatara Yama maafkan. Kalau Bhatara 
mengatakan salah, tidak patut pelaksanaanya si Lubdaka, 
Sayapun di sorga memihki juga bukti, saksi berkenaan 
budi baiknya si Lubdaka. Sehari sebelum bulan mati pada 
bulan ke tujuh, saya melaksanakan yoga, si Lubdka naik 
ke pohon maja. Dia juga begadang sampai pagi, menyertai 
saya melaksankan yoga. 



Paduka, kalau demikian seperti yang paduka 
sabdakan, pahamlah hamba ini, Sanghyang 
Yamadipati, dengan tingkah lakunya si Lubdaka. 
Benar. Ketika pada bulan mati pada bulan ke tujuh 
paduka yang melaksanakan yoga, sedangkan si 
Lubdaka bukan melakukan yoga. Dia begadang 
karena takut kalau-kalau nanti dia jatuh dari pohon 
maja, dan dimakan oleh harimau. 



Yeeeik, Maafkan Bhatara. Memang benar seperti sabda 
paduka, sehari sebelum bulan mati pada bulan ke tujuh 
paduka Bhatara melaksanakan yoga. Betul. Si Lubdaka 
begadang berada di pohon kayu maja. Akan tetapi dia 
sendiri tidak mengetahui dirinya melakukan persembahan 
yadnya, dia tidak merasakan dirinya melakukan yoga. 
Sesungguhnya dia hanyalah menghindar agar tidak jatuh 
dari pohon dan dimakan oleh harimau. Orang yang dirinya 
tidak merasa melakukan pengorbanan, apakah patut diberi 
anugrah? Pantaskah dia mendapat hasil yang baik? 
Semestinya ini perlu paduka pikirkan. 



Uduh nanda Sang Yama-dipati. Kalau seseorang 
melakukan persembahan dan dia tidak merasa 
dirinya melakukan persembahan, itulah yang disebut 
utama. Pantaslah dia itu mendapat-kan sorga. 



178 



Si"waratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali ai dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



Ooooohh, my Lord is reversing himself here. If there is 
a person who performs a sacred act (yadnya), and he feels 
that he is performing a sacred act, and furthemiore goes 
back and forth from here to there talking about perfonn- 
ing yadnya, this is not the highest act. For sure he is 
expecting something. Since he is preparing a sacred act, 
and is already speaking about the perfonnance of a sa- 
cred act, he is expecting a blessing from the gods. He is 
performing a sacred act in order to become rich. If he 
already feels that he is performing a sacred act, that means 
he is already anticipating the reward, anticipating the 
blessings of the Lord. If he doesn't feel like he is per- 
forming a sacred act, that is the highest act. If a man 
performs a sacred act without being aware of it in- 
side, that is the highest action. 

If there is a man who works and does not feel that he is 
working, that is called true work. Sometimes a man be- 
gins to work by just sharpening his tools and already feels 
he is working, and he is already dreaming about his daily 
wages, and is already dreaming about his contractual fees. 
This should not be the model for a person performing a 
sacred act for the gods. If he performs a sacred act with- 
out feeling that he is performing a sacred act, and per- 
forms the sacred act with diligence, this is the highest 
act. Don't you already know this, my Lord. Satwika 
yadnya (a sacred act without e?(pectatioTLs). Rajastika 
yadnya (a sacred act done out of obtigations) . Tamastika 
yadnya (a sacred act done with many cT^ectations). Aren't 
they they three levels of sacred acts. The highest form of 
sacred action is called Satwika yadnya. He, Lubdaka, 
performed what seemed to be Satwika yadanya. He per- 
formed yoga the same way that I (Siwa) do without any 
expectations at all. 



If you want to know the truth about the way Lubdaka 



Twaien: 

Badaaah. Betara mebalik puniki. Yen ada anak 
meyadnya, merasa asange dewek ipune meyadnya, napi 
malih kema mai, dini ditu ia ngortang iban ia meyadnya, 
punika ten mautama. Maka sinah ipun punika merih.Mara 
nabdabang yadnya ipun suba ngorang kel meyadnya ia 
ngalih pang icene keselamaten ken Ida Batara, yadnya 
yang ne pang nyak sugih. Yen sampun merasa ken dewek 
meyadnya punika artine suba ngerambang pikolih, 
ngerambang pican Widine. Ya sing merasa meyadnya 
punika sane utama. Hana Wong akarya tan ngidepaken 
awaknia tan akarya akarya kokong ngarania. 



Twaien: 

Yen wenten anak megae ten rasange ibane megae, nika 
ane madan gae saja. Yen ada nak megae, mara nyangih 
prabot be merasa ken dewekne megae, ba ia ngerambang 
harian, be ia ngerambang borongan. Yen nak meyadnya, 
ten asapunika Ratu Betara. Yen ipun meyadnya, ten 




rasange dewek ipun meyadnya, jeg seleg ja ia meyadnya, 
punika sane utama. Boya Betara sampun uning. Satwika 
yadnya. Rajastika yadnya. Tamastika yadnya. Kaden 
wenten bacakne telu. Sane utama punika satwika yadnya. 
Ipun I Lubdaka satmaka Satwika yadnya. Ipun, ia, ma, 
mayoga nyarengin kadi titiang mayoga ipun nak ten perih. 

Betara Siwa: 
Yan inganika harep maweruha kayuktianian 



Badaaah. Betara ini terbalik pikirannya. Kalau ada orang 
melaksanakan yadnya persembahan dan dia nyatakan 
dirinya melakukan persembahan korba suci, bahkan 
dimana-mana dia beberkan dirinya beryadnya, itu tidaklah 
utama. Sesungguhnya dia lakukan itu dengan penuh 
hai-ap. Baru hanya merencanakan yadnya seseorang sudah 
bilang dirinya beryadnya, berharap agar diberikan 
keselamatan, dan berharap untuk bisa kaya. Kalau sudah 
merasakan diri beryadnya itu berarti sudah mendambakan 
imbalan anugrah Tuhan. Seseorang yang tidak merasa 
dirinya beryadnya, itulah utama. Bila seseorang 
melaksanakan persembahan korban suci dengan tulus 
ikhlas dan dia tidak merasakan dirinya berbuat, 
itulah namanya persembahan utama. 



Bila seseorang bekerja dan dia tidak merasakan dirinya 
bekerja, itulah yang dinamakan kerja sesungguhnya. Bila 
seseorang bekerja, baru memulai hanya mengasah pisau, 
dia sudah merasakan dirinya bekerja, sudah di 
memperhitungkan upah harian, sudah dia memikirkan 
borongan. Paduka Bhatara, tidak demikian semestinya 
seseorang melaksanakan persembahan korban suci. Bila 
seseorang beryadnya dan tidak merasakan dirinya 
beryadnya dan dia tekun melaksanakan yadnya, itulah 
yang utama. Bukankah paduka Bhatara sudah tahu ada 
tiga tingkatan yadnya yang disebut dengan: satwika 
yadnya, rajasika yadnya, dan tamasika yadnya. Yang 
utama diantaranya adalah satwika yadnya. Sepertinya si 
Lubdaka telah melaksanakan satwika yadnya. Bersamaan 
dengan saya dia melaksanakan yoga, tanpa pamerih. 



Bila paduka berkeinginan mengetahui kesungguhan 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Perrormance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



179 



Trie Invisible Mirror 



performed yoga using me, Lord Siwa, as the model, 
please, please look at this. 



If my Lord wants to know, there is also proof, there is a 
witness. Evidence is called yukti (trutft in "Kawi), yukti is 
called saja (truth in 'Sdinese). I am. Lord Siwa, here to 
prove it to you, Lord (Yama). Please now, Lord Cyama) 
behold Lubdaka's past actions. 



May you be blessed with peace. 
When he meditated on the darkest day of the seventh 
month, he felt that there was no difference between 
poverty and wealth. This is what happened to 
Lubdaka long ago. (Tfie story oj Lubdaka in the 'SiCa tree 
toid through the actions of shadow puppets) 



This was what he did in the past. 



That is it, my lord Yama. There is more, my Lord, that 
you should know. All of these are stories, fables, allego- 
ries, epics that are told in this world of ours. They take 
the form of reflections or shadows. In these times we 
would call them symbolic metaphors. That is why sacred 
acts of yadnya are always included in the stories told in 
all the realms of literature and also in the epics. All of 
these actions are symboUc. As for the actions of Lubdaka, 
what do they symbolize? What is the meaning of 
Lubdaka's name? Let's talk about that first. Don't just 
copy his physical actions. Lubdaka. What does the word 
Lubdaka mean? 



kramanirang Sang Lubdaka tiniru yogan Sanghyang 
Siwa, enak-enak yeki pada tonton. 

Twalen: 

Yen Betara dot uning taler mangda yakti wenten bukti, 
wenten saksi. Bukti madan yukti, yukti madan saja. 
Wiakti mangda saja. Puniki titiang Sanghyang Siwa jaga 
puniki, muktiang ring paduka Betara.Durus sane mangkin 
Betara nyaksiang tingkah ipun I Lubdaka sane nguni ! 



Dalang: 
Om hayuwerdi buda. Pada hadep ya hana kasayah wus 
wenang pakolem cetra klesa suniem. Mangkana 
rikramanirang Sang Lubdaka nguni. 



Betara Siwa: 
Mangkana kramani nguni. 

Twalen: 

Asapunika Betara Yama. Semalihe mangda Betara 
pawikane, maka sami punika satwa, carita, itiasa, purana, 
ring jagate punika. Punika wantah merupa lawat. Sane 
turah mangkin kabaos punika simbul-simbul.Mawinang 
yadnya pastika, ring sajeroning satua, ring sajeroning 
hnggih tastra, minakadi itiasane.Nak maka sami punika 
simbul-simbul. Kadi tingkah ipun I Lubdaka simbul napi 
punika? Napi sane mewasta Lubdaka, kenten nak 
dumun.Sampunang ukudan ipune punika tiru. Lubdaka, 
kata Lubdaka nika napi? 



si Lubdaka menirukan yoga Sanghyang Siwa, 
mari ini sama-sama saksikan. 



Bila paduka Bhatara berkeinginan agar betul-betul 
melihat buktinya, dan ada saksi. Bukti berarti benar, benar 
berarti sungguh. Agar sungguh-sungguh kebenarannya. 
Saya ini Sanghyang Siwa bakalan bemberi pembuktian 
kehadapan paduka.Silahkan skarang paduka menyaksikan 
tingkah lakunya si Lubdka waktu yang lampau. 



Semoga tumbuh dan berkembang baiklah sifat budi. 
Ketika dia merenung pada bulan mati di bulan ke 
tujuh, tanpa ada perbedaan dia pikir antara kaya 
dan miskin itu sama dirasanya. Demikianlah 
keberadaan si Lubdaka di masa lampau. 



Demikianlah keadaan dia dimasa lampau. 



Demikianlah paduka Bhatara Yama. Di samping itu agar 
paduka juga memahami, semuanya itu adalah satwa, 
ceritera, itiasa, purana di dunia. Semuanya itu merupakan 
bayangan. Dalam bahasa sekarang sering disebut sebagai 
simbol-simbol. Oleh karenanya yadnya itu lahir sebagai 
pengejawantahan ceritera, berdasar sastra agama, sebagai 
perlambang atau simbol. Semuanya itu adalah simbol. 
Seperti perlakuannya si Lubdaka juga simbol. Simbol apa 
itu? Sebentar dulu. Apa artinya Lubdaka? Janganlah 
wujud pisiknya saja yang ditiru. Lubdaka. Kata Lundaka 
itu apa artinya? 



What does the word Lubdaka mean? 



Sang Yamadipati: 

Apa ngaraning Lubdaka? 



Apa artinya Lubdaka? 



180 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Pertormance - Sastra Bali ai dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



The meaning of Lubdaka comes from the words 'loba,' 
which means 'greed,' and 'sedaka,' which means 'priestly 
teachings.' Whoever is greedy about doing good deeds, 
whoever is greedy about following the teachings of the 
Priests, he will surely arrive in heaven. Concerning the 
wooden tree, that is nothing other than raising one's level 
of basic knowledge by picking the Bila leaves, plucking 
a bad deed with each one. That is why it takes place in 
the dark time of the seventh month. What does it mean, 
the darkness of the seventh month? 



Twalen: 

Sane mawasta Lubdaka, Loba Sedaka. Sedaka ajaran 
kepanditaan. Sapasira ugi loba ring tingkah sane becik, 
sapasira ugi loba ring keambekan Sang Pandita patuuuut 
punika molihang Suarga. Indik ipun punyan kayu 
satmaka punika meningkatkan ajaran medasar antuk metik 
daun Bila, mipik pelihe sesai. Mawinang punika 
rikalaning peteng pitu. Napi mewasta peteng pitu? 



Lubdaka berarti Loba Sedaka. Loba artinya rakus. Sedaka 
artinya kepanditaan. Barang siapa memiliki kemauan 
berlebihan akan sifat yang baik, barang siapa yang loba 
akan tuntutan ajaran kepanditaan, dia itu bakalan 
menemui sorga. Tentang si pohon kayu itu ibaratnya 
meningkatkan ajaran dengan memetik, metik daun maja 
secara terus menerus. Itu dilakukan pada waktu tujuh 
kegelapan malam. Apa yang dimaksud dengan tujuh 
kegelapan malam? 



What does the darkness of the seventh month mean? He's 
an old guy. What is it? If you're wrong I'll pinch your 
head? What is the meaning of the darkness of the sev- 
enth month? 

That which is called the dark time of the seventh month 
is none other than the age of the world. Now I'll ask you 
how old is the world? 



Delem: 

Apa madan peteng pitu? Jelema tua ne. Apa madan yen 
pelih, bentet nas ne. Apa madan peteng pitu? 



Twalen: 

Ne madan peteng pitu to sing ja ada len, to tuwuh 
Gumine. Jani cang metakon ken ci kuda tuwuh Gumine? 



Who knows? You're asking me the age of the world? Nyen nawang. 



Delem: 

Tuwuh Gumi takonang cange. 



The age of the world is no more or less than seven days. 
You should know the age of the world: Monday, Tues- 
day, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday, Sunday. (Ik 
repeats the days in 'Ba[inese, then in Indonesian). Sunday, 
Monday Tuesday Wednesday, Thursday, Friday, Satur- 
day, Sunday. That is all there is to the age of the world. 
The world is no older than seven days. Because of that if 
you are able to count your darknesses (sins) throughout 
the age of the world, throughout the age of your life, there 
is no reason you shouldn't get to heaven. If a person goes 
back and forth counting their sins, it is like taking their 
medicine here in the material world, because the mate- 
rial world is the place for sick people. They have been 



Twalen: 

Umur Gumi to sing j a ada len tuah pitung dina. Umur 
Gumi to pang tawang. Soma. Anggara. Buda. Wrespati. 
Sukra. Saniscara. Redite. Senin. Selasa. Rabu. Kamis. 
Jumat. Sabtu. Minggu. Pang monto gen umur Gumi. 
Ada sing umur Gumi lebian ken pitung dina. Mawinang 
yen ngidang bena metek peteng ne, samekelo tuwuh 
Gumine, samekelo tuwuh idupe, ngudiang sing maan 
Suargan. Yen ada nak kena mai metek pelih, maubad 
mai ka Mercapada. Mapan sabatek ne mai ka Mercapada 
sujatine to anak gelem. Sabatak ane tuwun ka Mercapada 
sujatine to anak gelem to makejang. Tundene ya maubad 
ka Mercapada mebalik ya ngae penyakit. Mulih lantes 
ka Sangkan Paran ngaba penyakit, kel kenkenang? Ne 



Apa yang dimaksud dengan tujuh kegelapan malam, hei 
orang tua bangka? Kalau salah, akan ku jitak kepalamu. 
Apa yang dimaksud dengan tujuh kegelapan malam? 



Yang dimaksud dengan tujuh kegelapan malam itu tiada 
lain adalah umurnya dunia. Sekarang aku tanya pada 
kamu, berapa umurnya dunia? 



Siapa tahu? Umur dunia kamu tanya padaku? 



Umur dunia sesungguh tidak lebih dari tujuh hari. Biar 
kamu tahu, umurnya dunia terdiri dari: Senin, Selasa, 
Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu. Senin, Selasa, 
Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, hanya itulah 
umurnya dunia. Tidak ada umur dunia melebihi dari tujuh 
hari.Makanya kalau kita bisa menghitung malamnya hari 
sepanjang umur dunia, seumur hudup; bagaimana tidak 
bakalan mendapatkan sorga. Kalau ada orang terkena 
(kesalahan/ dosa) ke sini menghitung kesalahan, mencari 
obat di sini di dunia fana. Oleh karena setiap orang yang 
hadir di sini di dunia fana, sesungguhnya mereka semua 
itu adalah orang sakit. Ketika dia disuruh dia berobat ke 
dunia fana, justru terbalik dia membuat penyakit. Ketika 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



181 



Tne Invisible Mirror 



ordered to take medicine to heal themselves in this mate- 
rial world, but instead they create more pain. When one 
goes back to the source of creation (after death), one car- 
ries more pain, so what can be done? All of this must be 
known. That is why the age of the world is only seven 
days, (becaxise there are seven darlqiesses, 'sapta timira,' or 
seven siclqiesses within each person that must he overcome dur- 
ing fife). The world is no older than seven days. That's 
why all through the seven days of our life we are pluck- 
ing out sins. This is the basis of literature. This is the 
basis of the religious epics. That is why we have the terms 
education and lessons. If you are only looking for clever- 
ness, isn't that equating humans with demons in the world. 
Why is that? Because intelligent people are clever, and 
bad people are also clever. Increasing intellect can in- 
crease evil. That happens when simply learning lessons 
is given more importance than true education. That is 
why there is education as well as simply learning les- 
sons. There is such a thing as moral education. 



keto to pang tawang. Mawinang tuwuh Gumine tuah 
pitung dina. Lebian sing Gumine ken pitung dina. Mawin 
sa pitung dina to iraga patut mitbit pelih. Medasar baan 
melajin sastra, medasar baan ngugoning itiasa. 
Mawinang ada raos pendidikan kalawaning pengajaran. 
Yen kapinteran dogen bakal alih ci, sing satmaka bakal 
ngae manusa-manusa raksasa di Gumine. Apa krana? 
Mapan yen manusa pinter to yen ba dueg, jelekne gen 
mase dueg. Intelektualnya ngemenekan kejahaten y a ne 
bakal negehang. Mawinang pengajaran to di utama, apa 
adane, didahului oleh pen-didikan. Mawinang ada 
pendidikan kela-waning pengajaran. Ada budi pekerti . 



dia kembali lagi ke akhirat dia membawa penyakit. Mau 
diapakan? Yang demikian harus diketahui. Makanya umur 
dunia itu hanyalah tujuh hari. Umur dunia tidak lebih 
dari tujuh hari. Makanya selama tujuh hari itu kita harus 
memetik-metik kesalahan, dengan jalan mempelajari 
sastra, mempercayai ajaran kebenaran, berdasar ajaran 
darma. Makanya ada sistem pendidikan dan pengajaran. 
Kalau kamu hanya mencari kepintaran saja, sama halnya 
kamu membuat manusia di dunia jadi raksasa. Apa 
sebabnya? Kalau manusia itu pintar, kejahatannya juga 
semakin pintar. Kalau intelektualnya meninggi, 
kejahatannya juga ikut naik. Makanya pengajaran itu 
mesti didahului oleh pendidikan. Makanya ada 
pendidikan dan pengajaran. Ada pendidikan budi pekerti. 




182 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



Just like when you water the rice fields, it is not only 
the rice field that will get the water. 



It is like the person who waters the ricefield, and not 
only the ricefield is watered, but the water also arrives to 
the weeds. That's why before fertilizing the ricefield, 
we pull out the weeds, isn't that so? 



Before we teach lessons to people, we should first give 
them moral education. No matter how clever a person is, 
no matter how strong a person is, to leave them without 
moral education is almost like creating a humans in the 
image of a demons. They would annihilate the world. 
That is why the life we have should include moral educa- 
tion. 

That is why since the time of our births, we have all lis- 
tened to stories that include lessons from our elders. That 
is how it was when I was in the material world. After 
that, they gave me lessons about two times two is four, 
three times three is nine, etcetera. What kind of educa- 
tion is that? First they have to give moral education. 
Because if there is no moral education, it is dangerous. 



That is why now in schools and elsewhere, moral educa- 
tion should be deepened. What is the use of creating a 
clever person without moral education? Make a weapon 
for the good of humanity, so that if you give someone a 
gun, they do not fire the bullets arrogantly. 



And if you carry the weapon of fire, don't use the fire to 
bum someone's house, or to bum some one's temple, but 



Betara Siwa: 
Kadi wang anganing padi tan padi juga kenikahanan 
we. 

Twalen: 

Cara anake metengan padi, sing ja padi doen ane maan 
iyeh, teked neked ka padangne. Mawinang yen lakar 
ngerabuk padi, satonden ngerabuk padi bubut malu 
padang ne kaden keto. 



Satonden bakal maang pengajaran teken manusane, 
baang y a malu pendidikan budi pekerti ! Mongken j a 
dueg manusane, mongken ja saktin manusane yen ya 
sing ngelah budi pekerti to satmaka menciptakan manusia- 
manusia ral<sasa. Gumine telahne teken ya. Mawinang 
idup pagelahan to perlu isinin to budi pekerti . 



Mawinang mara lekad, mara bisa ningehang satua, raga 
be tuturina satua nak tua-tua. Keto lad dugas tiang di 
Mercapda. Be keto mara lantas ajine dua kali dua empat, 
tiga kali tiga sembilan. Pendidikan budi pekerti malu 
baange. Mawinang yan anake duweg yen sing ngelah 
budi pekerti , to ane bahaya. 



Mawinang ane jani jawat di sekolah-sekolah dija ja budi 
pekerti to di perdalam ! Untuk apa menciptakan manusia 
pinter kalau dia tidak mempunyai budi pekerti . Ngae 
senjata ango ngaluwungan Gumi. Ngae senjata angon 
ngeluwungan manusia. Mawinang yen baang ya bedil, 
isine ditu, apa adane pang sing ya sawenang-wenang ya 
mesuang pelor. 



Yen ya ngaba senjata api, de api angone nunjel umah, 
angon nunyen puran timpal, pang angone ngelebengan 



Ibarat orang mengairi tanaman padi, tidak hanya 
padi saja yang mendapatkan siraman air. 



Seperti ibaratnya orang mengairi tanaman padi, tidak 
hanyalah padi yang mendapatkan air, termasuk 
rumputpun akan dapat. Oleh karenanya kalau mau 
memberi pupuk pada tanaman padi, rumputnya patut 
dicabuti terlebih dahulu. Bukankah demikian? 

Sebelum memberikan pengajaran kepada manusia, 
semestinya didahului dengan pemberian pendidikan budi 
pekerti. Betapapun pintamya seseorang, betapun saktinya 
seseorang, kalau dia tidak memiliki budi pekerti, tak 
ubahnya menciptal<an manusia-manusia ral<sasa. Dunia ini 
akan dihabisi olehnya. Makanya hidup dalam kepemilikan 
itu sepatutnya diisi dengan budi pekerti. 

Oleh karenanya sejak lahir, sejak bam bisa mendengarkan 
ceritera, kita sudah diberi tutur yang disampaikan melalui 
ceritera, oleh tetua kita. Demikianlah dahulunya ketika 
saya masih di dunia fana. Setelah itu baru diberi pelajaran; 
dua kali dua, empat; tiga kali tiga, sembilan. Pendidikan 
budi pekerti lebih dahulu diberikan. 
Makanya kalaupun orangnya pintar, namun tidak 
memiliki budi pekerti, itu bahaya. 

Makanya sekarang ini di sekolah-sekolah atau dimanapun 
berada budi pekerti itu patut diperdalam. Untuk apa 
menciptakan manusia pintar kalau dia tidak mempunyai 
budi pekerti. Bikin senjata seyogyanya dipakai untuk 
memperbaiki dunia, untuk memperbaiki kehidupan 
manusianya. Makanya kalau seseorang diberikan kuasa 
memegang senapan, agar dia tidak sewenang-wenang 
menembakkan amunisinya. 

Kalau dia membawa senjata api, jangan api itu dipakai 
unmk membakar mmah orang, membakar pura orang. Api 



Sh 



itrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



183 



Trie Invisible Mirror 



use it to cook rice. That is the right way to use it. That is 
why moral education is needed to create people who are 
educated to use good morals. 



That is why you should know about Lubdaka. Lubdaka 
means "greedy for the moral lessons of priestly 
teachings.'That is the right way to get to heaven. Pick- 
ing the bila leaves during the dark night of the seventh 
month, is plucking out the sins that equal the age of the 
world and the age of one's self. To continue, water is 
called 'toya.' "to ya" can also mean 'that's what I was 
looking for.' Lingga means Siwa. Lingga is what we are 
looking for because that is where we come from. 

That is why if we pick a banana, we shouldn't eat the 
skin. Throw away the skin, and chew on what's inside. 
Throw away the peel and eat the fruit. 

It's the same thing when you pick a book. Especially if 
the book is made in this era of chaos (Iqifi), when the world 
is full of difficulties and grief. Choose carefully what to 
believe. If the conditions are stable, then the good quali- 
ties of the world will be contained in its literature. If the 
conditions are chaotic then the burdens of the world will 
be included (in its literature). 

That is why you have to be selective when reading lontars, 
and books, because their meanings are ambiguous: they 
can yield both positive and negative results, ('asuri sampat 
and deziyri sampat"). That is why all religious lessons are 
symbolic, all of them. That is why we should be careful 
not to use them as a reason for doing things, or as an 
excuse for doing bad deeds. That's not the way it should 
be. 



nasi. Nah keto nyen sujati ne. Mawinang j ani budi 
pekerti to, ne ngeranang morale luwung to nak budi 
pekerti. 



Mawinang ada Lubdaka to buka keto nyen pang tawang. 
Lubdaka, Loba ken ajaran sang sadaka, sang pandita. 
Patut maan Suarga. Metik don bila rikalaning peteng pitu, 
metik pelih seumur dunia seumur maurip. Lanjuten yeh 
ngaran toya. To ya to ane alih. Lingga lingga kinaraning 
Siwa. Lingga e to ane alih mapan mekawit uling ditu. 



Mawinang yen bena baange biu, de kulit-kulitne pakpake ! 
Pelut malu kutang kulitne, isine mara pakpak. Kutang 
kulitne. Mara daar isine. 

Keto mase bena metik-metik sastra. Apa biin sastra gae 
di jaman kali. Liu keberatan gumine penekange kema. 
Pilin-pilin mase ngugonin. Yan pegawene tegteg 
kemelehan gumine munggah di sastra ne. Yen di kalaning 
gumin kali beberat gumine menek kema. 



Mawinan pilin-pilin maca lontar, maca buku-buku, 
mapan ditu kaonya maawak dadua. Asurisupat kalawanin 
deweyri sampat. Mawinang makejang ajaran agama to 
nak simbul-simbul to nyen makejang. Mawinang adeng- 
adeng de to anggone dalih bakal melaksana kene, bakal 
anggo melaksana corah. Nak sing ada keto. 



itu hendaknya dipakai untuk menanak nasi. Nah 
demikianlah sesungguhnya. Oleh karenanya sungguh 
tiada lain budi pekertilah yang membentuk moral 
seseorang menjadi baik. 

Makanya adanya kisah si Lubdaka memang seperti itu 
agar diketahui bersama. Lubdaka. Loba akan ajaran or- 
ang suci, ajaran sang pendeta. Pantaslah mendapat sorga. 
Memetik daun maja manakala dalam tujuh kegelapan, 
berarti memetik kejahatan yang pernah dibuat sepanjang 
umur dunia, yakni seumur hidup. Dilanjutkan air berarti 
toya. To ya artinya 'itu dia' itulah yang dicari. Lingga 
berarti Siwa. Lingga itulah yang dicari, oleh karena kita 
semua bermula dari sana. 

Makanya kalau kita diberikan pisang, jangan dimakan 
kulitnya. Kelupasi dulu kulitnya, barulah kemudian isinya 
dimakan. Buang kulitnya, baru kemudian isinya dimakan. 

Demikian pula halnya bila kita mempelajari sastra. 
Apalagi karya sastra yang dibuat pada jaman kali. Banyak 
kesulitan dunia diangkat didalamnya. Pintar-pintarlah 
memilih untuk dipercayai. Kalau pekerjaannya si 
pengarang mapan, kebaikan dunia banyak diangkat dalam 
karya sastranya. Manakala dunia dalam keadaan kacau, 
masalah dunialah yang bakalan banyak diangkat. 

Makanya pilih-pilihlah dalam membaca lontar, membaca 
buku-buku, oleh karena di sana semuanya dapat berbadan 
dua, yakni Asurisampat (sifat l^ral(sasaan) dan deweyri 
sampat (sifat l<:edewaan). Oleh karenanya semua ajaran 
agama itu adalah simbol-simbol. Makanya hati-hatilah, 
jangan itu dijadikan pembenar untuk berbuat yang kurang 
baik, untuk berbuat jahat. Tidak ada begitu. 



Here Lord Siwa is teaching us a lesson, about how he 
(Lubdaka) was rewarded for his good deeds. He was 
able to pluck out his sins. He was able to carry out the 



Ne Batara Siwa ngicenan pituduh keto, sangkaning ia 
mekardi ane madan rahayu. Ngidang mibit pelih, ngidang 
ngemargiang, aaaa, kadi ambekin sang Pandita. Polih 



Ini Bhatara Siwa memberi anugrah seperti itu, oleh karena 
dia telah berlaku baik. Mampu dia melihat kesalahannya 
dan melaksanakan yaaa seperti swadarma seorang 



184 



Siwaratrifcalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



actions of priestly teachings. That is why he reached 
heaven. That was the intention of Lord Siwa. 



Also, do you think he was killing the animals just for the 
sake of killing. No he didn't kill them senselessly. The 
animals he killed were four-legged. What does it mean 
to have four legs? When we are supported in the highest 
manner by four legs in this world that is what we call 
Catur Brahma Wiara. 



No matter how often you pray : to a temple that is there 
on top of the mountain, to a temple that is there in the 
middle of the sea so that you have to swim to pray at that 
temple. There are many temples outside our area (Bali), 
and big crowds make pilgrimages to go there. But there 
is no pity for four legged animals. But if you have no 
pity for four legged animals, which is what we call catur 
Brahma Wiara, there is no use (in praying at all those 
temples). 

Also, no matter how many mantras you know, or how 
many Wedas you memorize... (sings) "It is useless to 
know the mantras if they are obscured by crude rea- 
soning (rajas tamos = tfk lozvest forms of response to problems 
taught in the triguna, where sativika is the most refined and nan- 
vioient)." Even though you can memorize the mantras, 
murmuring the mantras you memorize everyday, if your 
head is still full of crude animal reasoning (rajas tamos), 
you will not yet be able to achieve any results. 

You might only see the light of a firefly and mistake it 
for the radiance of god. You go around everywhere talk- 
ing about how you understand god. That is called pre- 
tending to understand god. You have only seen a firefly, 
but you say it is the true god. Your idea of god is very 
cheap. That is why you should know that the greatest 



iya sida molihaken Suarga. Patut ia maan Suarga. Keto 
kapikayun antuk Ida Batara Siwa. 



Biin besik ngematiang I buron kaden ci ngawag ya 
ngematiang buron. Sing ja sembarang buron ne matiang 
ken ia. Ane matiang ken ya buron suku pat nyen. Buron 
ne mebatis papat. Apa madan mebatis papat? Ane madan 
mebatis papat, to mawinan di Gumine, to nyen utama 
ane madan papat Catur Brahma Wiara. 



Apin sai nyen ci ngalih Pura di muncuk gununge, ada 
Pura di tengah pasihe, ngelangi ci maktinin Pura. Liu ada 
Pura di luar daerahe, to jeg berduyun-duyun ci kema, 
kewala sing ci sayang ken burone papat Ane madan catur 
Brahma Wiara Mase percuma. 



Apin liu cai nawang mantra, apin liu cai ngapalin weda. 
(gending) Wy artikan g j apa mantra yan kasalimur 
denikang rajas tamas. Apin apal ken mantra liu, 
sebilang wai ngemigmig ngapalin mantra, kewala sirahe 
rajas tamas gen isi a, konden sida bakal molihin. 



Mara ci nepukin apin kunang-kunang ba kaden ci sinar 
Betara. Dini-ditu ci ngorta nawang Betara. To madan 
Angaku-ngaku Dewa. To mara nepukin api kunang- 
kunang gen orang ci sajan Betara, apa ye keden mudah 
Betara e. Mawinang Catur Brahma Wiara to pang tawang 
ci Pura ane luwung. Ane patpat. Ne madan Pura ane 



pendeta, makanya dia berhasil untuk mendapatkan sorga. 
Wajarlah dia mendapatkan sorga. Demikianlah menurut 
beliau Bhatara Siwa. 

Satunya lagi, tentang bunuh dan membunuh binatang, 
kamu kira dia membunuh binatang dengan serampangan? 
Tidak sembarangan dia membunuh binatang. Binatang 
yang dia bunuh adalah binatang berkaki empat. Apa yang 
dimaksud dengan binatang berkaki empat? Yang 
dimaksud dengan berkaki empat, bahwa di dunia 
utamalah yang dinamakan perlakuan empat yang disebut 
dengan Catur Brahma Wiara. 

Kendatipun kamu rajin mencari berbagai pura di puncak 
gunung, kamu berenang menyembahyangi pura yang ada 
di tengah lautan. Banyak ada pura di luar daerah kamu 
datangi ke sana berduyun-duyun, akan tetapi kamu tidak 
sayang dengan empat binatang yang disebut Catur 
Brahma Wiara, juga percuma. 



Kendatipun kamu banyak mengetahui mantram, banyak 
mengetahui weda {nyanyion) Tiada artinya Japa Mantra 
itu kalau diselimuti oleh Rajah dan Tamah. Kendatipun 
hafal dengan mantram, setiap hari komat-kamit menghafal 
mantram, akan tetapi isi kepalanya hanyalah rajas dan 
tamas, belum bisa akan mendapatkan (sorga). 



Baru kamu hanya melihat apinya kunang-kunang saja 
kamu sudah kira itu adalah sinarnya Tuhan. Di sana-sini 
kamu berceritera sudah pernah melihat tuhan. Itu namanya 
hanya mengaku-aku diri sebagai dewa. Baru hanya 
melihat apinya kunang-kunang saja kamu sudah bilang 
melihat tuhan, betapa murahnya tuhan itu, kalau demikian. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



185 



The Invisible Mirror 



temple is the Catur Brahma Wiara (inside yoursdf). The 
four principles. What are those four temples. You should 
know that they are: Maitri (mercy), Karuna (sympatfiy), 
Mudita generosity), Upeksa (byalty). If you are perform- 
ing ceremonies, just sitting in the temple, holding incense 
and flowers, memorizing mantras, feeling that you are 
performing high religious acts, that's not enough. 



Is it forbidden to do those things? I'll bop you in the 
head. If many people pray like that over there - are you 
saying that is wrong? I'm going to send a letter to the 
material world, so that the people won't go to temples 
anymore, so that they will destroy the temples. 



It's not like that. The more you go to the temples, the 
more you pray. But you should make the prayers equal. 
Don't just carry your prayers into the courtyard of the 
temple. Don't only say your prayers in front of the 
padmasana shrines, and then leave the temple and do 
things that are worse than a dog's bad breath. It's useless 
to do that. 



papat to apa tawang ci. Maitri, Karuna, Mudita, 
Upeksa. Yen wenten gae dogen pang negak di Pura, 
ngisi asep, ngisi bunga, ngapalin mantra, merasa paling 



meagama e sing keto. 



Delem: 

Ye de kema? Pental cang nas ci nyen. Yen nak liu 
mebakti kema -mai dong pelih caran ci? Cang kel 
ngirim surat ke Mercapada, pang sing nak ke Pura-pura. 



Pang uwuge Pura e. 



Twalen: 

Sing ja keto. Semakin liu cai nawang Pura, semakin liu 
cai ngelah bakti. Kewala baktie to patuh. De di natah 
Pura gen ngaba bakti, de di arep Padmasana gen cai 
nyatuang bakti. Mekaad lantas ling di Pura jeleken teken 
engkah cicing lantas bikas cie. Sing mase to ada gunane. 



Makanya kamu harus tahu yang dinamakan dengan Catur 
Brahma Wiara, sebagai pura yang bagus. Yang empat. 
Keempat pura itu kamu harus pahami, yakni Maitri, 
Karuna. Mudita dan Upeksa. Kalau ada pekerjaan 
hanya duduk di pura memegang dupa, memegang bunga, 
sambil mekafalkan mantram-mantram, merasa diri 
paling beragama; bukan itu yang disebut beragama. 



Apa, jangan kesana? Tak pukul kepalamu. Kalau orang 
kesana-kemari untuk sembahyang, menurut kamu, 
itu salah? Aku akan mengirim surat ke dunia fana, agar 
tempat persembahyangan di sana, dibongkar saja. 



Tidak demikian. Semakin banyak kamu menyembahyangi 
pura semakin banyak kamu punya hormat. Jangan kamu 
merasa punya rasa hormat hanya dihalaman pura, hanya 
di depan Padmasana saja berbicara tentang rasya syujud 
dan hormat. Keluar dari halaman pura kelakuanmu lantas 
lebih jelek dari nafas anjing, tak ada gunanya. 



That's why, as I said before, if you like to perform Weda 
and chant mantras, raise the level of your crude reason- 
ing (rajas tamos) to include the non-violent principles of 
higher reasoning (satioam), remembering that you have 
passions, and that truth should be present in your thoughts. 
That is why you need Maitri. "Taking pleasure in the 
pleasure of other people." Enjoying making people and 
friends happy is the basis for the highest principles of 
humanity. Have sympathy for your friends. 

If you have sympathy, and feel deeply connected to your 
friends, you will not kill your friends. If you don't have 
sympathy for people and friends, just getting two and a 
half dollars will be enough to make you grab a butcher's 
knife (andattacH;} your friends. Just being shown two and 



Mawinan buka raose busan, yen benya demen Ngeweda, 

memantra, kisidan lantas Satwam, ked rajas tamas. 

Maka kelinganing ambek, isinin baan kenehe ane 

pesaja. 

Mawinen perlu maitri. Suka angawe sukaning wong 

len. Demen cai ngaenan anak, ngaenang timpal demen, 

medasar baan kautaman, anggo pariangenin ken timpal. 



Yen ba cai pariangen, keneh medalem timpal, mekita 
sing ci ngematiang timpale. Yen ba sing ngelah pariangen 
ken manusa ken timpal, baange pipis dasa tali gen be 
jemakin golok timpale. Mara edengan pipis selai tali gen 
ba bakat matiang timpale. Mapan ya sing ngelah karuna. 



Makanya seperti yang telah disampaikan tadi, kalau 
memang senang melantun puja weda dan mantram, 
singkirkan sifat satwam dan rajas, tamas itu. Sebagai 
isian kehendak diisi dengan kesungguhan hati. 
Makanya perlu maitri, yakni senang membuat 
kebahagiaan orang lain. Suka kamu membuat orang 
bahagia berdasar keutamaan bertandasan belas kasihan 
kepada sesama. 



Kalau kamu sudah memiliki rasa belas kasihan kepada 
sesama teman, tak bakalan ada niat untuk membunuh 
teman. Kalau sudah tidak memiliki rasa kasihan kepada 
manusia, kepada teman, diberi uang hanya sepuluh ribu 
saja, sudah temanmu diambilkan parang. Baru diiming 



186 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Perrormance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



a half dollars could be enough to get you to kill your 
friends. Because if you don't have karuna (sympatHy) you 
don't have compassion. 

After that we can talk about mudita (generosity). We are 
happy to make people happy and to see people happy. 
We are happy to see our friends be happy. Don't do the 
opposite, seeing your friends happy, and looking for black 
magic that can quickly make them die. That is not reli- 
gious behaviour. 

Upeksa. Loyalty. Enjoy being loyal to your friends. If 
you see your friends suffering, and you have something 
extra, help them. If you hear they are sick and you have 
medicine, heal them. If you have money, give them money 
so that they can buy medicine. Don't do the opposite 
and make them sicker. If (your (eaders) know that the masses 
are suffering, and there is aid available, how dare they 
take half for themselves. What a shameless person that 
is. 
(audience appfauds) 



As for me, I don't like it. The leaking (of money, i.e. corrup- 
tion) starts from above. There is no leaking from under- 
neath. The place of the leaking begins from above. But 
if the leaking is from above, where are the victims? It's 
the ones below who get wet. There is no leaking that can 
cause the people above to get wet. 



That is why now we need to put Catur Brahma Wiara 
into action. So that people have sympathy for their friends. 
That's the way it should be so that if people make a mis- 
take, no one will bum their house down. Before you 
bum down a person's house, it would be better to build 
him a house so he won't have to be sleeping in all kinds 
of places, (fiomekss). 



mawinan ya sing ngelah pariangen. 



Suba lantas keto ada ne ke raos mudita. Demen iraga 
lantas ngaenen, Augetonoken wong suka. Demen iraga 
nepukin timpale liang. Pang sing mebalik, mara tepuk 
timpale liang, aliang pekakas pang enggalen ya mati. 
Sing tingkah nak meagama to. 



Upeksa. Paramabela, demen mabela ken timpal. Yen 
ya tepuk timpale kelaran, yen bena ngelah lebian, bantu. 
Yen bena ningeh ya mirib sakit yen bena ngelah ubad, 
ubadin. Yen ngelah pipis baang ngidih pipis pang ada 
anggona meli ubad. De mebalik nyakitin biin. Be tawang 
rakyate sengsara ada bantuan bisa bani nyuang tenga. 
Amat pongah jelema to. 



(Tenonton tepuk^ tangan) . 

Twalen: 

Yen cang to ne sing demenan cang. Tuah ja mula bocore 
to duwur. Ada sing bocore beten a. Tongos bocore mula 
duwur. Kewala yen ba duwur bocor, ne korban ken? Ne 
beten ba linyitin. Ada sing bocore duwur ngeranang nak 
ne duwur belus e. Sing ada, ne betenan linyiten gen. 



Mawinang jani kenken abete, gelaran to Catur Brahma 
Wiara. Pang bena pariangen ken timpal. Nah keto. Pang 
sing nyen ada ne dini rakyatne pelih, tunjel umah ya ne. 
Satonden nunjel gaenan ya malu umah pang sing ya dini- 
ditu pules. 



dengan uang dua puluh lima ribu saja, temanmu sudah 
terbunuh. Karena dia tidak memiliki karuna, tidak meiliki 
rasa simpati, tidak memiliki rasa belas kasihan. 

Setelah itu ada yang disebut mudita. Bahagia melihat 
orang lain bahagia. Bahagia kita melihat teman kita 
senang. Jangan sampai tebalik. Bam melihat teman kita 
senang, dicarikan perkakas agar matinya dia lebih cepat. 
Itu bukan perlakuan orang yang beragama namanya. 



Upeksa, paramabela, suka membela teman. Kalau sudah 
diketahui teman dalam kesulitan, kalau kita memiliki 
lebih, patut dibantu. Kalau dengar teman sakit, kalau kita 
punya obat, diberi dia obat. Kalau punya uang, diberi dia 
uang dipakai membeli obat. Jangan justru terbalik, 
menyakiti lagi. Sudah tahu rakyat dalam keadaan melarat, 
kemudian mendapat bantuan, berani-beraninya 
memotong setengahnya. Sungguh manusia tak tahu malu 
itu namanya. 
(penonton Bertepuk^ tangan). 



Kalau saya, model itu dah yang enggak saya sukai. 
Emangnya sih kalu bocor itu adanya di atas. Di bawah 
tidak ada bocor. Tempatnya bocor memang di atas. Tetapi 
kalau yang bocor ada di atas tems korbannya siapa? Yang 
dibawahlah korban basah. Tidak ada kalau bocomya di 
atas dan yang di atas kena korban basah. Tidak ada. Yang 
dibawahlah menjadi korbannya basah. 

Bagaimana diusahakan sekarang mestinya Catur Brahma 
Wiara itulah yang patut dilaksankan. Agar memiliki rasa 
kasihan terhadap teman. Yah seperti itulah. Agar jangan 
kalau ada rakyat yang salah, mmahnya dibakar. Sebelum 
rumahnya dibakar, buatkan dia mmah dahulu, agar tidak 
di sana -sini mereka tidur. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



187 



The Invisible Mirror 



If he is working, he should not be allowed to do bad work. 
Fire him, but find him another job. That is what the solu- 
tion should be. Don't destroy the house, without build- 
ing a house, so that he won't have to sleep in all kinds of 
places. Sleeping on a riverbank. Sleeping under a bridge. 
All because his house was destroyed. No house was pro- 
vided for him. That's why it is important to build a new 
house before you destroy an old one. In order for for a 
person not to be confused, he has to have a house. That 
is what an old man like me, Malen, thinks about it. If 
what I think is correct, you can use it. If it's wrong, just 
give it back. You don't have to apologize for returning it 
to me. 



Yen ya magae, sing dadi megae kene pelih, suwudang 
gaen ya to sediang ya lapangan kerja. Keto nak solusi 
megae nyen. Pang sing kaadang umah nak e, sing ya 
gaenang umah, dong sing barat-birit ya pules. Biin di 
samping tukade ya pules, biin di jembatan ya pules. 
Mapan umah ya bakat uwug. Sing bakat sediang umah 
to. Mawinan satonden nguwug umah ya, gaenang malu 
umah. Pang sing ya paling sing ngelah umah. Keto yen 
cara I Malen tua. Nah dumadak pemineh Malene, yen 
bench anggo. Yen pelih jeg uliang! De jine sinampura 
pra biin. 



Kalau dia kerja, pekerjaannya salah dan dilarang, 
berhentikan dia dari pekerjaannya, dan ciptakan dulu 
lapangan kerja untuknya. Demikian semestinya diambil 
solusinya. Jangan rumahnya saja digusur, dia tidak 
dibuatkan rumah, kan membuat mereka barat-birit 
mencari tempat tidur. Lagi-lagi dibawah kolong jembatan 
mereka tidur. Karena rumahnya sudah dihancurkan. Dia 
tidak punya rumah pengganti. Makanya sebelum 
menghancurkan rumahnya, buatkan mereka rumah 
dahulu. Agar mereka tidak bingung karena tidak punya 
rumah. Seperti itulah seharusnya menurut aku, si Malen 
Tua. Ya semoga saja pikiran Malen yang baik dapat 
dipakai, kalau yang salah ya kembalikan saja. Tak usah 
disertai permohonan maaf lagi. 



Well, this old man's words are very dense. 



Delem: 

Bih seket-seket munyin nak ne tua ne. 



Bih, kata-kata orang tua ini sungguh kasap, dan lekat. 



That's the way I am, just an old man like that, (sirys) 
"First prepare yourself by studying words of wisdom, 
then fulfill your desire to have a family after you are 
twenty years old. In the middle years look for truth. ... 



Twalen: 

Gang nak mula keto dadi nak tua. (gending) Taki-takining 
swaka guna widya, semara wisaya ruang puluhin 
ayusaa. Tengah wecana san wacana gegenta, ... Kaden 
keto.De ja saget mara lekad ba melajin moksa. To sing 



Memang begitu aku sebagai orang tua. Bergegaslah 
menuntut ilmu kebajikan semasa muda, setelah dua 
puluh tahun pemenuhan kebutuhan keluarga 
diupayakan, setegah umur mempelajari kebenaran 




188 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bau di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



Isn't that so. A baby should not be trying to learn about 
moksa (tfie release of the souf after death). You will never 
find moksa like that. What is the way to look for moksa? 
First. Get ready. Study words of wisdom. Study well 
first. When you reach the proper age, get maixied. Dur- 
ing the years of marriage, what should you be doing? 
You should be perfoiTning sacred acts (yadnya) for your 
ancestors, for the environment, for humans, for the priests, 
for the god. *7n the middles ages, you should learn 
about truth. " In your middle age, learn what truth really 



lakar nepukin moksa. Mawinang nak melajin moksa 
kenken? Abesik. Ataki-taki, asewaka guna widya. 
Melajah bena malu. Suba pantes umur imanusa nganten. 
Rikalaning nganten kenken? Ngelarin yadnya, pitra 
yadnya, buta yadnya, manusa yadnya, resi yadnya, dewa 
yadnya. Ritengahing tuwuh sanwacana gegenta. Di 
tengah umur melajah ngae saja. 



is. 



hakiki dipelajari. ... Bukankah demikian? Jangan baru 
lahir sudah mempelajari moksah. Itu tidak bakalan 
menemui moksah. Makanya orang mempelajari moksah 
itu bagaimana? Belajar untuk menguasai ilmu 
pengetahuan. Patut belajar dahulu. Kalau sudah pantas 
umur, manusia kemudian kawin. Ketika masa 
berumahtangga bagaimana semestinya? Menggelar kuban 
suci dengan tulus ikhlas yang disebut yadnya seperti pitra 
yadnya, bhuta yadnya, ,anusa yadnya, resi yadnya dan 
dewa yadnya. Dipertengahan umur mempelajari dogma 
kebenaran. Ketika pertengahan umur belajar tentang 
kebenaran hakiki. 



Nowadays in the material world there is very little truth. 
Actually there's a lot, but it's not all good. Not all of it. 
But some of it is good. So, I am not making a mistake in 
saying so. If these things are unified: getting ready to 
learn about the truth, having been married after the 
age of twenty, learning what the truth is during middle- 
age; all these things lead to the path for achieving moksah. 
(the hSeration of the sould after death). In this way you can 
achieve moksa with perfection. But if you never ever 
perform yadnya, and never ever give charitable gifts, but 
just talk about moksah: "I could already see the radiance 
of the Lord. I could already see heaven." Then you are 
saying empty words that any stupid person could say. 



Jani di Mercapada ne madan saja to bedik sajan. Liu ja 
saja, kewala saja sing luwung. Sing ja makejang ada 
j a masih luwung. Pang sing pelih nyen ngorta. Yan ba 
atep Taki-takining swaka guna widya, semara wisaya 
ruang puluhin ayusa, tengahin tuwuh sanwacana 
gegenta. To buka jalane ngalih moksa. Sampuma dadi 
tepuk moksa e. Meyadnya sing taen, mapunia sing taen, 
ba ngomongan moksa. B a ngidang nepukin tejan Dewa. 
Ba ngidang nepuukin Suarga. Yen ane belog to ngomong, 
to omong kosong. 



Sekarang ini di dunia fana yang dinamai kebenaran hakiki 
hanya sedikit sekali. Memang banyak sih yang benar, 
namun benar yang tidak bagus. Namun tidak semuanya. 
Ada juga yang baik. Agar saya tidak salah berucap. Kalau 
sudah bertemu menyatu belajar penguasaan ilmu 
pengetahuan, kawin dan berumahtangga setelah umur 
duapuluh tahun, dan mendalami ajaran kebenaran itu 
semua adalah jalan menuju moksah. Sama sekali tidak 
pernah melakukan korban suci, tidak pernah bersedekah, 
udah berbicara tentang moksah. Sudah bisa melihat 
Tuhan. Sudah bisa melihat sorga. Orang bodoh saja bisa 
bilang itu omong kosong. 



That is why right now on the night of the dark moon of 
the seventh month, we should be serious; we should learn 
how to stay still. On this kind of night, do not pretend 
that you are clever. When the world is in the era of chaos, 
when the world is in darkness, do not pretend to be clever 
by talking about this, or chatting about that, or saying 
this is bad or that is bad when actually we are the ones 
who are bad. 



Mawinang jani rikalaning Purwaning tilem ke pitune ba 
sajan pesan; melajah ngoyong. Rikalaning peteng to de 
nueg-nueg. Yen rikalaning gumine kali, rikalaning gumine 
peteng, deja nueg-nueg. Nyatuangkene, ngomong kene. 
Ne orang jelek, to orang jelek sujatine raga milu jelek. 



Makanya seperti sekarang ini sehari sebelum bulan mati 
pada bulan ke tujuh patut dilakukan dengan sungguh. Pada 
malam hari seperti ini belajar diam, jangan pura-pura 
jadi orang pintar. Manakala dunia ini hancur, manakala 
dunia ini kegelapan, jangan berpura-pura menjadi orang 
pintar. Berceritera tentang ini, berceloteh tentang begini. 
Ini dibilang jelek, yang itu dibilang jelek, sesungguhnya 
kitalah yang jelek. 



It's just like entering a cave. If we already knew that the Satmaka macelep ka gua e, yen ba tawang di tengah gua Ibarat masuk ke dalam gowa, dan kalau sudah tahu bahwa 



Siwaratrifealpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



189 



Trie Invisible Mirror 



middle of the cave is dark, we should not be running 
around. There are many things we could bump into. That 
is why when entering the cave, we should stay and not 
move, stay still and not move. Then the light will come. 
For example, when we perform meditation like here now 
(speaking directly to the audience observing the rituals 
of Siwa's night). Be still. Don't think about tomorrow's 
work. Just stay still for now. Meditate on what we ac- 
complished yesterday. And then tomorrow. 



to peteng, de bena melaib-laibang, data-data bakat 
tuwuk.Mawinang yen macelep ka tengah gua e, 
Ngoyong jang, ngoyong jang, ada ba sinar teka. Keto 
satmaka rikalaning ngambel semadi buka jani. Ngoyong. 
De ngerambang gae ne biin mani. Yen jemak gaene jani; 
biin mongken ja bakat? Ngoyong malu jani. Rambang 
apa bakat gae ibi. Kenken lakar biin mani. 



di tengah gowa itu gelap, janganlah berlari-larian, akan 
bisa menubruk-nubruk tak keruan. Itu makanya kalau 
masuk ke tengah goa, berhenti diam, setop diam, ada 'dah 
sinar datang nanti. Seperti itulah umpamanya 
melaksanakan semadi seperti sekarang ini. Diam. Jangan 
memikirkan perkerjaan untuk besok. Kalaupun pekerjaan 
itu diambil sekarang seberapa banyakkah bisa 
diselesaikan? Diam dululah sekarang. Pikirkan pekerjaan 
apa yang telah dikerjakan kemarin dulu? Bagaimana 
untuk nanti? 



That's what I, Malen. feel. But, I, Malen, am also subject 
to right and wrong. If I, Malen am wrong, Wayan (Delem) 
should make it right. If you Wayan are right, I, Malen, 
learn something from you. That's the way it should be. 
That's more or less the way we all are. That is why what 
I am lacking, I will ask for from you. Whatever I have 
extra, I will use to complete what is lacking in you. That 
is how we should live: Through the good times and the 
bad, we should stick together and help each other until 
we are parted by death. 



That is all that I, Sanghyang Siwa, have to say. What 
is your opinion? 



If that is what Lord Siwa says, what do you think, my 
Lord Yama? Perhaps these may be symbols, stories, or 
ways of understanding Siwa's teachings in the world. 



Exuse me, my Lord. If those are your words, I agree. 
Lubdaka's deed should be emulated and disseminated. 
This is the path for achieving Heaven. Not only for 



Keto kerasa baan Malen. Nah kewala Malen keto mase 
nak kena ken bench pelihe. Yen Malen ya pelih, nah 
Wayan menebang. Nah Wayan ya bench Malen melajin. 
Nak mula keto. 



Nah keto kuang lebihe nak ajak mekejang misi kuang 
lebih. Mawinang kuang cange, ci idin cang. Lebih cang 
anggo cang lakar ngenepin kuang ci. Keto patutne iraga 
idup. Paras-parossarpanaya, salunglung sabaya antaka. 



Batara Siwa: 
Mangkanaaaa. ling sira Sanghyang Siwa. 
Kakadiang punapa rinasa de inganika? 

Twalen: 

Inggih yan asapunika kadi pidabdab Ida Batara Siwa, 
sapunapi kapikayun antuk ratu Sanghyang Yama? Yan 
amunika mirib kadi simbul-simbul, itiasa, purana ring 
j agate. 

Yamadipati: 
Pakuluuun paduka Batara. Yan mangkana kadi 
rwacanan inganika mabener dahat. Yeki mangda sida 
anularaken kadi tingkah Sang Lubdaka. Mawas sida 



Seperti itu kiranya menurut Malen. Nah tetapi Malen juga 
demikian, juga tidak luput akan benar dan salah. Kalau 
Malen yang salah Wayanlah (Delem) mestinya 
memperbaiki. Kalau Wayan yang benar Malen akan 
belajar kepada kamu. Memang demikian adanya. 

Nah seperti itulah kurang lebihnya. Semua berisi kurang 
dan lebih. Oleh karenanya kurangnya saya, saya minta 
kepada kamu. Kelebihan saya akan saya pakai menutupi 
kekuranganmu. Demikian semestinya kita hidup. Selalu 
hidup harmonis, dalam situasi baik maupun buruk 
tetap dalam kebersamaan. 



Demikianlah sabdaku Sanghyang Siwa. Bagaimana 
kiranya menurut nanda? 



Ya kalau demikian pelaksanaan beliau Bhatara Siwa, 
bagaimana kiranya menurut paduka Bhatara Sanghyang 
Yama? Seperti itulah simbol-simbol, cerita epos, ajaran 
suci di dunia. 



Yang Mulia Paduka Bhatara. Kalau demikian halnya 
seperi yang paduka sabdakan sungguh benar adanya. 
Agar perlakuannya si Lubdaka seperti inilah yang 



190 



SWaratriRalpa: Balinese Literature in Perri 



orinance 



Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



The Invisible Mirror 



Lubdaka. All humans in the material worid should emu- 
late the way Lubdaka (achieved mol<^afi), as you said my 
Lord. It is right to bring Lubdaka's soul to heaven imme- 
diately. 



([au£hin£) He he he, Lord God. If that's what you say, I 
agree. Excuse and forgive us Sanghyang Yama, and all 
the Cikrabala demons. It is correct that whoever does what 
Lubdaka did, is following the doctrine of religious teach- 
ing as taught by Sanghyang Dharma, and should have 
the right to a place in heaven. It is proper that you admit 
Lubdaka to heaven. 



molihaken Suarga. Dudu Lubdaka kewala, katekan 
manusa tiniru kadi tingkah Sang Lubdaka kadi 
wecanan inganika. Wenang Lubdaka umawa 
marikanang Suarga mangke. 



Delem: 

He he he. Aratu Batara. Yening sapunika kadi wecanan 
Betara, medaging. Nawegang ampura titiang Sanghyang 
Yama, minakadi wateking Cikrabala sareng sami. Patut, 
siapa ugi sida kadi Sang Lubdaka, kadi pituduh 
Sanghyang Agama, kadi pituduh Sanghyang Darma, 
gumanti patut punika molihang Suarga. Patut Betara 
ngicenin Suarga, ipun sang Lubdaka. 



patut ditiru. Sehingga berhasil mendapatkan sorga. 
Tidak hanya untuk si Lubdaka saja, namun juga 
untuk ditiru oleh manusia semua, seperti sabda 
paduka. Pantaslah si Lubdaka dibawa ke sorga 
sekarang ini. 



He he he paduka Bhatara, kalau demikian halnya seperti 
yang paduka sabdakan, memang benar adanya. Dengan 
kerendahan hati hamba Sanghyang Yama dan seluruh 
pasukan Cikrabala, mohon maaf. Siapa saja yang sukses 
seperti yang dilakukan oleh si Lubdaka, seperti ajaran 
kebenaran diajarkan oleh Sanghyang Agama, Sanghyang 
Darma, dia itu berhak mendapat sorga. Sepantasnyalah 
paduka Bhatara memberikan si Lubdaka sorga. 




Well, as for you servants, Twalen and Werdah. 



Uduuuuuh, 



Batara Siwa: 
caraka Twalen muang Werdah kita. 



Uduuuuh abdiku I\ialen dan juga Merdah. 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Periormance - bastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



191 



Trie Invisible Mirror 



Yes, my Lord, I am at your service. What more do you 
wish to say, my Lord? 



All of you Widyadara dancing angels, Heavenly 
Priests, Celestial Musicians, please take the Lubdaka's 
soul and bring him to Heaven. 



I will prepare all of the Heavenly dancers. Celestial He- 
roes, and Musicians, because you my Lord have decided 
to admit Lubdaka's soul to Heaven. All the heavenly 
musicians and celestial heroes will perform for you my 
Lord. 



Werdah: 

Aduh ratu titiang. Napin menawi wenten ketel wecanan 
Betara? 

Batara Siwa: 
Uduuuuh enak ikanang Widyadara, Resinggana, 
Gandarwa sedaya, lamakana ngamet pretania Sang 
Lubdaka umawa marikanang Suarga. 

Twalen: 

Mangda titiang nabdab puniki watek Widyadara- 
Widyadari, Surenggana, Gandarwa, duwaning Betara jaga 
makta kadi atman Sang Lubdaka ka Suarga. Mangda sami 
Gandarwa, Sureggana, Widyadara. Nyarengan kadi 
pemargan Betara. 



Ya hamba, paduka. Apa gerangan sabda paduka Bhatara 
yang kiranya perlu disampaikan lagi? 



Uduuuuh kepada para Widyadara, Resinggana, 
Gandarwa semua, agar mengambil atmanya si 
Lubdaka dan dibawa ke Sorga. 



Agar hamba mempersiapkan semua para Bidadara, 
Bidadari, Surenggana, Gandarwa, oleh karena paduka 
Bharata akan membawa atmanya si Lubdaka ke Sorga. 
Perjalanan paduka Bhatara agar diikuti oleh para 
Gandarwa, Surenggana, Widyadara, semua. 



Right. If that is how it is, let's conclude the meeting 
now. 



Batara Siwa: 
Yogyaaa. Yan mangkan enak pascataken mingkene. 



Benar. Kalau demikian halnya mari diselesaikan 
sampai di sini saja. 



Let's end this here. Bring the soul of Lubdaka (to heaven). 
Please proceed. 

The End 



Twalen: 

Ngiring puputang iriki, makta atman ipun Sang Lubdaka. 
Raris! 



Puput 



Bawa atmanya si Lubdaka dan mari diselesikan sampai 
di sini saja. Mari. 

Selesai 



192 



Siw^aratrikalpa: Balinese Literature in Performance - Sastra Bali di dalam Seni Pertunjukan 



Trie Invisible Mirror 



Siwaratrikalpa: Balinese Literature in Pei-formance - Sastra Bali Ji dalam Seni Pertunjukan 



193 



.A